4 Fakta Penting Seputar Krisis Paruh Baya (Midlife Crisis)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Saat kita memikirkan ‘krisis paruh baya’ alias midlife crisis, seringnya hal pertama yang muncul adalah gambaran seorang pria atau wanita setengah baya yang tiba-tiba membuat keputusan yang tidak diduga-duga, misalnya berhenti dari pekerjaan, berdandan seperti anak muda, membeli mobil sport mewah, atau bahkan main mata dengan wanita muda.

Tetapi, apa yang sebenarnya menyebabkan krisis ini?

Krisis paruh baya dipercaya sebagai rasa takut akan kematian

Gagasan krisis paruh baya ini bermula dari Elliot Jacques yang berpikiran bahwa pada usia paruh baya, setiap orang akan dihantui oleh ketakutan akan kematian. Dengan bayangan kematian yang semakin mendekat, menurut Jacques, orang mulai merasa tidak puas dengan prestasi mereka dan khawatir tentang kemampuan mereka untuk mencapai tujuan hidup yang mereka impikan.

Untuk mendukung gagasan Jacques, tim peneliti dari University of Melbourne menunjukkan bahwa sebagian besar manusia tidak merasa bahagia dengan hidup mereka, terutama di usia awal 40-an. Kepuasan diri sepanjang hidup seorang individu, menurut mereka, mengikuti pola kurva U yang mencapai titik terendah di sekitar usia 40-an dan kemudian mulai bangkit lagi setelahnya. Peneliti mengklaim bahwa ketidakpuasan di usia setengah baya hanya berasal dari perubahan kualitas hidup setiap partisipan, bukan hasil membandingkan dengan orang lain.

Beberapa peneliti menganggapn krisis paruh baya sekadar mitos

Namun, gagasan krisis paruh baya ini dipertemukan oleh banyak kritik. Salah satunya dari tim peneliti psikolog University of Zurich tahun 2009 yang menyatakan bahwa, meskipun banyak orang yang merasa galau di usia pertengahan, hal ini adalah proses yang berkelanjutan dan timbul di semua tahap dan usia. Selain itu, banyak keberagaman dalam cara setiap orang untuk menangani tahap kehidupan ini.

Dilansir dari Medical Daily, tim peneliti dari University of Alberta di Kanada mengungkapkan bahwa krisis paruh baya hanyalah sebuah mitos belaka, setelah mengakhiri periode penelitian selama 25 tahun. Jurnal akademik Developmental Psychology menerbitkan studi di mana peneliti melacak 1,500 partisipan yang dipecah dalam dua kelompok obyek studi selama lebih dari 25 tahun.

Kelompok pertama adalah jumlah siswa SMA dari Edmonton dengan rata-rata usia 18 tahun, hingga mereka berusia 43 tahun, sementara yang lain adalah senior di universitas yang usianya berkisar dari 23 sampai 37. Selama periode waktu penelitian, para peneliti meminta peserta berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi tingkat kebahagiaan mereka seperti kesehatan pribadi, pekerjaan, hubungan dan pernikahan.

Temuan mengungkapkan tingkat kebahagiaan kedua kelompok meningkat saat menginjak usia 30-an. Secara keseluruhan, peserta merasa lebih bahagia di awal 40-an mereka daripada saat usia 18 — bahkan jika kelompok sekolah tinggi mulai mengalami sedikit penurunan sekitar usia 43.

Tak semua yang memasuki usia paruh baya akan mengalami krisis

Mengutip dari The Atlantic, kurva U cenderung lebih sering memperlihatkan dirinya di negara maju, di mana penduduknya hidup lebih lama dan bisa menikmati kesehatan yang lebih baik di usia senja. Dalam banyak kasus, kurva U hanya muncul setelah peneliti menyesuaikan sejumlah variabel, seperti pendapatan, status pernikahan, pekerjaan, dan seterusnya, sehingga pengamatan tingkat kebahagiaan ini hanya dikontrol dari aspek umur.

Penelitian Univeristy of Alberta mengungkapkan bahwa kebahagiaan hidup tidak mengikuti bentuk kurva U seperti yang selama ini dipercaya, melainkan terus menanjak bahkan melewati masa paruh baya. Penelitian ini mengamati setiap individu yang sama dari waktu ke waktu, demi mendapatkan observasi yang mendetail mengenai bagaimana mereka berubah saat bertambah usia, ungkap salah satu peneliti, Harvey Krahn. Lebih lanjut, ujarnya, sejumlah penelitian terdahulu hanya mengamati kadar kebahagiaan partisipan hanya pada saat mereka sedang diamati.

Penggambaran kebahagiaan yang menanjak dari penelitian ini ditandai oleh kesulitan yang dialami oleh orang-orang selama fase remaja dan dewasa muda, di mana urusan mencari pekerjaan dan stabilitas hidup adalah permasalahan utama yang dipenuhi oleh ketidakpastian. Seiring dengan bertambahnya usia, masalah ini cenderung terselesaikan karena di usia pertengahan, orang-orang sudah lebih mapan dan stabil, ditandai dengan tercapainya tonggak tertentu dalam kehidupan, seperti memperoleh kesehatan yang lebih baik, karir yang stabil, dan pernikahan.

Selain dari faktor di atas, kebahagiaan juga bergantung pada sikap mental dari individu tersebut. Menurut sebuah studi, kelompok orang dewasa dengan emosi stabil akan cenderung lebih bahagia di masa pensiunnya, dibanding dengan kelompok individu yang menutup diri dan mengalami banyak gejolak naik-turun pada tahap dewasa muda. Hal ini menunjukkan karakteristik kepribadian di masa muda memiliki efek abadi pada kesejahteraan di masa lanjut.

Mungkin tak ada hubungannya dengan usia

Krisis paruh baya sering didefinisikan oleh persepsi orang lain daripada dari diri kita sendiri. Banyak stereotip, seperti impulsivitas membeli mobil sport mewah baru, mungkin lebih berkaitan dengan status keuangan yang membaik dibandingkan dengan validasi agar tetap awet muda. Mereka, pada akhirnya, mampu untuk mendapatkan materi yang selama ini hanya diimpikan.

Konsep krisis paruh baya kadang berfungsi sebagai alasan semata untuk perilaku yang hanya terjadi di usia 40-50an. Ketidakpuasan karir? Masalah hubungan suami-istri? Ada banyak alasan yang memungkinkan di balik semua ini — dan walaupun sepertinya mudah untuk mengatakan bahwa krisis paruh baya adalah penyebabnya, kemungkinan besar usia tidak ada hubungannya dengan hal ini.

BACA JUGA:

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Anda Sering Disebut Pacar Posesif? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Tak ada yang mau punya pacar posesif yang membatasi segala gerak-gerik sehari-hari. Namun, bagaimana bila justru Anda yang posesif? Atasi dengan cara ini.

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

    Ketika lain kali Anda diledek cengeng karena sering menangis, katakan dengan lantang bahwa menangis adalah tanda orang yang sehat dan bermental baja

    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Bagaimana Cara Mengendalikan Ego yang Tinggi?

    Ego adalah bagian dari kepribadian manusia yang seringkali dicap negatif. Memang, apa itu ego, dan bagaimana mengendalikan ego yang tinggi?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Mental Illness (Gangguan Mental)

    Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kesehatan Mental 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    putus kenapa cinta memudar

    4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    cara menghilangkan rasa cemas

    8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    fungsi testis

    Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    sedih

    11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit