Waspadai Tanda dan Gejala Bulimia Pada Anak, plus Tips Bagi Ortu untuk Menghadapinya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum.

Gangguan makan lebih erat terkait dengan masalah kesehatan orang dewasa. Akan tetapi, anak-anak juga bisa mengalaminya. Salah satu gangguan makan yang paling umum adalah bulimia — seringnya ditemui pada remaja usia akhir hingga dewasa muda (18-21 tahun). Bulimia adalah kondisi kesehatan nyata yang berdampak buruk bagi kesehatan remaja yang sedang dalam masa emas pertumbuhan. Maka, waspadai tanda-tanda anak bulimia dan apa yang bisa dilakukan oleh Anda sebagai orangtua.

Penyebab bulimia pada anak

Anak yang memiliki bulimia nervosa mengalami dorongan ketagihan atau ngidam makanan yang tidak bisa dilawan, sehingga mereka justru senang dan sering makan dalam porsi besar (tanda binge eating). Walaupun demikian, anak bulimia juga memiliki kecenderungan takut gemuk.

Maka untuk mencegah berat badan naik setelah makan, anak biasanya memuntahkan kembali makanannya. Hal tersebut bisa dicapai dengan mencolokkan jari ke tenggorokan sendiri agar benar-benar muntah, menggunakan obat pencahar berlebihan, puasa berkala, dan mengonsumsi obat penekan nafsu makan.

Bulimia sering disertai dan/atau dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, citra tubuh yang negatif, stres berat, dan lainnya. Bulimia pada anak juga dapat dipicu oleh tekanan mental dari lingkungan sosial (teman sebaya dan pengaruh media massa), hingga faktor genetik. Memiliki anggota keluarga yang juga mengalami bulimia dapat meningkatkan risiko seseorang juga mengalami gangguan makan tersebut.

Tanda-tanda anak bulimia yang harus diwaspadai

Untuk mengenali tanda-tanda bulimia pada anak remaja, penting untuk mencari kehadiran konsisten dari beberapa atau semua perilaku berikut:

  • Terlalu banyak makan, lebih dari biasanya. Jika anak remaja Anda tiba-tiba mengonsumsi lebih banyak makanan saat makan malam atau saat ngemil (waktunya singkat dan terbatas), ini bisa menjadi kecenderungan binge eating.
  • Merasa tidak mampu mengendalikan atau berhenti makan begitu mulai.
  • Terus makan meski sudah merasa kekenyangan
  • Mengekspresikan kekhawatiran dan kecemasan berlebihan tentang berat badan atau bentuk tubuhnya.
  • Mengalami perasaan bersalah, malu atau cemas setelah makan.
  • Perilaku makan yang rahasia. Anak bulimia sering merasa malu dengan perilaku makan mereka, jadi waktu makan bisa memicu stres. Jika remaja Anda memiliki perilaku tertutup saat harus makan, seperti menimbun makanan atau lebih memilih makan sendiri, ini bisa menjadi indikasi adanya masalah.
  • Sering muntah
  • Melewatkan waktu makan atau melakukan diet ekstrem untuk ‘memperbaiki’ perilaku makan berlebihannya.
  • Penggunaan pil diet atau obat pencahar yang tidak normal untuk pengendalian berat badan.
  • Menstruasi tidak teratur
  • Kelenjar dalam mulut bengkak
  • Berat badan naik-turun dengan cepat yang disebabkan oleh periode makan berlebihan dan kemudian puasa
  • Bengkak di wajah (di bawah pipi), pecah pembuluh darah di mata, erosi enamel dan kerusakan gigi, kerusakan esofagus, dan pendarahan internal
  • Upaya berulang untuk mengurangi berat badan dengan langkah-langkah yang berlebihan
  • Olahraga berlebihan, pada waktu atau dengan cara yang tidak tepat, atau bahkan saat sakit atau terluka.

Penting untuk mencari pertolongan medis jika Anda menyadari satu atau lebih gejala bulimia di atas terjadi pada anak Anda. Jika tidak diobati, bulimia dapat mengakibatkan kerusakan fisik dan psikologis jangka panjang.

Dampak bulimia pada anak

Anak yang mengalami bulimia pada umumnya terlihat normal dengan berat badan yang termasuk kategori gemuk, normal hingga terlalu kurus. Meskipun demikian risiko malnutrisi sangat besar akibat masalah kesehatan mental dan gangguan pola makan dan cenderung sulit untuk dikenali.  Anak yang mengalami bulimia kemungkinan memiliki tanda fisik yang dapat dikenali seperti:

  • Muka tampak bengkak akibat pembengkakan kelenjar parotid yang berada di dekat telinga.
  • Terdapat bekas luka parut di sekitar tangan akibat sering memasukan jari atau tangan ke dalam rongga mulut.
  • Kerusakan mulut dan gigi yang disebabkan paparan cairan asam lambung ketika memuntahkan makanan, hal ini juga dapat menyebabkan abrasi pada saluran cerna esophagus.
  • Anak perempuan tidak memiliki siklus menstruasi yang teratur.
  • Berat badan naik-turun drastis dan tidak teratu akibat pola makan yang buruk

Bulimia juga menyebabkan pengidapnya menyembunyikan kebiasaannya dan tidak mencari pertolongan karena merasa bersalah dan malu. Kebiasaan tersebut juga dapat dilihat dari perilaku menarik diri dari lingkungan sekitar. Akibatnyamenyebabkan anak dengan bulimia berisiko mengalami gangguan perkembangan pada masa remaja serta menekan potensi inteligensia dan kreativitas yang mereka miliki.

Bagaimana mengatasi bulimia pada anak?

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua atau pengasuh untuk mengatasu bulimia pada anak

  • Perhatikan kondisi anak – mengenali lebih dalam hal yang menyebabkan anak mengalami gangguan makan adalah langkah awal yang penting. Dengarkan ketika anak bercerita atau sedang menceritakan sesuatu, pemilihan kata atau nada yang menjadi lebih pelan kemungkinan bisa menjadi pertanda ketika mereka mengalami masalah dengan topik yang sedang dibicarakan. Perhatikan pola makan dan ajak bicara jika Anda mengetahui anak sering memuntahkan makanan atau sengaja melewatkan jam makan mereka. Perhatikan lingkungan sosial dan media atau website yang mereka akses kemungkinan dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan makan.
  • Perbaiki suasana ketika makan – dapat dilakukan dengan menciptakan suasana makan yang menyenangkan bersama keluarga. Hal ini juga dapat menekankan pentingnya pola makan dan kecukupan nutrisi bagi kesehatan sehingga dapat memperbaiki pandangan anak terhadap makanan.
  • Berikan contoh pada anak – orang dewasa sangat berpengaruh dalam membentuk pemahaman pentingnya memilih makanan sehat dan pandangan yang baik terhadap tubuh yang dimiliki oleh anak. Hindari pembicaraan yang dapat memunculkan rasa tidak nyaman bagi anak akan tubuhnya. Sebaliknya ketika anak merasa tidak nyaman atau memiliki pemikiran negatif akan tubuh yang dimilikinya bicarakan olahraga dan pola makan dalam konteks kesehatan. Dorongan orang tua agar anak aktif beraktivitas fisik dan memiliki pola makan yang sehat sangat dibutuhkan.
  • Terapi psikologis – terapi perilaku kognitif dapat menjadi pilihan selanjutnya untuk mengurangi intensitas perilaku bulimia. Terapis juga akan mencoba untuk menyelesaikan masalah lainnya yang berkaitan dengan munculnya perilaku bulimia seperti pemikiran negatif berat badan dan bentuk tubuh, pemikiran irasional akan pola makan dan berat badan serta meningkatkan pengendalian diri dan memperbaiki pandangan anak terhadap tubuh mereka.
  • Pengobatan – ditujukan pada komplikasi dari bulimia seperti munculnya aritmia dan hipotensi. Perawatan di rumah sakit juga memungkinkan seorang pengindap bulimia untuk mengurangi kebiasaan yang dilakukan di rumah tanpa pengawasan. Perbaikan nutrisi dan pola makan dengan menyediakan makanan dan camilan terstruktur sangat diperlukan sehingga mereka kembali merasa tidak asing terhadap makanan, mengembalikan asupan nutrisi dan mencegah perilaku binge eating terjadi kembali lagi.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca