5 Jenis Tes untuk Cek Kadar Gula Darah Serta Cara Membaca Hasilnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 November 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Cek gula darah merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kadar glukosa di dalam darah. Terdapat beberapa jenis tes untuk memeriksa gula darah, masing-masing hasilnya merujuk pada kadar glukosa darah berdasarkan jangka waktu tertentu. 

Pada penderita diabetes, cek gula darah dilakukan untuk memantau apakah kadar gula darah telah terkendali atau sebaliknya. Namun, mengecek kadar gula darah juga bisa dilakukan oleh siapa pun untuk pemeriksaan diabetes atau hanya sekadar mengetahui kondisi gula darahnya.

Jenis tes untuk cek kadar gula dalam darah

gaya hidup penyebab orang kota kena diabetes

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kadar gula darah yang tinggi atau hiperglikemia. Pasalnya, gejala gula darah tinggi, seperti sering haus dan buang air kecil, penglihatan kabur, dan tubuh yang lemas tidak selalu muncul pada setiap orang.

Namun, banyak juga yang mengabaikan keluhan tersebut dan tidak mewaspadai penyakit yang bisa timbul dari kondisi gula darah tinggi.

Hal ini jugalah yang menyebabkan banyak orang baru mengetahui kadar gula darah yang tinggi setelah terdiagnosis memiliki diabetes.

Nah, di sinilah pentingnya melakukan cek gula darah secara rutin. Terutama bagi Anda yang memiliki berbagai faktor yang membuat Anda berisiko kena diabetes tipe 2. Cara ini juga menjadi salah satu metode utama untuk pemeriksaan diabetes.

Berikut ini adalah beberapa tes untuk cek gula darah yang biasa dilakukan:

1. Tes gula darah sewaktu (GDS)

Seperti namanya, tes gula darah sewaktu bisa dilakukan kapan saja, tanpa perlu mempertimbangkan waktu makan terakhir Anda. Namun, biasanya cek gula darah ini dilakukan apabila Anda sudah memiliki gejala diabetes, seperti sering buang air kecil atau kehausan ekstrem.

Hasil tes gula darah sewaktu yang berada di bawah angka 200 mg/dL menunjukkan kadar gula normal. Menurut Centers for Disease Control (CDC), hasil cek gula darah yang menunjukkan angka 200 mg/dL (11.1 mmol/L) atau lebih, berarti gula darah Anda tinggi dan Anda punya diabetes.

2. Tes gula darah puasa

Cek gula darah puasa dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan dari tes GDS. Sampel darah dalam cek gula darah ini akan diambil setelah Anda berpuasa semalaman (kurang lebih 8 jam).

Sejauh ini, tes gula darah puasa dianggap sebagai metode pemeriksaan gula darah yang cukup efektif. Berikut kategori kadar gula darah menurut hasil cek gula darah puasa:

  • Normal: kurang dari 100 mg/dL (5,6 mmol/L).
  • Prediabetes: antara 100 sampai 125 mg/dL (5,6 sampai 6,9 mmol/L).
  • Diabetes: 126 mg/dL (7 mmol/L) atau lebih.

Prediabetes adalah kondisi ketika gula darah melebihi batas normal, tapi belum bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai diabetes. Namun, apabila Anda tidak segera mengubah gaya hidup tertentu untuk menurunkan gula darah, Anda berisiko tinggi mengalami diabetes melitus.

3. Postprandial Blood Glucose Test

Tes postprandial gula darah dilakukan 2 jam setelah makan, sesudah Anda puasa sebelumnya. Jeda 2 jam diperlukan karena setelah makan kadar glukosa akan naik dan normalnya hormon insulin akan mengembalikan kadar gula darah ke batas normal.

Untuk melakukan cek gula darah ini, Anda perlu berpuasa selama 12 jam dan setelahnya baru makan seperti biasa, tapi usahakan untuk mengonsumsi 75 gram karbohidrat. Setelah makan normal, jangan mengonsumsi apa pun lagi hingga waktunya tes. Lebih baik Anda beristirahat dalam jeda setelah makan dan waktu tes.

Berikut kategori kadar gula darah dari pemeriksaan postprandial blood glucose test:

  • Normal: kurang dari 140 mg/dL (7.8 mmol/L)
  • Diabetes: 180 mg/dl atau lebih

4. Tes toleransi glukosa oral (Oral Glucose Tolerance Test, OGTT)

Tes toleransi glukosa oral dilakukan setelah 2 jam dari saat mengonsumsi 75 gram cairan glukosa yang akan diberikan oleh petugas kesehatan. Sebelum melakukan cek gula darah oral, Anda juga perlu berpuasa setidaknya 8 jam.

Namun, ada juga yang prosedur tes gula darah oral yang pengambilan sampelnya dilakukan 1 jam setelah minum cairan glukosa dan 2 jam kemudian setelah meminum cairan untuk kedua kalinya. Tes gula darah ini memiliki hasil yang lebih baik dari tes gula darah puasa, tapi biasanya biayanya lebih mahal.

Berikut kategori kadar gula darah dari pemeriksaan toleransi gula darah oral:

  • Normal: kurang dari 140 mg/dL (7.8 mmol/L)
  • Prediabetes: 140-199 mg/dl (7.8 sampai 11 mmol/L)
  • Diabetes: 200 mg/dl atau lebih

Cek toleransi gula darah oral umumnya memang digunakan untuk tes diagnostik diabetes gestasional pada ibu hamil. Untuk tes pada ibu hamil, sampel darah perlu diambil selang 2-3 jam. Jika 2 atau lebih hasil tes menunjukan kadar gula darah yang dikategorikan sebagai diabetes, artinya Anda positif memiliki diabetes.

5. Tes HbA1c

Tes glikohemoglobin atau tes HbA1c adalah pengukuran gula darah jangka panjang. Tes gula darah ini memungkinkan dokter untuk mengetahui tahu berapa rata-rata nilai gula darah selama beberapa bulan terakhir.

Pemeriksaan gula darah ini mengukur persentase gula darah yang terikat dengan hemoglobin. Hemoglobin adalah oksigen pembawa protein dalam sel darah merah. Semakin tinggi hemoglobin A1c, semakin tinggi pula tingkat gula darah.

Berikut adalah cara membaca hasil tes gula darah HbA1c:

  • Diabetes: 6,5% atau lebih dan telah dilakukan lebih dari satu kali
  • Prediabetes: 5,7-6,7%
  • Normal: kurang dari 5,7%

Tes ini bisa juga digunakan untuk memantau gula darah secara rutin setelah Anda dinyatakan positif mengalami diabetes melitus. Kadar HbA1c sebaiknya dicek beberapa kali dalam setahun.

Ada beberapa kondisi yang membuat hasil tes HbA1c tidak valid untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus. Contohnya, apabila tes ini dilakukan pada wanita hamil atau pada orang-orang dengan variasi hemoglobin.

Tes insulin C-peptida

Selain melalui cek gula darah, diagnosis diabetes bisa dilakukan melalui tes insulin C-peptida. Tes C-peptida merupakan tes darah yang dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak insulin yang diproduksi tubuh Anda.

Tes ini berguna dalam menentukan apakah Anda menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2. Tes insulin C-peptida lebih sering dilakukan pada penderita diabetes tipe 1 untuk mengetahui seberapa baik kinerja sel-sel beta di pankreas.

Sebelum tes, Anda akan diminta untuk berpuasa selama 12 jam. Tes insulin C-peptida mengharuskan untuk mengambil sampel darah Anda. Hasilnya akan tersedia dalam beberapa hari.

Umumnya, hasil normal untuk C-peptida dalam aliran darah antara 0,5-2,0 ng/mL (nanogram per mililiter). Namun, hasil tes insulin C-peptida dapat bervariasi tergantung laboratorium tempat Anda memeriksa.

Hasil tes C-peptida yang dikombinasikan dengan hasil cek gula darah dapat digolongkan dalam tiga rentang, yaitu:

  1. Normal: 0,51-2,72 nanogram per mililiter (ng/mL) atau 0,17-0,90 nanomoles per liter (nmol/L).
  2. Rendah: kadar C-peptida yang di bawah normal dan hasil cek gula darah lain tinggi bisa menandakan diabetes tipe 1. Namun, hasil tes C-peptida dan gula darah yang sama-sama rendah bisa menunjukkan adanya gangguan hati, infeksi berat atau penyakit Addison.
  3. Tinggi: kadar C-peptida yang di atas normal dan tes gula darah yang tinggi bisa menjadi indikasi dari resistensi insulin, diabetes tipe 2, atau sindrom Cushing. Sementara, kadar C-peptida yang tinggi dan kadar glukosa darah rendah mungkin dipengaruhi oleh efek obat penurun gula darah atau indikasi tumor pankreas.

Apakah saya bisa periksa gula darah sendiri di rumah?

cara cek gula darah di rumah

Selain melakukan tes di klinik atau rumah sakit, Anda juga bisa melakukan cek gula darah mandiri di rumah dengan menggunakan alat cek gula darah, yaitu glukometer.

Namun, tes gula darah mandiri tidak boleh dilakukan sembarangan. Anda dianjurkan untuk berkonsultasi lebih dahulu ke dokter sebelum melakukannya. Tes gula darah mandiri ini termasuk ke dalam tes gula darah sewaktu (GDS).

Nah, kadar gula darah bisa berubah sepanjang hari, tapi jika masih dalam batas normal GDS, Anda tak perlu khawatir. Gula darah memang akan cenderung meningkat misalnya setelah makan atau malah turun kadarnya setelah berolahraga.

Selain itu, penting juga untuk diketahui bahwa beberapa kondisi juga dapat mempengaruhi hasil tes gula darah Anda, seperti:

  • Konsumsi obat tertentu, seperti kortikosteroid, estrogen (pada pil KB), obat diuretik, antidepresan, obat antikejang, dan aspirin
  • Penyakit anemia atau asam urat
  • Stres berat
  • Dehidrasi

10 Hal Tak Terduga yang Menyebabkan Gula Darah Naik

Waktu terbaik melakukan cek gula darah biasanya pagi hari, setelah dan sebelum makan, serta di malam hari sebelum tidur. Namun hal ini bisa berbeda-beda untuk setiap orang, terutama penderita diabetes yang memiliki masalah kesehatan tertentu.

Memeriksa kadar gula darah memang penting. Namun, Anda tetap perlu melakukan konsultasi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan Anda sebelum melakukan tes gula darah ini. Dengan begitu, dokter bisa mengalisis hasil tes tersebut dengan lebih lanjut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bisul

Bisul adalah benjolan berisi nanah yang berada di kulit Anda. Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengobatinya? Simak ulasan lengkapnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Kulit, Penyakit Infeksi Kulit 9 November 2020 . Waktu baca 10 menit

Efek Makan Mi untuk Penderita Diabetes dan Tips Aman Mengonsumsinya

Meski populer, mi instan sering dicap sebagai makanan tidak sehat. Lantas, apakah diabetesi boleh makan mie instan? Jika boleh, bagaimana tips amannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit yang diderita. Apa saja penyakit pada lansia yang sering terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Lansia, Masalah Kesehatan pada Lansia 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Begini Trik Mudah untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Mengurangi gula tak semudah berhenti minum teh pakai gula atau menghindari makan cake. Ada banyak makanan sehari-hari yang ternyata mengandung gula tinggi.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Makan Sehat, Nutrisi, Hidup Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Tennis elbow atau epikondilitis lateral adalah rasa sakit pada siku yang dapat terjadi karena rusaknya otot dan tendon di area siku.

Tennis Elbow (Epikondilitis Lateral)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit

10 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 November 2020 . Waktu baca 12 menit
Konten Bersponsor
mencegah diabetes sejak dini

3 Langkah Lindungi Keluarga untuk Mencegah Diabetes Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
mencegah diabetes pada keluarga

Ibu, Ini Cara Cegah Risiko Diabetes pada Keluarga Tercinta Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 11 menit