4 Penyebab Anda Mengalami Mimpi Buruk

Oleh

Lihat kanan-kiri, Anda tersenyum puas. Sejauh mata memandang, Anda berhadapan dengan hamparan luas gelungan ombak yang menyapa kemilau pasir pantai. Hangatnya sinar matahari membilas wajah, ditemani semilir angin sejuk yang bertiup di antara sela jemari. Di ujung pandang, mercusuar megah berdiri kokoh, berkilauan bermandikan sinar matahari seakan merayu Anda untuk mendekat. Anda merasa sentuhan lembut di punggung. Seseorang yang akrab berbisik di telinga Anda dan berkata, — Ayo kita ke sana, dan Anda tersenyum, mengangguk mengiyakan. Sekelompok anak kecil bersiul dan riuh bertepuk tangan.

Tangan yang sama yang tadi menyentuh Anda kini membelai rambut Anda penuh kasih sayang, bertautan dengan jari-jemari Anda dan menggenggamnya erat. Memandu Anda berjalan melalui jalan setapak yang dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran. Bunga-bunga itu berubah menjadi akar menjalar. Melilit Anda, menyesakkan dada. Membungkam bicara. Anda menggeliat berusaha lepas, lemas tak berdaya.

Di pojok mata, Anda melihat kelompok anak kecil tadi. Satu langkah, Anda yakin mereka akan menyelamatkan Anda. Dua-tiga-empat langkah semakin cepat, Anda kini melihat dengan sangat jelas tubuh anak-anak kecil itu sudah membusuk di berbagai tempat, baju compang-camping, diikuti oleh puluhan lainnya di belakang mereka. Mereka mati. Mayat hidup. Haus darah. Berlarian menuju Anda. Anda merasa sentuhan lembut di bahu. Susah payah, Anda menoleh. Berharap bantuan datang. Sosok itu, suara familiar itu — sang pujaan hati, sehidup semati — wajahnya membusuk di sana- sini, mulutnya menganga lebar, gigi tanggal, bau daging busuk menyengat semerbak dari mulutnya. Ia mati. Mayat hidup. Haus darah. Lima centimeter dari wajah Anda. Sedikit lagi…

Anda bangun dengan jantung berdebar-debar, rambut kusut, keringat mengalir deras di leher Anda, dan mungkin bahkan dengan teriakan. Jam di dinding menunjukkan waktu 3 pagi. Mimpi buruk.

Apa yang menyebabkan mimpi buruk?

Mimpi buruk bisa terasa sangat nyata dan mendetail, sehingga menyebabkan kita dalam keadaan panik dan ketakutan saat terbangun. Anda selama ini mengira bahwa mimpi buruk hanya terjadi pada anak-anak. Dan memang, sebagian besar anak-anak mengalami mimpi buruk; sekitar 10-50 persen anak usia 5-12 tahun mengalami mimpi buruk yang cukup parah, menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM), dilansir dari Medical Daily.

Mimpi buruk anak umumnya berasal dari mendengarkan cerita atau menonton acara TV atau film yang menakutkan. Mimpi buruk akan berangsur menghilang seiring anak tumbuh dewasa, tetapi 85 persen orang dewasa masih mengalami mimpi buruk — 8-29 persen orang mengklaim memiliki mimpi buruk sebulan sekali, dan 2-6 persen mengalami mimpi buruk di satu malam setiap minggunya. Apa alasannya?

Mimpi buruk pada orang dewasa

Bermimpi sebenarnya adalah sebuah proses berpikir; kelanjutan dari kereta pikiran kita selama seharian kita beraktivitas. “Mimpi buruk adalah ketika kita berpikir tentang masalah-masalah menyulitkan selama REM (Rapid Eye Movement) dan mencoba untuk membereskan mereka. Kita sering mencoba untuk mengabaikan masalah sulit yang mengganggu kita di siang hari, tapi ketika kita tidur dan dipaksa untuk ‘menyendiri’ di dalam kepala kita sendiri, otak akan membahas masalah sulit ini,” ujar Lauri Quinn Loewenberg, seorang analis mimpi profesional dan penulis Dream On It, Unlock Your Dreams Change Your Life.

Konflik yang belum terselesaikan bukan satu-satunya penyebab mimpi buruk pada orang dewasa. Anda dapat memiliki mimpi buruk setelah dipicu oleh sejumlah hal yang Anda lakukan atau temui di saat Anda terbangun seharian, seperti:

1. Makan sebelum tidur

Makan makanan atau makanan ringan yang tinggi karbohidrat mendekati jam tidur malam bisa meningkatkan aktivitas otak dan metabolisme tubuh. Meningkat kedua aktivitas tubuh ini mengarah ke kinerja otak yang berlebihan selama dalam tidur REM, mendorong lebih mimpi. Satu studi tidur dari Kanada, dilansir dari Mental Floss, menunjukkan bahwa dari 389 subyek, 8,5 persen menyalahkan serangan mimpi buruk pada makanan yang mereka kudap sebelum tidur.

Ahli biokimia di Universitas Australia dari Tasmania melakukan studi di mana mereka menambahkan mustard dan saus Tabasco ke piring makan enam subyek laki-laki dewasa muda yang sehat. Rasa pedas dari bumbu ditemukan meningkatkan suhu tubuh selama siklus tidur pertama, juga meningkatkan total waktu siaga dan menyebabkan kegelisahan menjelang tidur di kesemua subyek penelitian.

Makanan pedas bukan hanya satu-satunya pelaku harus diwaspadai. Sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Journal of the Mind and Body menyatakan bahwa junk food — studi menggunakan es krim dan permen sebagai pemicu dalam eksperimen tersebut — memicu lebih banyak aktivitias gelombang otak, menyebabkan tujuh dari sepuluh peserta untuk mengalami mimpi buruk.

Jika Anda menyadari mimpi buruk timbul lebih sering setelah camilan tengah malam Anda, buat peraturan untuk tidak ngemil lagi setelah makan malam, atau setidaknya menghindari makanan berat sebelum tidur.

2. Efek samping obat

Obat yang mempengaruhi zat kimia dalam otak (seperti antidepresan), serta beberapa obat tekanan darah, telah dikaitkan dengan timbulnya mimpi buruk sebagai efek samping. Bicarakan dengan dokter Anda untuk melihat apakah obat yang berbeda atau perubahan gaya hidup mungkin menjadi alternatif yang lebih baik. Jika Anda tidak memiliki pilihan lain selain obat itu, maka Anda harus mempertimbangkan pro dan kontra dengan dokter Anda — dalam beberapa kasus, mungkin layak untuk sementara “hidup” bersama mimpi buruk jika obat tersebut membantu Anda menaklukkan kondisi serius.

3. Kurang tidur

Kurang tidur menyebabkan mimpi buruk, dan mimpi buruk menyebabkan Anda sulit tidur — sebuah lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Jika Anda menyadari mimpi buruk timbul lebih sering saat tidur setelah menghabiskan berhari-hari dengan begadang, pastikan untuk melakukan kebersihan tidur yang tepat (seperti beristirahat sejenak sebelum tidur dengan melakukan teknik bernapas atau memastikan kamar tidur Anda cukup dingin) untuk meningkatkan peluang tidur nyenyak.

3. Masalah psikologis

Kecemasan, stres, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), bahkan ketakutan setiap hari (dari ketakutan mempermalukan diri sendiri di depan umum, kematian anggota keluarga, hingga kecelakaan bermotor) dan sekadar menonton film horor; semua ini dapat memicu Anda bermimpi buruk. Tetapi akar dari penyebab mimpi buruk dapat dikaitkan dengan masalah dari masa lalu.

Konflik yang belum terselesaikan tidak hilang begitu saja dari pikiran, mereka terpendam dalam benak dan membentuk kepribadian kita. Trauma masa kecil dapat menyebabkan perasaan tidak aman atau terus mencari pembenaran diri, dan merasa seperti Anda terus-menerus diserang jika Anda menerima kritik. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup kita, baik dulu dan sekarang, tidak hanya memiliki pengaruh pada kehidupan kita tetapi dalam mimpi kita juga.

Jika Anda stres hebat, konsultasikan dengan dokter Anda tentang mekanisme cara mengatasi masalah, termasuk perubahan gaya hidup, konseling psikologis, dan/atau obat-obatan.

4. Gangguan tidur

Masalah tidur seperti sleep apnea dan sindrom kaki gelisah dapat menyebabkan Anda mengalami mimpi buruk kronis yang berulang. Tanyakan kepada dokter Anda tentang pilihan pengobatan jika Anda menderita gangguan tidur, karena pengobatan dapat membantu meningkatkan kualitas tidur Anda dan juga memperbaiki mimpi buruk.

Otak, “sutradara” mimpi buruk Anda

Mimpi buruk, dan mimpi pada umumnya, terjadi selama tahap tidur rapid eye movement (REM). Tidur REM terjadi setiap 90 menit pada malam hari, dan berhubungan dengan aktivitas otak yang tinggi, gerakan mata yang cepat dan aktivitas motorik yang “dilumpuhkan”. Tergantung pada berapa lama Anda tidur, tubuh Anda akan melalui 4-6 siklus tidur dalam semalam, dan tahap REM akan semakin panjang dengan masing-masing siklus tidur. Kebanyakan mimpi buruk terjadi selama sepertiga terakhir tidur malam Anda.

Amigdala, area depan otak yang berperan dalam pengolahan dan ingatan terhadap reaksi ketakutan dan kemarahan, adalah sosok yang menyutradarai mimpi buruk Anda. Hasil pemindaian otak saat bermimpi menunjukkan aktivitas amigdala yang sangat aktif selama REM. Hal ini, ditambah dengan peran dari faktor-faktor lain yang telah disebutkan di atas, mungkin menjelaskan mengapa amigdala yang hiperaktif selama REM dapat menghasilkan reaksi ketakutan yang dialami oleh pemimpi dalam bawah sadarnya.

“Setelah kita memasuki tidur REM, ketika bermimpi berlangsung, otak bekerja secara berbeda (sebagian dari otak menjadi “mati” sementara yang lainnya menjadi sangat aktif), jadi tubuh bukannya berpikir dalam istilah dan kata secara harfiah, Anda malah berpikir dalam lambang, gambar, dan simbol sebagai ungkapan perasaan dari lubuk hati paling dalam,” ujar Loewenberg.

Dalam rangka memiliki pemahaman yang lebih baik dari mimpi-mimpi kita, kita harus mulai untuk mengatasi masalah yang mengganggu kita di siang hari. “Kita berbicara dengan diri kita sendiri sepanjang hari saat terjaga. Kebiasaan ini tidak berubah saat kita tidur,” kata Loewenberg. Ia menyarankan, “Terlibatlah dalam momen perenungan yang lebih baik dengan diri Anda saat terjaga, yang akan memastikan mimpi yang lebih baik di malam hari.”

BACA JUGA:

Sumber