backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan
Konten

4 Penyebab Anda Benci Diri Sendiri dan Efek Negatifnya

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 29/03/2023

4 Penyebab Anda Benci Diri Sendiri dan Efek Negatifnya

Membenci diri sendiri atau self-loathing merupakan suatu sikap yang mungkin hampir pernah dialami setiap orang. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat Anda sulit berkembang.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab kebencian pada diri sendiri dan menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya.

Penyebab munculnya rasa membenci diri sendiri

Meski tidak diucapkan secara langsung, ungkapanaku benci diriku sendiri sering kali berputar di kepala dengan sendirinya.

Namun tentu saja, pikiran negatif tersebut muncul karena adanya beberapa penyebab. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Trauma

trauma masa lalu

Seseorang yang memiliki pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu lebih berisiko membenci dirinya sendiri, bahkan ketika sudah dewasa.

Sebagai contoh, anak-anak yang mengalami trauma atas kekerasan fisik dan emosional cenderung memandang dunia tidak aman dan menganggap orang lain berbahaya.

Pikiran tersebut kemudian bisa berkembang menjadi anggapan bahwa mereka tidak layak untuk dicintai.

Bahkan, rasa benci pada diri sendiri juga bisa muncul karena kata-kata yang keluar dari orang tua mereka sendiri.

Meski hanya diucapkan sekali, kata-kata tersebut bisa terus hidup dalam pikiran anak-anak dan menimbulkan self-loathing.

2. Mencoba membahagiakan orang lain

Jika Anda memiliki prinsip atau kemauan yang kuat untuk membahagiakan orang lain tetapi gagal mewujudkannya, rasa benci pada diri sendiri akan sangat mungkin timbul.

Sindrom membenci diri sendiri itu muncul karena Anda merasa sudah mengecewakan orang tersebut. Anda mungkin menilai diri sendiri tidak memiliki manfaat untuk orang lain.

Membahagiakan orang lain memang akan membuat Anda ikut bahagia. Namun, jangan sampai Anda merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, apalagi sampai menjadikan Anda people pleaser.

3. Memiliki harap terlalu tinggi

Keinginan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan hasil terbaik tentu hal yang wajar.

Akan tetapi, ketidakmampuan untuk mencapai standar yang terlalu tinggi tersebut justru bisa membuat Anda merasa gagal dan benci kepada diri sendiri.

Jika Anda mampu mengatasi kegagalan dengan introspeksi diri, tentu tidak menjadi masalah. Sayangnya, kondisi tersebut juga bisa membuat Anda kecewa dan membenci diri sendiri.

Oleh karena itu, penting untuk mengatur ekspektasi supaya Anda tidak mudah merasa kecewa pada diri sendiri.

4. Terlalu sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Melansir dari laman Mental Health America Screening, kebiasaan membandingkan kelemahan diri sendiri dengan kekuatan orang lain merupakan salah satu penyebab munculnya kebencian pada diri sendiri.

Selalu ingatlah bahwa orang lain juga memiliki kekurangan dan pernah melakukan kesalahan, tidak terkecuali seseorang yang paling Anda kagumi.

Melihat pencapaian orang lain dan menjadikannya motivasi memang hal yang baik.

Meski begitu, jangan sampai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain justru membuat Anda merasa tertekan dan benci pada diri sendiri.

Dampak buruk membenci diri sendiri

penyebab dan cara mengatasi insecure

Kebencian merupakan salah satu bentuk emosi negatif yang bisa bertahan lama. Ketika hal tersebut terjadi, kesehatan mental dan fisik Anda mungkin akan ikut terkena imbasnya.

Berikut merupakan beberapa dampak kebencian terhadap diri sendiri yang sering kali tidak disadari.

1. Makan berlebihan

Rasa benci pada diri sendiri sering kali membuat seseorang tidak lagi peduli pada kesehatan, penampilan, dan gaya hidupnya.

Pemikiran tersebut sering ditunjukkan dengan cara makan berlebihan tanpa memikirkan kebutuhan dan kemampuan tubuh.

Alih-alih menggunakannya sebagai sumber asupan energi, Anda justru menjadikan makanan sebagai pelampiasan kebencian.

Lama-kelamaan, kebiasaan makan yang tidak terkontrol bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas dan gangguan makan.

2. Tidak percaya diri atau insecure

Dampak buruk membenci diri sendiri yang paling mudah dikenali adalah perasaan insecure atau tidak percaya diri.

Kondisi tersebut muncul dari kritik berlebihan pada diri sendiri yang membuat Anda merasa tidak layak dicintai.

Rasa tidak percaya diri ini bisa menghambat Anda untuk berkembang. Pasalnya, Anda justru meragukan kemampuan diri sendiri alih-alih belajar dari kesalahan.

3. Merusak hubungan dengan orang lain

Kebencian terhadap diri sendiri sering kali membuat Anda merasa tidak layak menerima cinta dari orang lain.

Alhasil, seseorang yang awalnya benar-benar mencintai Anda mungkin merasa bahwa Anda tidak bisa menghargai perasaannya. Pada akhirnya, hubungan Anda dengannya justru akan meregang.

Cara mengatasi rasa benci pada diri sendiri

sering berbicara sendiri

Supaya kecenderungan self-loathing Anda tidak makin berlarut-larut, berikut beberapa cara yang bisa Anda coba lakukan untuk mengatasinya.

1. Mengurangi kritik pada diri sendiri

Mengevaluasi apa yang telah Anda lakukan selama ini tentu merupakan hal yang baik karena dapat membantu Anda memperbaiki diri.

Akan tetapi, jangan sampai Anda terlalu banyak memberi kritik pada diri sendiri, apalagi sampai menimbulkan kebencian.

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi kritik pada diri sendiri adalah dengan menghargai setiap usaha yang sudah dilakukan.

Meski belum membuahkan hasil yang maksimal, paling tidak Anda telah mencoba dan berusaha dengan sebaik mungkin.

2. Mulai belajar mencintai diri sendiri

Self-love atau mencintai diri sendiri merupakan salah satu cara terbaik untuk melawan self-loathing.

Mulailah self-love dengan mengingat-ingat bagaimana Anda memperlakukan orang lain ketika mereka dilanda kegagalan.

Apakah Anda mengkritik habis-habisan kesalahan tersebut atau menganggapnya sebagai cara belajar dari kesalahan? Nah, cobalah menerapkan pemikiran tersebut pada diri sendiri.

Jika Anda bisa berbuat baik dan peduli kepada orang lain, Anda juga bisa melakukannya kepada diri sendiri.

3. Menerima pujian orang lain

Seseorang biasanya akan mendapatkan pujian atas usaha yang sudah dilakukannya. Namun, terkadang jika hasilnya tidak sesuai, pujian tersebut justru tidak dianggap berarti.

Padahal, pujian tersebut sebenarnya ditujukan atas usaha Anda, bukan hanya hasil akhirnya. Selain itu, pujian juga diharapkan bisa meningkatkan motivasi supaya Anda bisa menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, cobalah untuk menerima pujian dari orang lain. Selain menerimanya dari orang-orang terdekat, Anda juga bisa mencoba memberikan pujian kepada diri sendiri.

4. Belajar memaafkan diri sendiri

Berikut merupakan beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk belajar memaafkan diri sendiri ketika melakukan sesuatu di luar rencana yang sudah ditetapkan.

  • Mengakui dan belajar dari kesalahan yang ada.
  • Fokuskan kembali tujuan Anda.
  • Lakukan saran yang pernah Anda berikan pada orang lain ketika mengalami hal serupa.

Jika Anda masih juga membenci diri sendiri dan tidak kunjung merasa lebih baik setelah melakukan beberapa cara di atas, coba pertimbangkan untuk mengunjungi psikolog.

Seorang psikolog dapat membantu Anda mencari penyebab utama dari rasa benci tersebut dan menentukan penanganan yang tepat.

Kesimpulan

  • Rasa benci pada diri sendiri dapat muncul karena trauma, harapan yang terlalu tinggi, usaha untuk membahagiakan orang lain, dan kebiasaan membanding-bandingkan.
  • Atasi kebencian di dalam diri dengan cara mengurangi kritik pada diri sendiri, mau menerima pujian, dan belajar memaafkan diri sendiri.
  • Jika dibiarkan, kebencian dapat memberi dampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 29/03/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan