home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Bayi Tidak Boleh Minum Air Putih?

Kenapa Bayi Tidak Boleh Minum Air Putih?

Anda mungkin sering dengar bahwa bayi yang masih ASI eksklusif tidak boleh diberi air putih. Anda mungkin juga pernah bertanya mengapa seperti itu padahal air putih justru wajib diminum orang dewasa. ASI pun mengandung air, namun pemberian air putih saja pada bayi ASI eksklusif dapat membuat bayi dikatakan tidak ASI eksklusif lagi. Ya, pemberian air putih untuk bayi ASI eksklusif tidak diperbolehkan. Mengapa?

Mengapa bayi tidak boleh minum air putih?

Mungkin hal ini sepele bagi Anda. Hanya air, tapi mengapa bayi di bawah usia 6 bulan tidak boleh mendapatkannya? Ternyata, pemberian air putih pada bayi dapat menyebabkan masalah kesehatan. Ya, bayi yang mendapatkan air putih di usianya yang masih dini dapat mengakibatkan bayi mengalami diare dan malnutrisi. Terkesan hal kecil, namun dampaknya bisa besar bagi kesehatan bayi.

Diare

Air putih yang diberikan ke bayi mungkin tidak bersih dan bisa saja mengandung bakteri yang menyebabkan bayi terkena infeksi. Tubuh bayi di bawah usia 6 bulan belum mempunyai sistem kekebalan tubuh yang kuat untuk melawan infeksi, sehingga bayi lebih mudah mengalami penyakit infeksi, seperti diare.

BACA JUGA: Penyebab Sembelit dan Diare Pada Bayi yang Baru Lahir

Malnutrisi

Memberikan air putih pada bayi usia kurang dari 6 bulan dapat mengganggu kemampuan tubuh bayi dalam menyerap nutrisi dari ASI. Pemberian air kepada bayi juga dapat membuat bayi kenyang, sehingga ia tidak ingin menyusu lagi. Hal ini membuat bayi ASI eksklusif akan lebih sedikit menerima ASI atau bahkan bisa membuat bayi berhenti menyusu. Inilah sebabnya bayi yang diberi air putih bisa mengalami malnutrisi.

Jika bayi jarang menyusu dan lebih sering diberikan air putih, tentu produksi ASI ibu juga bisa menjadi lebih sedikit. Seberapa sering bayi menyusu sangat berkaitan dengan seberapa banyak tubuh ibu bisa memproduksi ASI. Hal ini seperti siklus yang saling memengaruhi.

Keracunan air

Ini mungkin kasus yang jarang terjadi, namun terlalu banyak air yang masuk ke tubuh bayi dapat menyebabkan bayi mengalami keracunan air, yang kemudian dapat menyebabkan kejang dan bahkan koma. Keracunan air terjadi ketika air yang terlalu banyak dalam tubuh bayi membuat konsentrasi natrium dalam tubuh berkurang. Hal ini menyebabkan terganggunya keseimbangan elektrolit dalam tubuh dan dapat menyebabkan jaringan dalam tubuh membengkak.

Bayi di bawah usia 6 bulan sebenarnya juga belum membutuhkan air. Jangan khawatir bayi akan mengalami dehidrasi jika tidak diberikan air putih. ASI yang bayi terima sebenarnya sudah mengandung air lebih dari 80%. Sehingga, dengan menyusu ASI, bayi sudah cukup mendapatkan cairan. Menyusu ASI dapat memuaskan dahaga bayi, juga melindungi bayi dari infeksi karena ASI mengandung antibodi yang diperlukan bayi. Selain itu, tentunya ASI mengandung banyak nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Hal ini juga menjadi alasan mengapa WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi.

BACA JUGA: Fakta Seputar ASI Eksklusif

Kapan bayi boleh mulai minum air putih?

Saat usia bayi sudah agak besar, kira-kira pada usia 4-6 bulan dan Anda sudah mulai mengenalkannya dengan makanan padat, Anda bisa memberikan beberapa sendok air putih beberapa kali dalam sehari. Sebaiknya, tidak lebih dari 60 ml atau kira-kira 4 sendok makan dalam sehari.

Beberapa bayi mungkin juga membutuhkan air putih pada usia ini untuk mencegah atau mengobati sembelit. Tapi, juga jangan terlalu banyak ya, usahakan hanya 60 ml dalam sehari dan terus susui bayi dengan ASI. Menyusui bayi juga dapat membantu mencegah atau mengobati sembelit karena ASI juga mengandung cairan.

Untuk bayi yang lebih besar, sudah mencapai usia 1 tahun, Anda bisa memberikannya minum air putih dengan teratur. Bayi juga membutuhkan minum air putih setelah ia makan makanan padat. Berikan air putih kepada bayi setelah makan menggunakan cangkir atau gelas kecil, Anda tidak perlu memberikannya dengan botol. Anda juga bisa terus menyusui bayi pada saat ini karena bayi masih membutuhkan nutrisi dan antibodi yang terkandung dalam ASI. Lanjutkan untuk menyusui bayi dan tawarkan bayi air putih secukupnya. Biarkan bayi memilih untuk minum air putih sekarang atau nanti. Pada usia yang lebih tua, bayi sudah bisa memilih apa yang ia perlukan.

BACA JUGA: Makanan Pertama yang Sebaiknya Diberikan pada Bayi Usia 6 Bulan

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

World Health Organization. (2014). Breastfeeding: Question and answer. [online] Available at: http://www.who.int/features/qa/breastfeeding/en/ [Accessed 1 Dec. 2016].

Daniels, S. R. (2015). When can babies drink water? | BabyCenter. [online] BabyCenter. Available at: http://www.babycenter.com/404_when-can-babies-drink-water_1368488.bc [Accessed 1 Dec. 2016].

Parents. (2009). When can my baby start drinking water?. [online] Available at: http://www.parents.com/advice/babies/feeding/when-can-my-baby-start-drinking-water/ [Accessed 1 Dec. 2016].

Bonyata, K. (2016).Guidelines for Offering Water to Breastfed Babies. [online] Available at: http://kellymom.com/nutrition/starting-solids/baby-water/ [Accessed 1 Dec. 2016].

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x