Disleksia (Dyslexia)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi disleksia (dyslexia)

Apa itu disleksia (dyslexia)?

Disleksia adalah gangguan belajar yang menyebabkan kesulitan membaca, menulis, dan mengeja. The International Dyslexia Association, menyatakan bahwa disleksia adalah ketidakmampuan belajar spesifik yang berasal dari faktor neurobiologis. Masalah ini ditandai dengan kesulitan mengenali kata dengan lancar serta kemampuan mengeja yang buruk.

Akibatnya, kesulitan belajar ini bisa mengakibatkan masalah dalam membaca dan memahami bahan bacaan. Selain itu, gangguan belajar yang satu ini juga menghambat pemahaman akan kosakata dan makna di baliknya.

Sekalipun merupakan kondisi yang menyebabkan gangguan belajar, kondisi ini nyatanya sama sekali tidak memengaruhi atau berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang.

Oleh sebab itu, seorang anak yang memiliki disleksia (dyslexia) bukan berati memiliki IQ yang rendah. Kedua hal ini sama sekali tidak berkaitan.

Seberapa umumkah disleksia (dyslexia)?

Disleksia adalah kondisi yang paling banyak terjadi pada anak-anak dan dapat tidak terdeteksi hingga dewasa. Dilansir dari NHS, sekitar 1 dari 10 orang di Inggris memiliki gangguan belajar ini. Pada setiap orang, tingkat keparahan disleksia bisa bervariasi dari ringan hingga berat.

Gangguan belajar ini akan muncul seumur hidup dan tidak bisa disembuhkan. Meski begitu, dyslexia bisa dikelola. Semakin cepat masalah ini diobati, semakin baik pula kondisi orang yang mengalaminya. Untuk itu, tidak ada kata terlambat bagi pengidap masalah belajar yang satu ini untuk meningkatkan keterampilan berbahasa.

Gejala disleksia (dyslexia)

Apa saja tanda dan gejala disleksia (dyslexia)?

Gangguan baca tulis ini biasanya akan sulit dikenali apabila anak belum mulai sekolah. Pasalnya, gangguan ini akan benar-benar terlihat saat anak mulai belajar membaca. Akan tetapi sebenarnya ada beberapa petunjuk awal yang bisa orangtua sadari.

Berikut berbagai tanda dan gejala disleksia berdasarkan tahapan usianya:

Gejala disleksia pada usia prasekolah

Anak usia prasekolah yang mengalami disleksia biasanya mengalami gejala, seperti:

  • Kemampuan bicara yang terlambat.
  • Lambat dalam mempelajari kata-kata baru.
  • Kesulitan membentuk kata dengan benar, misalnya terbalik-balik atau sulit memahami kata yang mirip.
  • Kesulitan untuk mengingat huruf, angka, warna.

Gejala disleksia pada usia sekolah

Di usia sekolah, biasanya tandanya akan terlihat semakin jelas seperti:

  • Kemampuan membaca yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan anak seusianya.
  • Kesulitan memproses dan memahami apa yang didengarnya.
  • Sulit untuk menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
  • Sulit mengingat urutan kejadian.
  • Kesulitan dalam melihat dan kadang mendengar persamaan atau perbedaan dalam huruf dan kata-kata.
  • Tidak bisa mengucapkan kata yang tidak dikenalnya.
  • Kesulitan dalam mengeja.
  • Menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan tugas membaca atau menulis.
  • Sering menghindari kegiatan membaca.

Gejala disleksia pada usia remaja dan dewasa

Disleksia juga kerap tidak terdeteksi sampai anak berusia remaja bahkan dewasa. Biasanya gejalanya juga mirip dengan yang muncul pada anak. Adapun berbagai tanda dan gejala yang biasanya muncul, yaitu:

  • Kesulitan dalam membaca terutama membaca dengan suara lantang.
  • Kemampuan membaca dan menulis yang lambat.
  • Memiliki masalah dalam mengeja.
  • Selalu menghindari kegiatan yang berhubungan dengan membaca.
  • Sering kali salah saat mengucapkan nama atau kata-kata.
  • Sulit memahami idiom tertentu, misalnya ringan tangan, keras kepala, dan sebagainya.
  • Menghabiskan waktu cukup lama untuk menyelesaikan tugas yang melibatkan bacaan dan tulisan,
  • Kesulitan meringkas sebuah cerita.
  • Kesulitan belajar bahasa asing.
  • Kesulitan menghafal.
  • Kesulitan mengerjakan soal matematika.

Selain itu, secara umum biasanya anak yang mengalami dyslexia saat remaja akan terlihat:

  • Depresi terutama saat belajar.
  • Menarik diri dari lingkungannya.
  • Kehilangan minat untuk sekolah dan belajar.

Hal-hal ini kerap membuat anak yang memiliki gangguan belajar ini dicap sebagai pemalas. Padahal, ia mengalami gangguan baca tulis yang mungkin tak diketahui oleh orangtua dan gurunya. Akibatnya, anak yang sudah kesulitan dalam belajar ini tak jarang menyerah.

Untuk itu, orangtua perlu peka terhadap berbagai tanda dan gejalanya. Jika buah hati Anda mengalami berbagai tanda yang telah disebutkan, jangan ragu untuk membawanya ke dokter, khususnya neurolog dan psikolog untuk segera diperiksa.

Selain tanda dan gejala yang telah disebutkan, ada berbagai gejala lain yang biasanya juga muncul pada anak disleksia. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila anak Anda memiliki kemampuan membaca yang lebih rendah dari anak-anak lainnya, atau apabila ia memiliki tanda-tanda atau gejala yang disebutkan di atas. Disleksia biasanya tidak disadari pada saat masih kecil dan dapat berlanjut hingga dewasa.

Penyebab disleksia (dyslexia)

Apa penyebab disleksia (dyslexia)?

Disleksia sama sekali tidak dipengaruhi oleh kecerdasan seseorang, kerusakan otak, atau keterbelakangan mental. Namun, para ahli mengira bahwa kondisi ini disebabkan oleh gen tertentu yang mengendalikan perkembangan otak. Selain itu, gangguan belajar ini juga sering kali muncul karena faktor keturunan.

Faktor risiko disleksia (dyslexia)

Apa yang membuat saya berisiko terkena disleksia (dyslexia)?

Berbagai faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena disleksia, antara lain:

  • Riwayat keluarga yang juga memiliki disleksia atau gangguan belajar lainnya.
  • Bayi lahir prematur atau berat badan rendah.
  • Paparan nikotin, alkohol, atau infeksi saat hamil yang bisa mengubah perkembangan otak janin.
  • Adanya perbedaan di bagian otak tertentu yang mengendalikan kemampuan membaca.

Diagnosis dan pengobatan disleksia (dyslexia)

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk disleksia (dyslexia)?

Mendiagnosis dyslexia pada anak-anak kecil memang sulit karena tanda-tandanya tidak selalu tampak jelas. Selain itu, tidak ada tes khusus yang bisa mendiagnosis gangguan baca tulis ini. Untuk itu, biasanya dokter akan melakukan berbagai hal seperti:

Melihat perkembangan, masalah belajar, dan riwayat medis

Biasanya dokter akan mengajukan berbagai pertanyaan ke orangtua terkait masalah ini. Dokter akan menanyakan apakah ada di antara anggota keluarga Anda yang memiliki riwayat disleksia. Pasalnya, gangguan belajar ini bisa diturunkan dari keluarga.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan perkembangan belajar anak sejak ia mulai belajar berbicara. Ini karena disleksia biasanya ditunjukkan dengan berbagai tanda.

Pertanyaan lain yang mungkin Anda dapatkan dari dokter adalah terkait masalah belajar yang selama ini dialami anak di rumah. Berbagai informasi ini akan sangat membantu dokter untuk mendiagnosis masalah pada anak Anda.

Menanyakan masalah di rumah

Untuk mengenali masalah ini, dokter biasanya akan meminta keterangan tentang kehidupan di rumah sehari-hari. Biasanya termasuk siapa saja yang tinggal di rumah dan apakah ada masalah tertentu yang sedang dihadapi sekarang-sekarang ini.

Pasalnya, bisa saja anak bukan mengalami disleksia melainkan depresi karena kondisi rumah yang kurang kondusif hingga berdampak pada kemampuan belajarnya.

Memberikan kuisioner

Biasanya dokter akan meminta anak, orangtua, dan guru di sekolah untuk menjawab sederet pertanyaan yang berkaitan untuk mendiagnosis kondisi buah hati Anda. Dokter juga akan meminta anak untuk mengikuti tes tertentu melalui kuisioner ini untuk melihat kemampuan membaca dan bahasanya.

Tes penglihatan, pendengaran, dan otak

Tes ini biasanya akan membantu menentukan apakah ada kelainan lain yang bisa menyebabkan atau menambah masalah belajar yang dialami anak. Untuk itu, pemeriksaan secara menyeluruh pada kemampuan melihat, mendengar, dan otak anak sangat diperlukan.

Tes psikologis

Biasanya dokter akan mengajukan berbagai pertanyaan pada Anda dan anak untuk melihat kondisi kesehatan mentalnya. Tes ini dapat membantu menentukan apakah masalah sosial, kecemasan, atau depresi membatasi kemampuan anak dalam belajar.

Tes baca dan akademik lainnya

Dokter juga akan menganjurkan anak Anda mengikuti serangkaian tes akademik untuk menganalisis proses dan keterampilan membaca anak. Tes ini akan dilakukan oleh seorang ahli atau pakar baca agar bisa mengenali dengan pasti masalah yang dialami anak Anda. Melalui tes ini, biasanya ahli bisa menentukan apakah anak mengalami disleksia atau tidak.

Apa saja pilihan pengobatan untuk disleksia (dyslexia)?

Disleksia mungkin akan sulit untuk didiagnosis dan diatasi dengan sempurna. Namun, dengan dukungan mental dan stimulasi dari sekolah dan orangtua, keberhasilan pengobatan dan kemajuan kondisi tentu bisa didapatkan. Berikut berbagai perawatan yang biasanya digunakan untuk mengobati disleksia.

Stimulasi edukasi

Anak yang memiliki disleksia biasanya akan diajarkan dengan pendekatan dan teknik khusus. Di sekolah, guru bisa menggunakan teknik yang melibatkan pendengaran, penglihatan, dan sentuhan untuk meningkatkan keterampilan membacanya.

Lewat cara ini, anak akan dibantu untuk menggunakan beberapa indra sekaligus untuk belajar, seperti mendengarkan materi yang telah direkam sambil menulis dengan jari bentuk huruf dan kata yang diucapkan. Cara ini akan sangat membantu anak dalam memproses informasi yang didapatkannya.

Selain itu, anak juga akan diajarkan untuk mempraktikkan gerakan mulut saat bersuara dan mengucap kata tertentu. Tak hanya itu, anak juga akan belajar dengan bantuan flash cards.

Berbagai teknik ini biasanya akan berfokus untuk membantu anak dalam:

  • Belajar mengenali suara dalam kata yang diucapkan.
  • Memahami bahwa huruf mewakili bunyi dan menjadi unsur pembangun kata.
  • Memahami apa yang sedang dibacanya.
  • Membaca dengan suara lantang untuk menciptakan ketepatan, kecepatan, dan kelancaran membaca.
  • Menggabungkan huruf untuk membuat kata dan kalimat yang lebih kompleks nantinya.

Anak dengan masalah belajar yang satu ini juga biasanya akan diberikan perpanjangan waktu ujian sehingga bisa menyelesaikannya dengan lengkap. Hal ini juga bisa dilakukan untuk melihat kemampuan belajarnya selama ini.

Anak dengan disleksia perlu mendapat bantuan ekstra saat ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Perawatan dini akan membantu meningkatkan keterampilan membacanya di sekolah dasar nanti.

Anak yang terlambat mendapatkan penanganan untuk dyslexia biasanya akan mengalami kesulitan membaca dan menulis. Akibatnya, mereka cenderung tertinggal secara akademis dan tidak bisa mengejar ketinggalannya tersebut.

Menggunakan bantuan teknologi

Untuk remaja dan dewasa, para ahli akan menyarankan bantuan teknologi untuk mempermudah pembelajaran dan pekerjaan. Pasalnya, penggunaan komputer ini biasanya cenderung lebih memudahkan jika dibandingkan dengan buku.

Program pengolah kata misalnya bisa digunakan untuk membantu memeriksa ejaan secara otomatis sehingga bisa meminimalisir kesalahan dalam tulisan.  Selain itu, progam text to speech memungkinkan komputer untuk membaca teks seperti yang tertera di layar. Tujuannya, untuk melatih indra penglihatan dan pendengaran Anda.

Anda juga bisa menggunakan perekam digital dalam perkuliahan untuk kemudian didengarkan kembali di rumah sambil membaca catatan yang telah ditulis.

Mengatasi disleksia (dyslexia)

Apa saja pengobatan rumahan untuk mengatasi disleksia (dyslexia)?

Berikut berbagai perawatan di rumah yang bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan anak disleksia, yaitu:

Membacakan buku dengan lantang

Jika anak mengidap dyslexia, cobalah untuk membacakan dongeng atau buku di depannya dengan suara yang lantang. Jangan membacakan buku cerita dengan berbisik-bisik karena anak akan kesulitan menangkap dan memahami maksudnya.

Ajak anak sering membaca

Meski mungkin sulit, dorong anak untuk membaca. Dorong anak untuk terus berlatih dengan membaca apa pun yang sekiranya bisa dibaca di rumah. Dalam hal ini Anda perlu sabar dan terus mendampingi si kecil dalam mengatasi masalahnya. Kemudian, tunjukkan pada si kecil bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan, bukan hanya menyuruh melainkan juga bersama-sama membaca dengan anak Anda.

Siapkan tempat belajar yang nyaman

Sebagai orangtua, Anda perlu menyediakan tempat yang bersih, tenang, dan nyaman untuk belajar. Dengan begitu, kegiatan belajar tidak menjadi momok yang menakutkan meski anak mengalami gangguan belajar yang menghambatnya.

Batasi anak bermain gadget

Anda perlu memberikan batasan tegas dalam bermain gadget. Selain gawai, Anda juga perlu membatasi anak untuk menonton televisi. Kemudian, gunakan ekstra waktu yang dimiliki untuk berlatih membaca.

Bersikap suportif

Sangat penting untuk memberikan dukungan terhadap anak Anda. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya yang mungkin turun. Anda juga bisa menjelaskan kepadanya mengenai masalah yang dimilikinya. Kemudian, berikan kata-kata penyemangat dan katakan padanya bahwa Anda akan selalu ada untuknya kapan pun ia butuhkan.

Bergabung dengan komunitas anak disleksia

Sebaiknya, jangan malu atau sungkan untuk bergabung dengan komunitas yang memiliki masalah sama. Cara ini bisa membantu Anda sebagai orangtua untuk bisa berbagi cerita dengan orangtua lain yang anaknya memiliki masalah yang sama.

Selain itu, komunitas ini juga akan sangat berguna bagi anak agar ia merasa tidak sendirian saat bertemu teman-teman yang memiliki masalah sama. Anda bisa menanyakan pada dokter kira-kira adakah komunitas disleksia yang bisa Anda ikuti.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Yang juga perlu Anda baca