Obat Kortikosteroid, Apa Manfaatnya dan Apa Efek Sampingnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 07/09/2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar tentang obat kortikosteroid? Atau, Anda lebih familiar dengan nama-nama ini: dexamethasone, prednisonmetilprednisolonhidrokortison, betametason, triamsinolon, dan mungkin pernah mengonsumsinya atas alasan tertentu. Kesemua obat-obatan ini tergolong dalam kategori obat kortikosteroid yang mampu mengatasi banyak masalah kesehatan. Tapi di balik khasiatnya yang multi fungsi, kortikosteroid menyembunyikan beberapa efek samping yang perlu diwaspadai. Apa saja baik-buruknya obat sejuta umat ini? Baca selengkapnya di sini.

Manfaat obat kortikosteroid untuk berbagai kondisi kesehatan

Kortikosteroid itu sendiri sebenarnya adalah sekumpulan hormon yang diproduksi oleh tubuh manusia di kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Hormon ini berfungsi dalam pengaturan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, regulasi cairan tubuh, sistem pertahanan tubuh, dan pembentukan tulang.

Sementara itu, obat kortikosteroid biasanya digunakan untuk gangguan produksi hormon oleh kelenjar adrenal yang mengakibatkan tubuh kekurangan hormon steroid. Kondisi lain yang sering diobati dengan kortikosteroid antara lain adalah keluhan seperti kulit bengkak, gatal-gatal, kemerahan dari reaksi alergi, flu, pegal-pegal, asma akibat alergi, mata merah (konjungtivitis alergi), penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, peradangan sistemik seperti lupus, transplantasi, pembengkakan otak, dan masih banyak lagi. Bentuknya pun bermacam-macam, dari tablet, sirup, inhaler, nasal spray, injeksi hingga krim, lotion dan gel.

Jika Anda diminta oleh dokter untuk menggunakan obat kortikosteroid dalam jangka panjang, Anda akan diminta untuk mengatur pola makan sebagai berikut.

  • Mengurangi jumlah garam dan natrium
  • Menghitung jumlah kalori agar tidak naik berat badan
  • Menambahkan asupan protein

Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif dari kemungkinan munculnya efek samping yang berbahaya.

Efek samping yang mungkin muncul dari obat kortikosteroid jika dipakai berlebihan

Penggunaan kortikosteroid pada pasien harus dipertimbangkan dan didosis dengan baik. Pasalnya, obat ini memiliki daftar efek samping yang lumayan panjang kalau digunakan sembarangan. Penggunaan obat yang rutin lebih dari 2 minggu dapat menyebabkan timbul efek samping yang serius. Oleh karena itu, kebanyakan dari obat jenis ini harus ditebus pakai lewat resep dokter dan jarang ada yang dijual bebas.

Menurut NHS, efek samping yang umum timbul setelah menggunakan obat kortikosteroid adalah peningkatan nafsu makan, perubahan mood, hingga sulit tidur. Jika penggunaan obat terus dilanjutkan dengan dosis yang semakin meningkat, efeknya mulai dari perasaan lemas, tekanan darah rendah (hipotensi), hingga kadar gula darah rendah (hipoglikemia). Jika tidak tertangani, sekelompok gejala ini bisa berujung pada kematian.

Efek samping yang timbul pun akan tergantung dari jenis obat apa yang Anda gunakan. Biasanya, penggunaan secara sistemik (berbentuk tablet atau suntikan) menyebabkan efek samping yang lebih besar. Efek samping kortikosteroid sistemik termasuk hipertensi, peningkatan gula darah, diabetes, tukak lambung, perdarahan saluran cerna, luka yang lama sembuh, kekurangan kalium, osteoporosis, glaukoma, kelemahan otot, hingga penipisan kulit.

Sementara itu, efek samping dari kortikosteroid lokal juga bermacam-macam tergantung dari metode pemakaian (inhalasi atau salep). Efek samping kortikostreoid lokal meliputi berbagai gejala di atas, termasuk juga sariawan, mimisan, batuk, infeksi jamur di mulut, warna kulit memucat, hingga suara serak dan peningkatan risiko infeksi kulit. Pada kasus yang lebih berat, penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan sindrom Cushing dan peningkatan risiko infeksi pneumonia pada pasien penyakit paru obstruktif kronik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020 . Waktu baca 6 menit

Beragam Penyebab Hidung Meler Terus Padahal Tidak Sedang Flu

Tidak selamanya hidung berair atau meler merupakan tanda Anda sedang sakit flu. Berikut penyebab hidung sering meler yang perlu diketahui.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Batuk, Health Centers 13/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Ingin Warnai Rambut? Hati-hati, Kenali Dulu Gejala Alergi Cat Rambut

Alergi cat rambut terkadang dapat berakibat fatal. Ini sederet gejala alergi yang harus Anda waspadai sebelum menggunakan cat rambut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 13/05/2020 . Waktu baca 5 menit

Teknik Latihan Pernapasan untuk Mengurangi Gejala Asma

Oang dengan asma memiliki saluran pernapasan yang menyempit dan meradang, latihan pernapasan yang benar bisa mengurangi gejala sesak yang sering timbul.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Asma, Health Centers 11/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
susu memicu asma

Benarkah Produk Susu Bisa Memicu Gejala Asma?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
pro kontra antidepresan

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit
obat DMARD

Mengenal Obat DMARD yang Digunakan untuk Penyakit Autoimun

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 07/06/2020 . Waktu baca 5 menit