home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Manfaat dan Sumber Mineral Belerang (Sulfur) untuk Tubuh

Definisi belerang|Manfaat|Kebutuhan|Efek samping |Sumber makanan
Manfaat dan Sumber Mineral Belerang (Sulfur) untuk Tubuh

Definisi belerang

Belerang adalah salah satu jenis mineral yang paling banyak ditemukan dalam tubuh, setelah kalsium dan fosfor. Jenis mineral yang disebut juga dengan sulfur ini bisa Anda jumpai di berbagai makanan yang juga mengandung protein.

Meski begitu, hanya dua dari 20 asam amino pada protein yang mengandung protein. Pasalnya, asam amino yang disebut metionin ini tidak dapat dicerna oleh tubuh, sehingga harus berasal dari makanan.

Itu sebabnya, sulfur berperan penting dalam menghasilkan berbagai jenis protein, termasuk untuk membentuk rambut, otot, dan kulit. Selain itu, kegunaan belerang penting dalam menyusun tulang, gigi, dan kolagen.

Bahkan, belerang juga memiliki manfaat sebagai pengatur kadar gula darah normal. Anda bisa mendapatkan mineral ini dari makanan dan suplemen dalam bentuk methylsulfonylmethane (MSM).

Manfaat

Belerang merupakan mineral yang memiliki peran penting dalam proses sintesis zat gizi protein. Sebagai contoh, sulfur diperlukan untuk sintesis asam amino sistein dan metionin.

Kedua jenis protein tersebut merupakan bagian dari glutathione, yaitu antioksidan yang membantu melindungi sel dari kerusakan. Anda bisa memperoleh manfaat belerang secara alami dengan mengonsumsi makanan tertentu.

Berikut sejumlah manfaat jenis mineral satu ini yang perlu Anda ketahui.

1. Melindung tubuh dari peradangan

Sebagai salah satu mineral yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan, belerang menawarkan manfaat yang berguna bagi tubuh. Salah satunya yakni melindungi tubuh dari peradangan.

Dilansir dari studi yang dimuat dalam EC Nutrition, bentuk belerang dalam suplemen (MSM) menghambat aktivitas senyawa yang dapat memicu peradangan.

Tak hanya itu, sulfur berperan penting dalam ekspresi gen dan menjaga jaringan tubuh. Hal ini ternyata membantu proses metabolisme makanan dalam tubuh dan melindungi Anda dari peradangan serta oksidatif.

Walaupun demikian, para peneliti masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui manfaat sulfur terhadap kesehatan manusia.

2. Membantu mengurangi kerusakan otot

Berkat kandungan senyawa antioksidan di dalamnya, belerang ternyata bermanfaat dalam membantu mengurangi kerusakan otot.

Masih dari penelitian yang sama, sulfur disinyalir memiliki efek antioksidan. Efek antioksidan ini terlihat dapat mengurangi stres oksidatif dan kerusakan otot setelah olahraga.

Penelitian tersebut memberikan suplemen belerang 50 mg/hari pada pria yang jarang berolahraga. Hasilnya, peserta tersebut mengalami peningkatan senyawa antioksidan, penurunan kreatin kinase, dan kadar bilirubin setelah olahraga.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mungkin saja suplemen sulfur bisa dipakai untuk mengurangi risiko kerusakan otot. Namun, tentu studi lebih lanjut diperlukan untuk melihat, apakah manfaat belerang yang satu ini berlaku pada banyak orang.

3. Mengurangi risiko sejumlah penyakit

Belerang merupakan mineral yang mengandung sejumlah asam amino yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh.

Tidak heran bila belerang memiliki manfaat yang menguntungkan, terutama mencegah perkembangan berbagai penyakit. Hal ini dibuktikan melalui studi yang dimuat dalam Annals of the New York Academy of Sciences.

Penelitian yang dilakukan pada hewan tersebut menunjukkan bahwa pembatasan diet asam amino sulfur dapat menurunkan berat badan dan stres oksidatif. Selain itu, para hewan pengerat tersebut juga mengalami peningkatan sensitivitas insulin.

Itu sebabnya, secara tidak langsung sulfur memiliki manfaat berupa mengurangi risiko sejumlah penyakit, seperti:

Sayangnya, penelitian ini baru diujicobakan pada hewan. Para ahli masih perlu meneliti lebih lanjut apakah efek tersebut sama pada tubuh manusia.

Kebutuhan

Hingga saat ini, belum ditentukan berapa banyak asupan belerang yang harus dikonsumsi. Meski begitu, Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang untuk orang dewasa menganjurkan sekitar 800 – 900 miligram per hari.

Selain itu, rekomendasi ini tergantung pada kondisi kesehatan setiap orang. Pasalnya, ada beberapa orang yang justru sensitif terhadap sulfur.

Oleh sebab itu, mereka mungkin perlu membatasi asupan mineral belerang, guna menghindari masalah kesehatan akibat terlalu banyak mendapat manfaat dari mineral ini.

Efek samping

Memenuhi kebutuhan belerang harian Anda memang penting untuk mendapat khasiat dari mineral tersebut. Namun, terlalu banyak mendapat asupan sulfur ternyata tidak baik bagi tubuh.

Di bawah ini dua efek samping yang bisa muncul akibat kelebihan belerang.

1. Diare

Minum air yang kaya akan belerang terlalu banyak ternyata bisa menyebabkan feses terlalu encer. Alhasil, Anda pun menjadi sakit diare.

Alih-alih mendapat manfaat dari sulfur, konsumsi mineral ini juga menimbulkan rasa tidak enak dan bau seperti telur busuk. Itu sebabnya, selalu berhati-hati dalam mengonsumsi air yang mengandung mineral seperti belerang.

2. Peradangan usus

Tak hanya diare, konsumsi makanan yang kaya akan belerang bisa memperparah gejala pasien kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.

Penelitian dari Trends in molecular medicine menunjukkan bahwa makanan kaya sulfur membantu bakteri untuk mengurangi sulfat berkembang pada usus. Bakteri tersebut dapat melepaskan sulfida, senyawa yang dapat memecah penghalang usus.

Akibatnya, risiko kerusakan dan pembengkakan pada usus pun bisa terjadi. Namun, tidak semua makanan yang mengandung belerang memiliki efek yang sama.

Ada juga banyak faktor selain kandungan belerang pada makanan yang dapat memengaruhi keseimbangan bakteri usus. Maka dari itu, diperlukan penelitian lebih banyak sebelum benar-benar membatasi asupan belerang.

Sumber makanan

Belerang merupakan mineral yang cukup mudah dijumpai pada sebagian besar makanan, antara lain:

  • daging, seperti daging sapi, ayam, dan bebek,
  • kacang-kacangan, seperti kedelai, kacang merah, dan kacang hitam,
  • biji-bijian, yaitu almond, kacang tanah, biji labu, dan wijen,
  • telur dan produk susu, seperti telur, keju, dan susu sapi,
  • sayuran tertentu, meliputi asparagus, brokoli, kubis merah, dan lobak,
  • buah kering, terutama persik, aprikot, dan buah ara, serta
  • bumbu dan rempah-rempah, yakni mustard, bubuk kari, dan bubuk jahe.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk memahami solusi yang tepat.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ijssennagger, N., van der Meer, R., & van Mil, S. (2016). Sulfide as a Mucus Barrier-Breaker in Inflammatory Bowel Disease?. Trends in molecular medicine, 22(3), 190–199. https://doi.org/10.1016/j.molmed.2016.01.002. Retrieved 7 April 2021. 

Ingenbleek, Y., & Kimura, H. (2013). Nutritional essentiality of sulfur in health and disease. Nutrition reviews, 71(7), 413–432. https://doi.org/10.1111/nure.12050. Retrieved 7 April 2021. 

Dong, Z., Sinha, R., & Richie, J. P., Jr (2018). Disease prevention and delayed aging by dietary sulfur amino acid restriction: translational implications. Annals of the New York Academy of Sciences, 1418(1), 44–55. https://doi.org/10.1111/nyas.13584. Retrieved 7 April 2021. 

Warwick, K.W. (2020). All You Need to Know About Sulfur-Rich Foods. Healthline. Retrieved 7 April 2021, from https://www.healthline.com/nutrition/foods-with-sulfur 

Nimni, M. E., Han, B., & Cordoba, F. (2007). Are we getting enough sulfur in our diet?. Nutrition & metabolism, 4, 24. https://doi.org/10.1186/1743-7075-4-24. Retrieved 7 April 2021. 

Hewlings, S., Kalman, D. (2019). Sulfur in Human Health. EC Nutrition, 14(9), 785-791. Retrieved 7 April 2021, from https://www.researchgate.net/publication/335653705_Sulfur_and_Human_Health

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 27/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro