Mengenal Postpartum Rage, Salah Satu Gejala Postpartum Depression

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 6 Juli 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Minggu-minggu awal kelahiran sang buah hati seharusnya menjadi masa-masa yang membahagiakan bagi orang tua. Sayangnya, hal ini tak dirasakan oleh semua ibu, bahkan beberapa di antaranya ada yang mengalami depresi postpartum.

Umumnya, gejala yang dirasakan berupa cemas dan sedih yang membuat ibu enggan mengurus bayinya. Namun, tak banyak yang tahu bahwa gejala juga bisa ditunjukkan lewat luapan emosi yang sering disebut postpartum rage.

Apa itu postpartum rage?

gejala depresi postpartum

Postpartum rage sebenarnya merupakan bagian dari seangkaian gejala depresi postpartum. Mungkin, beberapa orang berpikir bahwa depresi postpartum sama dengan baby blues.

Memang, keduanya memiliki gejala yang hampir serupa. Ibu yang mengalami baby blues biasanya merasakan gejala seperti suasana hati yang berubah-ubah dengan cepat, menangis, cemas, dan sulit tidur.

Bedanya, bila baby blues hanya berlangsung satu sampai dua minggu, depresi postpartum terjadi lebih dari waktu tersebut dan bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun lamanya terutama bila tidak ditangani.

Selain gejala yang sudah disebutkan, marah juga termasuk salah satunya. Berbagai emosi negatif yang dirasakan saat depresi tentunya lebih intens, sehingga gejala marah yang ditunjukkan pun berbeda dari yang biasa dialami oleh ibu karena hormon kehamilan. Gejala inilah yang kerap disebut postpartum rage.

suka marah

Ibu yang sedang mengalami postpartum rage bisa terpancing emosinya dari hal-hal kecil. Seringnya, gejala ini menyerang saat bayi yang sudah ditidurkan tiba-tiba terbangun kembali di tengah malam, sebagai bentuk frustrasi sang ibu yang waktu tidurnya jadi berkurang.

Tak selalu berhubungan dengan bayi, masalah sepele seperti suami yang lupa mematikan lampu kamar mandi, cucian piring yang menumpuk di dapur, atau terjebak macet di perjalanan pulang juga kerap menjadi pemicu amarah.

Ada kalanya, emosi ini diikuti dengan pikiran yang mengganggu seperti menyakiti bayi atau orang-orang di sekelilingnya untuk melampiaskan amarah.

Postpartum rage umumnya datang tanpa terkendali. Ibu yang mengalami hal ini tidak memahami mengapa mereka bisa merasa sebegitu marahnya.

Mengapa postpartum rage bisa terjadi?

Amarah telah banyak dikaitkan dengan kondisi depresi kronis. Biasanya, ibu yang telah mengalami depresi dari sebelum melahirkan akan lebih rentan mengalami postpartum rage. Selain itu, ibu dengan tingkat pengendalian emosi yang rendah juga dapat memperburuk depresi.

Kemarahan ini juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor lainnya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas British Columbia, ketidakberdayaan dapat menjadi penyebab utama dari munculnya postpartum rage.

Tiga kondisi yang terkait dengan perasaan tidak berdaya meliputi kesulitan ekonomi, konflik pada hubungan suami istri, dan perasaan terjebak pada situasi yang tak diinginkan.

Membesarkan seorang anak tentunya memerlukan biaya. Masalah keuangan membuat kebutuhan bayi jadi sulit terpenuhi. Ketika dukungan dari pasangan tak cukup, ditambah dengan kurangnya pendidikan dan keterampilan kerja yang dimiliki ibu, perasaan putus asa yang semakin menjadi inilah yang akhirnya mendorong amarah.

pasangan perfeksionis

Selanjutnya adalah konflik dengan pasangan. Kekerasan dalam rumah tangga atau kurangnya kontribusi pasangan dalam memberi dukungan emosional, pengasuhan, dan keuangan adalah hal-hal yang memicu ketidakberdayaan.

Depresi juga rentan dialami oleh para ibu yang kehamilannya tak diharapkan. Biasanya hal ini terjadi pada ibu muda ketika pasangannya tak mau bertanggung jawab. Sehingga, kehamilan ini menempatkannya pada situasi sulit yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Selain faktor ketidakberdayaan, postpartum rage juga bisa terjadi karena realita menjadi seorang ibu yang tak sesuai dengan ekspektasi.

Ibu merasa bahwa dirinya telah gagal mencapai standar keibuan yang diidealkan, misalnya ketika ibu tidak berhasil memberikan ASI untuk bayinya. Alasan ini banyak terjadi pada ibu yang baru memiliki anak pertama.

Beberapa hal lain meliputi perbedaan pola asuh dengan mertua, pasangan yang tak bisa memenuhi kebutuhan ibu, serta peristiwa yang membuat stres seperti kehilangan orang terdekat turut menjadi faktor penyumbang amarah yang dirasakan ibu saat mengalami depresi.

Segera cari bantuan pada profesional

Konsultasi psikologis

Kebanyakan ibu enggan untuk mencari pertolongan karena rasa takut akan dicap sebagai ibu yang buruk. Terlebih, citra seorang ibu yang identik dengan sosok hangat dan penyayang membuat banyak orang menganggap amarah menjadi emosi yang sebaiknya tak dilakukan.

Padahal, hal ini bukanlah sesuatu yang memalukan atau bahkan menjadi aib. Ada kalanya ibu merasakan banyak kekhawatiran serta ketakutan akan tak mampu mengurus bayi dengan baik. Semakin lama dibiarkan, nantinya kondisi ini malah akan berdampak buruk untuk kesehatan ibu sendiri.

Oleh karena itu, bila Anda mengalaminya, jangan ragu untuk segera mencari pertolongan kepada orang lain. Anda bisa mendatangi psikolog atau ahli kesehatan jiwa yang telah berlisensi.

Karena postpartum rage berkaitan erat dengan depresi postpartum, pendekatan yang dilakukan akan serupa. Nantinya, Anda diminta untuk memberitahukan gejala-gejala lain yang sekiranya telah mengganggu aktivitas Anda.

ayah asi

Hal ini bisa dilakukan lewat psikoterapi atau terapi bicara. Anda dan terapis akan bekerja sama untuk membuat strategi yang akan dilakukan dalam membantu pengendalian emosi. Dokter juga mungkin akan memberikan obat seperti antidepresan bila perlu.

Beritahukan pada pasangan dan keluarga Anda tentang kondisi yang sedang dirasakan. Memang, rasa takut akan dipandang negatif normal adanya. Namun, dukungan dari orang-orang di sekitar juga dibutuhkan untuk pemulihan Anda.

Selama menjalani proses tersebut, titipkanlah anak Anda pada orang tua, sahabat, atau orang-orang yang terpercaya. Hal ini perlu dilakukan agar Anda bisa mendapat lebih banyak waktu untuk beristirahat. Lakukan juga berbagai aktivitas pendamping lainnya seperti berolahraga ringan dan meditasi.

Ingatlah bahwa Anda bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Yakinkan diri bahwa semuanya akan berangsur baik bila dibarengi dengan usaha dan dukungan untuk melewatinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

depresi pasca melahirkan ayah

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi trauma melahirkan

3 Cara Mengatasi Rasa Takut dan Trauma Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 5 Februari 2019 . Waktu baca 3 menit
baby blues adalah

6 Tips Jitu Mencegah Baby Blues Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2017 . Waktu baca 6 menit
psikosis postpartum

Mirip dengan Depresi Postpartum, Kenali Masalah Psikosis Postpartum

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 1 Januari 1970 . Waktu baca 8 menit