Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu irritable bowel syndrome (IBS)?

Irritable bowel syndrome (IBS) adalah sindrom pencernaan yang memengaruhi kerja usus besar. IBS terjadi akibat kerusakan pada cara kerja sistem usus, tapi tidak ada tanda-tanda adanya kerusakan jaringan. Sindrom ini umumnya ditandai dengan serangan sakit perut yang berulang.

Sakit perut mulanya diawali oleh otot-otot usus yang terus berkontraksi seperti mau buang air besar. Umumnya kontraksi seperti ini terjadi hingga beberapa kali dalam sehari. Namun, kontraksi akan lebih sering terasa sehabis makan makanan tertentu. Misalnya sayuran tertentu atau kopi.

Orang yang pencernaannya sehat tidak akan merasa sakit perut atau mulas sehabis makan atau minum itu. Namun, perut pengidap IBS lebih sensitif sehingga rentan mengalami sakit perut, kembung, dan gangguan pencernaan seperti diare atau kadang sembelit setelah mengonsumsinya.

Seberapa umum kondisi ini?

Irritable bowel syndrome adalah kondisi yang umum.

Sekitar 10-15 orang per setiap 100 orang di dunia memiliki kondisi ini. Wanita yang berusia kurang dari 45 tahun berisiko dua kali lipat lebih sering terkena IBS daripada pria.

Gejala IBS biasanya mulai muncul sejak masa remaja. Namun, beberapa orang mungkin saja mengalami gejalanya pertama kali saat dewasa.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala irritable bowel syndrome (IBS)?

Gejala sindrom IBS dapat bervariasi setiap orang. Waktu kambuhnya gejala juga berbeda.

Beberapa gejala irritable bowel syndrome yang umum terjadi adalah:

  • Nyeri perut, kram, kejang, atau rasa tidak nyaman yang baru hilang setelah buang air besar
  • Diare berair yang bisa terjadi lebih dari sekali dalam sehari
  • Sembelit alias susah buang air besar, keras, feses kering
  • Setelah buang air besar, ada perasaan feses belum keluar semua
  • Kentut berlebihan
  • Kembung
  • Bentuk feses berubah-ubah; kadang keras, kadang lembek
  • Ada lendir di feses Anda

Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum di atas. Konsultasikan lebih lanjut kepada dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Irritable bowel syndrome adalah kondisi yang memiliki banyak gejala. Satu dari 5 gejala IBS memerlukan pertolongan medis.

Penting untuk mengunjungi dokter jika jadwal buang air besar terus terganggu atau jika Anda memiliki tanda atau gejala lain. Ini mungkin mengindikasikan kondisi yang lebih serius, misalnya kanker usus besar.

Dokter mungkin dapat membantu menemukan cara meredakan gejala sekaligus mencegah gejala tidak mudah kambuh.

Dokter bisa juga membantu Anda menghindari kemungkinan komplikasi dari masalah seperti diare kronis.

Penyebab

Apa penyebab irritable bowel syndrome (IBS)?

Penyebab dari irritable bowel syndrome (IBS) adalah masalah kontraksi di usus besar. Usus besar normalnya berkontraksi untuk menyerap air dan melunakkan feses. Otot usus besar juga biasanya berkontraksi untuk mendorong kotoran keluar. 

Kontraksi usus besar pada orang yang memiliki IBS bekerja abnormal. Artinya, kontraksi usus bisa terlalu banyak dan sering, terlalu cepat, atau terlalu lambat.

Kontraksi yang terlalu cepat dan sering bisa menyebabkan diare. Sementara terlalu lambat atau sedikit menyebabkan sembelit. Kontraksi otot yang tidak teratur atau berselang mungkin menyebabkan perut kram, mulas, atau merasa kebelet buang air besar, tapi tidak terealisasi

Sampai saat ini penyebab di balik masalah kontraksi usus khas IBS tidak diketahui. Namun, dugaan terkuatnya adalah masalah pada sistem saraf. Usus besar dari orang dengan IBS lebih sensitif dan bereaksi sangat kuat terhadap sinyal dari otak.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko irritable bowel syndrome (IBS)?

Irritable bowel syndrome adalah kondisi yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

1. Masalah psikologis

Secara teknis IBS tidak disebabkan oleh stres atau gejolak emosi yang kuat. Namun, beberapa orang mengalami kondisi ini selama mereka mengalami stres. Stres dapat memperburuk kondisi otak yang akan mengganggu sistem pencernaan. 

2. Infeksi saluran pencernaan

Orang dengan sindrom usus besar ini mungkin memiliki perbedaan dalam motilitas (cepat gerak) usus, hipersensitivitas visceral, peradangan, dan bakteri usus. Beberapa kondisi yang memengaruhi IBS  dapat berkembang setelah infeksi pada saluran pencernaan Anda.

3. Riwayat genetik

Risiko IBS dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika ada anggota keluarga dekat yang memiliki kondisi ini, peluang Anda lebih besar untuk mengalami penyakit yang sama.

Sampai saat ini dokter dan ahli masih meneliti gen apa yang mungkin menyebabkan risiko IBS Anda meningkat. 

4. Jenis kelamin

Wanita dua kali lipat lebih sering terkena IBS. Hal ini tampaknya dipicu oleh hormon yang berkaitan dengan siklus menstruasi.

5. Makanan pemicu gejala

Irritable bowel syndrome tidak disebabkan oleh makanan. Akan tetapi makanan tertentu dapat memicu gejala diare, kembung, atau nyeri. “Makanan pemicu” irritable bowel syndrome biasanya adalah:

  • Alkohol
  • Pemanis buatan
  • Lemak tiruan (Olestra)
  • Minuman berkarbonasi
  • Santan
  • Kopi (bahkan yang tanpa kafein)
  • Susu
  • Kuning telur
  • Gorengan
  • Minyak
  • Kulit dan daging unggas
  • Daging merah
  • Coklat padat

Diagnosis

Apa saja tes yang paling umum untuk mendiagnosis irritable bowel syndrome (IBS)?

Diagnosis irritable bowel syndrome (IBS) baru dapat dilakukan setelah dokter memastikan gangguan pencernaan Anda tidak disebabkan oleh penyakit atau infeksi lain.  

Pada tahun 1988, sekelompok dokter menetapkan kriteria untuk membantu dokter mendiagnosis sindrom usus besar ini agar lebih akurat. Diagnosisnya dikenal sebagai Rome Criteria atau Kriteria Roma. Rangkaian tes pedoman ini menguraikan gejala dan menerapkan parameter seperti frekuensi dan durasi.

Rome Criteria umumnya mengharuskan Anda memiliki gejala yang muncul selama seminggu sekali dalam tiga bulan terakhir. Kriteria ini juga menetapkan bahwa gejala IBS sudah mulai terasa setidaknya enam bulan sebelum periksa ke dokter

Dengan menggunakan pedoman ini, dokter sekarang dapat membuat diagnosis IBS yang lebih akurat.

Selain menggunakan Kriteria Roma, dokter sering melakukan beberapa tes untuk memastikan bahwa tidak ada peradangan, infeksi, atau penyakit lain yang menyebabkan gejala.

Tes lain yang dapat membantu mendiagnosis sindrom usus besar biasanya termasuk tes darah dan pemeriksaan darah samar pada tinja.

Tes lain yang mungkin dilakukan termasuk kultur feses, barium enema, sigmoidoskopi, dan kolonoskopi. Setelah semuanya dikesampingkan dan tidak ditemukan adanya penyakit dan infeksi lain, IBS baru bisa didiagnosis. 

Pasien biasanya didiagnosis dengan satu dari tiga jenis IBS:

  • Diare-dominan (IBS-D)
  • Konstipasi-dominan (IBS-C)
  • Kebiasaan buang air besar campuran (IBS-M), misalnya sembelit dan diare bergantian

Obat & Pengobatan

Apa saja pilihan pengobatan untuk irritable bowel syndrome (IBS)?

Irritable bowel syndrome adalah kondisi yang bisa dikendalikan perubahan gaya hidup. Termasuk makan makanan tinggi serat dan menghindari makanan yang memperburuk gejala.

Selain itu, dokter umumnya akan menyarankan kebiasaan makan makanan dalam porsi kecil, minum cukup air, berolahraga secara teratur, dan mengurangi stres. 

Tidak lupa juga ada beberapa obat yang akan diresepkan dokter sesuai dengan jenis IBS mana yang paling dominan.

1. Antidiare

Dokter Anda mungkin menyarankan mencoba obat diare seperti bismuth subsalicylate dan loperamide. 

Para peneliti telah menemukan obat ini dapat membantu memperlambat diare, tetapi mereka tidak membantu mengatasi gejala IBS lainnya seperti sakit perut atau pembengkakan.

Efek samping dari perawatan ini termasuk kram perut dan kembung, bersama dengan mulut kering, pusing, dan sembelit.

Jika Anda minum obat diare, gunakan dosis serendah mungkin dan jangan meminumnya dalam waktu lama.

Beberapa obat diare kemungkinan juga mengandung simethicone untuk menghilangkan rasa kembung akibat tumpukkan gas di dalam pencernaan dan terbilang aman. 

2. Antidepresan

Jika dokter Anda merekomendasikan obat ini, belum tentu Anda mengalami depresi.  Obat-obatan antidepresi diresepkan bagi pengidap IBS untuk membantu mengatasi sakit perut akibat IBS yang kemungkinan dipicu stres.

Dosisnya rendah dan hanya dapat membantu memblokir sinyal rasa sakit ke otak.

Obat yang sering diresepkan misalnya antidepresan seperti amitriptyline atau nortriptyline. Namun obat ini punya efek samping umum dari obat-obatan ini termasuk mulut kering, penglihatan kabur, dan sembelit.

3. Antispasmodik

Irritable bowel syndrome adalah kondisi yang dapat dibantu diobati dengan antispasmodik.

Obat ini bekerja mengendurkan otot pencernaan. Beberapa obat yang umum diresepkan umumnya  seperti dicyclomine dan hyoscyamine. 

Ini karena kejang otot pada saluran pencernaan IBS dapat menyebabkan Anda sakit perut. Banyak dokter meresepkan obat ini untuk menenangkan otot Anda. 

Meski demikian, beberapa penelitian tidak menemukan bukti yang jelas bahwa obat ini dapat membantu semua orang yang punya kondisi IBS.

Efek samping dari obat ini termasuk penurunan keringat, sembelit, mulut kering, dan penglihatan kabur.

4. Suplemen serat

Dokter juga dapat menambahkan obat suplemen serat seperti Metamucil. Suplemen serat ini membantu mengatasi sembelit dan diare. Obat ini bekerja dengan menambah jumlah feses, sehingga kotoran buang air besar tidak terlalu cair saat diare. 

Suplemen serat juga dapat membuat feses lebih mudah keluar saat orang IBS yang sembelit buang air besar.  Umumnya serat yang disarankan untuk sembelit adalah serat yang tidak larut dalam air. 

Serat yang tidak larut bisa menambah jumlah feses Anda, membantu feses melewati lebih cepat melalui usus. Untuk itu, konsultasikan suplemen serat apa yang tepat untuk kondisi IBS Anda dengan dokter

Sebagian besar makanan yang terbuat dari sayur atau buah umumnya mengandung beberapa jenis serat. Makanan yang mengandung serat larut tinggi termasuk kacang kering, gandum, dedak gandum, bekatul, barley, buah jeruk, apel, stroberi, kacang polong, dan kentang.

5. Obat pencahar untuk sembelit

Obat pencahar merangsang gerak usus besar agar cepat mendorong feses ke rektum. Obat ini bisa diresepkan untuk orang dengan kondisi IBS yang cenderung menimbulkan sembelit. Dengan begitu, frekuensi BAB Anda akan jadi lebih lancar. Namun, obat ini tidak bisa mengobati gejala IBS yang berupa sakit perut dan kembung.

Penting untuk mengetahui berapa dosis yang Anda konsumsi. Pakai obat pencahar harus sesuai dengan resep dan di bawah pengawasan ketat dokter. Terlalu sering pakai obat pencahar padahal tidak perlu bisa meningkatkan risiko ketergantungan.

Pengidap IBS juga dapat diberikan obat Linaclotide ketika perawatan lainnya tidak berhasil. Linaclotide dapat membantu redakan sembelit sehingga melancarkan BAB. Obat ini berbentuk kapsul yang harus dikonsumsi sekali sehari saat perut kosong, setidaknya 30 menit sebelum makan pertama di hari itu. 

Orang yang berusia kurang dari 17 tahun biasanya tidak akan diresepkan obat khusus ini oleh dokter karena alasan tertentu. Efek samping yang paling umum dari obat ini adalah diare.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi irritable bowel syndrome (IIBS)?

Ada beberapa anjuran perubahan gaya hidup yang dapat Anda lakukan di rumah untuk membantu mengatasi IBS.

Berikut adalah hal yang dapat Anda lakukan untuk mengendalikan peluang kumatnya irritable bowel syndrome:

1. Membuat catatan jurnal makanan

Orang dengan kondisi IBS umumnya  harus menjauhi makanan dan minuman yang memperparah kondisinya.

Maka, Anda disarankan membuat jurnal gejala untuk mencari tahu makanan apa yang bisa dikonsumsi dan mana yang tidak.

Misalnya, saat Anda merasakan gejala IBS sembelit, coba ingat makanan apa yang Anda makan sebelumnya. Catat jenis dan jumlah makanan yang Anda makan selama makan setelah gejala dimulai.

Nantinya ini bisa menjadi panduan tersendiri bagi Anda  yang ingin mengelola gejala IBS sehari-hari. 

2. Mengurangi stres

Pada beberapa kasus, IBS dapat dipicu oleh kondisi stres.

Stres bukanlah penyebab IBS, tetapi seperti halnya penyakit atau gangguan apapun, stres dapat menyebabkan gejala IBS  memburuk.

Selain pakai obat atau terapi lain yang sifatnya medis, Anda juga dapat mengurangi stres dengan cara lain. Misalnya seperti relaksasi, yoga, atau meditasi untuk membantu mengurangi gejala sindrom iritasi usus besar. 

3. Minum obat sesuai arahan dokter

Gejala IBS sering kambuh. Maka, Anda tetap harus minum obat sesuai saran dokter saat gejalanya muncul.

Obat untuk irritable bowel syndrome tidak disarankan diminum di kala kondisinya  tidak kambuh atau dengan dosis berlebih. Ini bisa membuat kondisi Anda semakin kacau dan berisiko mengalami resistensi (kebal) obat. 

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah kepada dokter untuk mendapatkan solusi terbaik bagi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis atau pengobatan.

Sumber