Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping Imunisasi DPT pada Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Ada beberapa jenis imunisasi wajib yang diberikan pada bayi, DPT salah satunya. Imunisasi DPT adalah singkatan dari tiga penyakit berbeda, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Mengapa vaksin untuk ketiga penyakit ini wajib dilakukan dan mengapa digabung menjadi satu? Berikut penjelasan seputar vaksin DPT pada anak.

Apa itu imunisasi DPT?

Jadwal imunisasi bayi

Vaksin atau imunisasi DPT adalah imunisasi untuk mencegah tiga penyakit mematikan, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Kombinasi imunisasi DPT sudah dilakukan sejak tahun 1940-an hingga saat ini. 

Difteri, pertusis, dan tetanus adalah penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri. Difteri dan pertusis bisa disebarkan lewat kontak langsung (orang ke orang) sedangkan tetanus bisa masuk ke dalam tubuh lewat luka yang terbuka.

Vaksin DPT bisa mencegah ketiga penyakit tersebut secara bersamaan tapi kini dikembangkan beberapa jenis imunisasi DPT, yaitu:

Jenis imunisasi DPT

Mengutip dari WHO, vaksin ini bernama pentavalen, gabungan dari imunisasi DPT, HiB (haemophilus influenza tipe B) yang menyebabkan radang otak, dan hepatitis B (HB). Semuanya disatukan dalam suntikan tunggal, sehingga dalam satu suntikan bisa mencegah 5 penyakit sekaligus. 

Ada juga imunisasi kombinasi bernama pentabio, gabungan dari vaksin DPT, HB, dan polio.

Vaksin kombinasi ditujukan untuk mengurangi suntikan yang diberikan pada bayi, sehingga bisa mencegah beberapa penyakit hanya dengan satu suntikan. Pemberiannya dilakukan pada usia 2,3, dan 4 bulan

Jenis imunisasi ini sama saja dan bisa dilakukan di puskesmas, klinik, dan rumah sakit. Pada dasarnya, jenis imunisasi tersebut mampu mencegah penyakit di bawah ini:

Difteri

Penyakit yang satu ini disebabkan oleh infeksi bakteri, cara kerjanya dengan menyerang tenggorokan dan sistem pernapasan atas. Bakteri bernama Corynebacterium diphtheria ini menghasilkan racun dan bisa memengaruhi organ tubuh lain. 

Difteri menyebabkan selaput jaringan mati menumpuk di tenggorokan dan amandel, ini membuat Anda kesulitan bernapas dan menelan. Difteri bisa menular lewat kontak fisik langsung, seperti embusan napas, batuk, atau bersin dari seseorang yang terinfeksi. 

Pertusis

Sama seperti difteri, pertusis disebabkan oleh infeksi bakteri. Melansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), pertusis dikenal sebagai batuk rejan. Ini adalah kondisi batuk yang tidak terkendali membuat seseorang sulit makan, minum, sampai bernapas. 

Pertusis menjadi masalah kesehatan yang sangat serius pada bayi dan anak-anak karena bisa menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak, sampai kematian.

Sementara itu pada anak remaja dan orang dewasa, pertusis bisa menyebabkan penurunan berat badan, tidak bisa mengontrol kandung kemih, pingsan, sampai patah tulang rusuk akibat batuk yang sangat parah.

Tetanus

Penyakit yang memiliki nama lain lockjaw ini disebabkan oleh bakteri clostridium tetani. Infeksi dari bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sistem saraf. Meski sama-sama disebabkan oleh bakteri, tapi tetanus tidak menyebar lewat kontak langsung. 

Tetanus berkembang lewat spora dari bakteri pada luka yang terbuka. Setelah spora masuk ke dalam tubuh lewat luka, spora akan berkembang menjadi bakteri dan memproduksi racun berbahaya bernama tetanospamin.

Penderita tetanus menunjukkan tanda kejang otot sampai kesulitan bernapas dan berakhir pada kematian.

Polio

Penyakit ini disebut juga poliomyelitis disebabkan oleh infeksi virus, menyerang sistem saraf pusat dan membuat kerusakan pada sistem saraf motorik.

Polio bisa mengakibatkan kelumpuhan pada otot, bisa sementara bahkan permanen. Pada kasus yang sangat parah, polio memengaruhi sistem pernapasan dan kemampuan menelan.

Ketika seseorang terkena polio, kondisinya tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun dengan adanya imunisasi polio, baik yang bergabung dengan DPT atau tidak, bisa mencegah penularan penyakit ini dan menurunkan angka kejadian polio secara signifikan. 

HiB (haemophilus influenza tipe B)

Haemophilus influenzae type b (HiB) adalah bakteri yang menyebabkan infeksi pada bagian organ tubuh, seperti otak, paru-paru, saluran pernapasan, tulang, dan jantung.

Bakteri ini cenderung lebih mudah menyerang bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah. Namun, orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah juga memiliki kemungkinan terkena bakteri ini. 

Imunisasi HiB bisa mencegah anak dari berbagai penyakit berat, seperti meningitis, infeksi peradangan tulang (osteomielitis), infeksi laring (epiglotitis), pneumonia, dan septikemia

Hepatitis (HB)

Imunisasi hepatitis B (HB) termasuk ke dalam vaksin gabungan dengan DPT, bisa dalam kelompok pentabio atau pentavalen.  Hepatitis B merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B dan berisiko berkembang menjadi kanker hati.

Vaksin hepatitis B harus didapat segera setelah bayi dilahirkan, paling lambat 12 jam setelah kelahiran. Namun, bayi harus menerima suntikan vitamin K1, 30 menit sebelum divaksin.

Imunisasi hepatitis B yang bergabung dengan DPT bisa dilakukan setelah bayi berusia 2,3, dan 4 bulan. 

Siapa saja yang perlu diberikan imunisasi DPT?

imunisasi dpt anak

Center for Disease of Control and Prevention (CDC) merekomendasikan setiap orang untuk mendapatkan vaksin DPT. Siapa saja yang perlu mendapatkan imunisasi tersebut?

Bayi dan anak-anak

Menurut Center for Disease of Control and Prevention (CDC) pada situs resminya, bayi membutuhkan tiga kali vaksin DPT sebagai imunisasi dasar untuk melindungi tubuh dari tiga penyakit mematikan itu. 

Kemudian, anak-anak di atas usia satu tahun diberikan 2 kali imunisasi ulangan (booster) untuk menguatkan vaksin yang sudah diberikan sebelumnya. 

Untuk anak-anak yang memiliki reaksi parah terhadap vaksin pertusis, dokter biasanya akan merekomendasikan pemberian vaksin TD (tetanus difteri). Namun anak yang diberikan vaksin TD tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit pertusis dan akan lebih mudah tertular.

Remaja

Anak dengan rentang usia remaja, sekitar usia 11 dan 12 tahun, perlu mendapatkan vaksin DPT untuk meningkatkan imunitas tubuh. Untuk anak yang belum mendapatkan imunisasi DPT sebelumnya, perlu menerima satu kali vaksin yang sama dalam satu bulan setelah suntikan pertama. 

Ibu hamil

Amankah ibu hamil imunisasi? Ya, tergantung jenisnya. Ibu hamil perlu mendapatkan imunisasi DPT di awal bulan setiap trimester kehamilan. Ini untuk mencegah bayi mengalami pertusis atau batuk rejan di awal kehidupannya setelah dilahirkan.

Orang dewasa

Semua orang dewasa dari berbagai usia perlu mendapatkan vaksin DPT ulangan (booster) setiap 10 tahun sekali. Ini untuk menguatkan vaksin yang sebelumnya diberikan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana jadwal pemberian imunisasi DPT pada anak?

Imunisasi hepatitis bayi saat pandemi corona

Melalui situs resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa jadwal pemberian imunisasi DPT anak diberikan 3 kali sebagai imunisasi dasar dan dua kali imunisasi yang harus diulang (booster), sehingga totalnya ada 5 kali imunisasi DPT pada anak.

  • Imunisasi dasar ketika bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan
  • Imunisasi ulang (booster pada usia 18 bulan
  • Imunisasi ulang (booster) anak masuk usia 5 tahun sebelum masuk sekolah

Bagaimana bila si kecil terlambat diberikan imunisasi DPT? IDAI menjelaskan pada situs resminya bahwa anak tidak perlu mengulang imunisasi dari awal, tapi tetap lanjutkan sesuai jadwal.

Sebagai contoh, anak terlambat imunisasi dasar kedua, tetap lanjutkan imunisasi dasar ketiga sesuai jadwal. 

Kalau anak Anda belum mendapatkan imunisasi di usia kurang dari 12 bulan atau satu tahun, lakukan imunisasi dasar dengan jeda waktu (interval) yang sama yaitu jeda satu bulan. 

Sementara itu, bila imunisasi DPT 4 dilakukan sebelum anak usia 4 tahun, pemberian imunisasi DPT 5 paling cepat dilakukan 6 bulan setelahnya. Kalau si kecil diberikan vaksin DPT 4 setelah usia 4 tahun, pemberian vaksin DPT 5 tidak diperlukan lagi. 

Kemudian diperlukan vaksin ulang (booster) untuk melindungi dari penyakit tetanus dan difteri (Td), direkomendasikan dilakukan setiap 10 tahun. 

Apakah ada kondisi yang membuat anak tidak perlu atau menunda imunisasi DPT?

bayi disuntik

Imunisasi DPT sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus yang mematikan. Namun, apakah ada yang membuat seseorang tidak bisa mendapatkan vaksin ini?

Mengutip dari Healthy Children, anak yang sedang tidak enak badan atau sakit ringan perlu menunda pemberian vaksin dan tunggu sampai benar-benar sembuh. Sakit ringan yang diderita sebagai efek samping vaksin DPT ini yaitu batuk, pilek, atau demam.

Sementara itu, efek samping yang parah yaitu alergi yang sampai mengancam keselamatan jiwa. Meski ini kasus yang sangat jarang terjadi.

Bila anak Anda memiliki reaksi alergi parah dari kandungan di dalam vaksin, disarankan untuk tidak diberikan vaksin DPT.  Jelaskan pada dokter bila anak Anda memiliki kondisi:

  • Kejang atau masalah sistem saraf 
  • Sakit parah atau bengkak setelah vaksin yang mengandung difteri, pertusis, dan tetanus
  • Pernah mengalami Guillain-BarréSyndrome (GBS) atau kelemahan otot

Ini adalah kasus yang sangat jarang terjadi, tapi bila anak Anda mengalaminya segera konsultasikan ke dokter.

Harga vaksin DPT

Ketika bayi Anda menginjak usia 2, 4, dan 6 bulan, si kecil wajib untuk mendapatkan imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Ada beberapa jenis vaksin DPT dengan harga yang berbeda, berikut penjelasannya.

Vaksin DPT produksi Indonesia

Terdapat dua jenis imunisasi DPT, pentavalen dan pentabio yang terdiri dari gabungan vaksin. Untuk vaksin pentabio berisi 5 jenis vaksin yaitu DPT (difteri, pertusis, tetanus),  hepatitis B, dan polio.

Hal ini ditujukan untuk mengurangi suntikan yang diberikan, maka pada usia 6 bulan, bayi Anda bisa diberi vaksin pentabio. Harga vaksin ini cukup terjangkau karena produksi dari Indonesia.

Vaksin DPT produksi lokal ini bisa didapatkan di puskesmas dan tidak dipungut biaya karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Vaksin DPT produksi Belgia

Komponen pertusis yang digunakan dalam jenis vaksin ini tidak menyebabkan demam tinggi, hanya ringan saja, hal ini karena komponennya sudah aseluler. Pemberian imunisasi DPT ini dapat juga dilakukan dengan menggabungkan sesuai dengan jadwalnya.

Sebagai contoh, satu vaksin sudah terdiri dari vaksin Hepatitis B dan Polio inaktif. Selain itu terdapat pilihan vaksin Hib (Hemofilus influenza tipe B) – untuk mencegah influenza yang menyebabkan radang otak dan berbeda dengan influenza biasa.

Vaksin DPT produksi Prancis

Vaksin ini lebih diminati beberapa kalangan karena kenyamanan yang diberikan pada bayi Anda. Harganya pun jauh lebih mahal dari vaksin-vaksin yang diberikan di puskesmas. Namun, efektivitasnya sama saja dengan vaksin-vaksin DPT lainnya.

Bila si kecil mendapatkan vaksin bukan dari Puskesmas, biasanya menggunakan vaksin yang tidak disubsidi dari pemerintah. Namun secara umum, rentang harga imunisasi DPT sekitar Rp135 ribu sampai Rp300 ribu sekali suntikan.

Apa efek samping dari pemberian imunisasi DPT?

bayi konsultasi ke dokter

Setiap obat memiliki efek samping, tidak terkecuali imunisasi DPT. Namun efek samping imunisasi yang ditimbulkan biasanya ringan dan akan hilang sendiri, hanya pada beberapa kasus yang sangat langka bisa terjadi reaksi serius.

Efek samping ringan yang paling sering dialami oleh bayi dan anak-anak setelah vaksin DPT yaitu:

  • Rasa nyeri setelah disuntik (3 dari 4 remaja mengalami ini)
  • Kemerahan atau bengkak di area yang disuntik (1 dari 5 orang mengalami ini)
  • Demam ringan 38 derajat celcius (1 dari 25 anak)
  • Sakit kepala (3 sampai 4 orang dari 10 anak)
  • Mual, muntah, diare, sakit perut (1 dari 4 remaja)
  • Menggigil dan nyeri sendi (1 dari 10 anak)
  • Ruam sampai pembengkakan kelenjar (sangat jarang terjadi)

Efek samping ringan ini terjadi setelah anak diberikan vaksin dan tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Demam biasanya terjadi satu sampai tiga hari setelah pemberian vaksin.

Untuk mengatasinya, Anda bisa memberikan obat penurun panas atau paracetamol untuk meredakan demam ketika anak Anda merasa tidak nyaman.

Pada level yang sangat parah, meski jarang terjadi, efek samping pemberian imunisasi DPT adalah reaksi alergi.

Sebagai contoh, gatal-gatal, pembengkakan wajah dan tenggorokan, kesulitan bernapas, detak jantung cepat, pusing dan lemas. Perhatikan reaksi pada si kecil, bila mengalami tanda tersebut, segera hubungi dokter.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin HiB: Manfaat, Efek Samping, dan Jadwalnya

Vaksin HiB mulai diberikan saat bayi berusia dua bulan. Apa manfaat dari imunisasi Haemophilus influenza tipe B (HiB) dan efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 25 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh University of Oxford, Inggris berhasil memicu terbentuknya antibodi dan sel-T pada peserta uji klinis.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin PCV : Ketahui Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya

Vaksin PCV atau pneumokokus adalah salah satu dari rangkaian imunisasi yang perlu diberikan pada anak. Ini penjelasan lengkap seputar vaksin PCV.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Juli 2020 . Waktu baca 9 menit

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Para ahli menemukan mutasi baru pada coronavirus yang membuatnya lebih mudah menginfeksi. Apakah virus ini lebih berbahaya dari sebelumnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 25 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jadwal imunisasi anak bayi

Ini Jadwal Imunisasi Bayi dan Anak Usia 0-18 Tahun yang Tidak Boleh Dilewatkan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
imunisasi bayi dan anak

Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
imunisasi yang harus diulang

Daftar Imunisasi Anak yang Harus Diulang

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Imunisasi untuk Remaja

Daftar Imunisasi Penting untuk Anak Usia 9-16 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit