Alergi Makanan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu alergi makanan?

Alergi makanan adalah reaksi berlebihan dari sistem imun terhadap zat di dalam makanan tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya.

Reaksi tersebut kemudian memicu sejumlah gejala yang bervariasi pada tubuh. Reaksi alergi setelah makan makanan tertentu bisa muncul ringan seperti gatal-gatal dan bibir bengkak, sampai gejala parah yang disebut sebagai syok anafilaktik.

Syok anafilaktik dapat mengancam nyawa jika penderitanya terlambat mendapatkan pengobatan medis yang tepat.

Seberapa umum alergi makanan?

Jenis alergi ini cukup umum. Pria dan wanita yang tua dan muda sama-sama berisiko mengalami alergi makanan. Meski begitu, alergi makanan cenderung lebih sering dialami oleh anak-anak.

Anak-anak umumnya memiliki alergi terhadap susu, kacang kedelai, gandum, dan telur. Sementara itu, orang dewasa lebih sering mengalami alergi dari santapan laut seperti ikan dan kerang. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala alergi makanan?

Gejala alergi biasanya terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah Anda mengonsumsi makanan tertentu.

Tanda-tanda dan gejala alergi makanan adalah:

  • Sensasi geli atau gatal di mulut.
  • Bintik-bintik merah, gatal, atau eksim.
  • Bengkak pada bibir, wajah, lidah, tenggorokan, atau bagian tubuh lainnya.
  • Hidung tersumbat.
  • Sakit perut, diare, mual, atau muntah.
  • Pusing, terasa mau pingsan, atau pingsan.

Mungkin butuh waktu beberapa saat sampai reaksi alergi muncul setelah makan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera ke dokter jika Anda mengalami gejala alergi setelah makan hidangan tertentu. Jika memungkinkan, kunjungi dokter Anda selama reaksi alergi masih terjadi. Ini dapat membantu dokter Anda membuat diagnosis. 

Untuk beberapa orang, alergi makanan dapat merangsang reaksi alergi berat yang disebut anafilaksis. Gejala anafilaksis adalah:

  • Sesak napas.
  • Tenggorokan bengkak atau terasa gumpalan di tenggorokan yang menyebabkan Anda sulit bernapas.
  • Mengalami shock yang ditandai penurunan tekanan darah.
  • Jantung berdebar-debar.
  • Pusing, sampai pingsan atau kehilangan kesadaran.

Syok anafilaksis dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko Anda mengalami reaksi anafilatik adalah:

  • Punya riwayat asma.
  • Berusia remaja atau lebih muda.
  • Terlambat menggunakan epinefrin untuk mengobati gejala alergi.

Penyebab

Apa penyebab alergi makanan?

Penyebab alergi makanan adalah sistem kekebalan tubuh Anda yang bereaksi berlebihan terhadap zat dalam makanan, umumnya protein.

Saat makanan pemicu alergi masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan akan merangsang sel-sel untuk melepaskan antibodi yang dikenal sebagai antibodi immunoglobulin E (IgE). Immunoglobulin E berguna untuk melawan makanan yang disalahartikan tubuh sebagai zat berbahaya. 

Selain antibodi IgE, tubuh juga akan mengeluarkan histamin serta bahan kimia lain. Zat-zat inilah yang pada akhirnya menimbulkan tanda-tanda dan gejala alergi seperti diare, gatal-gatal, hidung berair, bengkak, dan bahkan syok anafilaktik.

Zat yang menyebabkan alergi harus berada pada jumlah tertentu sampai bisa memunculkan reaksi alergi. Alergen dapat masuk sedikit-sedikit dan berulang kali tanpa memunculkan reaksi. Namun ketika zat tersebut sudah melewati batas, maka tubuh akan bereaksi.

Oleh karenanya, tak heran jika ada beberapa orang yang baru memunculkan reaksi alergi pada saat sudah dewasa.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya alergi makanan?

Faktor-faktor risiko alergi makanan adalah:

  • Riwayat keluarga. Anda berisiko tinggi memiliki alergi makanan jika Anda memiliki keluarga dengan riwayat alergi makanan.
  • Mengalami alergi lain. Jika Anda telah memiliki alergi terhadap satu makanan, Anda berisiko tinggi untuk bereaksi negatif terhadap makanan lain. Demikian juga jika Anda memiliki jenis reaksi alergi lain, seperti alergi debu, risiko Anda memiliki alergi makanan menjadi lebih besar.
  • Umur. Alergi makanan umumnya terjadi pada anak-anak, khususnya anak-anak kecil dan bayi. Saat Anda tumbuh besar, sistem pencernaan Anda menjadi lebih matang dan tubuh Anda meminimalisir mencerna makanan yang merangsang alergi.
  • Asma. Asma dan alergi makanan umumnya terjadi bersamaan. Ketika hal ini terjadi, alergi makanan dan asma, gejala keduanya cenderung lebih berat.

Makanan pemicu alergi

Apa saja makanan yang dapat memicu alergi muncul?

Dikutip dari Healthline, berikut makanan yang dapat memicu alergi:

1. Kacang

Kacang adalah salah satu makanan yang sering menjadi pemicu alergi dan reaksinya bisa parah.

Reaksi alergi kacang dapat muncul dari kontak langsung dengan cara dimakan, atau ketika kulit terpapar kacang maupun terkena mata.

Untuk beberapa orang dengan alergi kacang, makan porsi kecil sekalipun dapat menyebabkan reaksi serius.

Kacang yang bisa memicu alergi bisa dari jenis kacang pohon seperti almond, pistachio, atau macadamia. Jenis kacang tanah seperti lentil juga dapat menyebabkan alergi karena mempunyai struktur zat yang sama dengan kacang pohon.

2. Telur

Telur juga sering menjadi makanan pemicu reaksi alergi muncul. Penyebab alergi makanan ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi protein pada telur sebagai zat berbahaya. 

Saat telur dimakan, sistem kekebalan tubuh akan melepaskan antibodi, histamin, dan bahan kimia lain yang menyebabkan peradangan sebagai reaksi alergi.

Putih telur lebih banyak mengandung protein sehingga lebih rentan memicu reaksi alergi ketimbang bagian kuningnya. Namun protein dalam kuning dan putih telur bisa mengalami kontak silang, sehingga tetap dapat berisiko memicu alergi. 

3. Makanan laut

Santapan yang berasal dari laut seperti ikan dan kerang juga sering menjadi pemicu alergi pada beberapa orang dewasa dan remaja.

Jenis-jenis makanan laut yang dapat menyebabkan alergi termasuk beberapa jenis ikan (salmon atau tuna), jenis moluska (tiram, kerang dan cumi-cumi), dan krustasea (seperti udang). 

Pada jenis alergi ini, sistem kekebalan tubuh Anda keliru mengidentifikasi protein tertentu dalam ikan atau kerang sebagai zat berbahaya. Hasilnya, akan muncul gejala reaksi seperti gatal-gatal, bengkak di bibir atau wajah, dan ruam kemerahan di tubuh.

4. Gandum

Alergi gandum juga bisa terjadi pada sebagian orang. Ini disebabkan karena gandum  memiliki protein.

Sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi apabila terdapat salah satu dari 4 protein gandum seperti albumin, globulin, gliadin, dan gluten. Sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi dan hasilnya memicu seperti gatal.

5. Kedelai

Kedelai adalah makanan yang juga dapat menjadi pemicu alergi. Ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda mengidentifikasi protein kedelai tertentu sebagai zat berbahaya.

Alhasil tubuh akan mengeluarkan antibodi imunoglobulin E (IgE), histamin dan bahan kimia lain yang memicu reaksi alergi.

6. Bawang putih

Bawang putih adalah makanan penyebab alergi yang sebetulnya jarang terjadi. Namun jika benar Anda mengalami alergi ini, biasanya tubuh akan bereaksi apabila mengonsumsi  bawang putih yang dimasak atau pun mentah.

Alergi bawang putih terjadi  ketika sistem kekebalan tubuh Anda secara keliru mengidentifikasi zat tertentu di dalam bawang putih. Ketika imun tubuh keliru mendeteksi zat bawang, tubuh akan menimbulkan reaksi alergi.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis alergi makanan?

Tidak ada satu tes yang langsung bisa mendiagnosis alergi makanan yang mungkin Anda alami. umumnya dokter akan mempertimbangkan sejumlah faktor dan beberapa tes sebelum membuat diagnosis. Faktor dan tes alergi makanan yang dapat dilakukan oleh dokter termasuk:

  • Menanyakan gejala Anda. Dokter akan menanyakan gejala alergi yang Anda alami, pola gejalanya, dan kapan gejala muncul. Ini dapat membantu dokter menemukan diagnosis yang tepat . 
  • Riwayat alergi keluarga Anda. Dokter juga akan menanyakan apakah keluarga atau sanak saudara Anda pernah punya kasus alergi yang sama atau berbeda jenis. Karena keturunan atau genetika dapat menjadi salah satu faktor Anda memiliki alergi apa pun.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang cermat sering dapat mengidentifikasi atau mengecualikan masalah medis lainnya.

Beberapa tes untuk mendiagnosis alergi makanan

1. Tes kulit

Tes tusuk kulit dapat menentukan makanan apa yang memicu gejala alergi Anda. Dalam tes ini, dokter akan menggunakan sejumlah ekstrak kecil makanan yang dicurigai sebagai pemicu alergi.

Ekstrak alergen akan ditempatkan pada kulit lengan bawah atau punggung Anda. Dokter atau ahli kesehatan lain kemudian akan menusuk kulit Anda dengan jarum untuk membiarkan sejumlah kecil zat alergen masuk ke bawah permukaan kulit Anda.

Jika Anda alergi terhadap zat tertentu yang sedang diuji, Anda akan mengalami benjolan atau reaksi yang meningkat.

Perlu diingat, reaksi positif terhadap tes ini saja tidak cukup untuk mengonfirmasi alergi makanan. Dokter akan menyarankan beberapa tes tambahan lain.

2. Tes darah

Tes darah juga dapat dilakukan untuk mengukur respons sistem kekebalan tubuh Anda terhadap makanan tertentu. Dokter akan mengukur antibodi yang imunoglobulin E (IgE) yang mungkin keluar saat sampel darah diberi ekstrak alergen. 

Untuk tes ini, sampel darah yang diambil di kantor dokter Anda dikirim ke laboratorium medis, tempat makanan yang berbeda dapat diuji.

3. Eliminasi diet

Untuk memeriksa apakah Anda benar alergi terhadap makanan tertentu Anda mungkin diminta untuk tidak makan makanan tersebut selama satu atau dua minggu. Setelah itu, dokter akan menanyakan kembali tentang gejala alergi yang Anda rasakan.

Bila tidak ada, dokter akan menyarankan Anda menambahkan makanan tersebut kembali ke diet Anda satu per satu.

Bila ditemukan reaksi kembali, dokter bisa menduga kalau benar Anda memang punya alergi terhadap makanan yang dicurigai. Eliminasi diet ini hanya bisa dilakukan di bawah pengawasan dokter.

4. Makan makanan tersebut secara langsung

Tes alergi makanan oral ini hanya harus dilakukan di kantor dokter.  Dalam pengujian alergi ini, nantinya Anda akan diberikan makanan dalam jumlah sedikit.  Lama kelamaan jumlah makanan yang diberikan akan semakin banyak.

Jika Anda tidak memiliki reaksi selama tes ini, Anda mungkin bisa memasukkan makanan ini ke dalam diet Anda lagi. Namun jika reaksi alergi langsung muncul walau makanan tersebut hanya dikonsumsi sedikit saja, Anda harus menghindari makanan tersebut.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan bagi alergi makanan?

Satu-satunya cara mencegah alergi makanan adalah tidak  memakan makanan yang menyebabkan gejala atau reaksi alergi terjadi. 

Untuk reaksi alergi ringan, Obat tanpa resep atau antihistamin yang disarankan dapat membantu Anda mengurangi gejala. Obat-obat ini dapat dikonsumsi setelah diketahui makanan penyebab alerginya untuk meredakan gatal atau bintik-bintik merah. Bagaimanapun, antihistamin tidak dapat mengobati reaksi alergi berat.

Untuk reaksi alergi berat. Anda mungkin membutuhkan injeksi epinefrin darurat dan dirawat di ruangan darurat. Banyak orang yang memiliki alergi membawa epinefrin injector auto (EpiPen, Twinjet, Auvi-Q). Alat ini adalah kombinasi dari semprotan dan jarum tersembunyi yang menyuntikkan dosis tunggal obat ketika ditekan ke paha Anda.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan untuk mengatasi alergi makanan?

Gaya hidup dan pengobatan rumah berikut dapat membantu Anda menangani alergi makanan:

  • Menghindari makanan yang bermasalah (makanan sisa, kedaluwarsa)
  • Baca label makanan dengan saksama sebelum membeli atau menyiapkan makanan.
  • Pelajari cara menggunakan suntikan anti-alergi dan ajari orang-orang di sekitar Anda, jikalau Anda tiba-tiba menderita alergi jenis ini. Selalu bawa obat alergi.
  • Kenakan gelang atau kalung medis sebagai tanda agar orang-orang tahu bahwa Anda memiliki alergi makanan atau jenis lainnya.
  • Beritahu keluarga Anda, pengasuh, dan guru jika anak Anda memiliki alergi makanan.
  • Cuci peralatan dengan hati-hati sebelum menyiapkan makanan bayi. Hal ini dapat membantu mencegah penyebab alergi.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter Anda untuk memahami solusi yang terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan.

Share now :

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Januari 30, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca