Obesitas sering dianggap sekadar kondisi berat badan berlebih. Padahal, obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Jenis obesitas pun bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, mulai dari nilai indeks massa tubuh (IMT), lokasi penumpukan lemak, penyebab yang berperan, hingga dampaknya terhadap kesehatan tubuh.
Sebelum membahas jenis-jenis obesitas, penting untuk dipahami bahwa pengelompokan obesitas tidak selalu sama pada setiap orang.
Obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi banyak faktor dan ditandai dengan penumpukan lemak tubuh berlebihan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.
Obesitas dapat dinilai berdasarkan penyebab, distribusi lemak tubuh, nilai IMT, lingkar pinggang, serta ada atau tidaknya gangguan kesehatan lain. Namun, tidak semua istilah “jenis obesitas” merupakan diagnosis medis resmi.
Untuk memastikan kondisi dan risiko kesehatan Anda, dokter biasanya akan menilai IMT, lingkar pinggang, riwayat penyakit, tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta keluhan yang Anda alami.
Berikut ini beberapa jenis obesitas yang perlu Anda ketahui.
Jenis obesitas yang umum dinilai secara medis
Secara medis, obesitas tidak hanya dinilai dari bentuk tubuh. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan melihat ukuran tubuh, distribusi lemak, dan dampaknya terhadap kesehatan.
1. Obesitas umum berdasarkan IMT
Obesitas umum adalah kondisi ketika nilai indeks massa tubuh atau IMT berada di atas batas normal.
IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Pada populasi Asia-Pasifik, seseorang dapat dikategorikan mengalami obesitas bila IMT-nya mencapai 25 kg/m² atau lebih.
Meski begitu, IMT bukan satu-satunya penentu kondisi kesehatan. Pada beberapa orang, seperti atlet atau orang dengan massa otot tinggi, IMT bisa terlihat tinggi meski kadar lemak tubuhnya tidak berlebihan.
Itulah sebabnya, hasil IMT sebaiknya tetap dilihat bersama pemeriksaan lain, seperti lingkar pinggang, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak berlebih di area perut. Kondisi ini sering disebut juga sebagai obesitas abdominal.
Jenis obesitas ini penting diperhatikan karena lipatan lemak pada perut lebih berkaitan dengan risiko gangguan metabolik, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.
Pada orang Asia, lingkar pinggang lebih dari 90 cm pada pria atau lebih dari 80 cm pada wanita dapat menunjukkan peningkatan risiko kesehatan.
Obesitas sentral bisa terjadi meski berat badan tidak terlihat sangat berlebih. Karena itu, mengukur lingkar pinggang dapat membantu memberikan gambaran risiko yang tidak selalu terlihat dari berat badan saja.
3. Obesitas dengan risiko metabolik
Pada sebagian orang, obesitas sudah disertai gangguan kesehatan lain. Misalnya, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, kolesterol atau trigliserida tinggi, perlemakan hati, sleep apnea, nyeri sendi, atau keterbatasan dalam beraktivitas sehari-hari.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena menunjukkan bahwa penumpukan lemak tubuh sudah berdampak pada fungsi tubuh atau meningkatkan risiko penyakit kronis.
Dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk melihat apakah obesitas sudah berkaitan dengan gangguan metabolik atau komplikasi tertentu. Hasil pemeriksaan ini akan membantu menentukan penanganan yang lebih sesuai.
Jenis obesitas berdasarkan faktor yang berperan
Selain dinilai dari IMT dan lokasi lemak, obesitas juga bisa dipahami dari faktor-faktor yang memengaruhinya. Pada banyak kasus, obesitas tidak hanya disebabkan oleh satu hal, melainkan kombinasi dari pola makan, aktivitas fisik, hormon, genetik, kondisi mental, obat-obatan, dan lingkungan.
1. Obesitas akibat jarang bergerak
Kurang aktivitas fisik dapat membuat energi yang masuk dari makanan tidak digunakan secara optimal oleh tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, kelebihan energi ini dapat disimpan sebagai lemak.
Kondisi ini bisa terjadi pada orang yang terlalu banyak duduk, jarang berolahraga, atau memiliki pekerjaan yang membuat tubuh kurang bergerak sepanjang hari.
Aktivitas fisik yang cukup membantu tubuh membakar energi, menjaga massa otot, dan mendukung metabolisme. Anda bisa memulainya dengan cara sederhana, seperti berjalan kaki, naik-turun tangga, bersepeda santai, atau melakukan peregangan di sela-sela bekerja.
2. Obesitas akibat pola makan tinggi kalori
Pola makan tinggi kalori, gula, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
Contohnya, terlalu sering mengonsumsi minuman manis, makanan cepat saji, gorengan, camilan tinggi gula, atau makan dalam porsi besar tanpa diimbangi aktivitas fisik.
Namun, obesitas tidak selalu berarti seseorang “makan terlalu banyak” semata. Pilihan makanan juga dapat dipengaruhi oleh rutinitas, stres, kualitas tidur, akses terhadap makanan sehat, kondisi ekonomi, dan kebiasaan keluarga.
Umumnya, ciri-ciri dari obesitas ini terlihat dari penumpukan lemak pada dagu, leher, dan bagian dada.
Untuk membantu mengontrol berat badan, cobalah membangun pola makan yang lebih seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, sumber protein, biji-bijian utuh, dan membatasi makanan tinggi gula serta lemak berlebih.
3. Obesitas yang berkaitan dengan stres dan emosi
Stres, rasa cemas, kurang tidur, atau tekanan emosional dapat memengaruhi pola makan sebagian orang. Ada orang yang menjadi lebih sering ngemil, makan dalam porsi besar, atau memilih makanan tinggi gula dan lemak saat sedang stres.
Kebiasaan ini sering disebut emotional eating. Jika terjadi sesekali, hal ini mungkin tidak langsung menyebabkan obesitas. Namun, bila berlangsung terus-menerus, berat badan dapat meningkat secara bertahap.
Mengelola stres, memperbaiki pola tidur, dan mencari dukungan psikologis bila diperlukan dapat membantu mengurangi kebiasaan makan yang dipicu emosi.
4. Obesitas yang berkaitan dengan perubahan hormon dan usia
Perubahan hormon dapat memengaruhi distribusi lemak, nafsu makan, metabolisme, dan massa otot.
Hal ini dapat terjadi pada beberapa fase kehidupan, misalnya setelah melahirkan, menjelang menopause, atau seiring bertambahnya usia. Pada wanita menopause, penumpukan lemak lebih sering terjadi di area perut akibat perubahan hormon dan penurunan massa otot.
Selain itu, beberapa kondisi medis seperti hipotiroidisme, PCOS, atau sindrom Cushing juga dapat berkaitan dengan kenaikan berat badan.
Jika berat badan naik dengan cepat tanpa penyebab yang jelas, disertai mudah lelah, gangguan haid, kulit kering, rambut rontok, atau keluhan lain, sebaiknya periksakan diri ke dokter.
5. Obesitas yang dipengaruhi faktor genetik dan keluarga
Riwayat keluarga dapat memengaruhi risiko obesitas. Faktor genetik dapat berperan dalam metabolisme, nafsu makan, penyimpanan lemak, dan respons tubuh terhadap makanan.
Namun, genetik bukan satu-satunya penyebab. Kebiasaan makan keluarga, pola aktivitas, kualitas tidur, dan lingkungan rumah juga dapat memengaruhi risiko obesitas.
Artinya, meski memiliki riwayat keluarga dengan obesitas, perubahan gaya hidup tetap dapat membantu menurunkan risiko dan memperbaiki kesehatan.
6. Obesitas yang berkaitan dengan obat atau kondisi medis tertentu
Beberapa obat dapat menyebabkan kenaikan berat badan pada sebagian orang. Misalnya, obat tertentu untuk depresi, epilepsi, diabetes, kortikosteroid, atau terapi hormon.
Selain itu, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi berat badan, seperti gangguan hormon, gangguan tidur, nyeri kronis yang membatasi aktivitas, atau masalah kesehatan mental.
Jangan menghentikan obat tanpa arahan dokter. Jika Anda merasa berat badan meningkat setelah mengonsumsi obat tertentu, konsultasikan dengan dokter untuk menilai kemungkinan penyebab dan pilihan penanganannya.

Keluhan yang sering disalahartikan sebagai jenis obesitas
Ada beberapa istilah yang sering terdengar seperti jenis obesitas, padahal belum tentu termasuk klasifikasi medis resmi. Berikut penjelasannya.
1. Penumpukan lemak dan keluhan pada kaki
Berat badan berlebih dapat memberi tekanan tambahan pada pembuluh darah, sendi, dan otot kaki. Akibatnya, sebagian orang mungkin lebih mudah mengalami kaki bengkak, varises, atau rasa tidak nyaman saat berdiri lama.
Namun, kondisi ini sebaiknya tidak langsung disebut sebagai jenis obesitas tersendiri tanpa pemeriksaan dokter. Pembengkakan kaki dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari masalah pembuluh darah, gangguan ginjal, gangguan jantung, cedera, hingga efek obat tertentu.
Segera periksakan diri ke dokter jika pembengkakan kaki terjadi terus-menerus, hanya muncul pada satu sisi kaki, disertai nyeri, kemerahan, kulit terasa hangat, sesak napas, atau dada terasa tidak nyaman.
2. Gluten dan kenaikan berat badan
Istilah obesitas gluten perlu dipahami dengan hati-hati. Hingga saat ini, gluten tidak dapat disebut sebagai penyebab langsung obesitas pada semua orang.
Gluten adalah protein yang terdapat dalam gandum, barley, dan rye. Pada orang dengan penyakit celiac atau sensitivitas gluten, konsumsi gluten memang dapat menimbulkan keluhan pencernaan atau masalah kesehatan tertentu.
Namun, kenaikan berat badan umumnya lebih berkaitan dengan total asupan kalori, kualitas makanan, aktivitas fisik, faktor hormon, obat-obatan, serta kondisi kesehatan lain.
Jika Anda merasa perlu membatasi gluten, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi. Membatasi gluten tanpa perencanaan dapat membuat pola makan kurang seimbang, terutama bila pilihan penggantinya makanan tinggi lemak, tinggi gula, atau rendah serat.
Cara mengetahui jenis obesitas dan risikonya
Untuk mengetahui kondisi obesitas dengan lebih tepat, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut.
- Menghitung IMT berdasarkan berat dan tinggi badan.
- Mengukur lingkar pinggang untuk melihat risiko obesitas sentral.
- Memeriksa tekanan darah.
- Memeriksa kadar gula darah dan profil lemak darah.
- Menilai riwayat penyakit, obat-obatan, pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan kondisi mental.
- Menilai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti mudah lelah, nyeri sendi, mendengkur berat, atau sesak saat beraktivitas.
Pemeriksaan ini penting karena dua orang dengan nilai IMT yang sama belum tentu memiliki risiko kesehatan yang sama.
Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika memiliki berat badan berlebih dan disertai salah satu kondisi berikut.
- Lingkar pinggang melebihi batas aman.
- Tekanan darah, gula darah, atau kolesterol tinggi.
- Mudah lelah atau sesak saat beraktivitas.
- Mendengkur berat atau sering terbangun saat tidur.
- Nyeri lutut, pinggang, atau sendi yang mengganggu aktivitas.
- Berat badan naik cepat tanpa penyebab yang jelas.
- Sudah mencoba menurunkan berat badan, tetapi belum berhasil atau berat badan mudah naik kembali.
Dokter dapat membantu menentukan penyebab yang mungkin berperan dan menyusun rencana penanganan yang lebih aman, mulai dari perubahan pola makan, aktivitas fisik, terapi perilaku, hingga pilihan pengobatan bila diperlukan.
Jenis obesitas dapat dilihat berdasarkan IMT, lokasi penumpukan lemak, faktor penyebab, dan dampaknya terhadap kesehatan.
Secara medis, obesitas umum berdasarkan IMT, obesitas sentral, serta obesitas dengan risiko metabolik penting untuk diperhatikan karena berkaitan dengan risiko penyakit kronis.
Obesitas dapat memicu berbagai penyakit bila tidak ditangani, seperti risiko penyakit jantung koroner (PJK). Jenis obesitas ini juga dihubungkan dengan kondisi resistensi insulin. Insulin merupakan hormon penting yang mengatur kadar gula darah dan mengubah energi makanan menjadi lemak.
Sementara itu, istilah seperti obesitas karena pola makan, kurang gerak, stres, hormon, genetik, atau obat-obatan lebih tepat dipahami sebagai faktor yang dapat berperan dalam kenaikan berat badan.
Untuk mengetahui kondisi Anda dengan lebih akurat, jangan hanya menilai dari bentuk tubuh. Gunakan IMT dan lingkar pinggang sebagai langkah awal, lalu konsultasikan ke dokter bila hasilnya menunjukkan risiko atau disertai keluhan kesehatan.
Kesimpulan
Jenis-jenis obesitas yang dapat dilihat berdasarkan kelompok usia dan kebiasaannya adalah sebagai berikut. - Obesitas akibat jarang berolahraga
- Obesitas akibat makanan
- Obesitas vena
- Obesitas karena merasa cemas
- Obesitas aterogenik
- Obesitas gluten