Obat Kortikosteroid, Apa Manfaatnya dan Apa Efek Sampingnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar tentang obat kortikosteroid? Atau, Anda lebih familiar dengan nama-nama ini: dexamethasone, prednisonmetilprednisolonhidrokortison, betametason, triamsinolon, dan mungkin pernah mengonsumsinya atas alasan tertentu. Kesemua obat-obatan ini tergolong dalam kategori obat kortikosteroid yang mampu mengatasi banyak masalah kesehatan. Tapi di balik khasiatnya yang multi fungsi, kortikosteroid menyembunyikan beberapa efek samping yang perlu diwaspadai. Apa saja baik-buruknya obat sejuta umat ini? Baca selengkapnya di sini.

Manfaat obat kortikosteroid untuk berbagai kondisi kesehatan

Kortikosteroid itu sendiri sebenarnya adalah sekumpulan hormon yang diproduksi oleh tubuh manusia di kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Hormon ini berfungsi dalam pengaturan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, regulasi cairan tubuh, sistem pertahanan tubuh, dan pembentukan tulang.

Sementara itu, obat kortikosteroid biasanya digunakan untuk gangguan produksi hormon oleh kelenjar adrenal yang mengakibatkan tubuh kekurangan hormon steroid. Kondisi lain yang sering diobati dengan kortikosteroid antara lain adalah keluhan seperti kulit bengkak, gatal-gatal, kemerahan dari reaksi alergi, flu, pegal-pegal, asma akibat alergi, mata merah (konjungtivitis alergi), penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, peradangan sistemik seperti lupus, transplantasi, pembengkakan otak, dan masih banyak lagi. Bentuknya pun bermacam-macam, dari tablet, sirup, inhaler, nasal spray, injeksi hingga krim, lotion dan gel.

Jika Anda diminta oleh dokter untuk menggunakan obat kortikosteroid dalam jangka panjang, Anda akan diminta untuk mengatur pola makan sebagai berikut.

  • Mengurangi jumlah garam dan natrium
  • Menghitung jumlah kalori agar tidak naik berat badan
  • Menambahkan asupan protein

Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif dari kemungkinan munculnya efek samping yang berbahaya.

Efek samping yang mungkin muncul dari obat kortikosteroid jika dipakai berlebihan

Penggunaan kortikosteroid pada pasien harus dipertimbangkan dan didosis dengan baik. Pasalnya, obat ini memiliki daftar efek samping yang lumayan panjang kalau digunakan sembarangan. Penggunaan obat yang rutin lebih dari 2 minggu dapat menyebabkan timbul efek samping yang serius. Oleh karena itu, kebanyakan dari obat jenis ini harus ditebus pakai lewat resep dokter dan jarang ada yang dijual bebas.

Menurut NHS, efek samping yang umum timbul setelah menggunakan obat kortikosteroid adalah peningkatan nafsu makan, perubahan mood, hingga sulit tidur. Jika penggunaan obat terus dilanjutkan dengan dosis yang semakin meningkat, efeknya mulai dari perasaan lemas, tekanan darah rendah (hipotensi), hingga kadar gula darah rendah (hipoglikemia). Jika tidak tertangani, sekelompok gejala ini bisa berujung pada kematian.

Efek samping yang timbul pun akan tergantung dari jenis obat apa yang Anda gunakan. Biasanya, penggunaan secara sistemik (berbentuk tablet atau suntikan) menyebabkan efek samping yang lebih besar. Efek samping kortikosteroid sistemik termasuk hipertensi, peningkatan gula darah, diabetes, tukak lambung, perdarahan saluran cerna, luka yang lama sembuh, kekurangan kalium, osteoporosis, glaukoma, kelemahan otot, hingga penipisan kulit.

Sementara itu, efek samping dari kortikosteroid lokal juga bermacam-macam tergantung dari metode pemakaian (inhalasi atau salep). Efek samping kortikostreoid lokal meliputi berbagai gejala di atas, termasuk juga sariawan, mimisan, batuk, infeksi jamur di mulut, warna kulit memucat, hingga suara serak dan peningkatan risiko infeksi kulit. Pada kasus yang lebih berat, penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan sindrom Cushing dan peningkatan risiko infeksi pneumonia pada pasien penyakit paru obstruktif kronik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

Kulit mendadak memerah, hidung meler, dan bersin-bersin di ruangan ber-AC? Ini mungkin pertanda gejala alergi dingin. Simak ciri-ciri alergi dingin lainnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Pakai lensa kontak kadang membuat mata merah dan berair, terlebih bagi yang punya alergi. Cari tahu lebih jauh tentang alergi softlens di sini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Alergi Hidung dan Mata 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Segudang Penyebab yang Memicu Reaksi Alergi pada Kulit

Penyebab alergi kulit yang perlu Anda ketahui antara lain adalah air, logam, sinar matahari, kosmetik, dan cat rambut. Bagaimana ciri-cirinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Alergi, Alergi Kulit 16 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Alergi Mata (Konjungtivitis Alergi)

Jika mata Anda mudah merah tanpa penyebab yang jelas, coba simak artikel ini karena mungkin Anda memiliki alergi mata (konjungtivitis alergi).

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Alergi, Alergi Hidung dan Mata 10 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alergi obat antibiotik

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit
komplikasi obat hiv

Anda Punya Alergi pada Obat? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 11 menit
Alergi Sperma

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit
alergi lateks

Mengenal Alergi Lateks, Termasuk Karet Gelang dan Kondom

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 7 menit