Diabetes Tipe 2

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu diabetes tipe 2?

Diabetes tipe 2 atau diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit dengan gejala kadar gula (glukosa) yang terlalu tinggi dalam darah. Orang awam sering menyebut kondisi ini sebagai penyakit kencing manis, penyakit gula, atau DM tipe 2.

Penyakit diabetes tipe 2 juga disebut sebagai adult-onset diabetes karena biasanya menyerang orang dewasa atau lansia. Berbeda dengan diabetes tipe 1 yang bisa menyerang orang yang usianya lebih muda, seperti anak-anak.

Namun, tidak menutup kemungkinan jika DM tipe 2 bisa menyerang orang lebih muda karena adanya berbagai faktor risiko.

Meskipun menunjukkan gejala yang hampir serupa, DM tipe 2 ini berbeda dengan diabetes melitus tipe 1. Orang yang mengalami diabetes tipe 1, pankreasnya tidak dapat memproduksi hormon insulin.

Sementara pankreas pada orang dengan DM tipe 2 mampu memproduksi insulin yang memadai, tapi sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efisien untuk mengubah glukosa menjadi energi.

Seiring dengan berjalannya waktu, glukosa di dalam darah akan semakin melonjak naik. Kondisi ini disebut sebagai resistensi insulin. Akibatnya, gula darah menumpuk terlalu banyak dalam tubuh dan menimbulkan berbagai gejala diabetes melitus tipe 2.

Jika gula darah dibiarkan terus tinggi, gejala diabetes melitus tipe 2 akan semakin bertambah parah. Bahkan, dapat menyebabkan komplikasi diabetes yang memengaruhi sistem saraf, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah, serta gusi dan gigi. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala diabetes tipe 2?

Diabetes melitus tipe 2 sering tidak menunjukkan gejala berarti. Bahkan, cukup banyak orang yang malah tidak menyadari kalau dirinya terkena penyakit ini selama bertahun-tahun, walaupun gejala diabetes melitus tipe 2 sudah muncul.

Berikut ini ada beberapa tanda dan gejala diabetes melitus tipe 2 yang khas dan harus Anda waspadai, seperti:

Sering buang air kecil dan cepat haus

Gejala diabetes melitus tipe 2 ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi. Kondisi ini membuat ginjal kewalahan menyerap semua gula dalam darah, sehingga membuangnya bersama urin. Gula yang terbuang membuat urin jadi kental sehingga tubuh perlu mengencerkannya.

Akibatnya, tubuh perlu banyak cairan dan mengirim sinyal pada Anda untuk minum air lebih banyak. Hal ini membuat pasien diabetes melitus tipe 2 mengalami gejala cepat haus dan buang air kecil lebih sering.

Cepat lapar

Selain cepat haus, diabetes melitus tipe 2 juga membuat seseorang merasakan gejala cepat lapar. Gejala ini biasanya muncul setelah pasien diabetes melitus tipe 2 baru saja makan berat.

Munculnya gejala diabetes melitus tipe 2 ini disebabkan oleh hormon insulin yang tidak merespons gula dalam darah dengan baik. Akibatnya, tubuh akan terus merasa kekurangan sumber glukosa dan mengirimkan sinyal lapar.

Berat badan turun tanpa sebab yang jelas

Insulin yang tidak bekerja dengan baik membuat tubuh merasa kekurangan sumber energi. Akibatnya, tubuh akan memecah lemak dan otot untuk dijadikan sebagai energi.

Hal ini membuat pasien diabetes melitus tipe 2 merasakan gejala berupa penurunan berat badan. Gejala diabetes melitus tipe 2 ini bisa terjadi secara drastis, bahkan tanpa disadari akan semakin kurus.

Luka sulit sembuh dan mudah terkena infeksi

Luka yang sulit sembuh merupakan gejala dari diabetes melitus tipe 2. Hal ini terjadi karena gula darah yang tinggi membuat dinding pembuluh darah yang menyempit sehingga aliran darah yang kaya oksigen jadi terhambat. Padahal, proses penyembuhan luka memerlukan darah kaya oksigen dan nutrisi.

Selain infeksi pada luka, pasien diabetes melitus tipe 2 juga rentan mengalami infeksi jamur sebagai gejala. Munculnya gejala ini terjadi akibat perkembangan jamur yang tidak terkendali akibat gula darah yang tinggi pada penderita diabetes tipe 2.

Masalah kulit

Gejala diabetes melitus tipe 2 juga terjadi pada kulit. Penyakit ini dapat membuat kulit jadi kehitaman, terutama bagian lipatan ketiak, leher, dan selangkangan.

Selain itu, diabetes melitus tipe 2 juga bisa menimbulkan masalah infeksi jamur kulit di tubuh. Ini terjadi karena perkembangan bakteri yang tidak terkendali akibat gula darah yang tinggi. Jamur dapat menyerang kulit sekitar selakangan, kuku, atau bahkan infeksi pada vagina.

Gangguan penglihatan

Diabetes melitus tipe 2 yang sudah parah, bisa menimbulkan gejala berupa masalah pada mata. Kondisi ini mengarah pada retinopati diabetik, katarak, atau glaukoma yang bisa membuat penglihatan jadi buram.

Gejala diabetes melitus tipe 2  ini terjadi akibat pembengkakan pembuluh darah retina akibat gula darah yang tinggi.

Sensasi mati rasa pada tangan dan kaki

Gula darah yang tinggi pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat menimbulkan gejala sensasi mati rasa pada tangan dan kaki.

Munculnya gejala diabetes melitus tipe 2 ini disebut dengan neuropati perifer dan menandakan adanya kerusakan saraf di sekitar area yang bermasalah.

Gejala diabetes melitus tipe 2 sangat beragam. Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Namun, gejala yang disebutkan di atas sangat umum dikeluhkan pasien.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang suatu gejala diabetes melitus tipe 2, silakan hubungi dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda atau gejala seperti di atas atau memiliki pertanyaan, silakan hubungi dokter Anda.

Tubuh setiap orang bereaksi berbeda-beda sehingga gejala diabetes melitus tipe 2 yang ditimbulkan juga berbeda. Berdiskusilah dengan dokter Anda untuk menentukan tindakan terbaik untuk mengatasi gejala.

Penyebab

Apa penyebab diabetes tipe 2?

Penyebab diabetes tipe 2 biasanya adalah resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel otot, hati, dan lemak tidak dapat menggunakan insulin dengan optimal. Akibatnya, tubuh Anda membutuhkan lebih banyak insulin supaya kadar glukosa dalam tubuh bisa tetap stabil.

Kebutuhan insulin yang terus meningkat membuat sel beta pankreas bekerja lebih keras. Akibatnya sel beta pankreas justru tidak mampu merespons perubahan glukosa darah dalam tubuh dengan baik. Hal ini menyebabkan insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya justru ada kebanyakan glukosa yang tidak dapat diserap oleh sel tubuh dan mengalir dalam darah. Saat gula tidak dapat memasuki sel-sel, kadar gula dalam darah meningkat tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan terus-terusan dapat menyebabkan hiperglikemia.

Resistensi insulin pada diabetes tipe 2 sendiri bisa disebabkan oleh banyak hal, termasuk:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas. Peningkatan lemak membuat tubuh mengalami resistensi insulin sehingga kesulitan menggunakan insulin dengan benar.
  • Faktor genetik. Bila kakek, nenek, orangtua, atau saudara kandung Anda memiliki penyakit diabetes tipe 2, Anda juga berisiko tinggi untuk mengalaminya juga. 

Faktor-faktor risiko

Siapa yang berisiko terkena diabetes tipe 2?

Diabetes tipe 2 adalah kondisi yang sepenuhnya belum dipahami para ahli. Pasalnya, sejumlah orang berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2 dan sebagian lagi tidak.

DM tipe 2 seringnya menyerang di usia dewasa, dengan usia 40 tahun atau lebih. Namun risiko terserang diabetes tipe 2 dapat meningkat dengan adanya obesitas di masa kanak-kanak.

Terlepas dari hal tersebut, para ahli percaya bahwa ada beberapa hal yang jelas meningkatkan faktor risiko diabetes, seperti:

1. Riwayat keluarga

Risiko mengalami diabetes tipe 2 semakin besar jika orangtua atau saudara kandung Anda memiliki DM tipe 2. Bahkan, menurut American Diabetes Association, dibandingkan dengan diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 memiliki hubungan yang sangat kuat dengan riwayat dan keturunan keluarga.

Para ahli menduga bahwa terdapat gen khusus yang dibawa orangtua ke generasi selanjutnya. Namun, sampai saat ini para ahli masih mencari tahu gen mana yang membawa sifat penurunan penyakit diabetes tipe 2.

2. Umur

Risiko diabetes tipe 2 meningkat seiring bertambah umur, khususnya setelah umur 45 tahun. Mungkin ini karena orang-orang di usia ini cenderung kurang bergerak, kehilangan massa otot, dan menambah berat badan.

Selain itu, proses penuaan juga mengakibatkan penurunan fungsi sel beta pankreas sebagai penghasil insulin. Namun, diabetes tipe 2 juga bisa meningkat secara dramatis pada remaja, dan masa awal dewasa karena faktor gaya hidup yang tidak sehat. 

3. Berat badan

Memiliki kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2. American Diabetes Association pun mengatakan yang serupa.

Dalam laman resminya, orang yang obesitas berisiko 80 kali lebih mungkin terkena penyakit diabetes tipe 2 ketimbang yang memiliki berat badan ideal. 

Hal ini terjadi karena semakin tebal jaringan lemak, sel-sel semakin kebal juga terhadap insulin. Selain itu, jika tubuh Anda menyimpan lemak pada bagian perut, risiko Anda lebih besar mengalami diabetes tipe 2 dibanding jika tubuh Anda menyimpan lemak di bagian lain, seperti pinggul dan paha.

4. Gaya hidup sedentari

Sedentari adalah pola perilaku minim aktivitas fisik atau gerakan fisik. Padahal, aktivitas fisik membantu Anda mengontrol berat badan, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel-sel Anda semakin sensitif terhadap insulin.

Maka dari itu, semakin Anda pasif, semakin besar risiko Anda mengalami diabetes tipe 2.

5. Prediabetes

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah Anda lebih tinggi dari kadar normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes.

Sayangnya, kondisi ini tidak menimbulkan gejala sehingga bisa berlanjut menjadi diabetes melitus tipe 2. Bila gejala sudah muncul, kemungkinan besar kondisi sudah beralih status menjadi diabetes.

6. Diabetes kehamilan

Jika Anda mengalami diabetes saat hamil (diabetes gestasional), risiko Anda mengalami diabetes tipe 2 meningkat. Jika Anda melahirkan bayi yang beratnya lebih dari 4 kilogram, bayi Anda juga berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa dewasanya.

Ibu hamil yang pernah mengalami diabetes gestasional dan sembuh, punya kemungkinan tinggi terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari ketimbang ibu hamil yang sehat.

7. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

PCOS erat kaitannya dengan resistensi insulin. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jika Anda sudah mengalami resistensi insulin, maka risiko Anda terkena penyakit diabetes tipe 2 juga akan meningkat.

Selain PCOS, sejumlah kondisi medis lain juga berisiko terkena diabetes tipe 2, seperti pankreatitis, sindrom Cushing, dan glucagonoma.

8. Obat-obatan tertentu

Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan juga bisa memengaruhi kadar gula dalam darah, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit diabetes tipe 2.

Obat steroid, statin, diuretik, dan beta-blocker merupakan beberapa jenis obat yang diketahui dapat memengaruhi kadar gula dalam darah yang berisiko menyebabkan diabetes tipe 2. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari penyakit diabetes tipe 2?

Komplikasi yang paling memungkinkan dari diabetes yang tak terkontrol, baik itu tipe 1 atau tipe 2, adalah nekrosis. Komplikasi diabetes satu ini dapat membuat Anda lumpuh.

Tanpa pengobatan dan perawatan yang tepat, sel tubuh Anda tidak akan mampu untuk menggunakan glukosa di dalam aliran darah dan akan mati secara perlahan. Nekrosis biasanya terjadi pada tubuh bagian bawah, seperti kaki.

Selain nekrosis, Anda mungkin dapat mengidap penyakit serius yaitu ketoasidosis diabetik. Pada penyakit ketoasidosis diabetik, zat keton menumpuk dalam darah. Keton yang terkandung di dalam darah akan mengubah darah bersifat asam.

Kondisi ini berbahaya karena dapat memengaruhi organ termasuk otak dan dapat membahayakan penderitanya jika tidak segera didiagnosis dan dirawat di rumah sakit.

Komplikasi diabetes tipe 2 lain yang mungkin terjadi, antara lain:

Kardiopati

Diabetes dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskuler lainnya, termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri di dada (angina), penyakit jantung, stroke, menyempitnya arteri (aterosklerosis), dan tekanan darah tinggi.

Neuropati

Gula yang berlebihan dapat membahayakan pembuluh darah kecil (kapiler) yang menutrisi saraf Anda, terutama di kaki. Ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, terbakar atau nyeri dari ujung kaki dan menjalar ke atas.

Gula darah yang tidak terkontrol dengan baik menyebabkan Anda dapat mati rasa di kaki salah satu atau kedua kaki. Kerusakan saraf yang memengaruhi saluran pencernaan dapat menyebabkan beberapa masalah seperti mual, muntah, diare, atau sembelit. Untuk pria, masalah tersebut bisa berupa disfungsi ereksi.

Nefropati

Ginjal mengandung banyak gugusan pembuluh darah yang menyaring limbah dari darah Anda. Diabetes dapat membahayakan sistem penyaringan yang halus ini.

Beberapa kerusakan dapat mengakibatkan gagal ginjal atau penyakit ginjal stadium akhir yang dapat dipulihkan, namun ini membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal.

Kerusakan Mata

Diabetes dapat membahayakan jaringan darah di retina (diabetes retinopati), dan berkemungkinan menyebabkan kebutaan. Diabetes juga dapat meningkatkan kerusakan berat pada penglihatan, seperti katarak dan glaukoma.

Kerusakan kaki

Kerusakan saraf atau aliran darah di kaki dapat meningkatkan risiko komplikasi kaki. Jika tidak dirawat, goresan dan luka di kaki dapat menjadi infeksi serius, yang susah diobati dan dapat berakibat amputasi kaki.

Komplikasi Kehamilan

Kadar gula yang tinggi dapat berbahaya bagi anak dan bayi. Anda mempunyai risiko yang tinggi untuk keguguran, kelahiran, dan cacat lahir jika kadar gula Anda tidak dikontrol dengan baik.

Untuk sang ibu, diabetes dapat meningkatkan risiko akan ketoasidosis diabetik, diabetes retinopati, kehamilan darah tinggi, dan preeklampsia.

Obat & Pengobatan

Apa saja obat diabetes tipe 2 yang sering digunakan?

Perlu dipahami bahwa diabetes tipe 2 adalah kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Meski begitu, gejala diabetes melitus tipe 2 masih bisa dikendalikan.

Ketika Anda didiagnosis diabetes tipe 2, dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk segera mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

Berikut beberapa hal yang umumnya akan dianjurkan oleh dokter untuk mengendalikan gula darah, seperti:

1. Diet sehat

Makanan memberikan pengaruh besar pada kadar gula darah. Jika pasien diabetes, memilih menu makanan yang tidak tepat, gejala bisa bertambah parah.

Sebenarnya, tidak ada aturan khusus untuk diet bagi orang yang memiliki diabetes tipe 2. Namun, dokter biasanya akan meminta Anda untuk lebih memerhatikan asupan makanan yang Anda konsumsi sehari-hari.

Pastikan kalau makanan Anda mengandung nutrisi dan gizi seimbang yang meliputi karbohidrat, protein, lemak baik, serat, dan berbagai vitamin serta mineral.

Dokter juga akan meminta Anda untuk menghindari makanan tinggi gula karena bisa membuat gula darah melonjak naik dan gejala diabetes tipe 2 kembali muncul.

Ingat, bukan menghilangkan sama sekali, tapi mengurangi asupan gula harian Anda. Anda bisa berkonsultasi ke ahli gizi untuk membantu menyusun menu diet sehat.

2. Olahraga

Selain mengatur pola makan, mencegah keparahan gejala diabetes tipe 2 bisa dilakukan dengan olahraga.

Anda juga sebaiknya melakukan olahraga secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) dan perbanyak aktivitas fisik. Hal ini karena keduanya efektif untuk membantu mengontrol kadar gula dalam darah sehingga gejala diabetes melitus tipe 2 bisa dikendalikan.

Tak usah membuat target olahraga yang muluk-muluk. Melakukan berbagai aktivitas fisik intensitas ringan sampai sedang sudah cukup membantu Anda mengendalikan gejala diabetes melitus tipe 2.

Beberapa pilihan olahraga yang baik untuk para diabetesi (sebutan untuk orang dengan penyakit diabetes) adalah jalan kaki, berenang, bersepeda, lari, yoga, senam aerobik, dan lain sebagainya.

Namun, sebelum dan sesudah berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya, pastikan Anda selalu cek gula darah, ya.

3. Teratur minum obat

Jika kedua cara di atas tidak bekerja efektif dalam mengatasi gejala DM tipe 2, dokter biasanya akan meresepkan obat diabetes untuk membantu mengendalikan kadar gula darah Anda.

Dokter mungkin akan memberikan satu jenis obat saja atau kombinasi obat jika gejala diabetes melitus tipe 2 cukup parah. Konsultasikan dengan dokter apa saja efek samping obat dan apa yang harus dilakukan bila efek samping muncul.

Salah satu efek samping obat diabetes tipe 2 yang tersering adalah lemas akibat hipoglikemia (gula darah rendah). Untuk pertolongan pertama, minumlah teh manis hangat kemudian segera temui dokter.

4. Terapi insulin

Perlu dipahami bahwa tidak semua penderita DM tipe 2 memerlukan terapi insulin untuk menangani gejala. Biasanya, dokter akan menganjurkan pasien melakukan terapi ini jika obat diabetes melitus tipe 2 belum begitu efektif untuk meringankan gejala.

Terapi insulin bisa diberikan dalam jangka pendek, terutama ketika diabetesi sedang mengalami stres. Anda bisa menggunakan terapi insulin lewat suntikan, pena insulin, atau pompa insulin.

Silakan konsultasi ke dokter untuk mengatahui dosis dan seberapa lama Anda membutuhkan terapi ini untuk mengendalikan gejala diabetes melitus tipe 2.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup untuk mengatasi diabetes tipe 2?

Diabetes tipe 2 adalah kondisi yang bisa dirawat dan dijaga dengan melakukan perubahan gaya hidup. Pengobatan rumah yang dapat membantu Anda mengatasi gejala diabetes melitus tipe 2, antara lain seperti:

  • Jaga tingkat gula darah tetap normal dengan target gula darah puasa (GDP) <100 mg/dL dan gula darah 2 jam setelah makan (post prandial) <140 mg/dL.
  • Olahraga teratur dan diet sehat khusus diabetes.
  • Coba untuk memiliki berat badan normal dengan target indeks massa tubuh 18,5 atau kurang dari 23.
  • Pastikan makanan yang Anda konsumsi mengandung nutrisi seimbang yang meliputi serat, karbohidrat, protein, lemak baik, vitamin, dan mineral.
  • Hindari makanan yang tinggi gula, lemak, dan garam. 
  • Jangan merokok dan kurangi minuman beralkohol.

Perawatan kaki untuk diabetesi

Perawatan kaki sangat penting dilakukan. Mengingat gejala diabetes melitus tipe 2 seperti kesemutan dan luka sering terjadi dan tidak disadari. 

Gejala diabetes pada kaki ini perlu penanganan khusus karena bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan infeksi yang sering kali berujung pada amputasi, bahkan kematian.

Perawatan kaki akibat gejala diabetes melitus tipe 2 yang dapat Anda lakukan secara mandiri adalah sebagai berikut:

  • Selalu mengenakan alas kaki, termasuk di pasir dan di air
  • Memeriksa kaki setiap hari secara rutin, misalnya setiap sebelum tidur, untuk melihat apakah ada kulit terkelupas, kemerahan, atau luka
  • Periksa alas kaki sebelum memakai. Apakah ada kerikil atau benda lain yang dapat menimbulkan luka.
  • Potong kuku secara teratur
  • Menjaga kaki tetap bersih dan tidak basah. Bila kulit kering, gunakan pelembab.
  • Sepatu tidak boleh terlalu sempit atau longgar. Jangan gunakan sepatu hak tinggi.
  • Bila ada kalus (kapalan) atau mata ikan, tipiskan secara teratur.
  • Jangan gunakan bantal atau botol berisi air panas atau batu untuk kaki. Kaki yang baal tidak bisa merasakan panas atau sakit sehingga bila terjadi luka bakar atau luka gores, kemungkinan besar Anda tidak menyadarinya.

Rutin konsultasi ke dokter

Untuk mencegah kemunculan atau keparahan gejala diabetes melitus tipe 2, Anda disarankan konsultasi ke dokter setidaknya setiap 3 bulan sekali. Ini dilakukan untuk:

  • Memeriksa kulit dan tulang pada telapak kaki dan kaki.
  • Memeriksa jika telapak kaki Anda mati rasa.
  • Memeriksa tekanan darah Anda.
  • Memeriksa bagian belakang mata Anda menggunakan alat dengan cahaya khusus.
  • Menyelesaikan tes A1C (setiap 6 bulan jika diabetes Anda terkontrol dengan baik)

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk pemahaman dan solusi terbaik bagi Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Share now :

Direview tanggal: Januari 22, 2016 | Terakhir Diedit: Januari 10, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca