7 Penyakit yang Tidak Bisa Dideteksi Lewat Pap Smear

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23/03/2020
Bagikan sekarang

Pap smear adalah serangkaian tes yang dilakukan untuk  mendeteksi sel-sel yang berpotensi untuk tumbuh menjadi kanker serviks. Tes ini dilakukan dengan mengambil bagian sel yang berada di sekitar permukaan leher rahim. Umumnya, wanita dianjurkan untuk melakukan pap smear secara teratur mulai usia 21 tahun. Pap smear biasanya ditujukan pada wanita yang telah menikah atau aktif secara seksual. Hal ini dikarenakan mereka yang aktif secara seksual, terlebih bagi yang sering berganti pasangan, berisiko tinggi terkena kanker atau infeksi.

Anda juga perlu tes yang lebih sering jika dinyatakan positif HIV dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena berbagai hal. Biasanya Anda dianjurkan untuk tetap melakukan pap smear meskipun memiliki hubungan dengan satu pasangan. Hal ini dikarenakan virus HPV yang menjadi penyebab kanker serviks bisa jadi ada di tubuh Anda, tapi sedang memasuki masa laten atau terselubung sehingga belum memunculkan gejala. 

Namun, tidak semua penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan kelamin dapat dideteksi menggunakan pap smear.
Berikut penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat pap smear:

1. Kanker ovarium

Kanker ovarium termasuk ke dalam penyakit kanker yang jarang terjadi dibanding jenis kanker yang lain. Namun, jenis kanker ini tidak bisa Anda sepelekan karena bisa jadi Anda berisiko terkena kanker ovarium. Untuk itu, Anda bisa mengonsultasikannya pada dokter kandungan. Masalahnya adalah tidak seperti kanker serviks yang bisa dideteksi melalui sel prakanker, kanker ovarium tidak bisa dideteksi dengan cara yang sama.

Jarang sekali sel kanker ovarium bisa dideteksi dengan tes pap smear. Jika sel kanker ovarium bergerak menjauh dari ovarium Anda melalui tuba falopi dan rahim ke daerah sekitar leher rahim Anda, sel kanker ovarium dapat dikumpulkan selama tes pap smear. Namun, ini jarang terjadi. Maka pap smear bukanlah tes yang andal untuk kanker ovarium.

Sayangnya, belum ada tes untuk mendeteksi kanker ovarium. Peneliti belum menemukan alat skrining yang cukup sensitif untuk mendeteksi kanker ovarium pada tahap awal dan cukup spesifik untuk membedakan kanker ovarium dari kondisi non-kanker lainnya.

2. Klamidia

Klamidia merupakan salah satu penyakit seksual menular yang paling umum terjadi. Di Indonesia sendiri sekitar 150 ribu kasus terdeteksi tiap tahunnya. Orang yang terinfeksi klamidia umumnya tidak menunjukkan gejala awal apa pun sampai ketika memeriksakan diri ke dokter. Namun, pada wanita umumnya jika sudah terinfeksi cukup lama akan memiliki efek di antaranya cairan keputihan yang berbau, perdarahan di luar masa menstruasi, menstruasi yang sangat menyakitkan, sakit ketika berhubungan seks, hingga rasa gatal dan panas di sekitar vagina. 

Jika Anda aktif secara seksual dan berusia di bawah 25 tahun, National Chlamydia Screening Programme (NSCP) merekomendasikan Anda harus diuji klamidia setiap tahunnya, atau saat Anda berganti pasangan seksual. Ada dua cara untuk menguji chlamydia yakni menggunakan sampel urin dan mengambil selaput dari serviks. Walaupun menggunakan selaput dari serviks, klamidia tidak bisa dideteksi lewat pap smear.

Elizabeth Etkin Kramer, MD., dokter kandungan di Florida, Amerika Serikat, mengatakan bahwa serangkaian antibiotik dapat membersihkan infeksi bakteri ini. Oleh karena itu sampel yang diambil dari dalam vagina Anda yang diambil selama pemeriksaan panggul dan tes urine sangat penting untuk mendeteksi infeksi ini.

3. Gonore

Gonore termasuk ke dalam penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Biasanya cenderung menginfeksi daerah lembab yang hangat seperti uretra, anus, vagina, tuba falopi, serviks, uterus hingga tenggorokan. Gonore akan menunjukkan gejala awalnya setelah 14 hari terinfeksi. Namun, seperti kebanyakan penyakit seksual lainnya, gonore tidak begitu menunjukkan gejala yang terlihat. Oleh karena itu penting untuk melakukan pengujian pada gonore.

Dokter tidak menggunakan pap smear sebagai pemeriksaan gonore. Sampel sel yang dikumpulkan saat tes urine bisa membantu mengenali bakteri dalam uretra Anda. Dokter juga menggunakan tes seperti swab tenggorokan, uretra, vagina, atau rektum (dubur) Anda, untuk mendeteksi bakteri ini. 

4. Trikomoniasis

Trikomoniasis adalah penyakit infeksi kelamin akibat parasit protozoa yang disebut Trichomonas vaginalis. Infeksi ini tidak fatal tetapi dapat memicu komplikasi seperti ketidaksuburan dan infeksi jaringan kulit vagina (selulitis) pada wanita. Infeksi pada masa kehamilan dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir yang ringan.

Wanita dapat mengalami gejala umum, seperti vagina bau tak sedap atau cairan vagina berwarna hijau, cairan berbuih, rasa gatal, dan bengkak pada vagina. Gejala lain berupa rasa sakit saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil. 

Dokter akan memeriksa vagina untuk mengambil sampel. Diagnosis akan dipastikan ketika parasit ditemukan pada sampel saat diperiksa dengan mikroskop. Diagnosis lain adalah dengan cara membiakkan parasit. Hasil dapat terlihat setelah pembiakkan berkisar 3 hingga 7 hari. Tes darah juga memungkinkan untuk mendiagnosis parasit.

pap smear dan tes iva deteksi kanker serviks

5. Sipilis (raja singa)

Sipilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri yang dapat menginfeksi kulit, mulut, alat kelamin, serta sistem saraf. Sipilis dikenal juga dengan nama raja singa. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Infeksi biasanya terjadi karena adanya kontak seksual. Dalam kasus yang sangat jarang ditemukan, bakteri bisa melewati celah atau luka pada kulit setelah menyentuh orang yang terinfeksi sipilis. 

Dokter dapat memperkuat diagnosis berdasarkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan tubuh pasien dengan memperhatikan organ seks, mulut, dan anus. Jika terdapat tanda penyakit sekecil apa pun, sebentuk kecil irisan jaringan atau cairan penyakit akan segera diteliti untuk mengetahui jenis bakteri menggunakan mikroskop lapang gelap (dark-field microscope).

Sebuah tes darah, dikenal sebagai VDRL, dilakukan untuk menentukan apakah terdapat antibodi (zat yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi dari bakteri Treponema pallidum) dalam darah. Tidak sampai di situ, dokter juga akan menguji pasangan seksual Anda.

6. Herpes genital

Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV). Biasanya ditandai dengan bentol-bentol berair pada alat kelamin, anus, atau mulut. Herpes genital dapat menyebar melalui sentuhan, namun lebih sering menyebar melalui hubungan seksual. Orang dengan herpes kelamin didiagnosis dengan beberapa tes, yaitu:

  • Pemeriksaan kultur virus. Pemeriksaan ini menggunakan sampel dari ulkus di kulit atau sariawan untuk mengkonfirmasi adanya virus herpes.
  • Tes Polymerase chain reaction (PCR). Tes ini memeriksa DNA Anda dari sampel darah untuk memastikan adanya HSV dan menentukan tipenya.
  • Pemeriksaan darah. Tes ini untuk memeriksa antibodi HSV, yang mendeteksi adanya infeksi virus herpes sebelumnya.

Karena itu, deteksi atau diagnosis herpes dengan pap smear tidak dibenarkan.

7. Polycystic ovary syndrome (PCOS)

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah kelainan hormonal yang umum terjadi pada wanita di usia subur. Wanita dengan PCOS mungkin menstruasinya tidak teratur atau berkepanjangan atau memiliki kadar hormon laki-laki (androgen) yang berlebihan.

Penyebab pasti PCOS tidak diketahui. Diagnosis dan pengobatan dini bersamaan dengan penurunan berat badan dapat mengurangi risiko komplikasi jangka panjang seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Deteksi PCOS dilakukan dengan melakukan ultrasound (USG). Dari situ, dokter akan memeriksa apakah ovulasi Anda normal berdasarkan pengamatan. Karena itu, pap smear tidak bisa mendeteksi penyakit PCOS. 

Satu hal yang penting diingat. Meski tidak semua penyakit bisa dideteksi dengan pap smear, melakukan pap smear sangat penting sebagai deteksi dini kanker serviks agar tidak menyesal di kemudian hari.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Kurma bukan satu-satunya buah yang baik dimakan saat berbuka puasa. Lihat berbagai pilihan lainnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Monika Nanda
Hari Raya, Ramadan 14/05/2020

7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

Jangan sampai karena puasa Anda jadi lemas, lesu, dan mudah sakit. Simak rutinitas yang bisa dilakukan agar tetap fit saat puasa.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hari Raya, Ramadan 09/05/2020

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Pernahkah Anda sakit perut setelah buka puasa? Bisa jadi ini karena pengaruh makanan yang Anda konsumsi saat berbuka. Apa lagi sebab lainnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan 07/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan diet sehat untuk menurunkan berat badan, cara diet sehat, menu diet sehat, makanan diet sehat, diet sehat alami

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020