Waspada Sepsis Pada Anak yang Bisa Sebabkan Kematian

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Sepsis, atau kadang disebut keracunan darah, adalah respon mematikan dari sistem kekebalan tubuh manusia terhadap infeksi atau cedera. Sepsis dapat menyerang siapa saja, tapi lebih cenderung menyerang kelompok orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, salah satunya anak kecil — terutama bayi prematur dan bayi baru lahir.

Di Amerika Serikat ada lebih dari 42 ribu anak yang mengalami sepsis parah setiap tahun dan 4,400 dari mereka meninggal dunia karenanya. Angka ini tercatat melebihi angka kematian anak akibat kanker. Sepsis pada anak di negara berkembang seperti Indonesia bahkan jauh lebih serius, dan memakan lebih banyak korban jiwa. Sebagai perbandingan, angka kematian sepsis pada anak baru lahir di Indonesia tergolong cukup tinggi, yaitu 12-50% dari total angka kematian bayi baru lahir.

Berikut adalah sejumlah informasi lebih lanjut seputar sepsis pada anak yang perlu orangtua ketahui

Apa itu sepsis?

Sepsis umumnya dianggap sebagai suatu kondisi yang terdiri dari rentetan gangguan akibat infeksi — dari bakteri, jamur, virus, parasit, atau limbah beracun hasil buangan dari mikroorganisme ini — yang terlanjur masuk ke dalam aliran darah.

Infeksi biasanya disebabkan oleh bakteri yang menyerang tubuh. Untuk melindungi tubuh dari penyakit, sistem kekebalan tubuh akan berperang melawan bakteri di bagian tubuh yang paling bermasalah. Akan tetapi, jika anak Anda memiliki sepsis, bakteri dari infeksi dan racun limbah dapat mengubah suhu tubuh, denyut jantung dan tekanan darah, sekaligus mencegah organ tubuh bekerja dengan baik. Hal ini kemudian menyebabkan peradangan yang meluas dan tak terkendali, serta pembekuan darah pada pembuluh darah kecil. Sebagai akibatnya, sistem kekebalan tubuh anak malah bereaksi secara berlebihan dan balik menyerang organ dan jaringan tubuh anak.

Bagaimana sepsis pada anak bisa terjadi?

Setiap jenis infeksi dalam tubuh dapat memicu sepsis. Sepsis sering dikaitkan dengan infeksi paru-paru (misalnya, pneumonia), saluran kemih (misalnya, ginjal), kulit, dan usus. Staphylococcus aureus (Staph), E. coli, dan beberapa jenis Streptococcus (strep) adalah jenis kuman penyebab sepsis paling umum.

Pada bayi yang baru lahir dan yang berada di tahap awal kehidupan, penularan sepsis umumnya didapat dari ibu yang memiliki infeksi group B streptococcus (GSB) semasa hamil; ibu mengalami demam tinggi saat persalinan; bayi tersebut lahir prematur; atau air ketuban ibu pecah lebih dari 24 jam sebelum persalinan atau air ketuban pecah dini (sebelum usia 37 minggu kehamilan). Selain itu, bayi dapat tertular sepsis selama berada dalam NICU untuk perawatan terhadap kondisi kesehatan tertentu; atau tertular dari orang dewasa yang memiliki infeksi menular.

Bayi dan anak kecil yang memiliki masalah medis tertentu mungkin tidak dapat menerima vaksin pada waktu yang telah ditentukan. Hal ini membuat anak-anak rentan untuk tertular penyakit. Banyak dari penyakit menular pada anak yang dapat menyebabkan komplikasi parah, khususnya campak Jerman (Rubella), cacar air, dan Haemophilus influenza B (Hib).

Pada anak yang lebih tua, kegiatan fisik (dari sekolah atau bermain) membuat mereka lebih rentan mengalami lecet dan luka terbuka. Jika tidak diobati, goresan dangkal pada lutut atau siku sekalipun, atau bahkan dari bekas jahitan bedah, bisa menjadi pintu gerbang bagi bakteri dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi. Di samping itu, anak-anak, layaknya orang dewasa, dapat mengembangkan penyakit seperti infeksi saluran kencing, infeksi telinga, pneumonia, hingga meningitis dan gizi buruk. Tidak diobati, penyakit-penyakit ini juga dapat menyebabkan sepsis.

Apa saja gejala sepsis pada anak?

Sepsis pada anak yang baru lahir dapat menghasilkan beragam gejala. Seringnya, bayi hanya terlihat “tak seperti biasanya” oleh mata orang dewasa. Gejala sepsis pada bayi baru lahir dan bayi muda, meliputi:

  • Ogah makan atau sulit minum ASI (atau susu formula), muntah
  • Demam (lebih dari 38ºC atau suhu rektum tinggi); kadang suhu tubuh justru rendah
  • Merengek dan menangis terus-terusan
  • Lesu (tidak berinteraksi dan berdiam diri)
  • Tubuh lemah (tampak loyo dan “tidak berisi” saat Anda menggendongnya)
  • Perubahan pada detak jantung — lebih lambat atau cepat dari biasanya (gejala sepsi awal), atau sangat lambat dari normal (sepsis tingkat akhir, biasanya diikuti oleh syok)
  • Bernapas lebih cepat atau kesulitan bernapas
  • Momen anak berhenti bernapas lebih dari 10 detik (apnea)
  • Perubahan warna kulit — memucat, warna kulit tidak merata, dan/atau membiru
  • Timbul penyakit kuning (mata dan kulit berwarna kekuningan)
  • Ruam kemerahan
  • Jumlah urin sedikit
  • Tonjolan atau pembengkakan pada ubun-ubun bayi

Jika Anda melihat bayi Anda (3-12 bulan) menunjukkan tanda-tanda ini, terutama suhu rektal tinggi, perubahan mood, tampak lesu, dan tidak mau makan, segera bawa ia ke dokter. Jika rengekan anak tidak bisa diredakan, tidak mau embuat kontak mata, atau sulit dibangunkan, segera bawa ke dokter bahkan jika demamnya tidak tinggi.

Sepsis adalah hasil dari peradangan infeksi, maka oleh karena itu gejala sepsis pada anak dapat mencakup tanda-tanda infeksi (diare, muntah, sakit tenggorokan, menggigil, panas dingin, dst) serta gejala apapun dari berikut ini: demam (atau hipotermia, atau kejang), gangguan mood (mudah ngambek, marah; tampak kebingungan, disorientasi), napas ngos-ngosan atau kesulitan bernapas, mengantuk dan lesu (sulit dibangunkan lebih dari biasanya), timbul ruam, tampak sakit “tidak enak badan”, kulit lembap atau selalu berkeringat, jarang buang air kecil atau tidak sama sekali, atau anak mengeluhkan jantungnya berdebar kencang.

Selain itu, seorang anak yang menderita sepsis mungkin pada awalnya dimulai dengan infeksi lain, seperti selulitis atau pneumonia, yang tampaknya semakin menyebar dan/atau semakin parah, tidak lebih baik.

Apa dampaknya jika anak terkena sepsis?

Sepsis membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin. Tidak ditangani, rangkaian perwujudan sepsis dapat berkisar dari keracunan darah yang disertai tanda-tanda awal gangguan sirkulasi darah — meliputi detak jantung cepat dan napas pendek, pelebaran pembuluh darah, dan demam (atau hipotermia) — hingga penurunan tekanan darah yang sangat drastis, menyebabkan kegagalan total sistem organ dan kematian.

Apa yang harus dilakukan jika anak mengalami sepsis?

Mendeteksi sepsis pada anak bukanlah hal mudah. Beberapa anak yang mengalami keracunan darah menjadi lebih rewel dan lesu, tapi kadang gejala yang paling jelas tampak hanyalah demam. Inilah sebabnya mengapa penting untuk membawa anak di bawah 3 bulan ke dokter sesegera mungkin begitu Anda menyadari suhu rektalnya melebihi 38ºC, bahkan jika ia tidak menunjukkan gejala lain sekalipun.

Pada umumnya, jika anak menunjukkan gejala infeksi apapun (dari luka fisik atau penyakit dalam), bawa ke dokter — terutama jika ia merasa semakin “tidak enak badan” atau gejala infeksinya tidak kunjung mereda. Dokter dapat menjalankan tes laboratorium untuk menentukan diagnosis tepat dari keluhan anak Anda.

Jika sepsis terbukti, atau hanya sekadar kecurigaan sementara, anak dapat direkomendasikan rawat inap agar tim dokter dapat memperhatikan perkembangan infeksi anak dan memberikan antibiotik infus untuk melawan infeksi — biasanya perawatan dimulai bahkan sebelum diagnosis resmi. Beberapa obat-obatan dapat diberikan untuk meringankan tanda dan gejala anak Anda dan mengobati atau mengendalikan masalah lainnya. Jika diperlukan, bayi dan balita mungkin menerima cairan infus untuk menjaga mereka tetap terhidrasi, obat tekanan darah untuk menjaga hati mereka bekerja dengan baik, dan respirator untuk membantu mereka bernapas.

Dapatkah saya mencegah risiko sepsis pada anak?

Tidak ada jaminan untuk mencegah semua jenis sepsis. Tapi beberapa kasus dapat dihindari dengan mencegah penularan bakteri GBS dari ibu ke anak saat melahirkan. Wanita hamil dapat menjalani tes sederhana di antara minggu ke-35 dan ke-37 kehamilan untuk menentukan apakah mereka membawa bakteri GBS.

Kemudian, pastikan bahwa imunisasi anak Anda lengkap dan selalu terbarui, Imunisasi rutin yang diberikan pada bayi saat ini termasuk vaksinasi pencegahan beberapa jenis bakteri pneumoccocus dan Haemophilus influenzae tipe B yang dapat menyebabkan sepsis dan occult bacteremia (infeksi darah). Infeksi pneumoccocal (Prevnar) yang baru diperkenalkan akhir-akhir ini dilaporkan mampu mengurangi risiko infeksi pneumokokus lebih dari 90 persen.

Pastikan agar anak tidak menyentuh, mencongkel, atau menguliti bisul atau luka basah. Awasi setiap tanda infeksi. Untuk anak-anak dengan perangkat medis seperti kateter atau pemakaian infus jangka panjang, pastikan untuk mengikuti petunjuk dokter untuk cara membersihkan dan bongkar-pasang perangkat.

Terakhir, pastikan bahwa orang dewasa dan anak yang lebih tua yang sedang sakit tidak mencium, memeluk, menggendong, atau berada dekat jangkauan anak Anda. Orang-orang yang menangani bayi dan balita harus memiliki daftar vaksinasi yang up-to-date. Selain itu, ajarkan anak dan anggota keluarga lain untuk rajin mencuci tangan. Cuci tangan dengan air dan sabun adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: November 30, 2016 | Terakhir Diedit: Februari 29, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca