Obat-obatan yang Dapat Meningkatkan Risiko Anda Terkena Penyakit Lupus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Penyakit lupus atau dalam bahasa medisnya disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah salah satu penyakit autoimun yang paling sering menyerang manusia. Menurut data dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI) yang dikutip dari Republika, jumlah penduduk Indonesia yang memiliki lupus pada tahun 2013 mencapai 13.300 jiwa. Sampai saat ini, belum jelas apa yang menjadi penyebab lupus. Namun beberapa faktor seperti kadar estrogen tubuh berlebih, radiasi sinar UV, paparan merkuri, serta infeksi virus herpes zoster dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini. Penggunaan obat-obatan tertentu juga diduga kuat dapat menjadi penyebab lupus.

Kenapa lupus bisa disebabkan oleh konsumsi obat?

Lupus adalah penyakit autoimun, di mana tubuh memproduksi antibodi secara berlebih. Dalam jumlah berlebih, antibodi yang seharusnya melindungi Anda dari serangan penyakit justru berbalik menyerang sel dan jaringan tubuh yang sehat.

Beberapa obat-obatan resep dapat menjadi penyebab lupus. Akan tetapi, mekanisme di balik kemunculan gejala lupus akibat obat belum dapat diketahui pasti. Sejauh ini diketahui bahwa efek samping obat prokainamid dan anti-TNF untuk obat rematik sering menyebabkan peningkatan jumlah antibodi antinuklear (ANA) dalam serum darah. Minosiklin, antibiotik resep untuk mengobati jerawat, juga dapat memicu munculnya gejala lupus. Obat resep untuk mengatasi gangguan tiroid (propiltiourasil) juga memicu gejala lupus.

Lupus yang dipicu oleh obat memiliki karakteristik gejala yang sedikit berbeda dari lupus yang umum. Gejala lupus akibat obat bersifat sementara selama Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut, dan bisa sembuh ketika pengobatan dihentikan.

Apa saja obat yang dapat menjadi penyebab lupus?

Berikut adalah daftar obat-obatan yang bisa memicu gejala lupus selama penggunaan dosisnya, berdasarkan kompilasi dari Rubin dkk (2015). Namun perlu dicatat bahwa risiko masing-masing obat untuk memicu gejala lupus tidaklah sama — ada yang berisiko tinggi ( lebih dari 5 kejadian per 100 orang yang memakai), sedang (1 dari 100 kasus), rendah (1 dari 1000), dan sangat rendah (<1 dari 1000).

1. Antiaritmia

Obat-obatan golongan ini dipakai untuk menangani gejala gangguan irama jantung (aritmia), seperti takikardia (detak jantung cepat), brakikardia (detak jantung lambat), dan fibrilasi atrial (detak jantung tidak normal).

Obat antiaritmia yang tergolong berisiko tinggi memicu gejala lupus adalah prokainamid. Namun, obat ini jarang ditemukan di Indonesia. Obat antiaritmia yang lebih umum, seperti Quinidine tergolong berisiko sedang, sementara propafenon, disopyramide, dan amiodaron memiliki risiko yang sangat rendah.

2. Antihipertensi

Sejumlah obat yang umum diresepkan untuk mengendalikan hipertensi seperti enalapril, lisinopril, klonidin, atenolol, labetalol, pindolol, minoxidil, prazosin, metildopa, captopril, asebutolol termasuk rendah risikonya. Minoxidil juga umum digunakan sebagai obat penumbuh rambut,

Namun begitu, hidralizin digolongkan sebagai obat antihipertensi yang berisiko tinggi untuk menjadi penyebab lupus. Di Indonesia, hidralazin tersedia dalam bentuk kombinasi dengan merek Ser-Ap-Es bentuk tablet dengan kandungan reserpin, hidralazin, dan hidroklortiazid.

3. Antipsikotik

Beberapa obat-obatan antipsikotik resep untuk menangani gejala psikosis dan gangguan kejiwaan tertentu, seperti klorpromazin, klozapin, ferfenazin, fenelzin, chlorprothixene, dan lithium karbonat dapat memicu gejala lupus. Namun, golongan antipsikotik tergolong berisiko rendah.

4. Antibiotik dan antimikroba

Antibiotik jenis isoniazid atau INH, minosiklin, asam nalidiksat, streptomycin, sulfamethoxazole, dan quinine juga bisa menjadi penyebab lupus jika tidak dikonsumsi sesuai aturan pakai. Namun risikonya termasuk rendah. 

5. Antikonvulsan

Obat-obatan resep untuk mengatasi kejang dan epilepsi, seperti karbamazepin, clobazam, fenitoin, trimetadion, primidon, etosuksimid, dan asam valproat dapat memicu gejala lupus selama pemakaian. Namu risikonya rendah.

6. Antiperadangan

Obat-obatan antiradang seperti D-penisilamin, sulfasalazin, fenilbutazon, mesalam(z)in, zafirlukast berisiko rendah memicu gejala lupus. Penisilamin adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk penawar keracunan timbal, rematik, penyakit Wilson, dan sistinuria.

7. Agen biologis

 Anti-TNF alfa, seperti infliksimab dan etanersept, dan interferon alfa biasa digunakan untuk mengobati rematik berisiko rendah untuk memicu lupus. 

8. Diuretik

Obat diuretik seperti klortalidon dan hidroklortiazid risikonya sangat rendah untuk menyebabkan lupus.

9. Penurun kolesterol

Obat penurun kolesterol jenis statin seperti lovastatin, simvastatin, dan atorvastatin tergolong rendah risikonya untuk memicu gejala lupus.

10. Lain-lain

Aminoglutethimide, obat tetes mata timolol, tiklopidin, levadopa, deferipron berisiko rendah menjadi penyebab lupus.

Jika Anda menggunakan obat-obatan di atas dan khawatir tentang risiko lupus, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda. Dokter mungkin dapat mengubah resep atau mengubah dosisnya sesuai kondisi Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Manfaat Pisang yang Jadi Buah Favorit Banyak Orang

Tak banyak yang tahu bahwa kandungan kalium dalam pisang berkhasiat menurunkan risiko stroke. Apa lagi manfaat pisang untuk kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Fakta Gizi, Nutrisi 5 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

7 Hal yang Bisa Terjadi Pada Tubuh Jika Anda Berhenti Minum Pil KB

Pil KB berhubungan dengan hormon. Itu sebabnya, saat Anda memutuskan untuk berhenti minum pil KB akan muncul berbagai efek samping. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Seksual, Kontrasepsi 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Beberapa Orang Cenderung Susah Mencium Bau?

Beberapa orang ada yang memiliki hidung kurang sensitif sehingga sulit mencium bau yang ada di sekitarnya. Kenapa bisa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Sebagai orangtua, Anda perlu tau bedanya anak yang aktif dan hiperaktif. Yuk, kenali tanda dan cara mengatasi anak hiperaktif!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Kesehatan Anak, Parenting 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara pakai termometer

Mengenal 4 Jenis Termometer yang Paling Umum, dan Cara Pakainya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
apa itu lucid dream

Sedang Mimpi Tapi Sadar? Begini Penjelasan Fenomena Lucid Dream

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Mata Kucing Pada Anak? Waspada Gejala Kanker Mata

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengenal Misophonia

Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit