Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Memaksa Anak Jago Olahraga

Memaksa Anak Jago Olahraga

Memaksa anak untuk jago olahraga tertentu bisa membuat anak tertekan dan berpengaruh pada psikologisnya. Olahraga untuk anak seharusnya bukan diukur dari prestasi yang tinggi, tapi seberapa besar anak menyukai kegiatannya.

Olahraga bagi anak seharusnya sebuah kesenangan, bukan paksaan

memaksa anak jago olahraga bisa berdampak buruk pada psikologinya

Para penonton bersorak di pinggir lapangan menonton pertandingan turnamen sepak bola. Penonton yang didominasi bapak dan ibu ini sedang menyaksikan putra mereka bertanding di acara turnamen sepak bola anak-anak di Kota Bogor.

Sedangkan Rahmad berdiri di pinggir lapangan dengan perasaan kesal. Bukan karena tim kesayangannya kalah, tapi karena putranya hanya duduk di kursi cadangan.

Loh saya bayar dengan biaya yang sama, kenapa anak saya tidak dimainkan dalam turnamen?” kata Rahmad bercerita kepada Hello Sehat, Senin (7/9).

Rahmad geram bukan main karena pelatih tidak memberikan kesempatan putranya untuk turun dan bersenang-senang dalam pertandingan.

Itu tadi cerita Rahmad Febriandi saat mendampingi putra pertamanya menyalurkan hobi sepak bola dengan mendaftarkannya ke sekolah sepak bola.

“Setelah saya amati lagi baik-baik, anaknya juga tetap senang kok, kenapa saya yang marah. Saat itu saya sadar seharusnya saya bukan memaksa anak main di pertandingan olahraga tapi memberi motivasi supaya anaknya lebih semangat lagi,” tutur Rahmad.

Apa saat itu ambisi Rahmad justru lebih besar dari ambisi anaknya? Apa sebetulnya arti olahraga bagi anak?

Bukan hanya satu-dua orang tua yang memiliki ambisi kemenangan lebih besar daripada anaknya sendiri. Banyak di antara orang tua yang cenderung menekan dan memaksa anaknya untuk berprestasi dalam olahraga.

Kebahagiaan anak dalam berolahraga tidak sama dengan ego orang tuaoleharaga untuk anak

Tujuan anak berolahraga bisa untuk banyak hal, untuk kebugaran, bersenang-senang, membangun adrenalin, bersosialisasi, dan tentu bisa juga untuk tujuan prestasi.

Menurut psikolog anak Sani Hermawan, apapun tujuannya, kegiatan olahraga itu selalu memiliki manfaat positif. Manfaat utama bagi anak adalah kebugaran dan kesenangan.

Saat orang tua mamaksa, lalu anak merasa tertekan, itu artinya olahraga untuk anak sudah kehilangan tugas utamanya.

Disadari atau tidak, orang tua sering mendaftarkan anaknya ke klub olahraga dengan ambisi anaknya juara. Ia menginginkan timbal balik lebih dari sekadar melihat anaknya bertanding dan bersenang-senang.

Beberapa mengharapkan uang yang mereka keluarkan terbayarkan dengan prestasi olahraga yang dapat membawa anaknya masuk ke sekolah unggulan, mendapatkan beasiswa, atau bahkan kontrak profesional.

Sifat ini bisa jadi untuk memenuhi kegagalan orang tuanya yang pernah berkeinginan untuk menjadi atlet. Psikolog Amerika, Dr. Frank Smoll, menyebutnya sebagai frustrated jock syndrome atau sindrom atlet yang frustasi.

“Di situlah orang tua mencoba mewujudkan keinginannya menjadi atlet melalui anak-anak mereka,” jelas dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Michael Triangto Sp. KO, kepada Hello Sehat.

Saat kemampuan anak tidak sesuai dengan ekspektasi, orang tua akan kesal dan mulai memaksakan kehendak dengan berbagai cara mulai dari memarahi, menghukum, hingga memberi latihan tambahan.

Kepala pelatih di sekolah sepak bola ASIOP, Jakarta, Apridiawan mengatakan, tekanan dari orang tua justru membuat anak takut dan tidak menikmati permainan.

“Bertanding dengan tekanan untuk bermain bagus dari orang tuanya itu akan berpengaruh ke mental anak di lapangan. Satu kesalahan saja bisa membuatnya tidak bisa melanjutkan pertandingan,” jelas Apri.

“Dalam kegiatan olahraga anak, tugas orang tua itu hanya memotivasi bukan menuntut. Ada perbedaan yang sangat besar di sana. Menuntut artinya ada urusan ambisi orang tua yang harus diselesaikan antara orang tua dengan si anak,” tuturnya.

Jangan sampai olahraga permainan yang seharusnya menjadi tempat anak bersenang-senang malah jadi alasan mereka menangis.

Bagaimana seharusnya olahraga untuk anak?

memaksa anak jago olahraga

“Olahraga itu sendiri merupakan bagian yang akan mengoptimalkan pertumbuhan dari seorang anak,” kata dokter Michael.

Dari sisi psikologis, Sani mengatakan olahraga bagi anak itu mampu mengasah semangat bersaing, kemampuan bekerja sama dalam tim, dan kemampuan bersosialisasi. Dalam olahraga, anak juga belajar bersabar menunggu giliran, menggunakan waktu dengan disiplin, serta belajar cara menahan diri.

“Olahraga itu meningkatkan kemampuan motorik, bisa menjadi penyeimbang akademis dan non akademis anak sehingga anak lebih bahagia,” tutur Sani.

Memilihkan olahraga yang tepat bagi anak itu harus bertahap. Sani menyarankan untuk mengenalkan sebanyak mungkin cabang olahraga pada anak.

“Biarkan dia mencoba sebanyak yang dia mau,” katanya.

Semakin anak tumbuh, orang tua bisa mengarahkan anak untuk memilih jenis olahraga yang cocok, yang disenangi, dan dapat mengoptimalkan kemampuannya.

Menurut Sani, hal-hal seperti ini yang sering luput dari perhatian orang tua. Padahal keinginan orang tua dan keinginan anak haruslah dikomunikasikan selalu.

Kuncinya adalah bagaimana orang tua membuat kegiatan olahraga anak itu menyenangkan bukan menjadi suatu kewajiban yang memaksa. Sani menyarankan untuk mengajak anak berdiskusi bukan menjebak anak ke satu cabang olahraga yang tidak disukainya.

“Anak akan merasa dibohongi dan tidak dianggap keinginannya,” tutur Sani.

“Jadi memang ambisi orang tua bisa membuat anaknya memiliki ambisi yang sama. Yang susah itu kalau orang tuanya tidak berhasil membuat anaknya berambisi tapi tetap memaksakan, jadinya timpang,” lanjutnya.

Dari segi ketahanan fisik, dokter Michael mengatakan, anak yang menjalankan olahraga atas keinginannya sendiri akan cenderung mencegahnya cedera.

“Karena dia tahu tubuhnya penting untuk pertandingan, ia akan jaga agar tetap fit dan tidak cedera,” kata dokter Michael.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Wawancara orang tua anak, Senin (7/9).
  • Wawancara atlet junior: atlet gulat Agung Hartawan, atlet sepakbola Faiz Ihsanul Kamil, dan atlet bulutangkis Rachel Allessya Rose.
  • Ryan Dunn, C., Dorsch, T., King, M., & Rothlisberger, K. (2016). The Impact of Family Financial Investment on Perceived Parent Pressure and Child Enjoyment and Commitment in Organized Youth Sport. Family Relations, 65(2), 287-299. doi: 10.1111/fare.12193
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 13/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan