Alergi Makanan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/08/2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu alergi makanan?

Alergi makanan adalah reaksi alergi yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu. Hal ini terjadi akibat reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap zat di dalam makanan yang sebenarnya tidak berbahaya.

Reaksi tersebut kemudian memicu sejumlah gejala yang bervariasi pada tubuh. Reaksi yang muncul bervariasi, dari ringan hingga berat, seperti gatal-gatal dan bibir bengkak, hingga gejala parah yang disebut sebagai syok anafilaktik. Syok anafilaktik dapat mengancam nyawa jika penderitanya terlambat mendapatkan pengobatan medis yang tepat.

Biasanya alergi makanan terlihat saat anak-anak, tapi gejalanya juga bisa muncul kapan saja bahkan setelah dewasa. Bahkan ada beberapa orang yang dapat mengembangkan alergi terhadap makanan yang telah dikonsumsi bertahun-tahun.

Berdasarkan penyebabnya, reaksi alergi makanan terbagi menjadi dua, yaitu yang melalui perantara antibodi Immunoglobulin E (IgE) dan yang tidak melalui perantara IgE atau alergi non-IgE. Bedanya gejala yang muncul dari alergi non-IgE muncul lebih lambat sehingga akan lebih sulit terdeteksi. Walau demikian, non-IgE tidak menimbulkan reaksi berat seperti syok anafilaksis.

Seberapa umum kondisi ini?

Jenis alergi yang satu ini memang cukup umum dan dapat dialami siapa saja. Meski begitu, kondisi ini cenderung lebih sering dialami oleh anak-anak. Bahkan menurut Food Allergy Research and Education, terdapat sekitar satu dari 13 anak yang memiliki alergi terhadap satu atau lebih jenis makanan tertentu.

Anak-anak umumnya memiliki alergi terhadap susu, kacang kedelai, gandum, dan telur. Sementara itu, orang dewasa lebih sering mengalami alergi dari santapan laut, seperti ikan dan kerang atau beberapa jenis kacang seperti almon, kacang mete, dan kacang pikan. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala alergi makanan?

Gejala alergi biasanya terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah Anda terpapar zat penyebab alergi (alergen) dari santapan yang dikonsumsi. Gejalanya dapat bervariasi pada setiap orang, Anda juga mungkin bisa mengalami reaksi yang berbeda di lain waktu. Namun pada umumnya,  gejala yang dialami meliputi:

  • Sensasi geli atau gatal di mulut.
  • Bintik-bintik merah, gatal, atau eksim.
  • Bengkak pada bibir, wajah, lidah, tenggorokan, atau bagian tubuh lainnya.
  • Hidung tersumbat.
  • Sakit perut, diare, mual, atau muntah.
  • Pusing, terasa mau pingsan, atau pingsan.

Terkadang gejala alergi yang muncul mungkin tidak langsung terjadi, perlu waktu beberapa saat sampai reaksi muncul setelah makan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera ke dokter jika Anda mengalami gejala alergi setelah makan hidangan tertentu. Jika memungkinkan, kunjungi dokter Anda selama reaksi alergi masih terjadi. Penanganan yang lebih cepat dapat membantu dokter Anda mendiagnosis masalah. 

Untuk beberapa orang, alergi dapat merangsang reaksi berat yang disebut anafilaksis. Anafilaksis akan memengaruhi pernafasan serta detak jantung Anda. Gejala anafilaksis, antara lain:

  • Sesak napas.
  • Tenggorokan bengkak atau terasa gumpalan di tenggorokan yang menyebabkan Anda sulit bernapas.
  • Mengalami shock yang ditandai penurunan tekanan darah.
  • Jantung berdebar-debar.
  • Pusing, sampai pingsan atau kehilangan kesadaran.

Syok anafilaksis dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani dengan tepat. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami reaksi anafilatik, di antaranya adalah:

  • Punya riwayat asma.
  • Berusia remaja atau lebih muda.
  • Terlambat menggunakan epinefrin untuk mengobati gejala alergi.

Penyebab

Apa penyebab alergi makanan?

Penyebab alergi makanan adalah sistem kekebalan tubuh Anda yang bereaksi berlebihan terhadap zat dalam makanan, umumnya protein. Zat pemicu alergi ini disebut dengan alergen.

Jika Anda memiliki alergi, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi berlebihan terhadap alergen dengan merangsang sel-sel tubuh untuk melepaskan antibodi. Antibodi ini dikenal dengan nama immunoglobulin E (IgE). Immunoglobulin E nantinya akan bergerak menuju sel-sel yang melepaskan bahan kimia seperti histamin.

Histamin dan zat kimia lainnya pun mengalir dalam darah. Zat-zat inilah yang pada akhirnya menimbulkan tanda-tanda dan gejala alergi, seperti gatal-gatal, hidung berair, bengkak, diare, bahkan syok anafilaktik.

Pada kasus non-IgE, mekanisme munculnya reaksi alergi belum diketahui pasti. Secara garis besarnya, alergi makanan non-IgE disebabkan oleh sel yang berbeda dalam sistem imunitas tubuh.

Namun, zat yang menyebabkan alergi harus berada pada jumlah tertentu sampai bisa memunculkan reaksi alergi. Alergen dapat masuk sedikit-sedikit dan berulang kali tanpa memunculkan reaksi. Ketika zat tersebut sudah melewati batas, tubuh akan bereaksi. Itu sebabnya, pada beberapa orang reaksi alergi baru muncul saat dewasa.

Semua zat dari makanan bisa saja menimbulkan reaksi alergi, bergantung pada kesensitivitasan tubuh terhadap suatu zat tertentu. Namun, biasanya makanan yang paling sering menjadi pemicu adalah telur, susu, seafood, dan kacang-kacangan.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya alergi makanan?

Memang, siapa saja bisa terkena alergi, tapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko Anda untuk mengalaminya. Berbagai faktor tersebut termasuk:

  • Riwayat keluarga. Jika ada salah satu anggota keluarga Anda memiliki alergi makanan, maka lebih tinggi risiko Anda untuk mengalami hal yang sama.
  • Memiliki alergi lain. Jika Anda telah memiliki alergi terhadap satu makanan, Anda berisiko tinggi untuk bereaksi negatif terhadap makanan lain. Demikian juga jika Anda memiliki jenis reaksi alergi lain, seperti alergi debu, risiko Anda akan meningkat.
  • Umur. Alergi makanan umumnya terjadi pada anak-anak, khususnya anak-anak kecil dan bayi. Untungnya saat tumbuh besar, sistem pencernaan menjadi lebih matang sehingga mampu meminimalisir mencerna makanan yang mengandung alergen. Namun jika alerginya cenderung parah, hal ini bisa terbawa sampai dewasa.
  • Asma. Asma dan alergi makanan umumnya terjadi bersamaan. Ketika hal ini terjadi, gejala keduanya cenderung lebih berat.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Tidak ada satu tes yang bisa langsung mendiagnosis alergi makanan yang mungkin Anda alami. Umumnya dokter akan mempertimbangkan sejumlah faktor dan beberapa tes alergi sebelum membuat diagnosis. Faktor dan tes alergi makanan yang dapat dilakukan oleh dokter termasuk:

  • Menanyakan gejala Anda. Sebelumnya, dokter akan menanyakan makanan apa saja dan berapa banyak yang sudah dikonsumsi. Kemudian, dokter bertanya untuk mengetahui gejala alergi yang Anda alami, pola gejalanya, dan kapan gejala muncul. Berbagai informasi ini akan memudahkan dokter saat membuat diagnosis.
  • Riwayat alergi keluarga Anda. Dokter juga akan menanyakan apakah keluarga atau sanak saudara Anda pernah punya kasus alergi yang sama atau berbeda jenis. Pasalnya, faktor keturunan bisa jadi salah satu faktor Anda memiliki alergi apa pun.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang cermat sering dapat mengidentifikasi atau mengecualikan masalah medis lainnya.

Beberapa tes untuk mendiagnosis alergi makanan

Setelah melakukan pemeriksaan fisik, Anda harus mengikuti berbagai tes untuk benar-benar memastikan adanya alergi yang Anda miliki. Berikut beberapa pemeriksaan yang mungkin akan dijalani.

1. Tes kulit

Tes tusuk kulit dapat menentukan makanan apa yang memicu gejala alergi Anda. Dalam tes ini, dokter akan menggunakan sejumlah ekstrak kecil makanan yang dicurigai sebagai alergen.

Ekstrak alergen akan ditempatkan pada kulit lengan bawah atau punggung Anda. Dokter atau ahli kesehatan lain kemudian akan menusuk kulit Anda dengan jarum untuk membiarkan sejumlah kecil zat alergen masuk ke bawah permukaan kulit Anda. Jika Anda alergi terhadap zat tertentu yang sedang diuji, Anda akan mengalami benjolan atau reaksi yang meningkat.

Perlu diingat, reaksi positif terhadap tes ini saja tidak cukup untuk mengonfirmasi alergi makanan. Dokter akan menyarankan beberapa tes tambahan lain.

2. Tes darah

Tes darah juga dapat dilakukan untuk mengukur respons sistem kekebalan tubuh Anda terhadap makanan tertentu. Dokter akan mengukur antibodi yang imunoglobulin E (IgE) yang mungkin keluar saat sampel darah diberi ekstrak alergen. 

Untuk tes ini, sampel darah yang diambil di kantor dokter Anda dikirim ke laboratorium medis, tempat makanan yang berbeda dapat diuji.

3. Diet eliminasi

Guna memeriksa apakah Anda benar alergi terhadap makanan tertentu, Anda mungkin akan diminta untuk melakukan diet eliminasi. Pada diet ini, Anda akan menghilangkan satu atau beberapa jenis makanan yang dipercaya dapat menimbulkan reaksi dari pola makan Anda.

Misalnya, pada fase pertama Anda tidak diperbolehkan untuk konsumsi makanan yang mengandung produk susu dan telur selama beberapa minggu, Setelah lewat fase pertama, Anda bisa mulai makan satu jenis makanan yang sebelumnya dihindari secara perlahan. Dokter juga akan menanyakan kembali tentang gejala alergi yang Anda rasakan.

Bila tidak muncul reaksi alergi, Anda bisa memakannya kembali. Namun, jika muncul reaksi alergi, dokter bisa menduga kalau benar Anda memang punya alergi terhadap makanan yang dicurigai. Alhasil, Anda harus mengeliminasi jenis makanan tersebut dari menu makan sehari-hari. 

Karena diet eliminasi memiliki aturan yang sangat ketat dengan banyak pantangan, diet sebaiknya hanya dilakukan di bawah pengawasan dokter.

4. Makan makanan tersebut secara langsung

Tes ini harus dilakukan di tempat praktik dokter. Dalam pengujian alergi ini, nantinya Anda akan diberikan makanan dalam jumlah sedikit. Lama-kelamaan jumlah makanan yang diberikan akan semakin banyak.

Jika Anda tidak memiliki reaksi selama tes ini, Anda mungkin bisa tetap memakannya seterusnya. Namun jika reaksi alergi langsung muncul walau makanan tersebut hanya dikonsumsi sedikit, Anda harus menghindarinya.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mengobati alergi makanan?

Kondisi ini umumnya tidak bisa hilang dan akan terus ada. Jadi, cara yang bisa Anda lakukan agar tidak sampai mengalami reaksi alergi karena makanan adalah dengan menghindari makanan yang mengandung alergen.

Apabila secara tidak sengaja memakannya, Anda bisa meredakan gejala alergi makanan yang muncul dengan cara berikut: 

Untuk reaksi alergi ringan, obat tanpa resep atau antihistamin bisa mengatasi gejala alergi. Obat-obat ini dapat dikonsumsi setelah makanan yang jadi penyebab reaksi alergi diketahui. Antihistamin akan membantu meredakan gejala seperti gatal-gatal atau munculnya bintik-bintik merah. Meski begitu, antihistamin tidak dapat mengobati reaksi alergi berat.

Untuk reaksi alergi berat, Anda harus selalu membawa injeksi otomatis epinefrin (EpiPen, Twinjet, Auvi-Q). Alat ini adalah kombinasi dari semprotan dan jarum tersembunyi yang menyuntikkan dosis tunggal obat ketika ditekan ke paha Anda. Epinefrin dapat bertindak cepat dalam meningkatkan pernapasan dan meredakan gatal-gatal.

Suntukan Epinefrin digunakan segera jika Anda mengalami gejala alergi yang parah seperti sesak napas, batuk- denyut nadi melemah, atau kombinasi gejala seperti gatal-gatal yang ditambah dengan sakit perut.

Epinefrin bisa digunakan dengan dosis berulang jika perlu. Dalam keadaan darurat atau bila butuh epinefrin lebih banyak, Anda harus segera mencari pertolongan medis dan mendapat perawatan di ruang UGD.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan untuk mengatasi alergi makanan?

Agar reaksi alergi tak selalu datang, hal yang harus Anda lakukan tentu saja adalah mengendalikan berbagai pemicunya. Gaya hidup dan pengobatan rumah berikut dapat membantu Anda menangani alergi makanan:

  • Menghindari makanan yang bermasalah (makanan sisa atau makanan kedaluwarsa)
  • Baca label kandungan makanan dengan saksama sebelum membeli atau menyiapkan makanan.
  • Pelajari cara menggunakan suntikan anti-alergi dan ajari orang-orang di sekitar Anda jikalau Anda tiba-tiba menderita alergi jenis ini. Selalu bawa obat alergi.
  • Kenakan gelang atau kalung medis sebagai tanda agar orang-orang tahu bahwa Anda memiliki alergi makanan atau jenis lainnya.
  • Beri tahu keluarga Anda, pengasuh, dan guru jika anak Anda memiliki alergi makanan.
  • Cuci peralatan dengan hati-hati sebelum menyiapkan makanan bayi. Hal ini dapat membantu mencegah penyebab alergi.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter Anda untuk memahami solusi yang terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyebab Leher Bayi Kemerahan dan Apa yang Bisa Ortu Lakukan

Kulit bayi yang lebih sensitif memicu munculnya berbagai masalah yang ditandai dengan leher bayi merah. Bahkan, disertai dengan rasa gatal dan tidak nyaman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

9 Makanan yang Ampuh Mengusir Perut Kembung

Perut kembung atau begah pasti sangat mengganggu. Untuk segera meredakan rasa tidak nyaman, siapkan berbagai makanan berikut untuk mengusir perut kembung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Benarkah frozen yogurt memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dari es krim? Cari tahu di sini untuk memastikan apakah frozen yogurt memang lebih sehat.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 17/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Yang Perlu Anda Tahu Seputar Pangan Rekayasa Genetika

Sudah saatnya kita meluruskan isu-isu seputar pangan rekayasa genetika (PRG) atau genetically modified foods yang penuh kontroversi ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

efek samping salep obat kortikosteroid

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit
makanan sehat untuk orang sibuk

13 Tips Makan Sehat untuk Orang yang Super Sibuk

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22/07/2020 . Waktu baca 12 menit
teledermatologi saat pandemi

Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 04/07/2020 . Waktu baca 6 menit
mencegah ruam popok

Tips Mencegah Ruam Popok Pada Pantat Bayi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit