Obat-obatan yang Dapat Meningkatkan Risiko Anda Terkena Penyakit Lupus

    Obat-obatan yang Dapat Meningkatkan Risiko Anda Terkena Penyakit Lupus

    Penyakit lupus atau dalam bahasa medisnya disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah salah satu penyakit autoimun yang paling sering menyerang manusia. Menurut data dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI) yang dikutip dari Republika, jumlah penduduk Indonesia yang memiliki lupus pada tahun 2013 mencapai 13.300 jiwa. Sampai saat ini, belum jelas apa yang menjadi penyebab lupus. Namun beberapa faktor seperti kadar estrogen tubuh berlebih, radiasi sinar UV, paparan merkuri, serta infeksi virus herpes zoster dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini. Penggunaan obat-obatan tertentu juga diduga kuat dapat menjadi penyebab lupus.

    Kenapa lupus bisa disebabkan oleh konsumsi obat?

    Lupus adalah penyakit autoimun, di mana tubuh memproduksi antibodi secara berlebih. Dalam jumlah berlebih, antibodi yang seharusnya melindungi Anda dari serangan penyakit justru berbalik menyerang sel dan jaringan tubuh yang sehat.

    Beberapa obat-obatan resep dapat menjadi penyebab lupus. Akan tetapi, mekanisme di balik kemunculan gejala lupus akibat obat belum dapat diketahui pasti. Sejauh ini diketahui bahwa efek samping obat prokainamid dan anti-TNF untuk obat rematik sering menyebabkan peningkatan jumlah antibodi antinuklear (ANA) dalam serum darah. Minosiklin, antibiotik resep untuk mengobati jerawat, juga dapat memicu munculnya gejala lupus. Obat resep untuk mengatasi gangguan tiroid (propiltiourasil) juga memicu gejala lupus.

    Lupus yang dipicu oleh obat memiliki karakteristik gejala yang sedikit berbeda dari lupus yang umum. Gejala lupus akibat obat bersifat sementara selama Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut, dan bisa sembuh ketika pengobatan dihentikan.

    Apa saja obat yang dapat menjadi penyebab lupus?

    Berikut adalah daftar obat-obatan yang bisa memicu gejala lupus selama penggunaan dosisnya, berdasarkan kompilasi dari Rubin dkk (2015). Namun perlu dicatat bahwa risiko masing-masing obat untuk memicu gejala lupus tidaklah sama — ada yang berisiko tinggi ( lebih dari 5 kejadian per 100 orang yang memakai), sedang (1 dari 100 kasus), rendah (1 dari 1000), dan sangat rendah (<1 dari 1000).

    1. Antiaritmia

    Obat-obatan golongan ini dipakai untuk menangani gejala gangguan irama jantung (aritmia), seperti takikardia (detak jantung cepat), brakikardia (detak jantung lambat), dan fibrilasi atrial (detak jantung tidak normal).

    Obat antiaritmia yang tergolong berisiko tinggi memicu gejala lupus adalah prokainamid. Namun, obat ini jarang ditemukan di Indonesia. Obat antiaritmia yang lebih umum, seperti Quinidine tergolong berisiko sedang, sementara propafenon, disopyramide, dan amiodaron memiliki risiko yang sangat rendah.

    2. Antihipertensi

    Sejumlah obat yang umum diresepkan untuk mengendalikan hipertensi seperti enalapril, lisinopril, klonidin, atenolol, labetalol, pindolol, minoxidil, prazosin, metildopa, captopril, asebutolol termasuk rendah risikonya. Minoxidil juga umum digunakan sebagai obat penumbuh rambut,

    Namun begitu, hidralizin digolongkan sebagai obat antihipertensi yang berisiko tinggi untuk menjadi penyebab lupus. Di Indonesia, hidralazin tersedia dalam bentuk kombinasi dengan merek Ser-Ap-Es bentuk tablet dengan kandungan reserpin, hidralazin, dan hidroklortiazid.

    3. Antipsikotik

    Beberapa obat-obatan antipsikotik resep untuk menangani gejala psikosis dan gangguan kejiwaan tertentu, seperti klorpromazin, klozapin, ferfenazin, fenelzin, chlorprothixene, dan lithium karbonat dapat memicu gejala lupus. Namun, golongan antipsikotik tergolong berisiko rendah.

    4. Antibiotik dan antimikroba

    Antibiotik jenis isoniazid atau INH, minosiklin, asam nalidiksat, streptomycin, sulfamethoxazole, dan quinine juga bisa menjadi penyebab lupus jika tidak dikonsumsi sesuai aturan pakai. Namun risikonya termasuk rendah.

    5. Antikonvulsan

    Obat-obatan resep untuk mengatasi kejang dan epilepsi, seperti karbamazepin, clobazam, fenitoin, trimetadion, primidon, etosuksimid, dan asam valproat dapat memicu gejala lupus selama pemakaian. Namu risikonya rendah.

    6. Antiperadangan

    Obat-obatan antiradang seperti D-penisilamin, sulfasalazin, fenilbutazon, mesalam(z)in, zafirlukast berisiko rendah memicu gejala lupus. Penisilamin adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk penawar keracunan timbal, rematik, penyakit Wilson, dan sistinuria.

    7. Agen biologis

    Anti-TNF alfa, seperti infliksimab dan etanersept, dan interferon alfa biasa digunakan untuk mengobati rematik berisiko rendah untuk memicu lupus.

    8. Diuretik

    Obat diuretik seperti klortalidon dan hidroklortiazid risikonya sangat rendah untuk menyebabkan lupus.

    9. Penurun kolesterol

    Obat penurun kolesterol jenis statin seperti lovastatin, simvastatin, dan atorvastatin tergolong rendah risikonya untuk memicu gejala lupus.

    10. Lain-lain

    Aminoglutethimide, obat tetes mata timolol, tiklopidin, levadopa, deferipron berisiko rendah menjadi penyebab lupus.

    Jika Anda menggunakan obat-obatan di atas dan khawatir tentang risiko lupus, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda. Dokter mungkin dapat mengubah resep atau mengubah dosisnya sesuai kondisi Anda.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Different types of lupus, https://www.hopkinslupus.org/lupus-info/types-lupus/, diakses tanggal 23 Juni 2017.

    Rubin RL dkk. 2015. Drug-induced lupus. Expert Opin Drug Saf. 14(3):361-78.

    Chang C, Gershwin ME. 2011.Drug-induced lupus erythematosus: incidence, management and prevention. Drug Saf. 34(5):357-74.

    Foto Penulis
    Ditulis oleh Sarmoko, Apt. Diperbarui Nov 04, 2020
    Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus