Bell’s Palsy

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu bell’s palsy?

Bell’s palsy adalah kelumpuhan saraf wajah akibat peradangan dan pembengkakan saraf yang mengontrol otot pada salah satu sisi wajah. Hal ini menyebabkan perubahan bentuk pada salah satu sisi wajah, di mana wajah akan terlihat “melorot”. 

Bell’s palsy adalah kondisi akibat peradangan dan pembengkakan saraf perifer yang mengontrol otot pada salah satu sisi wajah, yang menyebabkan perubahan bentuk pada salah satu sisi wajah. Saraf perifer sendiri berfungsi untuk menggerakkan wajah seperti tersenyum di satu sisi saja, seperti saat mencibir, atau bahkan mengedipkan sebelah mata.

Kondisi ini dapat datang secara tiba-tiba dan bagi kebanyakan orang bersifat sementara. Meski begitu, beberapa orang juga bisa mengembangkan kondisi ini seumur hidup.

Seberapa umumkah Bell’s palsy?

Bell’s palsy adalah kondisi yang dapat menyerang siapa pun, tapi biasanya muncul antara umur 15-45 tahun. Perlu diketahui juga kalau penyakit ini menimpa 40.000 orang tiap tahunnya.

Anda bisa membatasi peluang terkena penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko. Selalu konsultasi kepada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala Bell’s palsy?

Gejala penyakit ini biasanya muncul secara mendadak dan dapat membaik dalam beberapa minggu, dengan pemulihan total sekitar 6 bulan. 

Gejala utama dan paling khas dari Bell’s palsy adalah kelumpuhan saraf pada satu sisi wajah yang terjadi secara mendadak. Kelumpuhan saraf ini membuat wajah dan bibir jadi tidak simetris, alias mencong, mirip dengan gejala stroke.

Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa gejala paling umum dari Bell’s palsy adalah:

  • Kulit wajah tampak “melorot” di satu atau kedua sisi wajah.
  • Mengeluarkan air liur
  • Sensitif terhadap suara.
  • Nyeri pada rahang atau di belakang telinga.
  • Sakit kepala.
  • Kemampuan indra perasa yang berkurang.
  • Kesulitan menunjukkan ekspresi pada wajah dan bahkan kesulitan menutup mata atau tersenyum
  • Lumpuh total pada salah satu sisi wajah. Umumnya, gejala dapat berlangsung selama beberapa jam, atau mungkin bahkan beberapa hari.

Ada beberapa hal yang bisa mengindikasikan adanya kelainan saraf pada wajah Anda. Namun, penting dicatat bahwa tingkat kelumpuhan saraf ini umumnya berbeda-beda tergantung pada kerusakan yang ditimbulkan oleh saraf kranial (saraf yang ada di kepala).

Contoh kecilnya, mungkin Anda mulai merasa sulit untuk memindahkan pipi dan tersenyum lebar terbuka.

Untuk mendiagnosis kelainan saraf ini, Anda membutuhkan tes pemeriksaan visual dan tes gerakan. Biasanya, dokter juga akan meminta Anda untuk mencoba dan menggerakkan otot wajah tertentu guna untuk mengevaluasi kondisi kelainan saraf yang Anda alami.

Gejala lain dari Bell’s palsy yang harus Anda waspadai adalah:

  • Masalah saat mengendalikan mata. Anda mungkin sulit mengedipkan satu atau kedua mata. Terkadang, produksi air mata juga berpengaruh pada gejala kelumpuhan saraf ini, sehingga mata akan terasa kering.
  • Sensor indra pendengaran bermasalah. Bisa saja saat Anda mendengar suara keras, indra pendengaran Anda akan sakit di bagian yang terkena kelumpuhan.
  • Timbulnya rasa nyeri di antara atau di belakang telinga yang terkena. Kadang sakit pada telinga bisa berkembang ke bagian kepala.

Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum di atas. Jika ingin bertanya tentang tanda ini, konsultasikanlah kepada dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda perlu menghubungi dokter jika:

  • Memiliki gejala di atas.
  • Terkena tinnitus (telinga berdenging), vertigo, atau sulit mendengar.
  • Bagian tubuh melemah atau lumpuh.
  • Mata memerah, sakit, iritasi, atau sulit berhenti mengeluarkan air mata.
  • Mengalami efek samping obat.

Penyebab

Apa penyebab Bell’s palsy?

Walaupun penyebab penyakit belum dipastikan, beberapa studi menunjukkan bahwa penyakit ini biasanya terkait dengan paparan virus. Beberapa virus dapat menyebabkan Bell’s palsy adalah:

Sekali terinfeksi, saraf wajah pada pasien dengan radang dan bengkak menyebabkan kelumpuhan total atau pada salah satu sisi wajah.

Faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk Bell’s palsy?

Beberapa faktor  yang meningkatkan risiko terkena Bell’s palsy adalah:

  • Wanita hamil, terutama pada masa kehamilan di trimester terakhir atau pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
  • Infeksi pernapasan seperti influenza atau flu.
  • Diabetes.
  • Riwayat anggota keluarga yang mengidap bell’s palsy.

Komplikasi

Komplikasi apa yang mungkin saya alami akibat Bell’s palsy?

Pada kasus yang ringan, Bell’s palsy adalah kondisi yang dapat menghilang dalam waktu satu bulan. Namun, berikut adalah komplikasi yang bisa Anda alami akibat Bell’s palsy:

  • Kerusakan permanen pada saraf wajah
  • Pertumbuhan kembali serat saraf yang tidak normal hingga menghasilkan kontraksi otot tertentu yang tidak sengaja ketika Anda mencoba untuk menggerakkan otot lain. Sebagai contoh, ketika Anda tersenyum, mata di sisi yang terkena mungkin menutup. 
  • Kebutaan sebagian atau seluruhnya pada mata yang tidak dapat ditutup. Kondisi ini bisa terjadi karena kekeringan parah dan goresan pada kornea. 

Pengobatan

Apa saja pilihan pengobatan untuk Bell’s palsy?

Pengobatan penyakit ini biasanya tergantung berdasarkan tingkat keparahan risiko dan gejalanya. Pengobatan bell’s palsy umumnya memiliki rencana terapi, obat dan pemulihan yang umum. Namun, kadang-kadang obat dan pengobatan lain juga diperlukan, yang mana tujuan pengobatan ini adalah memperbaiki fungsi saraf wajah, mengurangi kerusakan saraf dan melindungi bagian mata.

Pengobatan yang paling umum termasuk prednison untuk mengurangi peradangan pada saraf, agen antivirus seperti acyclovir (biasanya digunakan untuk mengobati infeksi herpes) bila dokter mencurigai adanya peran infeksi virus pada penyakit bells palsy yang Anda alami dan perawatan mata untuk mencegah mata kering dan abrasi pada kornea.

Beberapa pilihan pengobatan untuk Bell’s palsy adalah:

Obat-obatan

Umumnya, obat-obatan yang digunakan untuk menangani Bell’s palsy adalah:

  • Kortikosteroid, seperti prednison merupakan agen anti-peradangan yang kuat. Obat-obatan ini dapat mengurangi pembengkakan saraf-saraf wajah. Kortikosteroid dapat bekerja maksimal jika dikonsumsi beberapa hari ketika gejala dimulai. 
  • Obat antivirus. Antivirus yang diberikan bersamaan dengan steroid mungkin bermanfaat bagi beberapa orang, tetapi ini masih belum terbukti. 

Terapi fisik

Otot yang lumpuh dapat menyusut dan memendek, menyebabkan kontraktur permanen. Seorang ahli terapi fisik dapat menunjukkan Anda cara memijat dan melatih otot-otot wajah untuk mnecegah hal ini terjadi. 

Operasi

Umumnya pasien dengan gejala gejala yang ringan akan membaik tanpa pengobatan. Namun, dalam beberapa kasus langka, pasien yang tidak dapat pulih total harus menjalani operasi untuk meredakan tekanan pada permukaan saraf atau meningkatkan pergerakan permukaan.

Pada masa lampau, operasi dekompresi dilakukan untuk menghilangkan tekanan pada saraf wajah dengan membuka bagian tulang yang melewati saraf. Namun kini, operasi tersebut tidak lagi dianjurkan. 

Pada kasus yang langka, operasi plastik mungkin diperlukan untuk memperbaiki masalah saraf wajah yang permanen. 

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk Bell’s palsy?

Kondisi lain, seperti stroke, infeksi, penyakit Lyme, dan tumor, juga dapat menyebabkan otot wajah melemah, sehingga memunculkan gejala mirip Bell’s palsy. Jika penyebab dari gejala yang Anda alami tidak jelas, dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes. 

Dokter memeriksa ulang riwayat pengobatan dan telinga, hidung, dan mulut. Dokter akan CT atau MRI otak, ditambah dengan tes darah untuk menemukan penyebab Bell’s palsy.

Selain itu, dokter juga mungkin melakukan tes yang lebih spesial seperti tanda elektromekanikal (EMG) untuk mempelajari aktivitas saraf dan memprediksi peluang sembuhnya penyakit.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi bell’s palsy?

Beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang mungkin membantu mengatasi Bell’s palsy adalah:

  • Ikuti instruksi dokter dan minum obat sesuai resep
  • Beri tahu dokter jika Anda menderita penyakit lainnya, terutama diabetes
  • Bicarakan dengan dokter tentang obat yang Anda minum
  • Biarkan dokter tahu apakah Anda baru-baru ini sudah divaksinasi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Berbagai Perawatan untuk Menjaga Kesehatan Kulit

    Walaupun tidak punya masalah atau penyakit, sebaiknya kulit dirawat sejak dini. Intip ragam perawatan untuk kulit agar lebih sehat.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Kesehatan Kulit 18 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Transplantasi Ginjal

    Pelajari hal-hal yang perlu Anda ketahui sebelum menjalani transplantasi ginjal, mulai dari persiapan, proses, pemulihan, sampai risikonya di sini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Urologi, Ginjal 15 September 2020 . Waktu baca 11 menit

    Akantosis Nigrikans, Saat Kulit Menebal dan Menghitam Akibat Diabetes

    Akantosis nigrikans adalah gangguan kulit yang ditandai dengan kulit menebal dan menggelap. Kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda diabetes.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    11 Cara Mencegah Diabetes yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini

    Meski tak bisa disembuhkan, ada berbagai macam cara untuk mencegah diabetes. Tindakan pencegahan diabetes ini pun sangat sederhana. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    daging ayam belum matang

    4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    atrofi otot

    Informasi Lengkap Atrofi Otot, Mulai dari Gejala Hingga Pengobatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 18 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
    pencegahan anemia

    7 Cara Mencegah Anemia yang Perlu Anda Lakukan

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
    terapi urine minum air kencing

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit