Alergi Makanan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . 11 mins read
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu alergi makanan?

Alergi makanan adalah reaksi alergi yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu. Hal ini terjadi akibat reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap zat di dalam makanan yang sebenarnya tidak berbahaya.

Reaksi tersebut kemudian memicu sejumlah gejala yang bervariasi pada tubuh. Reaksi yang muncul bervariasi, dari ringan hingga berat, seperti gatal-gatal dan bibir bengkak, hingga gejala parah yang disebut sebagai syok anafilaktik.

Syok anafilaktik dapat mengancam nyawa jika penderitanya terlambat mendapatkan pengobatan medis yang tepat.

Seberapa umum kondisi ini?

Jenis alergi yang satu ini memang cukup umum. Pria dan wanita yang tua dan muda sama-sama berisiko mengalami kondisi ini. Meski begitu, kondisi ini cenderung lebih sering dialami oleh anak-anak.

Anak-anak umumnya memiliki alergi terhadap susu, kacang kedelai, gandum, dan telur. Sementara itu, orang dewasa lebih sering mengalami alergi dari santapan laut, seperti ikan dan kerang. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala alergi makanan?

Gejala alergi biasanya terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah Anda terpapar zat penyebab alergi (alergen).

Tanda-tanda dan gejala alergi makanan akan muncul setelah Anda menyantap makanan tertentu, seperti:

  • Sensasi geli atau gatal di mulut.
  • Bintik-bintik merah, gatal, atau eksim.
  • Bengkak pada bibir, wajah, lidah, tenggorokan, atau bagian tubuh lainnya.
  • Hidung tersumbat.
  • Sakit perut, diare, mual, atau muntah.
  • Pusing, terasa mau pingsan, atau pingsan.

Terkadang gejala alergi yang muncul mungkin tidak langsung, perlu waktu beberapa saat sampai reaksi alergi setelah makan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera ke dokter jika Anda mengalami gejala alergi setelah makan hidangan tertentu. Jika memungkinkan, kunjungi dokter Anda selama reaksi alergi masih terjadi. Ini dapat membantu dokter Anda membuat diagnosis. 

Untuk beberapa orang, alergi makanan dapat merangsang reaksi alergi berat yang disebut anafilaksis. Gejala anafilaksis, antara lain:

  • Sesak napas.
  • Tenggorokan bengkak atau terasa gumpalan di tenggorokan yang menyebabkan Anda sulit bernapas.
  • Mengalami shock yang ditandai penurunan tekanan darah.
  • Jantung berdebar-debar.
  • Pusing, sampai pingsan atau kehilangan kesadaran.

Syok anafilaksis dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Bberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami reaksi anafilatik adalah:

  • Punya riwayat asma.
  • Berusia remaja atau lebih muda.
  • Terlambat menggunakan epinefrin untuk mengobati gejala alergi.

Penyebab

Apa penyebab alergi makanan?

Penyebab alergi makanan adalah sistem kekebalan tubuh Anda yang bereaksi berlebihan terhadap zat dalam makanan, umumnya protein. Zat pemicu alergi ini disebut dengan alergen.

Saat makanan pemicu alergi masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan akan merangsang sel-sel  tubuh untuk melepaskan antibodi. Antibodi ini dikenal sebagai antibodi immunoglobulin E (IgE). Immunoglobulin E berguna untuk melawan makanan yang disalahartikan tubuh sebagai zat berbahaya. 

Selain antibodi IgE, tubuh juga akan mengeluarkan histamin serta bahan kimia lain. Zat-zat inilah yang pada akhirnya menimbulkan tanda-tanda dan gejala alergi, seperti gatal-gatal, hidung berair, bengkak, diare, bahkan syok anafilaktik.

Zat yang menyebabkan alergi harus berada pada jumlah tertentu sampai bisa memunculkan reaksi alergi. Alergen dapat masuk sedikit-sedikit dan berulang kali tanpa memunculkan reaksi.

Ketika zat tersebut sudah melewati batas, tubuh akan bereaksi. Itu sebabnya, pada beberapa orang reaksi alergi baru muncul saat dewasa.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya alergi makanan?

Faktor-faktor risiko alergi makanan adalah:

  • Riwayat keluarga. Anda berisiko tinggi jika ada riwayat yang sama dalam keluarga.
  • Mengalami alergi lain. Jika Anda telah memiliki alergi terhadap satu makanan, Anda berisiko tinggi untuk bereaksi negatif terhadap makanan lain. Demikian juga jika Anda memiliki jenis reaksi alergi lain, seperti alergi debu, risiko Anda akan memingkat.
  • Umur. Alergi makanan umumnya terjadi pada anak-anak, khususnya anak-anak kecil dan bayi. Saat tumbuh besar, sistem pencernaan menjadi lebih matang sehingga mampu meminimalisir mencerna makanan yang mengandung alergen.
  • Asma. Asma dan alergi makanan umumnya terjadi bersamaan. Ketika hal ini terjadi, gejala keduanya cenderung lebih berat.

Makanan pemicu alergi

Apa saja makanan yang dapat memicu alergi?

Dikutip dari Healthline, berikut makanan yang dapat memicu alergi:

1. Kacang

Kacang adalah salah satu pemicu alergi, yang dapat menimbulkan reaksi cukup parah.

Reaksi alergi kacang dapat muncul dari kontak langsung dengan cara dimakan, atau ketika kulit terpapar kacang maupun terkena mata.

Untuk beberapa orang dengan alergi kacang, makan porsi kecil sekalipun dapat menyebabkan reaksi serius.

Kacang yang bisa memicu alergi bisa dari jenis kacang pohon, seperti almon, pistachio, atau macadamia. Jenis kacang tanah, seperti lentil juga dapat menyebabkan alergi karena mempunyai struktur zat yang sama dengan kacang pohon.

2. Telur

Telur juga sering menjadi makanan pemicu reaksi alergi. Penyebabnya adalah sistem kekebalan tubuh yang keliru mengidentifikasi protein pada telur sebagai zat berbahaya. 

Saat telur dimakan, sistem kekebalan tubuh akan melepaskan antibodi, histamin, dan bahan kimia lain yang menyebabkan peradangan sebagai reaksi alergi.

Putih telur lebih banyak mengandung protein sehingga lebih rentan memicu reaksi alergi ketimbang bagian kuningnya. Namun protein dalam kuning dan putih telur bisa mengalami kontak silang, sehingga tetap dapat berisiko memicu alergi. 

3. Makanan laut

Santapan yang berasal dari laut seperti ikan dan kerang juga sering menjadi pemicu alergi pada beberapa orang dewasa dan remaja.

Beberapa jenisnya yang dapat menyebabkan alergi, antara lain beberapa jenis ikan (salmon atau tuna), jenis moluska (tiram, kerang dan cumi-cumi), dan krustasea (seperti udang). 

Pada jenis alergi ini, sistem kekebalan tubuh Anda keliru mengidentifikasi protein tertentu dalam ikan atau kerang sebagai zat berbahaya. Hasilnya, akan muncul gejala reaksi seperti gatal-gatal, bengkak di bibir atau wajah, dan ruam kemerahan di tubuh.

4. Gandum

Alergi gandum juga bisa terjadi pada sebagian orang. Ini disebabkan karena gandum juga memiliki protein.

Sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi apabila terdapat salah satu dari 4 protein gandum seperti albumin, globulin, gliadin, dan gluten. Sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi dan hasilnya memicu seperti gatal.

5. Kedelai

Kedelai adalah makanan yang juga dapat menjadi pemicu alergi. Ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda mengidentifikasi protein kedelai tertentu sebagai zat berbahaya.

Alhasil tubuh akan mengeluarkan antibodi imunoglobulin E (IgE), histamin dan bahan kimia lain yang memicu reaksi alergi. 

6. Bawang putih

Bawang putih adalah salah satu jenis alergi yang sebetulnya jarang terjadi. Namun jika benar Anda mengalami alergi ini, biasanya tubuh akan bereaksi apabila mengonsumsi  bawang putih yang dimasak ataupun mentah.

Alergi bawang putih terjadi  ketika sistem kekebalan tubuh Anda secara keliru mengidentifikasi zat tertentu di dalam bawang putih. Ketika imun tubuh keliru mendeteksi zat bawang, tubuh akan menimbulkan reaksi alergi.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Tidak ada satu tes yang langsung bisa mendiagnosis alergi makanan yang mungkin Anda alami. Umumnya dokter akan mempertimbangkan sejumlah faktor dan beberapa tes alergi sebelum membuat diagnosis.

Faktor dan tes alergi makanan yang dapat dilakukan oleh dokter termasuk:

  • Menanyakan gejala Anda. Dokter akan menanyakan gejala alergi yang Anda alami, pola gejalanya, dan kapan gejala muncul. Ini dapat membantu dokter menemukan diagnosis yang tepat . 
  • Riwayat alergi keluarga Anda. Dokter juga akan menanyakan apakah keluarga atau sanak saudara Anda pernah punya kasus alergi yang sama atau berbeda jenis. Pasalnya, faktor keturunan bisa jadi salah satu faktor Anda memiliki alergi apa pun.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang cermat sering dapat mengidentifikasi atau mengecualikan masalah medis lainnya.

Beberapa tes untuk mendiagnosis alergi makanan

1. Tes kulit

Tes tusuk kulit dapat menentukan makanan apa yang memicu gejala alergi Anda. Dalam tes ini, dokter akan menggunakan sejumlah ekstrak kecil makanan yang dicurigai sebagai alergen.

Ekstrak alergen akan ditempatkan pada kulit lengan bawah atau punggung Anda. Dokter atau ahli kesehatan lain kemudian akan menusuk kulit Anda dengan jarum untuk membiarkan sejumlah kecil zat alergen masuk ke bawah permukaan kulit Anda.

Jika Anda alergi terhadap zat tertentu yang sedang diuji, Anda akan mengalami benjolan atau reaksi yang meningkat.

Perlu diingat, reaksi positif terhadap tes ini saja tidak cukup untuk mengonfirmasi alergi makanan. Dokter akan menyarankan beberapa tes tambahan lain.

2. Tes darah

Tes darah juga dapat dilakukan untuk mengukur respons sistem kekebalan tubuh Anda terhadap makanan tertentu. Dokter akan mengukur antibodi yang imunoglobulin E (IgE) yang mungkin keluar saat sampel darah diberi ekstrak alergen. 

Untuk tes ini, sampel darah yang diambil di kantor dokter Anda dikirim ke laboratorium medis, tempat makanan yang berbeda dapat diuji.

3. Eliminasi diet

Untuk memeriksa apakah Anda benar alergi terhadap makanan tertentu Anda mungkin diminta untuk tidak makan makanan tersebut selama satu atau dua minggu. Setelah itu, dokter akan menanyakan kembali tentang gejala alergi yang Anda rasakan.

Bila tidak muncul reaksi alergi, Anda bisa memakannya kembali. Namun, jka muncul reaski alergi, dokter bisa menduga kalau benar Anda memang punya alergi terhadap makanan yang dicurigai.

Anda biasanya akan diminta untuk tidak makan makanan tersebut. Ini dikenal sebagai eliminasi diet. Eliminasi diet ini hanya bisa dilakukan di bawah pengawasan dokter.

4. Makan makanan tersebut secara langsung

Tes ini harus dilakukan di tempat praktik dokter. Dalam pengujian alergi ini, nantinya Anda akan diberikan makanan dalam jumlah sedikit. Lama-kelamaan jumlah makanan yang diberikan akan semakin banyak.

Jika Anda tidak memiliki reaksi selama tes ini, Anda mungkin bisa tetap memakannya seterusnya. Namun jika reaksi alergi langsung muncul walau makanan tersebut hanya dikonsumsi sedikit, Anda harus menghindarinya.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mengobati alergi makanan?

Kondisi ini umumnya tidak bisa hilang dan akan terus ada. Jadi, cara yang bisa Anda lakukan agar tidak sampai mengalami reaksi alergi karena makanan adalah dengan menghindari makanan yang mengandung alergen.

Apabila secara tidak sengaja memakannya, Anda bisa meredakan gejala alergi makanan yang muncul dengan cara berikut: 

Untuk reaksi alergi ringan, obat tanpa resep atau antihistamin bisa mengatasi gejala alergi . Obat-obat ini dapat dikonsumsi setelah diketahui makanan uang jadi penyebab alergi untuk meredakan gatal atau bintik-bintik merah. Meski begitu, antihistamin tidak dapat mengobati reaksi alergi berat.

Untuk reaksi alergi berat, Anda mungkin membutuhkan injeksi epinefrin darurat dan dirawat di UGD. Banyak orang yang memiliki alergi membawa epinefrin injector auto (EpiPen, Twinjet, Auvi-Q). Alat ini adalah kombinasi dari semprotan dan jarum tersembunyi yang menyuntikkan dosis tunggal obat ketika ditekan ke paha Anda.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan untuk mengatasi alergi makanan?

Gaya hidup dan pengobatan rumah berikut dapat membantu Anda menangani alergi makanan:

  • Menghindari makanan yang bermasalah (makanan sisa atau makanan kedaluwarsa)
  • Baca label kandungan makanan dengan saksama sebelum membeli atau menyiapkan makanan.
  • Pelajari cara menggunakan suntikan anti-alergi dan ajari orang-orang di sekitar Anda, jikalau Anda tiba-tiba menderita alergi jenis ini. Selalu bawa obat alergi.
  • Kenakan gelang atau kalung medis sebagai tanda agar orang-orang tahu bahwa Anda memiliki alergi makanan atau jenis lainnya.
  • Beri tahu keluarga Anda, pengasuh, dan guru jika anak Anda memiliki alergi makanan.
  • Cuci peralatan dengan hati-hati sebelum menyiapkan makanan bayi. Hal ini dapat membantu mencegah penyebab alergi.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter Anda untuk memahami solusi yang terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    9 Makanan yang Ampuh Mengusir Perut Kembung

    Perut kembung atau begah pasti sangat mengganggu. Untuk segera meredakan rasa tidak nyaman, siapkan berbagai makanan berikut untuk mengusir perut kembung.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20/06/2020 . 6 mins read

    Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

    Benarkah frozen yogurt memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dari es krim? Cari tahu di sini untuk memastikan apakah frozen yogurt memang lebih sehat.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 17/06/2020 . 5 mins read

    Yang Perlu Anda Tahu Seputar Pangan Rekayasa Genetika

    Sudah saatnya kita meluruskan isu-isu seputar pangan rekayasa genetika (PRG) atau genetically modified foods yang penuh kontroversi ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Nutrisi, Hidup Sehat 15/06/2020 . 5 mins read

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . 4 mins read

    Direkomendasikan untuk Anda

    teledermatologi saat pandemi

    Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 04/07/2020 . 6 mins read
    mencegah ruam popok

    Tips Mencegah Ruam Popok Pada Pantat Bayi

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 4 mins read
    leher bayi merah

    5 Penyebab Leher Bayi Kemerahan dan Apa yang Bisa Ortu Lakukan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 mins read
    kacang almond

    Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 mins read