Mulai usia berapa sebaiknya anak mulai disapih? Ada yang bilang mulai usia empat bulan, enam bulan, satu tahun, bahkan ada yang sampai usia dua tahun. Nah, sebelum mengetahui di usia berapa yang baik untuk menyapih, sebaiknya ketahui terlebih dahulu apa itu sebenarnya menyapih anak agar Anda tidak bingung. Terkadang, beberapa orang masih bingung saat ditanya apa itu menyapih anak.

Apa itu menyapih anak?

Menyapih anak adalah waktu di mana anak mulai berpindah ke makanan padat dari yang tadinya ASI saja. Ini merupakan sebuah proses –dilakukan secara bertahap- sampai anak benar-benar berhenti menyusu ASI dari payudara ibu, biasanya sampai anak berusia 2 tahun.

Pada umumnya, waktu ideal untuk mulai menyapih anak adalah saat berusia 6 bulan. Namun, ini bisa lebih cepat maupun lebih lambat karena perkembangan tiap anak tentunya berbeda dan tidak bisa disamakan. Hal ini adalah normal sehingga Anda tidak perlu khawatir.

Setelah bayi sudah bisa menerima makanan padat pada usia 6 bulan, Anda masih tetap bisa memberikan ASI pada bayi sampai usia dua tahun, seperti yang direkomendasikan oleh WHO. Kapan bayi benar-benar berhenti ASI, ini semua tergantung keputusan Anda dan keinginan bayi sendiri. Bayi yang disapih lebih dini (pada usia kurang dari 6 bulan) biasanya akan lebih cepat berhenti menyusu ASI dibandingkan bayi yang disapih lebih lambat (pada usia lebih dari 6 bulan).

Ketahui tanda-tanda bayi sudah siap untuk disapih

Menyapih anak mungkin bukan keputusan yang mudah. Proses ini membutuhkan kesabaran. Anda juga harus melihat kemampuan anak, apakah anak sudah siap untuk disapih atau belum. Namun, Anda jangan terlalu khawatir karena anak ternyata dapat memberikan petunjuk kapan ia siap untuk mulai proses penyapihan.

Nah, berikut ini merupakan tanda-tanda bayi siap untuk disapih:

  • Bayi mulai tampak tidak tertarik saat menyusu di payudara ibu
  • Bayi tetap rewel walaupun sudah diberi ASI
  • Bayi menyusui dalam waktu yang lebih pendek daripada biasanya
  • Bayi mudah terganggu saat sedang menyusu
  • Bayi “bermain” dengan payudara ibu, seperti menarik dan menggigit payudara ibu
  • Bayi menyusu di payudara ibu tapi tidak mengisapnya sehingga ASI tidak keluar. Anak mungkin tetap menyusu di payudara ibu tapi hanya untuk mencari kenyamanan.

Bagaimana cara menyapih anak agar prosesnya lebih mudah?

Bagaimanapun, bayi yang berusia lebih dari 6 bulan harus mulai menerima makanan padat selain ASI. Mengapa? Karena ASI saja tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan bayi untuk pertumbuhannya setelah usianya satu tahun. Jadi, sebelum usia ini sebaiknya bayi sudah diperkenalkan dengan makanan padat.

Namun, untuk memulai suatu perubahan tentu tidak mudah, begitu pula pada bayi. Anda mungkin bisa melakukan cara-cara di bawah ini untuk membuat perubahan dari ASI saja ke makanan padat lebih mudah dilakukan.

  • Coba mulai tawarkan botol susu daripada menyusu di payudara ibu. Botol susu ini bisa diisi dengan ASI atau susu formula. Anda bisa mengoleskan beberapa tetes ASI di bibir atau lidah bayi sebelum ia menyusu di botol agar ia bisa menerima botol susu dengan mudah. Mengurangi frekuensi menyusu di payudara ibu selama beberapa minggu dapat membantu bayi menyesuaikan diri dengan perubahan secara perlahan.
  • Persingkat waktu menyusui. Anda mungkin bisa mulai membatasi berapa lama bayi menyusu di payudara ibu, dari yang biasanya 10 menit bisa dipersingkat menjadi 5 menit saja. Kemudian, Anda bisa mengganti pemberian ASI yang lebih sedikit tersebut dengan susu formula atau bubur bayi.
  • Tunda waktu anak menyusui. Menunda waktu anak menyusui dapat mengurangi frekuensi anak menyusui dalam sehari. Jika usia anak Anda lebih tua, Anda mungkin bisa mengalihkan perhatiannya dengan aktivitas lain saat ia ingin menyusu, atau Anda juga bisa menawarkan susu formula atau makanan lain. Jika anak ingin menyusu di sore hari, Anda bisa menjelaskan kepadanya bahwa ia harus menunggu sampai menjelang tidur untuk menyusu di payudara ibu.

Baca Juga:

Sumber
Arinda Veratamala, S.Gz Gizi Ibu dan Anak
Arinda Veratamala adalah ahli gizi lulusan program studi Ilmu Gizi dari Universitas Indonesia. Bakatnya di bidang penulisan mendorongnya untuk menelurkan buku berjudul "Gizi Anak dan Remaja" bersama dengan kedua dosennya di 2017. Kecintaannya pada dunia gizi, terutama gizi untuk ibu, bayi, anak, sampai remaja, membuatnya ingin terus menghasilkan karya tulisan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Hal ini karena ia sadar bahwa fase ibu dan anak adalah fondasi awal untuk menciptakan generasi yang hebat.
Selengkapnya
Artikel Terbaru