home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspadai Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Anak

Waspadai Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Anak

Indonesia merupakan negara dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Asia Tenggara. Menurut Infodatin Kemenkes 2017, anak-anak berusia kurang dari 15 tahunlah yang paling rentan kena DBD. Tidak hanya demam biasa, apa saja gejala demam berdarah (DBD) pada anak yang perlu diketahui orangtua? Simak penjelasannya di bawah ini.

Gejala demam berdarah dengue (DBD) pada anak sesuai jenisnya

gejala demam berdarah dbd pada anak

Tahukah Anda bahwa Indonesia menjadi salah satu habitat ideal nyamuk Aedes aegypti karena merupakan negara beriklim tropis?

Perlu diingat bagi orangtua bahwa demam berdarah menjadi penyakit infeksi yang terjadi setiap tahun dan paling umum terjadi di Asia Tenggara.

Dikutip dari Mayo Clinic, penyebab terjadinya demam berdarah adalah karena virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk melalui aliran darah.

Maka dari itu, virus tidak bisa menyebar langsung dari orang ke orang.

Dalam kasus yang jarang terjadi, demam berdarah dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius pada orang dewasa maupun anak.

Ada 3 jenis penyakit demam berdarah, yakni demam dengue, demam berdarah dengue (DBD), dan dengue shock syndrome.

Berikut ciri-ciri serta gejala DBD pada anak yang perlu diketahui orang tua, yaitu:

1. Gejala demam dengue pada anak

Demam dengue adalah bentuk DBD ringan yang tidak atau belum menyebabkan perdarahan.

Pada awalnya, kondisi ini tidak menimbulkan gejala atau ciri apa pun. Terlebih jika anak Anda sama sekali tidak pernah mengalami demam berdarah sebelumnya.

Terkadang, gejala dbd atau pun demam dengue pada anak dapat disalahartikan sebagai flu atau infeksi virus lain.

Berikut adalah gejala demam dengue pada anak yang harus diwaspadai:

  • Demam tinggi akut 3-14 hari setelah digigit nyamuk
  • Anak mengeluh sakit kepala dan mual
  • Anak mengeluh nyeri otot dan pegal linu di sekujur tubuh
  • Muncul ruam merah pada kulit
  • Kelenjar getah bening anak bengkak

Selain itu, anak Anda mungkin terjangkit demam dengue apabila saat tes darah jumlah sel darah putihnya rendah.

Gejala dari jenis dbd pada anak yang satu ini biasanya berlangsung 2 hingga 7 hari.

2. Gejala demam berdarah dengue (DBD) pada anak

Apabila demam dengue anak bertambah parah, gejala dapat disertai pendarahan pada beberapa bagian tubuh sehingga disebut sebagai demam berdarah dengue (DBD).

Kemunculan gejala demam berdarah dengue pada anak bisa disebabkan oleh diagnosis yang terlambat.

Demam berdarah dengue juga dapat terjadi karena sistem imun anak tidak cukup kuat untuk melawan virus meski sudah mendapat perawatan medis.

Risiko DBD pada anak bisa fatal apabila terlambat mendapatkan penanganan. Maka, orangtua harus memperhatikan betul ciri-ciri atau gejala dbd pada anak di rumah.

Gejala pada anak umumnya dimulai dalam 24-48 jam setelah suhu tubuh mulai menurun.

Berikut adalah gejala DBD pada anak yang harus Anda waspadai:

  • Anak mengeluh sakit perut, atau perutnya terasa nyeri saat ditekan
  • Suhu tubuh berubah drastis, dari kondisi demam bisa menjadi hipotermia
  • Muntah terus menerus
  • Muntah berupa darah, atau feses yang keluar saat BAB mengandung darah
  • Anak mimisan terus
  • Gusi anak berdarah tiba-tiba tanpa sebab
  • Dokter menemukan adanya kebocoran plasma saat diperiksa
  • Jumlah trombosit darah menurun
  • Kerusakan pada sistem kerja organ limpa
  • Anak kelihatan lelah, merasa gelisah, lekas marah, atau mudah tersinggung

Hal lainnya yang perlu diperhatikan orangtua mengenai gejala DBD pada anak adalah risiko yang bisa terjadi.

Apabila daya tahan tubuh anak lemah atau sebelumnya pernah mengalami demam dengue, maka peluangnya lebih besar mengalami demam berdarah dengue.

3. Gejala demam berdarah pada anak disertai syok (dengue shock syndrome)

Gejala demam berdarah dengue pada anak yang tidak ditangani dapat berubah fatal. Kondisi ini dikenal sebagai Dengue Shock Syndrome atau DSS.

Dengue shock syndrome adalah jenis demam berdarah paling parah.

Pada anak, gejala dari kondisi ini meliputi semua gejala demam dengue dan demam berdarah dengue. Ditambah pula dengan syok yang ditandai:

  • Perdarahan tiba-tiba dan terus menerus dari bagian tubuh mana pun (hidung, gusi, mulut, feses)
  • Tekanan darah menurun drastis yang menyebabkan kesadaran anak menurun cepat
  • Adanya kebocoran pada pembuluh darah.
  • Adanya kegagalan fungsi organ dalam
  • Jumlah trombosit bisa merosot hingga di bawah angka 100.000/mm3
  • Denyut nadi anak melemah

Ciri-ciri demam berdarah syok pada anak ini dapat menyebabkan kematian bila tidak segera mendapat penanganan medis.

Berdasarkan data Kemenkes yang dihimpun selama Januari-Februari 2019, DBD sudah mengakibatkan kematian 207 orang. Di antaranya kemungkinan besar termasuk anak-anak.

Mengumpulkan bukti dari pelbagai sumber berita, wabah DBD pada awal 2019 menyebabkan kematian seorang balita di Kediri dan dua anak SD; di Jakarta Barat dan di Mojokerto.

Fase gejala demam berdarah (DBD) pada anak

gejala dbd pada anak

Kemunculan gejala DBD pada anak terbagi dalam tiga tahapan fase yang sering disebut “Siklus Pelana Kuda”.

Fase ini menggambarkan kondisi naik dan turunnya demam yang menandakan proses perlawanan tubuh menghadapi infeksi virus dengue.

Berikut ciri-ciri fase gejala demam berdarah pada anak yang juga perlu diketahui orangtua:

Fase demam adalah tahap pertama yang akan dilalui setiap pengidap DBD, baik anak dan orang dewasa.

Gejala demam berdarah pada anak di fase ini berupa suhu tubuh yang tinggi.

Anak akan mengalami demam secara tiba-tiba hingga mencapai 40 ºCelsius selama 2 sampai 7 hari.

Selain demam pada anak, ia juga akan menunjukkan ciri-ciri bintik atau ruam merah di beberapa bagian tubuh dan nyeri otot.

Beberapa gejala dbd pada anak mungkin sampai dapat mengalami kejang.

Pada fase awal ini, anak juga rentan mengalami dehidrasi. Gejala inilah yang paling membedakan antara kasus demam berdarah pada anak dan orang dewasa.

Pasalnya, anak cenderung lebih mudah kekurangan cairan dan memperlihatkan tanda dehidrasi saat demam tinggi dibanding orang dewasa.

1. Fase kritis

Setelah 2-7 hari terserang demam, si kecil bisa memasuki fase kritis.

Fase ini seringkali mengecoh, karena suhu tubuh menurun hingga 37 ºC sehingga anak dianggap sudah sembuh.

Banyak pula anak yang sudah merasa bisa beraktivitas dan ceria kembali.

Padahal, gejala demam berdarah (DBD) pada anak di fase ini justru berpotensi bahaya.

Pada fase kritis, anak kecil sangat berisiko mengalami kebocoran pembuluh atau plasma darah.

Plasma darah yang bocor bisa menyebabkan kerusakan organ dan perdarahan hebat dalam tubuh.

Gejala pendarahan di fase ini bisa ditandai dengan kondisi anak yang mengalami muntah, mimisan, atau nyeri perut yang parah.

Segera bawa ke rumah sakit atau ke dokter apabila gejala DBD pada anak ini terjadi.

2. Fase penyembuhan

Setelah si kecil berhasil melewati fase kritis, umumnya ada beberapa gejala yang menandakan bahwa ia sudah sehat kembali.

Gejala DBD pada anak di fase penyembuhan adalah kadar trombositnya sudah mulai kembali naik normal. Demam pada anak juga berangsur-angsur hilang.

Kadang, si kecil mungkin akan merasakan demam kembali. Namun orangtua tidak perlu terlalu khawatir, hal ini normal pada tahap penyembuhan demam berdarah.

Pada fase penyembuhan ini, jumlah cairan di tubuh anak kemungkinan akan kembali normal secara perlahan pada 48-72 jam ke depan.

Harus bagaimana jika anak mengalami gejala DBD?

Jika anak tiba-tiba mengalami demam tinggi, muncul bintik merah, atau mengalami pegal linu serta nyeri otot, sebaiknya segera bawa anak ke dokter.

Dokter akan melakukan sejumlah tes untuk memeriksa apakah ciri-ciri tersebut benar menunjukkan gejala demam berdarah pada anak atau bukan.

Tidak ada pengobatan spesifik yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan DBD. Dokter mungkin akan meresepkan paracetamol untuk menurunkan demam pada anak.

Selain itu, untuk membantu menyembuhkan gejala DBD pada anak, Anda juga bisa:

  • Memastikan anak cukup istirahat.
  • Memberikan anak makanan yang bergizi, mudah ditelan dan dicerna, serta mengandung vitamin C.
  • Memberikan jus jambu untuk menaikkan trombosit.
  • Beri anak minum air putih atau cairan elektrolit yang banyak untuk mencegah dehidrasi.

Jangan sepelekan gejala demam berdarah dengue pada anak. Orangtua disarankan untuk selalu memerhatikan kebersihan lingkungan di sekitar rumah agar anak tidak tergigit nyamuk.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever.  (2020). Retrieved 13 November 2020, from https://www.cdc.gov/Dengue/resources/Dengue&DHF%20Information%20for%20Health%20Care%20Practitioners_2009.pdf

Gubler, D. (1998). Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. Clinical Microbiology Reviews, 11(3), 480-496. doi: 10.1128/cmr.11.3.480

Dengue and severe dengue. (2020). Retrieved 13 November 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue

Symptoms and Treatment | Dengue | CDC. (2020). Retrieved 13 November 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/symptoms/index.html

Dengue fever – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 13 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078

Dengue Fever (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 13 November 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/dengue.html

Dengue Fever – Johns Hopkins All Children’s Hospital . (2020). Retrieved 13 November 2020, from https://www.hopkinsallchildrens.org/patients-families/health-library/healthdocnew/dengue-fever

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Buletin Jendela Epidemiologi | Demam Berdarah Dengue di Indonesia Tahun 1968-2009, [online] vol. 02, p.1.

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Tanggal diperbarui 17/11/2017
x