Bagaimana Penyakit Ginjal dan Hipertensi Bisa Berhubungan Erat?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/06/2020
Bagikan sekarang

Ginjal dan peredaran darah adalah dua komponen yang bergantung satu sama lain. Masalah pada peredaran darah, seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi, dapat memicu penyakit ginjal. Sementara penyakit ginjal pun dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Mengapa demikian? Apa hubungan antara hipertensi, ginjal, dan penyakit ginjal?

Pengertian hipertensi, ginjal, dan penyakit ginjal

Sebelum mengetahui apa hubungan antara penyakit ginjal dan hipertensi, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu mengenai kedua istilah tersebut.

Hipertensi

Tekanan darah adalah kekuatan aliran darah yang mendorong dinding pembuluh darah saat jantung memompa darah. Bila terjadi tekanan darah tinggi atau hipertensi, berarti aliran darah Anda mendorong dinding pembuluh darah dengan sangat kuat.

Hipertensi bisa terjadi karena naiknya volume darah atau pembuluh darah yang menyempit. Umumnya, hal tersebut bisa disebabkan oleh gaya hidup yang buruk, seperti mengonsumsi terlalu banyak natrium (garam), merokok, kurang berolahraga, atau stres, serta penyakit tertentu.

Tekanan darah tinggi tidak menimbulkan gejala hipertensi tertentu. Kondisi ini bisa diketahui melalui tes tekanan darah. Adapun tekanan darah yang tergolong hipertensi, yaitu mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

Fungsi ginjal

Ginjal adalah salah satu organ di dalam tubuh Anda yang berperan dalam sistem ekskresi. Setiap harinya, ginjal yang sehat menyaring ratusan liter darah, dengan membuang limbah dan kelebihan air dalam bentuk urin.

Penyaringan ini dilakukan oleh unit-unit kecil di dalam ginjal yang dinamakan nefron. Adapun nefron terdiri dari dua penyaring yang disebut glomerulus dan tubulus.

Setelah disaring oleh nefron-nefron tersebut, urin mengalir dari ginjal ke kandung kemih melalui “pipa” yang disebut ureter. Di kandung kemih inilah urin disimpan dan selanjutnya akan dikeluarkan oleh tubuh melalui “pipa” lain yang disebut uretra.

Selain membuang cairan berlebih dari dalam tubuh, ginjal juga memiliki beberapa fungsi lain, yaitu:

  • Melepaskan hormon yang dapat membantu mengontrol tekanan darah, memperkuat tulang, dan mencegah anemia dengan meningkatkan jumlah sel darah merah di tubuh.
  • Menjaga keseimbangan natrium, kalium, kalsium, dan fosfor dalam darah.
  • Mempertahankan keseimbangan asam dan basa pada tubuh.

Penyakit ginjal

Penyakit ginjal merupakan gangguan fungsi pada organ ginjal. Kondisi ini bisa terjadi bila ginjal Anda rusak karena hal-hal tertentu, seperti diabetes tekanan darah tinggi, atau peradangan pada glomerulus yang disebut glomerulonefritis.

Bila semakin parah, kondisi ini bisa berkembang ke gagal ginjal, yaitu kondisi ketika ginjal Anda sudah tidak bisa bekerja dengan baik dalam membuang cairan berlebih dari dalam tubuh. Bila sudah pada tahap ini, Anda perlu melakukan cuci darah atau transplantasi ginjal untuk dapat bertahan hidup.

Bagaimana hubungan antara hipertensi dan penyakit ginjal?

gejala infeksi ginjal

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hipertensi dan penyakit ginjal saling memengaruhi satu sama lain. Berikut penjelasan lengkapnya mengenai hal tersebut:

1. Hipertensi memicu penyakit ginjal

Tekanan darah tinggi yang tidak segera diatasi dapat memicu komplikasi hipertensi, yang salah satunya adalah penyakit ginjal. Hal ini bisa terjadi karena tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan dan penyempitan pada pembuluh darah.

Bila kerusakan dan penyempitan ini terjadi pada pembuluh darah arteri di sekitar ginjal, aliran darah menuju nefron-nefron pada ginjal menjadi terbatas. Dengan demikian, ginjal menjadi kehilangan kemampuan untuk menyaring darah dan mengatur cairan, hormon, asam, dan garam di tubuh Anda, sehingga menimbulkan penyakit ginjal.

2. Penyakit pada ginjal mengakibatkan hipertensi

Di sisi lain, penyakit ginjal juga bisa menjadi salah satu penyebab hipertensi. Kerusakan pada ginjal atau pembuluh arteri pada ginjal yang menyempit dapat membatasi aliran darah ke ginjal. Kondisi ini memicu peningkatan produksi hormon yang disebut dengan renin.

Adapun kadar renin yang berlebih dapat merangsang produksi senyawa tertentu, seperti molekul protein angiotensin II, yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Selain itu, penyakit ginjal juga menyebabkan ginjal kehilangan kemampuan untuk membuang cairan berlebih di dalam tubuh. Adapun cairan yang berlebih di dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah.

3. Kerusakan ginjal dan hipertensi menimbulkan gagal ginjal

Selain saling memengaruhi satu sama lain, penyakit ginjal dan hipertensi pun bisa menimbulkan kondisi kesehatan ginjal yang semakin parah. Penyakit pada ginjal dan hipertensi yang tidak terkontrol masing-masing menyebabkan dampak negatif satu sama lain. Arteri yang rusak dan menyempit akibat hipertensi bersamaan dengan gangguan fungsi ginjal dapat menimbulkan penyakit gagal ginjal.

Apa tanda-tanda orang yang mengalami hipertensi dan penyakit ginjal?

Tekanan darah tinggi umumnya tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala hipertensi khusus. Gejala yang timbul pada penderita darah tinggi  terjadi bila kenaikan tekanan darahnya sudah sangat tinggi dan berkembang pada jenis hipertensi lain, yaitu krisis hipertensi.

Serupa dengan hipertensi, penyakit ginjal pada tahap awal pun tidak menimbulkan tanda dan gejala yang berarti. Bila sudah lebih parah, penderita penyakit ginjal umumnya akan mengalami pembengkakan atau edema pada beberapa bagian tubuh. Edema ini terjadi karena ginjal tidak dapat mengeluarkan cairan berlebih atau garam dari dalam tubuh.

Begitu penyakit ginjal dan hipertensi mulai semakin parah, berikut tanda dan mungkin muncul:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual
  • Muntah-muntah
  • Mengantuk atau merasa lelah
  • Gatal-gatal atau keram
  • Kulit kering
  • Sakit kepala
  • Berat badan menurun
  • Warna kulit menjadi lebih gelap
  • Keram otot
  • Napas menjadi pendek-pendek
  • Sakit pada dada

Bagaimana mendiagnosa penyakit ginjal dan hipertensi?

cek penuaan dengan tes urine

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa penyakit ginjal dan kaitannya dengan tekanan darah tinggi:

1. Pengukuran tekanan darah

Untuk mengetahui apakah Anda mengalami penyakit ginjal dan hipertensi, dokter akan melakukan pengukuran tekanan darah. Anda akan didiagnosa memiliki hipertensi bila tekanan darah Anda secara konsisten diatas 140/90 mmHg.

2. Tes urin

Setelah mengukur tekanan darah Anda, umumnya dokter akan meminta Anda melakukan serangkaian tes lain, untuk mengetahui apakah ada penyakit ginjal pada diri Anda. Salah satu tes yang perlu dilakukan terkait hal ini, yaitu tes urin.

Tes urin dilakukan untuk mengecek apakah terdapat albumin pada urin Anda. Albumin adalah protein dalam darah yang bisa jadi tidak tersaring oleh ginjal saat ginjal mengalami kerusakan. Albumin di dalam urin menandakan Anda mengalami penyakit ginjal.

3. Tes darah

Untuk mendiagnosis penyakit ginjal dan hipertensi, tes darah ini biasanya dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak darah yang dapat disaring oleh ginjal per menit, yang dinamakan estimated glomerular filtration rate (eGFR).

Bila GFR Anda terlalu rendah, itu berarti ginjal Anda tidak berfungsi dengan baik untuk mengeluargkan limbah dan cairan berlebih dari dalam tubuh.

Bagaimana mencegah serta mengatasi penyakit ginjal dan hipertensi?

Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi dan mencegah hipertensi dan penyakit ginjal secara bersamaan. Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah rutin cek tekanan darah. Bila perlu, lakukan cek tekanan darah di rumah agar lebih mudah dalam memantau perkembangan kesehatan Anda.

Selain itu, konsumsi obat darah tinggi sesuai dengan resep, dosis, dan ketentuan dari dokter. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease (NIDDK) menyebut, ada dua jenis dari obat yang dapat menurunkan tekanan darah sekaligus memperlambat perkembangan penyakit ginjal, yaitu angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors dan angiotensin receptor blockers (ARB). Konsultasikan dengan dokter mengenai obat yang tepat.

Anda pun perlu ingat untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat, seperti diet hipertensi dengan mengurangi asupan garam dan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, aktif bergerak atau berolaraga secara rutin, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, mengelola stres dengan cara yang sehat, serta membatasi konsumsi alkohol.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Anak-anak mungkin mengalami tekanan darah tinggi. Orangtua dapat mengukur tekanan darah anak di rumah dengan panduan berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Bagaimana Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Bisa Memicu Hipertensi?

Menurut penelitian di tahun 2018, keadaan post-traumatic stress disorder yang dimiliki seseorang bisa memicu naiknya risiko hipertensi.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Tidur Siang Baik untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Sebuah studi menyatakan bahwa tidur siang dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Simak selengkapnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

4 Tips Mudah Mengurangi Makan Garam Agar Tak Kena Hipertensi

Katanya, makanan tanpa garam tak sedap. Namun, jika makan garam terlalu banyak bikin tekanan darah naik. Lalu, bagaimana cara mengurangi makan garam?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M

Direkomendasikan untuk Anda

senam hipertensi

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
pantangan darah tinggi

11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020
tekanan darah tinggi saat puasa

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020
vaksin untuk pasien ginjal

Mengapa Pasien Ginjal Perlu Diberikan Vaksin Tertentu? Ini Penjelasannya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020