Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

8 Cara Mengendalikan Emosi Saat Mendisiplinkan Anak

8 Cara Mengendalikan Emosi Saat Mendisiplinkan Anak

Bagaimana cara mengendalikan emosi pada anak ketika ia berbuat ulah? Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang tua. Agar hubungan emosi Anda dengan si kecil tetap terjaga, yuk simak tips-tips berikut ini!

Kenapa orangtua banyak yang tidak bisa menahan emosi pada anak?

toxic parents

Ada beberapa alasan mengapa orang tua tidak bisa menahan emosi pada anaknya yaitu sebagai berikut.

1. Rasa takut

Orang tua marah biasanya karena takut terhadap sesuatu hal yang buruk menimpa anaknya. Ya, rasa takut bisa membuat orangtua spontan berteriak atau bahkan memukul anak.

Sebagai contoh ketika anak bermain di tempat yang berbahaya seperti dekat peralatan listrik, di kolam yang dalam dan sebagainya.

Marah itu biasanya refleks terjadi terutama jika anak tidak mengindahkan teguran dan peringatan Anda.

Meskipun tujuannya baik, usahakan sebisa mungkin lakukan cara-cara mengendalikan emosi pada anak agar tidak memperkeruh keadaan.

2. Pengaruh stres

Selain karena takut, kondisi yang sedang banyak pikiran atau stres berat juga bisa menyebabkan orang tua melampiaskan kekesalan kepada anak.

Terutama jika saat itu anak sedang berbuat ulah atau kesalahan. Meskipun kesalahan tersebut sebenarnya sepele, tetapi ibu malah memarahi anak.

Jika membiarkan hal ini terus terjadi, anak akan bingung mana yang diperbolehkan orangtua dan mana yang akan dilarang.

Lalu, bagaimana cara mengendalikan emosi pada anak?

perkembangan emosi anak

Maheen Fatima, seorang ahli psikologi anak dari Dubai, dalam tulisannya berjudul How to Handle Your Anger at Your Child memberikan sejumlah tips agar tidak mudah marah pada anak.

1. Tentukan situasi saat Anda harus marah

Sering kali saat Anda marah kepada anak, masalahnya sebenarnya sepele. Maka, tetapkan dulu batasan-batasan perilaku mana yang perlu ditindak tegas dan mana yang masih bisa dibicarakan baik-baik.

Ingat, tidak semua kenakalan anak harus direspon dengan cara memarahi atau menghukum anak. Dengan begitu, Anda pun akan lebih tenang dalam menghadapi ulah si kecil.

Cara mengendalikan emosi pada anak yang pertama adalah pilihlah kesalahan anak yang penting-penting saja, seperti jika ia bersikap buruk dengan orang lain.

Sementara untuk kesalahan sepele seperti menaruh jaket di lantai sebaiknya tidak perlu disikapi dengan marah.

2. Jika ingin marah, segera tenangkan diri

Saat mendapati ulah si kecil yang menjengkelkan, Anda mungkin jadi naik pitam dan akhirnya berteriak atau membentak. Hindarilah luapan emosi ini dengan menenangkan diri dan membuat perasaan serileks mungkin.

Salah satu cara mengendalikan emosi pada anak yang paling efektif adalah dengan menarik napas sedalam mungkin. Kemudian embuskan dan ulangi beberapa kali sampai emosi Anda stabil.

Kedua, Anda bisa pergi menjauh dulu dari si kecil, misalnya ke kamar. Jika sudah merasa lebih tenang, barulah mengajak anak berbicara dan memberikan arahan untuk tidak mengulangi perilakunya lagi secara tegas.

3. Cobalah menghitung

Selain memberikan penegasan pada anak, menghitung satu sampai sekian bisa menjadi cara mengendalikan emosi pada anak.

Sebagai contoh, “Rapikan mainanmu sekarang. Ibu hitung sampai sepuluh. Kalau sampai sepuluh belum rapi, kamu tidak boleh pakai mainan ini lagi. Satu… dua….”

Nah, jika si kecil masih belum mematuhi perintah Anda, coba untuk memberi peringatan lagi dengan sikap yang tegas tanpa meneriaki atau membentak anak.

4. Hindari memukul

Cara mengendalikan emosi pada anak selanjutnya adalah hindari memukul ataupun hukuman fisik lainnya apapun yang terjadi.

Memukul akan mengajarkan anak-anak bahwa menyakiti orang lain itu diperbolehkan. Hal ini dapat menyebabkan mereka percaya bahwa cara memecahkan masalah adalah dengan menggunakan kekerasan.

Selain itu, memukul anak tidak akan membuat Anda merasa lebih baik. Bukannya lega, Anda justru akan dihantui rasa bersalah dan emosi negatif lainnya.

Terlebih lagi, kekerasan bisa membuat anak kehilangan kepercayaan pada orangtua sehingga ia justru akan bertingkah lebih nakal.

Menurut Journal of Psychopathology, 8 dari 10 remaja menyatakan bahwa ia pernah dipukul atau ditampar oleh orang tuanya dan hal itu meninggalkan efek negatif dalam dirinya.

5. Coba kendalikan cara bicara

Semakin tenang berbicara, semakin mudah juga Anda menenangkan perasaan dan menahan emosi. Sebaliknya, kata makian atau bentakan akan membuat amarah akan semakin naik

Oleh karena itu, cara mengendalikan emosi pada anak yang efektif adalah kendalikan cara bicara Anda sebisa mungkin.

Semakin sering dilatih, Anda bisa menguasai diri dan membuat anak mengerti bahwa perilakunya salah.

Stanford Children Health menyarankan untuk gunakan kata “saya” daripada kata “kamu” saat sedang marah. Contohnya, “Mama jengkel kalau kamu melakukan ini karena…”, bukan “Kamu bikin Mama jadi stres.”

6. Hindari berkata kasar

Stanford Children Health menyebutkan bahwa berkata kasar pada anak juga merupakan bentuk penganiayaan kepada anak. Bahkan, hal tersebut ternyata dapat membekas lama dalam ingatan anak.

Oleh karena itu, jika sedang marah, cara mengendalikan emosi pada anak yang perlu Anda latih adalah memilih kata-kata yang baik.

Perkataan yang baik dapat membuat anak sadar akan kesalahannya, sedangkan perkataan kasar hanya akan menyakiti hatinya dan membuatnya trauma.

7. Hindari mengancam dengan hal yang mustahil

Dikarenakan terbawa emosi, Anda mungkin memberikan ancaman yang tidak mungkin, seperti “Mama akan potong tanganmu kalau kamu pecahkan gelas lagi!”

Padahal pada kenyataannya, Anda tidak mungkin memotong tangan anak sendiri, bukan?

Ancaman yang mustahil ini dapat menggugurkan kepercayaan anak. Bahkan ia akan menganggap marah Anda tidak berarti apa-apa sehingga tidak menimbulkan efek jera.

Selain itu, hindarilah ancaman yang berbau kekerasan. Hal itu secara tidak langsung menjadi contoh bagi anak. Jangan sampai dia mengira bahwa boleh-boleh saja memotong tangan orang lain saat sedang marah.

8. Tundalah berbuat sesuatu saat sedang marah

Saat sedang marah, tanyakan pada diri apa yang membuat Anda menjadi marah. Tundalah berbuat apapun sampai amarah mereda.

Marah tidak akan berefek apa-apa jika masih tersimpan dalam diri Anda. Ini baru akan berdampak jika Anda bertindak sesuatu.

Pada kebanyakan kasus, orang menyesali perbuatannya akibat terbawa emosi hingga melakukan kekerasan pada anak.

Oleh karena itu, sebisa mungkin terapkan cara mengendalikan emosi pada anak agar Anda tidak menyesal.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Taking Charge of Anger (for Kids) – Nemours KidsHealth. (2018). Retrieved 13 April 2021, from https://kidshealth.org/en/kids/anger.html

Stanford Children’s Health. (2021). Retrieved 13 April 2021, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=anger-management-strategies-for-parents-and-grandparents-160-45

Fatima, M. (2021). How to Handle Your Anger at Your Child. Retrieved 13 April 2021, from https://www.academia.edu/40119002/How_to_Handle_Your_Anger_at_Your_Child

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 15/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x