Waspadai Gejala Kekurangan Gizi Pada Lansia, yang Dapat Tingkatkan Risiko Kematian

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Masalah kurang gizi tak hanya dapat terjadi pada anak-anak saja. Justru sebenarnya orang-orang lanjut usialah yang lebih berisiko tinggi untuk mengalami kekurangan gizi. Lansia adalah kelompok usia di mana seseorang telah mengalami berbagai penurunan fungsi tubuh yang dapat memengaruhi nafsu makan, yang akhirnya dapat menyebabkan gangguan makan dan kekurangan gizi. Kurang gizi pada lansia dapat menyebabkan dampak kesehatan yang lebih serius, seperti gangguan fungsi organ dan meningkatkan risiko kematian. Lantas, seperti apa ciri kurang gizi pada lansia, dan bagaimana cara perawat lansia mengatasinya?

Lansia makan lebih sedikit dan lebih jarang

Penurunan berbagai fungsi tubuh di usia senja dapat menyebabkan lansia susah makan karena berbagai penyebab.

Misalnya saja, nafsu makan lansia cenderung menurun karena indera perasa dan penciumannya sudah tidak setajam dulu untuk menghirup aroma dan merasakan makanan. Lansia juga lebih rentan mengalami penurunan produksi air liur, gigi lepas, fungsi usus dan lambung yang melemah, hingga penurunan produksi asam lambung yang menyebabkan tubuh kesulitan untuk menyerap makanan.

Penurunan nafsu makan juga dapat menjadi efek samping obat atau penyakit yang dimilikinya. Oleh karena keterbatasan fisiknya ini, banyak lansia tidak dapat lagi menyiapkan makanan untuk diri sendiri. Selain itu, lansia juga lebih cenderung mengisolasi dirinya karena kehilangan orang terdekat atau terbentur masalah keuangan/gangguan emosional karena hidup sendirian. Dua faktor sosial ini tak pernah disadari dapat ikut andil menyebabkan hilangnya nafsu makan dan menyebabkan anoreksia pada lansia.

Pada akhirnya, kesemua faktor risiko ini saling bekerja sama untuk menurunkan nafsu makan orang-orang tua, akibatnya mereka makan lebih sedikit dan lebih jarang.

Dampak kesehatan yang mungkin terjadi jika lansia kurang makan

Kurang makan lama kelamaan dapat menurunkan berat badan yang justru berbahaya bagi lansia karena memicu hilangnya massa otot, termasuk otot organ pernapasan.

Kurang gizi pada lansia juga menyebabkan semakin menurunnya fungsi tubuh, termasuk fungsi sistem pencernaan dan imun tubuh yang terutama penting ketika lansia mengalami infeksi.

Selain itu, kurang gizi juga memicu rendahnya albumin dalam serum darah (hypoalbuminemia). Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan berbagai jaringan tubuh. Maka, bukannya tidak mungkin kurang gizi lama-lama dapat meningkatkan risiko kematian pada lansia.

Bagaimana cara mendeteksi kurang gizi pada lansia?

Tanda-tanda kurang gizi pada lansia bisa sulit dikenali, terutama pada orang-orang yang tampaknya tidak memiliki risiko kesehatan tertentu. Namun mengetahui gejala di awal dapat membantu mencegah komplikasi yang akan terjadi di kemudian hari. Berikut cara mendeteksi kurang gizi pada lansia:

  • Amati kebiasaan makan orang yang memasuki lanjut usia. Luangkan waktu bersama orangtua Anda selama makan di rumah, tidak hanya pada acara-acara khusus.
  • Perhatikan penurunan berat badan. Bantulah orangtua Anda memantau berat badannya di rumah. Anda mungkin juga memerhatikan tanda-tanda penurunan berat badan lainnya, seperti perubahan pada ukuran pakaiannya.
  • Selain menurunkan berat badan, kekurangan gizi dapat menyebabkan penyembuhan luka yang berlarut-larut (meski bukan luka diabetes), mudah memar, dan munculnya masalah kesehatan gigi. Jadi, perhatikan juga masalah ini
  • Banyak obat yang memengaruhi nafsu makan, pencernaan dan penyerapan nutrisi. Pertimbangkan kembali atau konsultasikan ke dokter untuk penggunaan jenis obat saat lansia mengalami kehilangan nafsu makan secara drastis.

Bagaimana cara mengatasi masalah kurang gizi pada lansia?

Meskipun penurunan nafsu makan terjadi secara alami, kurang gizi pada lansia dapat berdampak fatal. Rutinlah ajak orangtua Anda untuk berkonsultasi ke dokter untuk menangani penyakit-penyakit yang dideritanya. Ada baiknya Anda juga ajak belau berkonsultasi ke ahli gizi berlisensi untuk memperbaiki status gizinya, sehingga mereka bisa tetap sehat untuk menjalani akitivitas harian tanpa hambatan.

Untuk menyiasati lansia yang sulit makan, pemberian jenis makanan dan waktunya harus disesuaikan. Tidak bisa seperti orang kebanyakan pada umumnya dengan pola makan pagi, siang dan malam, sebaiknya berikan porsi makan lansia yang lebih kecil agar mereka bisa makan kapan saja saat merasa lapar. Makanan yang diberikan sebaiknya juga harus yang lunak.

Perbanyak sumber makanan yang mengandung whey protein dan kasein, probiotik, dan antioksidan. Namun tetap seimbangkan dengan asupan lemak, protein dan karbohidrat yang tepat. Jika lansia tetap makan sedikit, Anda bisa bantu memenuhi kebutuhan nutrisinya dari suplemen makanan.

Selain membantunya mencukupi kebutuhan gizi dari makanan, ajak lansia untuk tetap aktif bergerak. Aktif bergerak akan menguatkan otot, yang merupakan hal penting untuk mencegah hilangnya massa otot dan penurunan fungsi otot. Aktif bergerak secara rutin juga dapat memperkuat tulang dan memperbaiki nafsu makan lansia.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Leukemia Limfositik Kronis

Chronic Lymphocytic leukemia (CLL) atau leukemia limfositik kronis adalah kondisi menyebabkan sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah putih.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kanker, Kanker Darah 2 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Ambeien (Wasir)

Ambeien (wasir) adalah membengkaknya pembuluh vena di anus yang menyebabkan rasa tidak nyaman dan BAB berdarah. Bagaimana mengobati ambeien?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Ambeien 30 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan mendadak di celah antara otak dan membran tengah yang membungkus otak. Apa gejala, penyebab dan pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Trauma Otak

Trauma otak adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mengontrol dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Direkomendasikan untuk Anda

amenore

Amenore

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
klaudikasio adalah

Klaudikasio

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Pseudogout

Pseudogout

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
congestive heart failure (CHF) gagal jantung kongestif adalah

Congestive Heart Failure (CHF)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit