Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Berbeda dengan kebanyakan negara yang menerapkan lockdown, Swedia menjadi satu-satunya negara yang mengandalkan herd immunity untuk menghadapi pandemi COVID-19. Negara ini membiarkan tempat-tempat bisnis dibuka dan tidak mendorong warganya untuk tetap di rumah.

Strategi herd immunity atau kekebalan kelompok diyakini dapat melindungi masyarakat Swedia yang berisiko terjangkit COVID-19. Ahli epidemiologi dari Agensi Kesehatan Masyarakat Swedia, Anders Tegnell, bahkan menyatakan bahwa sekitar 20% populasi Stockholm kini kebal terhadap COVID-19. Benarkah demikian?

Apa itu herd immunity?

Injeksi vaksin hepatitis B sebagai vaksin pengganti hepatitis D

Herd immunity merupakan kondisi ketika sebagian besar orang dalam suatu kelompok kebal terhadap penyakit tertentu. Kekebalan ini umumnya berlaku pada penyakit infeksi seperti cacar, polio, gondongan, hingga COVID-19.

Kekebalan kelompok bisa melindungi orang yang tidak punya kekebalan dari penyakit infeksi tertentu. Contohnya, bila sebagian besar warga wilayah A kebal dari virus cacar, mereka tidak akan terjangkit cacar ataupun menularkan penyakit kepada warga yang tidak kebal.

Suatu populasi dikatakan memiliki herd immunity jika 70-90% warganya kebal terhadap suatu penyakit. Angkanya ditentukan dari seberapa cepat penyakit tersebut menular. Semakin banyak orang yang kebal, semakin baik bagi kelompok tersebut.

Ada dua cara untuk mencapai herd immunity. Cara pertama adalah vaksinasi. Vaksin mengandung bibit penyakit yang dilemahkan. Setelah memasuki tubuh, bibit ini akan memancing pembentukan kekebalan tubuh, tapi tidak sampai membuat Anda sakit.

Cara kedua adalah dengan sembuh dari penyakit. Inilah yang diterapkan Swedia untuk mendapatkan herd immunity demi mencapai akhir pandemi COVID-19. Setelah sembuh, tubuh akan memiliki kekebalan sehingga tidak terjangkit untuk yang kedua kalinya.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Apakah Swedia sudah kebal terhadap COVID-19?

Otoritas kesehatan Swedia cukup percaya diri bahwa Stockholm, ibukota Swedia, akan mencapai herd immunity pada akhir bulan Mei. Mereka meyakini kekebalan pada 60% populasi sudah cukup untuk menangkal penularan COVID-19.

Namun, Tegnell justru menyatakan sebaliknya. Menurut penyelidikan sejauh ini, tingkat kekebalan Stockholm masih kurang dari 30 persen. Laporan terbaru pun menyebutkan baru ada 7,3% warga Stockholm yang memiliki antibodi untuk melawan COVID-19.

Studi tersebut juga menemukan bahwa kematian akibat COVID-19 di Swedia mencapai 39,57 per 100.000. Angka ini lebih tinggi daripada Amerika Serikat (30,02 per 100.000) yang total kasusnya kini paling tinggi di seluruh dunia.

Dibandingkan dengan tetangganya, Norwegia (4,42 per 100.000) dan Finlandia (5,58 per 100.000), angka kematian di Swedia puluhan kali lipat lebih tinggi. Kedua negara ini menerapkan lockdown secara ketat sehingga dapat menekan angka kematian.

Perjalanan Swedia untuk mencapai herd immunity terhadap COVID-19 masih sangat panjang. Strategi herd immunity memang efektif untuk penyakit infeksi yang tidak terlalu mematikan. Masalahnya, angka kematian akibat COVID-19 belum dapat dipastikan.

herd immunity coronavirus

COVID-19 juga menyebabkan komplikasi yang berbahaya, dari pneumonia, kerusakan paru, hingga kegagalan organ yang berakibat fatal. Tanpa upaya pencegahan, pasien COVID-19 akan membludak di rumah sakit sehingga pasien dengan komplikasi tidak bisa mendapatkan perawatan intensif.

Selain itu, virus tertentu terkadang bermutasi sehingga kekebalan yang sudah terbentuk mungkin hanya bertahan sementara. Virus flu yang termasuk coronavirus contohnya, bermutasi setiap tahun sehingga Anda perlu melakukan vaksinasi flu setahun sekali.

Apabila SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 juga bermutasi dengan cara yang sama, herd immunity mungkin hanya akan membuat Anda kebal selama beberapa bulan atau tahun. Namun, Anda tidak akan kebal selamanya.

Herd immunity mungkin efektif dalam beberapa kasus, tapi Swedia saat ini menghadapi COVID-19 yang belum sepenuhnya dipahami. Jika tidak diimbangi langkah pencegahan dan physical distancing, risiko penularan dan kematian tentu semakin besar.

Waspadai Risiko Penularan COVID-19 di Kendaraan Umum

Bisakah Indonesia mencapai herd immunity?

iritasi karena masker

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk COVID-19. Para peneliti di seluruh dunia pun masih menguji puluhan kandidat vaksin COVID-19 untuk mencari yang terbaik. Oleh sebab itu, pembentukan herd immunity dengan vaksinasi belum memungkinkan.

Mencapai herd immunity dengan cara yang ditempuh Swedia tampaknya juga bukan pilihan yang tepat. Pasalnya, angka kasus dan kematian di Indonesia masih menanjak setiap hari sekalipun dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Tanpa adanya pembatasan, angka positif di Indonesia bisa meroket hingga melampaui kapasitas rumah sakit. Hal ini tentu berbahaya bagi kelompok berisiko seperti lansia, orang dengan sistem imun yang lemah, serta mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Para peneliti masih perlu mengembangkan vaksin COVID-19 dan belajar lebih banyak tentang penyakit ini sebelum dapat mencapai herd immunity dengan cara yang aman. Saat ini, langkah yang bisa Anda lakukan adalah mencuci tangan, menerapkan physical distancing, dan menjaga kesehatan untuk mencegah penularan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit