Alergi Panas Matahari

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Agustus 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu alergi matahari?

Alergi sinar matahari adalah istilah untuk menggambarkan fotosensitivitas. Fotosensitivitas adalah kondisi ketika kulit mengalami ruam kemerahan akibat reaksi alergi yang berlebihan setelah terpapar sinar matahari. 

Hal ini dapat terjadi karena sistem imun mengenali kulit yang terkena sinar matahari sebagai senyawa asing yang berbahaya. Akibatnya, muncul reaksi alergi kulit, seperti ruam, gatal, dan kulit melepuh. 

Reaksi alergi juga biasanya terjadi pada bagian V leher (tulang selangka sampai tulang dada), punggung tangan, sisi luar lengan, dan kaki bagian bawah. 

Seberapa umum kondisi ini?

Alergi matahari adalah kondisi yang cukup umum, tetapi tidak banyak orang yang melaporkannya. Alergi ini biasanya terjadi pada orang dengan kulit sensitif. 

Pada beberapa kasus, reaksi pada kulit akan terjadi beberapa saat setelah terpapar panas matahari. 

Jenis

Apa saja jenis dari penyakit ini?

Jenis alergi yang berbeda akan menghasilkan reaksi gejala yang berbeda pula. Berikut ini beberapa jenis alergi sinar matahari yang perlu Anda kenali:

Actinic prurigo

Jenis alergi ini terjadi akibat faktor keturunan. Actinic prurigo lebih sering dialami oleh penduduk asli Amerika. 

Walaupun demikian, alergi matahari yang satu ini dapat memengaruhi semua kelompok ras dan gejalanya bisa dimulai sejak masa kanak-kanak dan remaja. 

Photoallergic reaction

Photoallergic reaction umumnya dipicu oleh sinar matahari yang bereaksi dengan bahan kimia yang dioleskan pada kulit, seperti tabir surya atau parfum. 

Obat atau salep yang diresepkan juga dapat menyebabkan kondisi ini, termasuk antibiotik (tetrasiklin dan sulfonamid). Kemunculan gejala alergi sinar matahari ini lebih lambat, yaitu satu hingga dua hari setelah terpapar panas matahari. 

Polymorphic light eruption (PMLE)

Dibandingkan jenis alergi matahari lainnya, polymorphic light eruption adalah jenis yang paling umum dan dikenal dengan keracunan matahari. Kondisi ini dialami sekitar 10-15% populasi warga Amerika Serikat dan kebanyakan diantaranya adalah wanita. 

Pada daerah beriklim sedang, PMLE hanya terjadi di musim semi atau panas. Gejala alergi yang satu ini biasanya akan muncul beberapa jam setelah terpapar sinar UV. 

Solar urticaria

Jika keracunan matahari termasuk kondisi umum, solar urticaria adalah jenis alergi yang cukup langka. Para penderitanya akan merasakan gatal di kulit hanya beberapa menit setelah terkena sinar matahari. 

Kondisi ini lebih sering dialami oleh wanita muda. Gejala alergi ini pun cukup bervariasi, mulai dari ringan hingga berat yang menyebabkan syok anafilaksis

Tanda-tanda dan gejala

Tanda dan gejala alergi panas matahari

Umumnya, tanda dan gejala alergi kulit yang disebabkan panas matahari berupa kulit kering kemerahan. Namun, ciri-ciri orang yang mengalami alergi yang satu ini cukup beragam, tergantung pada jenisnya, yang di antaranya:

  • kulit kering dan kemerahan,
  • rasa nyeri dan gatal pada kulit,
  • bintil-bintil kecil berwarna merah di kulit,
  • kulit pecah-pecah, mengelupas, dan berdarah, serta
  • kulit melepuh.

Beberapa gejala di atas biasanya hanya dialami pada bagian kulit yang terpapar sinar matahari. Tanda-tanda tersebut juga dapat berkembang dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah paparan pertama. 

Kapan saya harus ke dokter?

Jika tidak segera ditangani, alergi ini bisa menyebabkan penebalan kulit dan menimbulkan bekas luka. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan risiko kanker kulit. 

Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami reaksi alergi yang disertai dengan gejala:

  • batuk-batuk,
  • demam tinggi,
  • pembengkakan wajah,
  • detak jantung tidak teratur,
  • pusing, dan
  • mual dan muntah.

Tubuh setiap orang mungkin akan berbeda ketika mengalami reaksi alergi. Oleh sebab itu, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab alergi dan bagaimana mengatasinya. 

Penyebab

Apa penyebab alergi sinar matahari?

Hingga saat ini, para ahli masih belum mengetahui penyebab seseorang dapat terkena alergi sinar matahari. Namun, kebanyakan kasus menunjukkan bahwa keracunan matahari dapat menurun dalam keluarga (genetik). 

Selain itu, penyebab dari alergi ini juga seringkali dikarenakan bahan kimia dalam obat-obatan, kosmetik, dan makanan, seperti: 

  • antibiotik,
  • antihistamin,
  • obat-obatan kemoterapi,
  • diuretik, dan
  • obat-obatan diabetes.

Penyakit tertentu, seperti lupus dan eksim, juga membuat kulit penderitanya lebih sensitif terhadap cahaya. 

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena alergi matahari?

Ada beberapa faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami alergi matahari, meliputi:

Ras

Siapapun dapat mengalami alergi matahari. Namun, kondisi ini paling sering terjadi pada orang dengan kulit putih, terutama kelompok ras kaukasia. 

Terpapar zat tertentu

Gejala alergi yang satu ini juga dapat dipicu saat kulit terkena zat tertentu dan kemudian terpapar sinar matahari. Zat-zat kimia yang ada di dalam parfum, desinfektan, dan tabir surya bisa jadi dalang dari masalah kulit ini. 

Konsumsi obat tertentu

Bagi Anda yang mengonsumsi obat tertentu, seperti antibiotik tetrasiklin, obat berbahan sulfa, dan penghilang rasa sakit (ketoprofen) mungkin perlu hati-hati. Pasalnya, obat-obat yang disebutkan disebut dapat menyebabkan kulit terbakar lebih cepat. 

Menderita penyakit kulit lainnya

Para penderita penyakit kulit, seperti dermatitis, mungkin juga perlu lebih waspada karena kulit mereka lebih rentan terhadap alergi matahari. 

Faktor genetik

Jika memiliki anggota keluarga yang mengalami alergi terhadap sinar matahari, Anda juga lebih berisiko terkena alergi ini. 

Perlu diingat bahwa tidak memiliki faktor risiko bukan berarti Anda tidak terbebas dari penyakit ini. Anda masih perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, terutama ketika mengalami gejala yang disebutkan. 

Diagnosis

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Pada kebanyakan kasus, dokter mendiagnosis alergi matahari berdasarkan gejala yang muncul di kulit Anda. Namun, ada beberapa jenis tes kulit alergi yang dilakukan untuk memastikan penyakit ini yaitu sebagai berikut.

Uji cahaya ultraviolet

Uji cahaya ultraviolet (fototesting) adalah pengujian dilakukan untuk melihat bagaimana reaksi kulit terhadap panjang gelombang sinar UV. Panjang gelombang sinar UV yang diberikan menggunakan jenis lampu khusus yang berbeda. 

Dengan menentukan gelombang cahaya mana yang menyebabkan reaksi, dokter lebih mudah mendeteksi jenis alergi mana yang Anda miliki. 

Pengujian menggunakan photopatch

Pengujian yang satu ini bertujuan untuk mendeteksi penyebab alergi dengan mengoleskan zat tertentu ke kulit sebelum terpapar matahari. 

Hal ini dilakukan dengan bantuan koyo dengan kandungan zat penyebab alergi dan dipakaikan langsung ke kulit, biasanya ke bagian punggung. 

Satu hari kemudian, salah satu bagian tubuh akan menerima dosis sinar UV dari lampu khusus. Jika reaksi hanya terjadi pada daerah yang terpapar, ada kemungkinan hal ini disebabkan oleh zat yang diaplikasikan. 

Tes darah dan sampel kulit

Tes darah dan sampel kulit biasanya dilakukan jika gejala diduga disebabkan oleh masalah kesehatan lainnya, seperti lupus. Sampel darah dan kulit (biopsi) yang diambil nantinya akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium. 

Obat dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk alergi panas matahari?

Pada dasarnya, obat alergi kulit yang disebabkan oleh panas matahari dilakukan berdasarkan jenis yang pasien miliki. Sebagian besar kasus alergi ini akan sembuh dengan sendirinya, tetapi tidak menutup kemungkinan Anda membutuhkan obat-obatan tertentu. 

Berikut ini beberapa pilihan pengobatan alergi panas matahari, dilansir dari Mayo Clinic

  • Krim kortikosteroid, baik tanpa maupun dengan resep dokter.
  • Pil kortikosteroid (prednison) untuk reaksi alergi kulit yang parah.
  • Obat malaria hydroxychloroquine untuk meredakan gejala alergi.
  • Obat pereda nyeri, seperti ibuprofen sesuai resep dokter.
  • Steroid sistemik atau topikal untuk mengurangi pembengkakan.

Pada kasus alergi yang parah, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk terbiasa dengan sinar matahari secara bertahap. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan fototerapi. 

Fototerapi adalah terapi yang menggunakan lampu khusus untuk menyinari area tubuh yang sering terkena sinar matahari. Terapi ini biasanya dilakukan beberapa kali dalam seminggu selama beberapa minggu.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi alergi matahari?

Selain mendapatkan obat dan terapi dari dokter, Anda juga perlu memperhatikan gaya hidup menjadi lebih hati-hati. Berikut ini beberapa pengobatan rumahan dan pola hidup yang mungkin dapat membantu Anda mencegah alergi kulit yang disebabkan oleh panas matahari.

  • Gunakan obat sesuai anjuran dokter.
  • Hindari paparan sinar UV sesering mungkin, terutama ketika mengonsumsi obat.
  • Gunakan tabir surya, topi, dan baju lengan panjang untuk mengurangi paparan.
  • Berhenti menggunakan obat yang membuat kulit sensitif terhadap cahaya.
  • Mengoleskan pelembap kulit, terutama pada area kulit yang terkena alergi.
  • Gunakan kacamata hitam dengan perlindungan sinar UV.
  • Hindari penggunaan losion berbahan buah dan kosmetik .

Apabila memiliki pertanyaan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat untuk Anda.  

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ini Akibatnya Pada Mata Jika Anda Menatap Matahari Dengan Mata Telanjang

Jarang yang bisa sukses menatap matahari dengan mata telanjang karena terlanjur kesilauan. Tapi awas. Kalau masih nekat memelototi matahari, bisa bikin buta

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 11 Desember 2017 . Waktu baca 4 menit

Baru Pertama Kali Terkena Alergi Ketika Sudah Dewasa, Bagaimana Bisa?

Alergi biasanya muncul pada masa kanak-kanak. Lantas, apa sebabnya muncul alergi pada orang dewasa, padahal sewaktu kecil tak pernah alergi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Alergi & Penyakit Autoimun, Alergi, Health Centers 13 November 2017 . Waktu baca 4 menit

Porfiria

Porfiria atau porphyria adalah membuat seseorang terlihat pucat pasi dan bertingkah laku bak vampir yang harus menghindari sinar matahari. Apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 11 November 2017 . Waktu baca 8 menit

Kenali Brown-Sequard Syndrome, Penyebab Tubuh Mati Rasa Sebagian Setelah Kecelakaan Bermotor

Brown sequard syndrome adalah serangkaian kondisi yang membuat tubuh mati rasa, diakibatkan oleh cedera saraf tulang belakang. Apakah berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Hidup Sehat, Fakta Unik 8 November 2017 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

paparan sinar matahari

Sering Berkegiatan di Luar Ruangan? Simak Manfaat dan Risiko Paparan Sinar Matahari untuk Kulit Anda

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2018 . Waktu baca 5 menit
bahaya sinar matahari

5 Efek Buruk Tubuh Sering Kena Sinar Matahari, Bukan Hanya Sunburn, Lho!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2018 . Waktu baca 4 menit
bibir terbakar

5 Cara Mudah Mengobati Bibir yang Terbakar Matahari

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 5 September 2018 . Waktu baca 4 menit
alergi kentang

Kenapa Bisa Ada Orang yang Alergi Kentang?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Desember 2017 . Waktu baca 3 menit