Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/04/2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu depresi?

Depresi adalah kondisi yang meliputi depresi berat atau depresi klinis. Kondisi ini juga bisa digambarkan sebagai suatu kelainan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan hilang minat yang terus-terusan menghantui.

Depresi bisa memengaruhi perasaan Anda, cara berpikir dan berperilaku, serta dapat membuat Anda memiliki berbagai masalah emosi dan fisik. Jika Anda telah merasa sedih selama beberapa hari atau minggu, mengganggu pekerjaan atau kegiatan lain dengan keluarga atau teman, atau berpikir untuk melukai diri sendiri sampai ingin bunuh diri, kemungkinan ini adalah depresi. 

Seberapa umumkah kondisi ini?

Depresi adalah kondisi yang umum terjadi di masyarakat. Menurut penelitian, kondisi ini terjadi pada 80% orang pada beberapa waktu dalam hidupnya dan dapat terjadi pada usia berapa pun. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala depresi?

Depresi adalah kondisi yang dapat menimbulkan bermacam-macam gejala pada setiap orang. Ada orang yang tidur lebih banyak saat menderita depresi, ada pula yang gejalanya berupa tidak nafsu makan atau sulit tidur.

Beberapa gejala depresi yang umum terjadi adalah:

  • Merasakan mood yang buruk seharian, khususnya pada pagi hari
  • Anda merasa lelah dan kekurangan energi, hampir setiap hari
  • Anda merasa tidak bernilai dan bersalah hampir setiap hari
  • Anda kesulitan berkonsentrasi, mengingat hal-hal detail, dan mengambil keputusan
  • Anda tidak bisa tidur atau tidur terlalu lama hampir setiap hari
  • Anda tidak memiliki ketertarikan terhadap aktivitas menyenangkan
  • Anda sering berpikir tentang kematian atau bunuh diri
  • Anda cenderung ingin melukai diri sendiri
  • Anda merasa kurang istirahat
  • Anda mungkin mengalami kekurangan atau kelebihan berat badan.

Orang dengan kondisi ini akan mengalami gejala yang berlangsung lama hingga 2 minggu atau lebih. Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Dikutip dari Web MD, gejala depresi lainnya adalah:

  • Merasa kesal dan gelisah
  • Menurunkan kesenangan dalam hidup
  • Makan berlebihan atau berhenti merasa lapar
  • Mengidap sakit, sakit kepala, kram, atau masalah pencernaan yang tidak hilang atau menjadi lebih baik dengan perawatan
  • Memiliki perasaan sedih, cemas, atau hampa. 

Tidak semua orang yang memiliki gejala yang sama ketika mengalami kondisi ini. Hal ini tergantung dari seberapa parah, seberapa sering, dan seberapa lama tekanan yang Anda rasakan berlangsung. 

Selain itu, gejala fisik yang ditunjukkan orang yang mengalami depresi adalah nyeri otot, sakit punggung, masalah pencernaan, masalah tidur, dan perubahan nafsu makan. 

Gejala lain yang mungkin juga Anda rasakan adalah perlambatan bicara dan bergerak. Pasalnya, saat mengalami depresi, produksi bahan kimia di otak (serotonin dan norepinefrin) yang berperan dalam suasana hati dan rasa sakit ikut berpengaruh. 

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda merasakan beberapa tanda di atas, buatlah janji dengan dokter Anda sesegera yang Anda bisa. Apabila Anda enggan untuk melakukan terapi, bicarakan dengan teman atau pasangan Anda, pelayan kesehatan, pemuka agama, atau orang lain yang dapat Anda percaya.

Tidak perlu malu untuk meminta pertolongan dokter atau pihak lain. Semakin dini Anda ke dokter, semakin baik.

Jika Anda berpikir akan melukai diri Anda atau mencoba bunuh diri, Anda dapat menghubungi nomor darurat Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di 021-500-454 atau nomor darurat 112

Selain itu, pertimbangkan pilihan berikut saat Anda berpikir akan bunuh diri:

  • Meminta bantuan dokter Anda atau pelayan kesehatan yang lain.
  • Bicarakan dengan teman terdekat atau pasangan Anda.
  • Hubungi pemuka agama atau orang lain dalam komunitas iman Anda.

Jika pasangan atau teman Anda dalam bahaya percobaan bunuh diri:

  • Pastikan orang lain tetap bersamanya
  • Hubungi nomor darurat lokal sesegera mungkin
  • Jika memungkinkan, bawalah orang tersebut ke instalasi gawat darurat di rumah sakit terdekat.

Jenis-Jenis

Apa saja jenis-jenis depresi?

Anda dapat mengalami depresi dengan bentuk yang berbeda-beda. Dikutip dari Mayo Clinic, berikut adalah jenis-jenis depresi dalam bentuk yang lebih spesifik:

  • Gangguan kecemasan, yaitu kegelisahan atau kekhawatiran yang tidak biasa tentang kemungkinan kejadian. 
  • Bentuk campuran, yaitu depresi simultan dan mania, yang meliputi peningkatan harga diri, terlalu banyak bicara, dan peningkatan energi. 
  • Bentuk melankolis, yaitu depresi berat dengan kurangnya ketertarikan terhadap hal-hal yang menyenangkan. Selain itu, Anda juga mengalami suasana hati memburuk pada pagi hari, perubahan besar dalam nafsu makan, hingga perasaan bersalah.
  • Bentuk atipikal, yaitu ketika Anda dapat merasa bahagia dalam menanggapi hal-hal menyenangkan, tetapi hanya sementara. 
  • Bentuk psikotik, yaitu kondisi yang disertai dengan delusi atau halusinasi, yang mungkin melibatkan pemikiran negatif terhadap diri sendiri. 
  • Catatonia, yaitu depresi yang mencakup aktivitas motorik yang melibatkan gerakan tidak terkendali tanpa tujuan. 
  • Onset peripartum, yaitu depresi yang terjadi selama kehamilan atau dalam beberapa minggu hingga beberapa setelah bulan setelah melahirkan. 
  • Pola musiman. Jenis ini biasanya berhubungan dengan perubahan musim dan berkurangnya paparan sinar matahari. 

Beberapa gangguan mental lain memiliki gejala berupa depresi, seperti gangguan bipolar, gangguan siklotimik, disruptive mood dysregulation disorder, gangguan depresi persisten, dan gangguan dysphoric pramenstruasi.

Penyebab

Apa penyebab depresi?

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab depresi. Namun, beberapa penyebab yang membuat risiko depresi seseorang meningkat, antara lain:

1. Faktor genetik

Sebagian besar peneliti menduga bahwa jika Anda memiliki orangtua atau saudara kandung yang mengalami kondisi ini, Anda berpeluang untuk mengalaminya juga.

2. Kimia otak

Kondisi ini bisa sebabkan karena tidak seimbangnya kadar senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang mengatur suasana hati. Hal ini bisa menyebabkan serangkaian gejala yang dikenal sebagai depresi klinis.

3. Faktor lingkungan

Gangguan mental ini bisa disebabkan dari hal-hal yang ditemui sehari-hari, misalnya pekerjaan. Pekerjaan yang menumpuk, lingkungan kerja yang tidak nyaman, hingga masalah personal dengan bos atau rekan kerja bisa memicu seseorang mengalami depresi.

Tak melulu masalah pekerjaan, lingkungan di rumah atau pertemanan yang tidak mendukung juga bisa memicu kondisi ini.

4. Stres berat dan kronis

Kehilangan orang yang dicintai, hubungan bermasalah, atau berada dalam tekanan terus-menerus bisa jadi penyebab depresi. Para peneliti menduga kadar hormon kortisol yang terus-terusan tinggi dapat menekan kadar serotonin dan akhirnya memicu gejala depresi.

5. Riwayat penyakit tertentu

Seringnya, stres dan rasa sakit karena penyakit kronis dapat memicu depresi berat. Penyakit tertentu, seperti gangguan tiroid, penyakit Addison dan penyakit hati, juga dapat memunculkan gejala depresi.

6. Trauma masa kecil

Trauma pada masa kecil memberikan pengaruh yang besar pada kondisi psikologis seseorang ketika dewasa. Beberapa peristiwa buruk seperti pelecehan seksual, kehilangan orangtua, atau perceraian orangtua bisa memicu kondisi ini

7. Pola makan buruk

Siapa sangka, kondisi ini ternyata juga bisa disebabkan karena Anda menjalankan pola makanan yang buruk. Contohnya, jika Anda sering mengonsumsi makanan manis.

Studi menemukan bahwa diet tinggi gula dikaitkan dengan gangguan mental ini. Asupan vitamin dan mineral yang rendah juga dapat menyebabkan kondisi ini.

Faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya kena kondisi ini?

Depresi lebih sering muncul pada usia remaja, sekitar usia 20 atau 30. Namun, kondisi ini bisa terjadi pada semua usia. Wanita lebih banyak didiagnosis depresi dibandingkan dengan laki-laki, tapi ini bisa jadi karena penderita wanita lebih sering mencari bantuan dan pengobatan.

Faktor yang meningkatkan risiko atau memicu depresi adalah:

  • Memiliki riwayat keluarga kelainan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, gangguan makan, atau gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Penyalahgunaan alhohol atau obat terlarang
  • Beberapa ciri kepribadian, seperti rendah diri, ketergantungan, kritis dengan diri sendiri atau pesimistik
  • Penyakit kronis atau serius, seperti kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau obat tidur (diskusikan dengan dokter Anda sebelum menghentikan obat)
  • Kejadian traumatik atau yang dapat membuat stres, seperti kekerasan seksual, kematian, atau kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan
  • Memiliki hubungan darah dengan penderita depresi, gangguan bipolar, alkoholisme, atau percobaan bunuh diri

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk depresi?

Terapi depresi biasanya menggunakan obat-obatan, psikoterapi, dan terapi elektrokonvulsif. Dokter akan meninjau kondisi Anda dan akan mempertimbangkan terapi apa yang cocok untuk Anda. 

Tidak perlu malu untuk mendiskusikan kekhawatiran Anda akan terapi yang dokter tawarkan. Pilihan pengobatan untuk mengatasi depresi adalah:

1. Obat-obatan

Obat-obatan yang digunakan, yaitu antidepresan, seperti escitalopram, paroxetine, sertraline, fluoxetine, dan citaloppram.

Obat-obat tersebut termasuk obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). 

Selain itu juga ada obat venlafaxine, duloxetine dan bupropion. Obat ini dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti:

  • Peningkatan berat badan
  • Masalah seksual
  • Mual

Antidepresan tidak menyebabkan kecanduan. Ketika Anda sudah tidak perlu antidepresan dan berhenti menggunakannya, tubuh tidak akan mengalami ketergantungan. 

Meskipun demikian, penggunaan dan penghentian antidepresan harus dalam pengawasan dokter. Penghentian yang mendadak dapat menyebabkan perburukan gejala depresi. Selalu konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan antidepresan.

2. Psikoterapi

Psikoterapi dilakukan dengan mengajari cara baru dalam berpikir dan berperilaku, dan mengubah kebiasaan yang menuntun Anda pada kondisi ini. 

Terapi ini dapat membantu Anda mengerti serta melewati hubungan yang penuh masalah atau situasi yang menyebabkan depresi atau bahkan memperburuknya.

3. Terapi elektrokonvulsif

Untuk depresi berat yang sulit diterapi atau tidak berhasil dengan obat dan psikoterapi, kadang diperlukan terapi elektrokonvulsif (ECT) yang dilakukan di bawah pengaruh obat bius. 

Walaupun dahulu ECT memiliki reputasi yang buruk, saat ini ECT sudah mengalami peningkatan dan dapat menyembuhkan saat pengobatan lainnya tidak bekerja. 

ECT dapat menyebabkan efek samping seperti bingung dan kehilangan memori. Walaupun efek samping ini hanya sementara, terkadang efek tersebut juga bisa melekat terus.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk depresi?

Pada umumnya, dokter akan mendiagnosis dari gejala dan riwayat kesehatan Anda. Selain pemeriksaan yang dilakukan dokter untuk menentukan kondisi ini, antara lain:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan soal kesehatan Anda. Dalam beberapa kasus, depresi mungkin berhubungan dengan kesehatan fisik tertentu. 
  • Tes laboratorium. Dokter mungkin akan melakukan tes darah lengkap atau menguji tiroid Anda untuk memastikannya berfungsi dengan baik.
  • Evaluasi kejiwaan. Spesialis kesehatan mental akan bertanya tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku Anda. Anda mungkin diminta mengisi kuesioner untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
  • DSM-5. Tenaga medis dapat menggunakan kriteria untuk menentukan depresi yang tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association. 
  • PPDGJ. Tenaga  medis menggunakan kriteria tersebut, yang juga disebut dengan PPDGJ (Pedoman Praktis Diagnosis Gangguan Jiwa).

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi depresi?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi depresi:

  • Jangan menyendiri
  • Buat hidup Anda lebih sederhana
  • Olahraga teratur
  • Konsumsi makanan sehat
  • Belajarlah untuk santai dan menangani stres Anda.
  • Jangan membuat keputusan saat Anda sedang down.
  • Hubungi dokter Anda jika gejala Anda memburuk
  • Hubungi dokter Anda jika Anda mengalami efek samping obat
  • Hubungi dokter Anda segera jika Anda berpikir untuk bunuh diri atau membunuh atau menyakiti orang lain.
  • Hubungi dokter Anda segera jika Anda merasakan gejala psikotik, seperti mendengar suara, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau merasakan ketakutan berlebih.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

    Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

    Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

    Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Psikologi 09/06/2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Berpikir negatif demensia

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    psikoterapi

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    sumber stres dalam pernikahan

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    hipnoterapi

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit