Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Cara Membedakan Apakah Anak Kena Demam Scarlet atau Campak

    Cara Membedakan Apakah Anak Kena Demam Scarlet atau Campak

    Bu, pernahkah si kecil mengalami demam yang disertai ruam? Demam disertai ruam pada anak bisa terjadi karena berbagai penyebab, seperti demam scarlet dan campak. Namun, kemiripan gejala pada dua kondisi tersebut sering membuat orang salah mengira. Agar tak lagi salah, kenali perbedaan antara demam scarlet dan campak melalui ulasan berikut.

    Apa itu demam scarlet dan campak?

    Demam scarlet alias scarlet fever, atau disebut juga dengan scarlatina, adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus kelompok A.

    Penyakit infeksi ini umumnya berkembang dari radang tenggorokan (strep throat) yang terjadi akibat infeksi bakteri yang sama.

    Bakteri streptococcus yang menginfeksi tubuh memiliki racun yang bisa menimbulkan ruam dan demam pada anak.

    Hal ini yang membuat demam scarlet sering dianggap sebagai penyakit lain yang juga menimbulkan demam dan ruam, seperti campak.

    Apalagi, demam scarlet dan campak sama-sama sering terjadi pada anak.

    Mayo Clinic menyebut, demam scarlet paling sering terjadi pada anak-anak berusia 5—15 tahun.

    Sementara itu, campak sebagian besar dialami oleh anak di bawah 5 tahun.

    Lalu, apa sebenarnya campak itu? Campak atau disebut juga dengan rubeola adalah penyakit infeksi pada anak yang disebabkan oleh virus.

    Penyakit ini menyerang saluran pernapasan sehingga sering menimbulkan gejala seperti flu pada anak.

    Baik demam scarlet maupun campak, keduanya merupakan kondisi medis yang serius pada anak.

    Keduanya pun termasuk penyakit yang menular dari orang ke orang saat penderitanya batuk atau bersin.

    Namun, ada perbedaan pada penanganan kedua penyakit ini sehingga penting bagi Anda untuk memahaminya lebih jauh.

    Perbedaan gejala demam scarlet dan campak

    Anak sakit

    Meski tampak sama, perbedaan gejala demam scarlet dan campak sebenarnya masih bisa terlihat.

    Apalagi, perjalanan penyakit dan kemunculan gejala pada keduanya pun berbeda.

    Berikut adalah masing-masing penjelasan gejalanya.

    Gejala demam scarlet

    Pada demam scarlet, ruam merupakan gejala utama yang muncul. Ruam biasanya muncul satu atau dua hari setelah terpapar bakteri.

    Biasanya, ruam pertama kali muncul di leher dan wajah, yang sering meninggalkan bekas di sekitar mulut.

    Ruam kemudian menyebar ke dada dan punggung, lalu ke seluruh tubuh.

    Ini termasuk ke bagian lipatan tubuh, seperti ketiak, siku, dan selangkangan, yang tampak seperti garis-garis merah.

    Ruam pada demam scarlet umumnya berwarna merah terang dan bergelombang. Jika ditekan, ruam dan kulit di sekitarnya akan menjadi pucat.

    Sering kali ruam yang muncul tampak seperti sengatan matahari yang parah dengan benjolan kecil yang terasa kasar layaknya amplas.

    Benjolan ini pun bisa terasa gatal. Setelah enam hari, ruam biasanya mulai menghilang.

    Namun, bekas ruam mungkin akan mengelupas selama beberapa minggu hingga kulit sembuh.

    Selain itu, demam scarlet juga memiliki gejala lainnya yang khas dan membedakan dengan campak.

    Berikut adalah beberapa gejala demam scarlet yang mungkin muncul.

    • Wajah mungkin tampak memerah dengan kulit sekitar mulut yang tampak pucat.
    • Lidah akan tampak sangat merah dan seperti bergelombang atau bengkak, sehingga sering disebut strawberry tongue. Pada awal infeksi, lidah tampak memiliki lapisan keputihan atau kekuningan.
    • Demam hingga 38° Celsius.
    • Sakit tenggorokan.
    • Pembengkakan kelenjar atau benjolan di leher anak.
    • Amandel dan bagian belakang tenggorokan akan terlihat membesar, kemerahan, dan ditemukan juga lapisan atau bintik-bintik keputihan atau kekuningan di sekitarnya.
    • Menggigil atau sakit kepala pada anak.
    • Mual dan muntah pada anak.
    • Anak kehilangan nafsu makan.

    Sementara pada campak, ada perbedaan dari demam scarlet yang bisa Anda perhatikan.

    Gejala campak

    Meski sama-sama menimbulkan ruam, perbedaan demam scarlet dan campak justru terlihat pada gejalanya.

    Gejala campak biasanya tidak akan langsung terlihat saat pertama kali anak Anda terpapar virus penyebabnya.

    Umumnya, ada masa inkubasi selama 10-14 hari setelah terpapar. Artinya, anak Anda tidak akan merasakan gejala apapun selama masa inkubasi tersebut.

    Selain itu, meski sama-sama menimbulkan ruam, gejala awal yang muncul pada penderita campak justru bukanlah ruam.

    Biasanya, anak yang mengalami penyakit infeksi ini justru akan terlebih dahulu mengalami demam, pilek, batuk berdahak, mata merah, dan sakit tenggorokan.

    Bercak koplik (bintik-bintik merah dengan biru keputihan di tengahnya) umumnya muncul terlebih dahulu di dalam mulut sebelum akhirnya ruam di kulit terlihat.

    Setelah 3-5 hari gejala muncul, ruam di kulit akibat campak mulai terlihat.

    Terkadang, kemunculan ruam ini disertai dengan demam tinggi hingga mencapai 40° Celsius.

    Ruam ini umumnya berwarna merah atau coklat kemerahan dan dimulai dengan bintik-bintik kecil datar di dahi.

    Ruam kemudian semakin banyak dan berkelompok rapat yang membuat kulit tampak merah bernoda.

    Beberapa hari berikutnya, ruam akan menyebar ke seluruh wajah, lalu turun ke leher dan dada.

    Lama-lama, ruam semakin turun ke lengan, paha, betis, dan terus ke kaki.

    Pada saat yang sama, demam sering kali meningkat semakin tinggi hingga mencapai 41° Celsius.

    Dalam beberapa hari, demam dan ruam ini secara perlahan memudar dan kemudian hilang.

    Perbedaan pengobatan demam scarlet dan campak

    obat demam atau panas anak

    Penting sekali untuk memahami perbedaan gejala dan penyebab antara demam scarlet dan campak.

    Pasalnya, kedua penyakit ini memiliki pengobatan yang berbeda. Apa bedanya?

    Anak yang mengalami demam scarlet umumnya membutuhkan obat antibiotik untuk dapat menghentikan penyebaran bakteri.

    Hal ini juga dapat mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius, seperti demam rematik.

    Sementara pemberian antibiotik tak umum untuk penderita campak. Pasalnya, antibiotik hanya dapat bekerja pada infeksi bakteri, tidak untuk infeksi virus seperti campak.

    Pemberian antibiotik umumnya hanya diberikan bila anak mengalami pneumonia atau infeksi telinga akibat bakteri yang berkembang saat anak menderita campak.

    Tanyakan kepada dokter untuk informasi lebih lanjut mengenai perbedaan demam scarlet dan campak.


    Pusing setelah jadi orang tua?

    Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Antibiotics. nhs.uk. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/antibiotics/

    Measles (for Parents) – Nemours KidsHealth. Kidshealth.org. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://kidshealth.org/en/parents/measles.html

    Measles – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/measles/symptoms-causes/syc-20374857

    Scarlet Fever (for Parents) – Nemours KidsHealth. Kidshealth.org. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://kidshealth.org/en/parents/scarlet-fever.html

    Scarlet fever – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scarlet-fever/symptoms-causes/syc-20377406

    Scarlet Fever: All You Need to Know | CDC. Cdc.gov. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://www.cdc.gov/groupastrep/diseases-public/scarlet-fever.html

    Strep throat – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 18 February 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/strep-throat/symptoms-causes/syc-20350338#:~:text=Strep%20throat%20is%20a%20bacterial,kidney%20inflammation%20or%20rheumatic%20fever

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Mar 15
    Ditinjau secara medis oleh dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A
    Next article: