home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jangan Sampai Lansia Mengalami Malnutrisi, Ini Cara Jitu Mencegahnya!

Jangan Sampai Lansia Mengalami Malnutrisi, Ini Cara Jitu Mencegahnya!

Seiring berjalannya usia, fungsi fisiologis tubuh tidak lagi bekerja secara optimal. Penurunan fungsi organ juga membuat lansia mudah mengalami gangguan kondisi kesehatan, salah satunya malnutrisi. Malnutrisi adalah kondisi ketidakseimbangan, kekurangan atau kelebihan dari zat gizi. Pada lansia, yang sering ditemukan adalah kondisi kekurangan gizi yang berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan. Meskipun sebagian besar kondisi ini terjadi pada lansia, tentu ada cara untuk mengatasi masalah malnutrisi.

Mengapa lansia rentan mengalami malnutrisi?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lansia mudah mengalami masalah malnutrisi, di antaranya:

1. Perubahan fisiologis sistem organ tubuh

pengobatan lansia

Proses penuaan menyebabkan terjadinya penurunan pada berbagai sistem organ tubuh. Penurunan fungsi organ penciuman, organ pengecap, dan organ penglihatan dapat memengaruhi lansia saat hendak atau sedang menyantap makanan. Nafsu makan dapat turun ketika seorang lansia tidak dapat melihat makanan secara jelas, mencium aroma makanan dengan tajam, dan mengecap rasa hambar pada makanan.

Di samping itu, penurunan produksi kelenjar liur dan kehilangan gigi dapat menyebabkan masalah sulit mengunyah pada lansia. Tak hanya itu, pada sistem pencernaan pun terjadi perlambatan pengosongan lambung, sehingga menyebabkan lansia lebih cepat kenyang. Hal-hal ini juga dapat menurunkan nafsu makan dan asupan makanan pada lansia.

2. Penyakit pada lansia

Penyakit di saluran pencernaan dan gangguan menelan dapat menyebabkan penurunan asupan makan, gangguan absorbsi zat gizi dan malnutrisi. Pada lansia, kondisi ini dapat menjadi gejala dari penyakit akut seperti infeksi.

Penyakit pada lansia yang menimbulkan gangguan dalam mobilitas seperti penyakit pada sendi, otot dan tulang dapat menyebabkan ketidakmampuan lansia dalam menyiapkan makanan sendiri, sehingga dapat turut berperan dalam penurunan asupan makan dan penurunan berat badan yang tidak diinginkan. Efek samping obat tertentu juga dapat membuat gangguan mengecap atau mual sehingga terjadi penurunan asupan makan.

perawatan lansia, tips aman merawat pasien hepatitis

3. Kondisi psikologi dan kognitif

Lansia dapat mengalami gangguan kesehatan mental, seperti masalah depresi dan demensia. Pada kondisi depresi, suasana hati lansia untuk menyiapkan, bahkan menyantap makanan tentunya terganggu. Pada demensia, terutama demensia berat, gangguan berpikir yang terjadi menyebabkan lansia tergantung kepada orang lain dalam hal menyiapkan makan bahkan pada proses makan itu sendiri. Kondisi isolasi akibat ketiadaan pasangan ataupun anggota keluarga lain dapat menyebabkan lansia merasa kesepian dan menyendiri sehingga mengalami penurunan asupan makan.

4. Kondisi sosial ekonomi

Status pendidikan yang rendah merupakan faktor penyebab lain dari malnutrisi akibat kurangnya pengetahuan untuk menyiapkan makanan dengan gizi baik. Di sisi lain, adanya ketergantungan kepada orang lain baik dari sisi finansial maupun ketergantungan secara fisik, dan sulitnya akses untuk mendapatkan makanan, menyebabkan lansia mengalami penurunan asupan makan.

orang tua susah makan

5. Pembatasan diet pada lansia

Faktor lain seperti adanya larangan atau pembatasan makan makanan tertentu pada diet lansia, dapat mempengaruhi asupan nutrisinya. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya asupan makan dan meningkatkan risiko malnutrisi.

Mengenal gejala dan dampak malnutrisi pada lansia

parosmia covid-19

Ada beberapa gejala dan tanda yang bisa kita ketahui ketika lansia mengalami malnutrisi, antara lain

  • Penurunan berat badan pada lansia
  • Hilangnya massa otot
  • Hilangnya lemak subkutan (di bawah kulit)
  • Akumulasi cairan tubuh pada bagian tertentu (terlokalisasi) ataupun secara menyeluruh pada tubuh
  • Kelemahan
  • Kelelahan
  • Mudah terkena infeksi

Jika malnutrisi pada orang lanjut usia tidak diatasi dengan baik, tentu dapat menyebabkan fungsi tubuhnya semakin menurun. Malnutrisi dapat mengakibatkan kondisi sarkopenia yaitu penurunan massa, fungsi, serta performa otot. Penurunan massa tulang karena kurang zat gizi dapat meningkatkan risiko fraktur atau patah tulang.

Fungsi otot dan tulang merupakan fondasi utama agar lansia dapat melakukan mobilisasi dan aktivitas secara mandiri. Kondisi lain seperti anemia atau kurang darah merah, gangguan sistem kekebalan tubuh yang memudahkan terkena infeksi, serta gangguan penyembuhan luka dapat terjadi akibat malnutrisi.

Proses penuaan pada lansia menyebabkan kondisi imunosenescence dimana dapat ditemukan gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Kondisi malnutrisi dapat memperberat gangguan sistem kekebalan ini sehingga lansia rentan untuk terkena infeksi.

Dalam penelitian British Journal of Nutrition yang dilakukan Soderstrom dkk, malnutrisi dapat memicu infeksi paru, penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga berdampak pada risiko kematian.

Oleh karenanya, penting untuk menjaga lansia tetap sehat dengan memberikan kecukupan nutrisi dengan beragam metode.

Cara mencegah dan mengatasi malnutrisi pada lansia

lansia sedang bersosialisasi

Lansia masih dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik melalui penanganan bahkan pencegahan terjadinya malnutrisi. Anda bisa melakukan beberapa metode, agar lansia kembali memperoleh nutrisinya, sehingga ia bisa menabung kekuatan agar tubuhnya bisa sehat.

1. Mencari penyebab dan melakukan intervensi

Penyebab malnutrisi harus dicari tahu sejak dini. Penyebab malnutrisi pada seorang lansia bisa banyak faktor, seperti adanya penyakit infeksi, penyakit saluran cerna, gangguan mobilitas, gangguan mengunyah dan gangguan berpikir yang bisa ditemukan sekaligus. Semua kondisi tersebut memerlukan intervensi ataupun pengobatan segera untuk mencegah malnutrisi serta mencegah dampak buruk malnutrisi lebih lanjut. Jangan ragu berobat ke dokter untuk mendapatkan intervensi yang tepat.

2. Pemilihan nutrisi dan tekstur makanan

mengatasi malnutrisi pada lansia

Kita perlu mengetahui kondisi fisik yang dialami lansia. Apakah ia mengalami masalah mengunyah ataupun menelan makanan padat sehingga menyebabkan lansia susah makan? Bila iya, jangan lupa menyesuaikan tekstur makanan yang lebih lunak atau dalam bentuk cair. Hal ini sangat membantu lansia dalam memperoleh asupan makan dan zat gizi yang adekuat.

Kebutuhan nutrisi untuk lansia secara garis besar adalah sebagai berikut :

  • Kebutuhan energi sebesar 30 kcal/kgBB/hari dan protein minimal 1g /kgBB/hari. Kebutuhan ini disesuaikan dengan faktor lain seperti status nutrisi, level aktivitas fisik, penyakit penyerta dan toleransi lansia sendiri.
  • Kebutuhan serat dalam makanan sekitar 25g/hari untuk mencegah sembelit pada lansia
  • Kebutuhan lemak 20-25% dari kebutuhan energi
  • Kebutuhan karbohidrat 45-65% dari kebutuhan energi total.
  • Asupan cairan sebesar 30 cc/kg BB/ hari bisa mencapai 1,6 – 2 liter per hari, kebutuhan ini disesuaikan dengan kondisi medis tertentu seperti apabila menderita penyakit yang memerlukan restriksi atau pembatasan cairan
  • Dalam keadaan tidak ada defisiensi mikronutrien, kebutuhan harian mikronutrien disesuaikan dengan rekomendasi untuk lansia sehat. Vitamin D pada usia lanjut direkomendasikan dapat diberikan sebesar 1000 IU per hari disertai asupan kalsium untuk mencegah risiko jatuh dan fraktur pada lansia.

Bagi lansia dengan malnutrisi atau berisiko malnutrisi terutama dengan masalah mengunyah, maka sebagai solusinya lansia dapat diberikan suplementasi nutrisi secara oral berupa makanan cair. Anda dapat memberikan suplementasi nutrisi oral tersebut untuk lansia, apabila makanan harian tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Menurut pedoman dari ESPEN, lansia dapat diberikan asupan energi tinggi (1-3 kkal/mL), dengan protein tinggi dan mengandung serat. Suplemen nutrisi oral (Oral Nutrition Supplements / ONS) diklasifikasikan memiliki ‘tinggi protein’ jika menyediakan >20% energi dari protein dan diklasifikasikan ‘tinggi energi’ jika menyediakan >1,5 kkal/ml.

Berdasarkan penelitian di Jurnal Clinical Nutrition, kepatuhan pasien untuk mengonsumsi ONS ternyata lebih tinggi sebesar 91% bila diberikan ONS tinggi energi ( > 2 kkal/mL), dibandingkan kepatuhan pasien untuk mengonsumsi ONS dengan kalori yang lebih rendah (1-1,3 kkal/mL ataupun 1,5 kkal/mL) yang hanya sebesar 77-78%.

Adapun suplementasi nutrisi secara oral dapat diberikan di antara waktu makan (2 jam sebelum atau sesudah makan) atau pada saat makan. Suplementasi ini setidaknya memberikan asupan 400 kkal/hari dan 30 gram protein/hari.

3. Menentukan pola diet untuk mengatasi malnutrisi lansia

ditanggung bpjs kesehatan asuransi lansia

Penting bagi seorang lansia untuk melakukan konsultasi ke dokter tentang pola diet yang tepat. Konseling nutrisi ini merupakan salah satu lini terdepan dalam terapi nutrisi. Lansia dan keluarga, maupun pelaku rawat/care giver memerlukan konseling nutrisi perseorangan. Diskusi berulang tentang pola nutrisi dapat membangun pengertian terkait topik-topik nutrisi dan kebiasaan pola makan sehat untuk lansia.

4. Tetap bersosialisasi

mengatasi malnutrisi pada lansia dengan bersosialisasi

Depresi dan isolasi berhubungan erat dengan penurunan nafsu makan pada lansia. Aktivitas sosial dapat membuat lansia menikmati makanannya karena pada kondisi tersebut makan merupakan suatu proses bersosialisasi dibandingkan proses rutinitas belaka.

Makan bersama anggota keluarga atau kerabat dapat meningkatkan nafsu makan. Berkumpul bersama anggota komunitas untuk saling bersosialisasi dapat membuat lanjut usia menanti-nanti waktu makan. Pada saat pandemi COVID-19, berkumpul bersama secara langsung tentunya sementara waktu dapat dihindari dahulu. Namun bersosialisasi dan berkumpul secara tidak langsung tentunya masih dapat dilakukan melalui berbagai media secara virtual/online.

Anda bisa mencegah dan mengatasi masalah malnutrisi pada lansia melalui empat langkah di atas mulai dari konsultasi ke dokter untuk mencari penyebab malnutrisi, pemilihan nutrisi, dan penyesuaian tekstur makanan, konsultasi untuk menentukan pola diet, tetap melakukan aktivitas fisik, serta bersosialisasi. Cara-cara ini juga membantu lansia meningkatkan nafsu makannya secara bertahap, termasuk membantu menguatkan kembali daya tahan tubuhnya.

Menghindari dampak malnutrisi dengan beraktivitas fisik

olahraga untuk orang tua

Sebelumnya telah diulas bahwa salah satu dampak dari malnutrisi adalah menurunnya massa otot dan performa otot atau sarkopenia. Selain melalui intervensi makanan bernutrisi, lansia tetap perlu melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga untuk menghindari dampak penurunan massa otot ini. Aktivitas fisik terutama latihan ketahanan (resistance training) dapat mempertahankan dan membangun massa dan kekuatan otot.

Selain itu, aktivitas fisik atau olahraga yang sesuai bagi lansia dapat meningkatkan imunitas tubuh, memperbaiki kesehatan mental dan fungsi kognitif, serta mencegah timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit kronik degeneratif (antara lain diabetes melitus, hipertensi, kolesterol tinggi) yang sering dialami lansia

Sebelum memulai olahraga, ada baiknya lansia perlu mendapatkan evaluasi kesehatan terlebih dulu dari dokter. Dokter akan membantu merekomendasikan jenis olahraga yang sesuai tergantung kondisi masing-masing lansia. Olahraga yang dapat direkomendasi untuk lansia, antara lain:

  • Ketahanan (endurance), contoh : jogging/jalan cepat, berenang, bersepeda
  • Kekuatan (strength), contoh : angkat beban, penggunaan resistance band, wall push up
  • Keseimbangan (balance), contoh : berdiri satu kaki dengan berpegang pada kursi, Tai chi
  • Kelenturan (flexibility), contoh: yoga, peregangan otot-otot punggung, otot-otot anggota gerak, Tai Chi

Ketika lansia lebih bugar, setidaknya ia lebih semangat untuk mengonsumsi makanan. Dengan bertambah nafsu makannya, turut membantu mencegah dan mengatasi malnutrisi pada lansia.

Aktivitas fisik menjadi salah satu cara yang mendukung imunitas tubuh lansia. Lansia juga perlu menghindari risiko terkena penyakit, mulai dari memperhatikan kebersihan diri (mencuci tangan dengan sabun dan rutin mandi), berjarak dengan kerabat yang sakit, mendapatkan vaksinasi untuk penyakit tertentu, mengonsumsi makanan bernutrisi, dan segera berkonsultasi ke dokter bila mengalami gejala sakit tertentu.

Tubuh yang sehat dapat menyokong nafsu makan lansia, sehingga mereka dapat makan lebih semangat. Dengan begitu, nutrisinya pun tercukupi dengan baik. Oleh karenanya, aktivitas fisik dan menjauhkan lansia dari faktor risiko penyakit, dapat membantu mengatasi malnutrisi termasuk mencegah dampak buruk malnutrisi pada lansia.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditulis oleh dr. Noto Dwimartutie, SpPD-KGer pada 2 minggu lalu
Ditinjau oleh dr. Noto Dwimartutie, SpPD-KGer
x