Hubungan Seksual di Usia Tua, Sehat atau Berbahaya?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Melakukan hubungan seksual adalah cara bagi pasangan suami istri untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Tidak hanya mendapatkan kebahagiaan tersendiri untuk masing-masing individu, seks juga dapat mempererat ikatan antar-keduanya. Namun bagaimana jika sepasang suami istri tersebut sudah memasuki usia tua alias lanjut usia? Apakah mereka dapat  tetap melakukan seks? Adakah risiko atau dampak kesehatan yang timbul jika melakukannya di usia lanjut?

Manfaat hubungan seksual bagi pasangan lanjut usia

Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa hubungan seksual sudah tidak diperlukan lagi ketika seseorang memasuki usia tua. Tapi ternyata, hubungan seksual justru memberikan manfaat yang baik jika dilakukan oleh pasang lanjut usia, walaupun memang frekuensi hubungan seksualnya sudah tidak sesering ketika pasangan tersebut masih muda. 

Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa pasangan lanjut usia yang melakukan seks, berpeluang lebih rendah untuk terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan pasangan yang tidak melakukan seks sama sekali. Selain itu, seks juga terbukti dapat menurunkan tingkat stres,  meningkatkan kepercayaan diri, serta menjaga keharmonisan dari pasangan tersebut.

Seberapa sering hubungan seksual yang aman di usia tua?

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Health and Social Behaviour menyatakan bahwa pasangan lanjut usia yang sangat sering melakukan hubungan seksual menimbulkan dampak yang berbeda bagi laki-laki dan wanita. Laki-laki yang sudah tua kemudian melakukan hubungan seksual lebih dari 2 kali dalam seminggu dengan pasangannya, justru berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung.

Risiko penyakit jantung ini muncul akibat penggunaan obat kuat atau suplemen yang berguna untuk meningkatkan stamina dan performa seksual laki-laki. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan seksual laki-laki juga menurun seiring dengan bertambahnya usia. Laki-laki berusia lanjut usia lebih sulit untuk mencapai ‘klimaks’ karena alasan medis atau kondisi mentalnya dibandingkan dengan laki-laki yang berusia masih muda. Sehingga, untuk mencapai orgasme laki-laki menggunakan obat kuat alami maupun obat kuat kimia serta suplemen penambah stamina sebagai solusi penurunan kemampuan seksual mereka.

Selain itu, ‘usaha keras’ seorang laki-laki yang berusia lanjut untuk mencapai orgasme membuat laki-laki tersebut mengalami kelelahan serta stres yang tinggi, sehingga dapat mempengaruhi kerja jantungnya. Hal ini juga meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sedangkan wanita lanjut usia yang melakukan hubungan seksual saat justru dianggap dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan peluang untuk mengalami penyakit jantung. Hal ini disebabkan karena dukungan emosi yang didapatkan dari hubungan seksual membuat wanita tersebut terhindar dari stres sehingga menurunkan risiko penyakit jantung.

Kualitas hubungan seksual pada pasangan lanjut usia adalah hal yang paling penting

Tidak seperti frekuensi yang dapat menimbulkan perbedaan dampak bagi laki-laki dan wanita, hubungan seksual dengan kualitas yang baik justru membuat laki-laki ataupun wanita lanjut usia terhindar dari risiko penyakit jantung. Hal ini telah dibuktikan oleh para peneliti dari Michigan State University  yang menunjukkan bahwa kualitas hubungan seksual penting untuk membangun dukungan emosi dan meningkatkan kepercayaan diri dari kedua pasangan tersebut. Pengelolaan emosi yang baik adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya penyakit jantung.

BACA JUGA:

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Tremor Bisa Disembuhkan? Apa Saja Pengobatannya?

Dalam beberapa kasus, tremor bisa sembuh tapi bisa juga tidak. Tremor jenis apa yang bisa disembuhkan dan seperti apa pengobatannya? Cek di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 27 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Fakta Tentang Hati (Liver) Manusia yang Ternyata Menakjubkan

Sebagai organ vital manusia, hati (liver) berperan penting dalam menjaga kesehatan. Cari tahu fakta tentang hati manusia berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Trik Jitu Agar Tak Mudah Tergoda Makan Junk Food

Anda tidak bisa berhenti makan junk food? Tenang, ada siasat khusus untuk menghindari godaan makan makanan tak sehat. Intip caranya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Tips Makan Sehat, Nutrisi 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Lemas habis makan mungkin masih wajar. Tapi kalau Anda gemetaran atau berkeringat, bisa jadi tanda gula darah turun. Hal ini disebut hipoglikemia reaktif.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara kerja obat kuat

Ragam Obat Kuat Pria di Apotek, Apakah Bisa Bikin Tahan Lama di Ranjang?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
obat kuat alami

11 Pilihan Obat Kuat Alami yang Bikin Pria Lebih Tahan Lama di Ranjang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
menelan sperma

Apakah Bisa Hamil Jika Kita Menelan Sperma?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
radiasi wi-fi

Benarkah Radiasi dari Wi-Fi Bisa Memicu Kanker Anak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit