Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bisakah Penyakit Lupus Menyerang Anak-anak dan Remaja?

Bisakah Penyakit Lupus Menyerang Anak-anak dan Remaja?

Normalnya, sistem kekebalan tubuh (imun) akan memproduksi sel kekebalan dan antibodi untuk melawan kuman dan infeksi. Sayangnya, sistem kekebalan imun pada orang dengan penyakit lupus akan sangat aktif dan tidak bekerja dengan normal. Selain menyerang orang dewasa, dapatkah penyakit lupus terjadi pada anak dan remaja?

Bisakah lupus terjadi pada anak dan remaja?

Penyakit lupus merupakan gangguan autoimun. Pada gangguan ini, sistem imun tidak bisa membedakan sel-sel tubuh yang sehat dengan kuman pembawa infeksi.

Akibatnya, sistem imun dapat menyerang sel-sel sehat dalam tubuh.

Menurut Children’s Hospital of Philadelphia, sekitar 25.000 anak-anak dan remaja diketahui memiliki penyakit lupus. Penyakit ini paling umum menyerang mereka yang berusia 15 tahun.

Penyakit ini disebut sebagai penyakit peniru karena gejala awal penyakit hampir sering dijumpai pada penyakit lain. Contohnya, demam, tubuh lemah, dan tidak nafsu makan.

Selain itu, gejala yang muncul juga dapat hilang dan timbul sehingga sebagian besar orang mengira mereka sembuh dari penyakit.

Penyakit lupus yang terjadi pada anak dan remaja, memiliki gejala berbeda-beda. Akan tetapi, umumnya mereka akan merasakan beberapa gejala, meliputi:

  • Demam lebih dari 37º Celcius
  • Tubuh lelah dan nafsu makan menurun
  • Berat badan menurun
  • Nyeri otot dan pembengkakan pada sendi
  • Rambut rontok dan jari-jari tangan serta kaki menjadi putih atau kebiruan
  • Muncul ruam pada hidung dan pipi yang berbentuk kupu-kupu yang disebut malar.
  • Ruam muncul setelah terpapar sinar matahari
  • Adanya luka di mulut atau hidung

Dibanding orang dewasa, penyakit lupus pada anak dan remaja cenderung lebih sering memiliki masalah dengan organ-organ vital, terutama ginjal dan otak.

Bila sudah menyerang organ vital ini, anak mungkin akan merasakan gejala, seperti:

  • Urine berwarna gelap disertai pembengkakan pada kaki, tungkai, dan kelopak mata. Ini menandakan penyakit sudah menyebabkan peradangan pada ginjal (nefritis).
  • Sesak napas dan nyeri dada bila paru-paru atau selaput paru (pleura) mengalami peradangan.
  • Sakit kepala, daya ingat bermasalah, dan kejang bila peradangan menyerang otak (cerebritis)

Penyebab penyakit lupus pada anak dan remaja

Sumber: Youtube Image

Penyakit lupus tidak menular, seperti campak. Penyebab kenapa anak-anak terkena penyakit ini juga belum diketahui secara pasti.

Faktanya, orangtua dengan penyakit ini hanya berisiko sebesar 5-10% untuk menurunkan lupus pada buah hatinya.

Sementara ini, peneliti percaya bahwa penyakit lupus pada anak disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Riwayat keluarga. Anak yang lahir dengan gen tertentu, kemungkinan berisiko terkena lupus.
  • Lingkungan. Lingkungan memainkan peran penting dalam penyebaran infeksi, paparan sinar UV, tekanan ekstrem, dan kadar hormon estrogen dalam tubuh yang bisa membuat anak memiliki risiko tinggi terkena lupus.

Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, anak yang terkena lupus harus menjalani serangkaian tes, mulai dari pengecekan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta pencitraan.

Tes untuk mendiagnosis lupus yang terjadi pada anak umumnya, meliputi:

  • Tes darah dan tes urine menguji antibodi dan menilai fungsi ginjal.
  • Tes pelengkap untuk mengetahui kadar komplemen darah dan protein dalam darah.
  • Rontgen (pemindaian dengan sinar X) untuk mengetahui kondisi organ vital, jaringan internal, dan tulang.
  • Tes C-reactive protein (CRP) untuk mengetahui tingkat peradangan dalam tubuh.
  • Tes laju sedimentasi eritrosit (ESR) untuk mengukur kecepatan sel darah merah untuk menggumpal

Bisakah penyakit lupus pada anak dan remaja disembuhkan?

Hingga kini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan lupus. Namun, beberapa perawatan dapat membantu meringankan gejala lupus.

Pengobatan biasanya akan disesuaikan dengan keparahan lupus dan sistem tubuh yang terpengaruh.

Obat pereda nyeri, seperti acetaminophen atau ibuprofen, mungkin akan diresepkan pada anak yang menderita lupus. Beberapa di antaranya diberi obat malaria untuk mengobati ruam pada kulit dan nyeri sendi.

Selain itu, dokter spesialis anak juga akan meresepkan obat steroid antiperadangan yang mampu mengatasi demam dan kelelahan.

Anak juga akan diminta untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bernutrisi, tidur cukup, dan menghindari stres.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Boston’s Children Hospital. Lupus (Symptoms and Causes). Accessed on July 18th, 2019.

Children’s Hospital of Philadelphia. What Is Lupus? Accessed on July 18th, 2019.

Kids Health. Lupus. Accessed on July 18th, 2019.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 16/08/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team
x