5 Jenis Obat untuk Mengatasi Gejala Penyakit Autoimun

    5 Jenis Obat untuk Mengatasi Gejala Penyakit Autoimun

    Penyakit autoimun timbul saat sistem kekebalan tubuh yang seharusnya bertugas untuk melawan infeksi virus dan bakteri justru menyerang sel tubuh yang sehat. Penyakit autoimun muncul secara bertahap dan jika dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh hingga bahkan kematian. Oleh karena itu, penggunaan obat sangatlah dibutuhkan agar kondisi pasien autoimun tetap terkendali.

    Berbagai jenis obat untuk autoimun

    nsaid
    Sumber: Winconsin Public Radio

    Tujuan utama dari pengobatan adalah mengontrol respons imun dalam tubuh Anda agar tidak menimbulkan komplikasi autoimun yang berbahaya. Berikut adalah berbagai pilihan obat-obatannya.

    1. NSAID

    NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs) atau obat anti-inflamasi nonsteroid merupakan obat yang biasanya digunakan untuk meringankan rasa sakit dan nyeri saat mengalami gejala suatu penyakit.

    Obat jenis NSAID mengurangi rasa sakit dengan memblokir enzim tertentu sehingga tubuh tidak bisa memproduksi prostaglandin. Prostaglandin merupakan sekumpulan asam lemak alami yang berperan dalam menimbulkan nyeri dan peradangan.

    Biasanya, obat ini digunakan untuk mengatasi demam dan pembengkakan pada penyakit lupus serta nyeri dan kaku sendi pada penyakit rematik dan psoriasis arthritis.

    Obat-obatan NSAID yang umum digunakan dalam pengobatan autoimun yaitu aspirin, ibuprofen, dan sodium naproxen.

    Banyak obat NSAID yang bisa Anda temukan di apotek atau supermarket dan boleh diminum tanpa resep dokter. Namun, jika Anda membutuhkan NSAID dengan jenis yang lebih kuat, Anda tentu akan memerlukan resep dari dokter.

    2. Imunosupresan

    Penyakit autoimun terjadi karena reaksi sistem imun yang berlebihan. Maka dari itu, pasien autoimun biasanya harus menjalani terapi dengan obat imunosupresan, terutama bila gejala yang muncul lebih serius.

    Imunosupresan merupakan obat penahan kerja sistem kekebalan tubuh. Obat ini bekerja dengan menurunkan kinerja sistem kekebalan Anda agar tidak merusak sel dan jaringan tubuh yang sehat.

    Pada beberapa kondisi, obat ini dapat membuat penyakit autoimun menjadi remisi, alias tidak menimbulkan tanda-tanda penyakit.

    Beberapa contoh obat imunosupresan yang sering diresepkan dokter yakni obat steroid seperti prednisone, methylprednisolone, dan dexamethasone. Steroid dapat menghambat produksi sitokin, zat yang menyebabkan peradangan.

    Ada pula imunosupresan berupa terapi biologis yang dapat menargetkan bagian tertentu dari sistem kekebalan, misalnya memblokir reseptor seperti IL-1 dan IL-6 blockers. Obat autoimun jenis ini biasanya diberikan melalui suntikan atau infus.

    3. DMARD

    obat DMARD
    Sumber: Gazeta Metro

    DMARD (disease-modifying anti rheumatic drugs) merupakan sekelompok obat yang kerap digunakan untuk mengatasi kondisi autoimun seperti rematik, ankylosing spondylitis, dan lupus.

    Terkadang, DMARD juga diresepkan dalam pengobatan myositis, vaskulitis, inflammatory bowel disease (IBD), dan beberapa jenis kanker.

    Berbeda dengan obat pereda nyeri, DMARD berfungsi untuk mengurangi peradangan dengan berfokus pada penyebab yang menjadi dasar kemunculannya. Jadi, obat ini tidak mengobati gejala secara langsung.

    DMARD bekerja secara perlahan untuk memperlambat perkembangan penyakit, Nantinya, efek dari obat ini akan dirasakan seiring waktu selama Anda menjalani pengobatan.

    Obat DMARD terbagi menjadi dua jenis, yakni DMARD konvensional dan DMARD biologis. Beberapa jenis obat DMARD konvensional meliputi methotrexate (MTX), klorokuin, dan azathioprine.

    Sementara itu, DMARD biologis seperti obat anti-TNF baru diberikan bila tubuh tidak merespons terhadap penggunaan DMARD konvensional.

    4. Suntikan insulin

    Insulin diberikan untuk membantu kondisi pengidap diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak mampu memproduksi insulin, padahal tubuh tetap membutuhkan kadar insulin yang tepat untuk menjaga gula darah agar tetap dalam kisaran yang sehat.

    Pemberian insulin dapat membantu mengendalikan kadar gula darah dan menjaga tubuh pasien dalam kondisi yang sehat. Insulin diberikan ke dalam tubuh melalui jarum suntik atau pompa insulin.

    Biasanya, pengobatan dengan insulin dimulai dengan dua suntikan per hari dari dua jenis insulin yang berbeda.

    Nantinya, obat akan bertambah menjadi tiga sampai empat suntikan per hari dan dari jenis insulin yang berbeda pula. Jenis insulin yang diberikan bergantung pada kadar gula darah pasien.

    Suntikan insulin dapat menjadi salah satu metode pengobatan yang efektif. Pemberian 3–4 suntikan insulin sehari juga terbukti dapat mengendalikan gula darah serta mencegah komplikasi terkait diabetes seperti kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf.

    5. IVIg (imunoglobulin interavena)

    efek penyakit autoimun

    IVIg merupakan obat yang menggabungkan imunoglobulin dari orang yang berbeda untuk mengobati penyakit autoimun seperti arthritis. Imunoglobulin sendiri merupakan antibodi yang diproduksi secara alami untuk membantu melawan infeksi dan penyakit.

    IVIg dapat mengurangi peradangan dan meningkatkan kadar imunoglobulin bila kadarnya rendah atau menurun karena penggunaan obat lain.

    Obat ini tidak langsung memberikan efek yang instan. Butuh penggunaan selama beberapa minggu sampai IVIg menunjukkan fungsi kerjanya. Bila tubuh merespons pengobatan IVIg dengan baik, efeknya bisa bertahan sampai beberapa bulan.

    IVIg diberikan melalui infus ke pembuluh darah. Maka dari itu, Anda harus pergi ke rumah sakit setiap kali menjalani perawatan dengan obat ini. Pengobatan akan memakan waktu selama beberapa jam, sebab obat harus diberikan perlahan.

    Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit autoimun secara total. Maka dari itu, Anda harus disiplin menjalani terapi dengan obat-obatan guna menjaga kondisi tubuh Anda.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

    General Practitioner · Klinik Chika Medika


    Ditulis oleh Winona Katyusha · Tanggal diperbarui 30/05/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan