home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Alergi Debu

Definisi|Gejala|Penyebab|Pemicu alergi debu|Faktor-faktor risiko|Diagnosis|Obat dan pengobatan|Pencegahan
Alergi Debu

Definisi

Apa itu alergi debu?

Alergi debu adalah salah satu jenis rinitis alergi yang paling umum. Kondisi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat-zat asing yang ada di dalam debu.

Debu terbentuk dari kumpulan sel kulit mati, kotoran, bulu hewan, dan berbagai zat asing yang dapat memicu alergi pada beberapa orang. Zat apa pun yang berpotensi menyebabkan reaksi alergi disebut alergen.

Saat Anda menghirup debu mengandung alergen, sistem imun akan menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Sistem imun pun merespons dengan melepaskan senyawa yang menimbulkan reaksi alergi.

Alergi debu menimbulkan beragam gejala pada sistem pernapasan. Kendati tidak dapat disembuhkan hingga tuntas, Anda bisa mencegah dan mengendalikan gejalanya lewat perubahan gaya hidup dan konsumsi obat rinitis alergi sesuai anjuran dokter.

Gejala

Apa saja gejala alergi debu?

Alergi debu umumnya menimbulkan gejala pada saluran pernapasan, wajah, dan kulit. Berikut ciri-ciri alergi debu yang paling sering muncul:

  • bersin-bersin,
  • hidung tersumbat atau berair,
  • mata merah, gatal, dan berair,
  • terdapat lendir pada tenggorokan,
  • batuk-batuk,
  • gatal-gatal pada kulit, serta
  • muncul ruam pada kulit.

Apabila Anda menderita asma, alergen pada debu juga dapat menyebabkan gangguan berupa:

  • sesak napas,
  • dada terasa berat atau nyeri,
  • napas menjadi pendek-pendek dan berbunyi (mengi), serta
  • susah tidur akibat sesak napas, batuk, atau bersin terus-menerus.

Reaksi alergi biasanya muncul tidak lama setelah penderita terkena pemicunya. Gejala dapat bertambah parah terutama sehabis melakukan kegiatan bersih-bersih seperti menyapu atau mengelap perabotan.

Ini disebabkan karena proses bersih-bersih dapat menerbangkan banyak partikel debu ke udara. Partikel debu yang beterbangan di udara akhirnya lebih mudah memasuki sistem pernapasan atau menempel pada kulit.

Kapan Anda perlu pergi ke dokter?

Sebagian besar gejala yang dikeluhkan penderita alergi debu mirip seperti asma. Anda mungkin juga akan mengalami bersin dan gejala alergi mirip pilek biasa. Oleh sebab itu, keduanya terkadang sulit dibedakan.

Jika Anda sering mengalami gejala alergi debu, terutama bila disertai batuk atau hidung tersumbat, ada kemungkinan Anda menderita alergi. Lambat laun, Anda mungkin juga akan merasakan gejala asma seperti sesak napas atau bunyi napas mengi.

Banyak penderita alergi akhirnya terbiasa dengan bersin dan masalah pada hidung mereka. Padahal, gejala alergi debu sebaiknya tidak diabaikan karena dapat bertambah parah seiring waktu. Ada pula risiko reaksi alergi parah yang disebut syok anafilaksis.

Segera periksakan diri Anda ke dokter bila Anda merasa sensitif terhadap debu. Dokter spesialis alergi dapat melakukan tes alergi untuk menentukan apakah gejala tersebut memang disebabkan oleh paparan alergen pada debu.

Penyebab

Apa penyebab alergi debu?

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengira bahwa debu merupakan zat asing yang berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan tubuh kemudian bereaksi dengan menghasilkan antibodi untuk melawan zat asing tersebut.

Antibodi adalah protein khusus yang dibentuk sistem imun untuk melawan bibit penyakit maupun zat yang dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Namun, ketika sistem imun bereaksi secara berlebihan, protein ini justru jadi penyebab rinitis alergi.

Selain antibodi, sistem kekebalan tubuh juga melepaskan histamin serta senyawa kimia lainnya yang memicu reaksi peradangan. Sebagai dampaknya, tubuh mengalami gejala alergi seperti bersin-bersin, batuk, ruam, hingga sesak napas.

Pemicu alergi debu

Apa saja zat pada debu yang memicu reaksi alergi?

Alergi debu tidak sekadar dipicu oleh butiran debu itu sendiri. Perlu diketahui, di dalam debu mungkin terdapat serangga, bulu binatang, jamur, hingga serbuk bunga. Berikut adalah berbagai zat yang diduga memicu munculnya gejala alergi.

1. Tungau debu

Tungau merupakan serangga kecil yang menjadi salah satu pemicu utama alergi debu. Reaksi alergi muncul akibat menghirup debu yang mengandung feses tungau. Feses ini mengandung protein yang dianggap berbahaya oleh sistem kekebalan tubuh.

Tungau hidup serta berkembang biak di sudut-sudut rumah yang hangat dan lembap. Rumah yang terlihat bersih pun bukan berarti bebas dari tungau debu karena serangga ini sulit dibersihkan dengan cara bersih-bersih pada umumnya.

Sementara itu, tungau jarang ditemukan di daerah yang dingin. Anda bisa mengurangi populasi tungau dengan rajin mengelap perabotan dan menggunakan humidifier untuk mengatur kelembapan udara agar tidak kurang dari 50 persen.

2. Kecoa

Pada beberapa orang, gejala alergi dapat muncul ketika mereka berada di lingkungan yang banyak ditempati kecoa. Ini disebabkan karena debu terkadang mengandung air liur, urine, dan kotoran kecoa yang merupakan alergen.

Seperti tungau, kecoa senang hidup di sudut rumah yang hangat. Namun, serangga ini mudah beradaptasi sehingga Anda bisa menemukannya di mana saja. Guna membasmi pertumbuhan kecoa, pastikan Anda membersihkan rumah secara berkala untuk cegah alergi.

3. Spora jamur

Jamur yang tidak terlihat dan sporanya yang berterbangan adalah pemicu alergi debu yang paling umum setelah tungau. Anda bisa menemukannya di daerah lembap seperti kamar mandi, dapur, perabotan rumah tangga, atau di sela-sela lemari baju.

Jamur menggunakan butiran spora untuk berkembang biak. Butiran ini sangat ringan dan berukuran kecil sehingga bisa melayang di udara. Jika Anda memiliki alergi, sistem imun akan menganggapnya sebagai ancaman sehingga bereaksi secara berlebihan.

4. Serbuk sari

Serbuk sari merupakan sarana berkembang biak pohon, rumput, bunga, dan beberapa jenis tumbuhan lain. Seperti spora, ukuran serbuk sari amat kecil sehingga bisa terbawa angin dan berkumpul bersama debu.

Bila terhirup oleh orang yang sensitif, serbuk sari dalam debu bisa memicu reaksi alergi. Reaksi alergi mungkin berbeda tergantung tanaman yang menjadi sumbernya. Walau demikian, gejala yang ringan sekalipun sebaiknya tidak diabaikan.

5. Bulu hewan

Debu terkadang mengangkut bulu hewan yang akan memicu reaksi alergi bila terhirup. Alergi kucing atau hewan lainnya biasanya disebabkan oleh protein dalam sel-sel kulit mati, air liur atau urine yang menempel pada bulu hewan.

Jika Anda memelihara hewan di rumah, pastikan Anda membersihkannya secara rutin. Jangan lepaskan hewan ke dalam kamar tidur. Pisahkan hewan dalam kandang atau ruangan tersendiri agar bulunya tidak menempel di mana-mana.

Faktor-faktor risiko

Siapa yang lebih berisiko terkena alergi debu?

Siapa pun dapat terkena alergi debu. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat Anda lebih berisiko. Berikut di antaranya:

  • Keluarga Anda memiliki riwayat alergi debu, asma, atau jenis alergi lainnya.
  • Anda menderita asma atau jenis alergi lainnya.
  • Masih kanak-kanak.
  • Jarang terkena debu sejak kecil.
  • Sistem kekebalan tubuh Anda lemah.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis alergi debu?

Dokter biasanya mendiagnosis alergi debu dengan bertanya tentang gejala, melakukan pemeriksaan fisik, serta melakukan berbagai tes alergi yang diperlukan. Pertama-tama, dokter akan mempelajari kondisi Anda dengan menanyakan hal berikut:

  • Apa saja tanda dan gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki riwayat alergi dalam keluarga?
  • Apakah Anda menyimpan catatan harian tentang gejala dan pemicu alergi?

Jika Anda dicurigai memiliki alergi debu, dokter akan melanjutkan pemeriksaan dengan beberapa tes berikut:

1. Tes tusuk kulit (skin prick test)

Dokter atau perawat akan meneteskan zat alergen pada kulit Anda, Setelah itu, dokter akan menusuk kulit Anda dengan jarum dan mengamati gejala yang muncul. Apabila muncul bentol atau rasa gatal, kemungkinan Anda mengalami alergi.

2. Tes tempel kulit (patch test)

Pada kasus tertentu, dokter mungkin memilih patch test dengan menempelkan alergen berbentuk koyo pada kulit. Bagian kulit yang ditempeli koyo tidak boleh berkeringat atau terkena air. Setelah dua hari, dokter akan melihat gejala yang muncul pada kulit.

3. Tes darah

Diagnosis terhadap alergi debu juga dapat dilakukan melalui tes darah. Caranya, dokter akan mengambil sampel darah Anda dan membawanya ke laboratorium. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi antibodi Immunoglobulin E yang memicu reaksi alergi.

Obat dan pengobatan

Apa saja pilihan pengobatan yang tersedia?

Seperti pengobatan alergi pada umumnya, alergi debu juga dapat diobati dengan cara alami maupun medis. Cara alami mencakup gaya hidup sehat dan upaya mengurangi alergen di dalam rumah.

Apabila cara alami tidak cukup ampuh, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai. Tergantung kondisi alergi, Anda mungkin perlu mengonsumsi obat-obatan atau menjalani suntik alergi (imunoterapi).

Perlu diketahui bahwa pengobatan terhadap alergi juga bisa menyebabkan alergi. Maka dari itu, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai pengobatan alergi dalam bentuk apa pun.

Berikut jenis pengobatan yang tersedia:

1. Antihistamin

Antihistamin adalah obat pertama yang akan diresepkan dokter untuk perawatan alergi. Obat ini bekerja dengan menghambat kerja histamin, yakni zat kimia yang berperan dalam menimbulkan berbagai gejala alergi saat tubuh terpapar alergen.

Antihistamin tersedia dalam bentuk tablet, tetes mata, dan obat semprot hidung. Anda dapat membelinya dengan ataupun tanpa resep dokter. Selalu ikuti anjuran pemakaian, mengingat obat ini memiliki efek samping berupa rasa kantuk yang kuat.

2. Dekongestan

Dekongestan bekerja dengan mengecilkan pembuluh darah yang membengkak dalam hidung akibat reaksi alergi. Berkat manfaat tersebut, dekongestan sangat efektif untuk meringankan gejala hidung tersumbat serta berair.

Namun, dekongestan tidak bisa diandalkan untuk meredakan gejala lain. Anda mungkin perlu meminum obat alergi kombinasi untuk meredakan beberapa gejala alergi debu sekaligus. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan kombinasi obat yang tepat.

3. Kortikosteroid

Kortikosteroid dapat mengatasi peradangan akibat alergi debu. Obat ini juga membantu meredakan hidung tersumbat, bersin, serta gejala lainnya yang menyerupai pilek. Kortikosteroid tersedia dalam bentuk pil, obat semprot atau cuci hidung, serta krim oles.

Tidak seperti obat lainnya, kortikosteroid harus digunakan atas resep dokter. Pasalnya, pemakaian kortikosteroid secara sembarangan bisa menimbulkan efek samping seperti kulit kemerahan, perubahan mood secara drastis, hingga gangguan hormon.

4. Imunoterapi

Imunoterapi bukanlah obat paten yang bisa menyembuhkan alergi debu. Namun, terapi ini bertujuan untuk ‘melatih’ sistem kekebalan tubuh agar tidak terlalu sensitif terhadap debu. Imunoterapi biasanya dipilih ketika perawatan lain tidak berhasil.

Imunoterapi untuk alergi terbagi menjadi dua jenis, yakni:

  • Terapi alergi subkutan (SCIT). Dokter menyuntikkan alergen pada kulit, lalu mengamati reaksinya. Terapi dilakukan 1-2 kali seminggu dalam 6 bulan hingga beberapa tahun.
  • Terapi alergi sublingual (SLIT). Dokter meneteskan alergen ke bawah lidah, lalu mengamati reaksinya. Terapi dilakukan selama 3-5 tahun.

Setelah jangka waktu tertentu, reaksi alergi yang tadinya parah dapat berkurang. Gejala yang Anda alami bahkan bisa saja hilang sama sekali. Ini adalah tanda bahwa sistem imun Anda sudah lebih toleran terhadap paparan debu.

5. Suntik epinefrin

Epinefrin adalah suntikan yang akan diberikan pada orang dengan riwayat alergi parah atau anafilaksis. Obat ini harus segera disuntikan apabila ada gejala pingsan, tekanan darah rendah, dan juga sesak napas karena dampaknya membahayakan jiwa.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah kambuhnya alergi debu?

Anda memang tidak bisa sepenuhnya menghilangkan debu di dalam rumah. Penyedot debu atau vacuum cleaner pun sering kali tidak cukup ampuh menghilangkan tungau, spora, atau kotoran lainnya yang terkumpul bersama debu.

Meski demikian, ada beragam cara yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi jumlah debu di rumah. Bila jumlah debu berkurang, kemungkinan kambuhnya alergi tentu ikut menurun. Berikut kiat yang bisa Anda terapkan sehari-hari.

  • Rutin mencuci seprai, selimut, sarung bantal, gorden, taplak, serta perabot kain lainnya seminggu sekali menggunakan air panas.
  • Mengganti karpet, gorden, atau taplak perabot rumah tangga setiap dua minggu sekali.
  • Bersihkan perabot keras seperti meja serta pajangan seperti souvenir dan vas dengan lap basah. Lap basah dapat mencegah debu beterbangan di udara.
  • Menggunakan filter HEPA untuk menyaring alergen dengan partikel halus seperti tungau. Ganti filter setiap tiga bulan sekali agar alat tetap berfungsi dengan baik.
  • Tidak menggunakan karpet berbulu, permadani, dan sebagainya.
  • Menjauhkan hewan peliharaan dari kamar tidur dan meletakkan kandang di luar rumah.
  • Menggunakan humidifier untuk menjaga kelembapan di dalam ruangan.

Alergi debu adalah salah satu masalah kesehatan yang paling umum dan sulit dihindari. Pasalnya, Anda tidak bisa sepenuhnya menghilangkan debu yang ada di rumah. Hal ini tentu menjadi masalah bagi orang-orang yang sensitif terhadap debu.

Meski demikian, Anda dapat mencegah kambuhnya alergi dengan mengurangi jumlah debu di rumah. Jika cara ini tidak ampuh mengatasi alergi, diskusikan dengan dokter untuk memperoleh pengobatan yang sesuai.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dust mite allergy – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 24 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dust-mites/symptoms-causes/syc-20352173

Allergies – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 24 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497

Dust Allergy | Causes, Symptoms & Treatment | ACAAI Public Website. (2020). Retrieved 24 August 2020, from https://acaai.org/allergies/types/dust-allergy

Dust Mite Allergy | AAFA.org. (2020). Retrieved 24 August 2020, from https://www.aafa.org/dust-mite-allergy/

Cockroach Allergy | AAFA.org. (2020). Retrieved 24 August 2020, from https://www.aafa.org/cockroach-allergy/

Allergy medications: Know your options. (2020). Retrieved 24 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/in-depth/allergy-medications/art-20047403

When To See An Allergist. (2015). Retrieved 24 August 2020, from https://acaai.org/allergies/allergy-treatment/when-see-allergist

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui kemarin
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x