Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenapa Bayi Sering Merasa Kaget? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kenapa Bayi Sering Merasa Kaget? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Bayi baru lahir sudah bisa melakukan gerakan secara tiba-tiba atau yang juga bisa disebut sebagai refleks. Jika diperhatikan, Anda mungkin kerap melihat bayi kagetan terutama saat tidur. Walaupun ini merupakan kondisi yang tergolong normal, sudah menjadi hal yang wajar ketika orangtua merasa khawatir. Apa penyebab bayi sering kaget dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya di artikel ini.

Penyebab bayi sering merasa kaget

bayi sering kaget

Pada masa awal perkembangan bayi, Anda mungkin mendapati si kecil menghabiskan waktu untuk tidur sekitar 16 – 18 jam sehari.

Saat ia terbangun dan melakukan gerakan tertentu, kemungkinan besar itu merupakan refleks bayi. Artinya, ia tidak sengaja melakukan hal tersebut.

Begitu juga ketika Anda melihat bayi sering terlihat kaget terutama saat tidur. Ini merupakan salah satu refleks bayi kagetan atau terkejut, yaitu refleks Moro.

Mengutip dari Stanford Children’s Health, kondisi bayi kagetan ini terjadi saat ia merasa terkejut oleh suara atau gerakan yang keras.

Maka dari itu, ia akan melakukan refleks seperti menundukkan kepala, menjulurkan tangan atau kaki, menangis, hingga menarik area tubuh tertentu.

Selain itu, suara tangisannya sendiri pun juga kemungkinan bisa menjadi penyebab bayi sering merasa kaget saat tidur.

Orangtua tidak perlu khawatir berlebihan karena ini merupakan respons bayi yang bertujuan untuk meminta pertolongan.

Umumnya, efek kagetan ini berlangsung pada bayi usia 2 – 3 bulan dan kemungkinan benar-benar menghilang pada usia 6 – 7 bulan.

Cara mengatasi agar bayi tidak sering kaget

bayi sering kaget

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bayi yang sering kaget terjadi karena adanya refleks Moro dan hal itu sangat normal.

Namun, sebagian orangtua mungkin tetap merasa khawatir saat melihat kondisi bayi kagetan saat tidur atau dalam situasi tertentu.

Apalagi, tidak menutup kemungkinan rasa kaget ini juga membuat bayi susah tidur karena menangis cukup lama.

Refleks kaget menjadi salah satu penyebab bayi menangis. Ini merupakan cara untuk memberitahu orangtua ketika ia merasakan hal tertentu sekaligus membutuhkan kenyamanan.

Berikut adalah tips atau cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi bayi kagetan sehingga ia bisa tidur kembali.

1. Menenangkan si kecil

Sentuhan orangtua dapat menjadi penenang termasuk saat bayi sering merasa kaget. Cobalah untuk menggendong, lalu menepuk pelan si kecil sampai tangisannya berhenti.

Nikmati waktu saat menggendong si kecil dan tak perlu terlalu cepat menaruhnya kembali ke tempat tidur. Pasalnya, menaruhnya terlalu cepat saat ia belum merasa tenang bisa membuatnya menangis kembali.

2. Mendekatkan tubuh dengan bayi

Setelah menenangkan dan membaringkannya, Anda juga bisa mengambil posisi tidur di sebelah si kecil sekaligus mengelusnya pelan.

Berdekatan dengan si kecil saat tidur juga dapat menambah kenyamanannya sehingga membantu mengurangi refleks kaget yang sering dialami bayi.

3. Membedong bayi

Apabila diperlukan, Anda juga bisa melakukan cara lainnya untuk mengatasi bayi kagetan saat tidur dengan membedongnya.

Membedong bayi dapat membuatnya merasa aman dan terlindungi saat tidur. Hal ini membuatnya teringat saat ia berada di rahim.

Tak hanya itu saja, membedong bayi juga dapat mengurangi refleks kaget karena ia tidak dapat mengulurkan tangannya seperti biasa.

Pastikan agar tidak membedongnya terlalu kencang sekaligus rutin memeriksanya secara teratur agar ia tidak kepanasan.

Apa yang perlu orangtua perhatikan?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, refleks Moro yang menjadi penyebab bayi sering kaget ini umumnya menghilang pada usia 6 – 7 bulan.

Akan tetapi, apabila kondisi ini masih terus terjadi pada bayi berusia lebih dari 7 bulan, sebaiknya Anda berkonsultasi dan memeriksakan si kecil dengan dokter.

Hal ini bisa terjadi saat refleks Moro tidak sepenuhnya terbentuk juga tertahan sehingga bayi kemungkinan memperlihatkan efek sering kaget yang berlebihan.

Berikut adalah beberapa akibat yang mungkin terjadi saat bayi mengalami kagetan berlebih, seperti:

  • mengalami stres atau hyperarousal,
  • rasa cemas berlebih,
  • koordinasi menurun,
  • sulit melakukan gerakan mata,
  • penurunan sistem kekebalan tubuh, serta
  • hipersensitif terhadap kemampuan sensorik (sentuhan, gerakan, visual, atau suara).

Selain pada bayi, kondisi refleks Moro yang tertahan dan tidak ditangani dengan baik bisa memengaruhi kehidupan si kecil kelak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Edwards, C., & Khalili, Y. (2020). Moro Reflex. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542173/

Retained Primitive Moro Reflex Effect On Development – Intermountain. (2018). Retrieved 6 April 2021, from https://www.intermountain.org/retained-primitive-moro-reflex-effect-on-development/

Newborn Reflexes. (2021). Retrieved 6 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/Newborn-Reflexes.aspx

Newborn Reflexes, Stanford Children’s Health. (2021). Retrieved 6 April 2021, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=newborn-reflexes-90-P02630

The Growing Child: Newborn . (2021). Retrieved 6 April 2021, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=the-growing-child-newborn-90-P02255

Help your baby sleep through the night. (2021). Retrieved 6 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/baby-sleep/art-20045014

Swaddling a baby: the benefits, risks and seven safety tips. (2019). Retrieved 6 April 2021, from https://www.nct.org.uk/baby-toddler/slings-and-swaddling/swaddling-baby-benefits-risks-and-seven-safety-tips

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Atifa Adlina Diperbarui 14/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita