Kortikosteroid dan Keampuhannya Menyelamatkan Pasien COVID-19 Gejala Berat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Obat kortikosteroid terbukti dapat menyelamatkan pasien COVID-19 gejala berat dari keadaan kritis. Fakta tersebut dibuktikan oleh beberapa penelitian dan telah diakui oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). 

Temuan ini membuat kortikosteroid mendapat izin untuk digunakan secara luas. Namun, para peneliti menekankan bahwa obat ini bukan untuk menyembuhkan seseorang dari infeksi COVID-19

Kortikosteroid dan bukti ilmiah keampuhannya menolong pasien COVID-19

dexamethasone kortikosteroid covid-19

Penelitian tentang kegunaan kortikosteroid dalam menangani pasien COVID-19 dengan gejala gangguan pernapasan parah pertama kali dilakukan oleh peneliti China pada awal Maret.

Pada Juni lalu, peneliti di Inggris meneliti lebih lanjut kegunaan kortikosteroid yang dapat menyelamatkan nyawa pasien COVID-19 yang sedang dalam kondisi kritis. Kortikosteroid yang digunakan adalah dexamethasone

Dexamethasone atau deksametason adalah salah satu steroid jenis kortikosteroid. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi pasien dengan peradangan, gangguan pencernaan, asma, dan reaksi alergi.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan uji klinis langsung pada ribuan pasien COVID-19 di Inggris yang dipilih secara acak. Hasilnya, keampuhan kortikosteroid terlihat paling jelas pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen. Tapi obat ini tak berdampak signifikan terhadap pasien yang tidak membutuhkan oksigen. 

Di antara pasien yang membutuhkan ventilator, deksametason mengurangi tingkat kematian hingga 35%. Sementara di antara pasien COVID-19 yang menerima oksigen tambahan bukan ventilator, obat kortikosteroid tersebut mengurangi tingkat kematian hingga 20%. Tingkat kematian ini dihitung dalam 28 hari setelah dimulainya pengobatan.

Para peneliti juga tidak menemukan potensi efek samping yang mengkhawatirkan. Namun, pemakaian kortikosteroid ini masih harus diteliti lebih lanjut untuk menegaskan keefektifannya. 

Penelitian terbaru yang dipublikasi di jurnal JAMA (2/9) menyebut bahwa penggunaan kortikosteroid ampuh membantu pasien COVID-19 keluar dari masa kritis.

Analisis terbaru ini menghilangkan keraguan yang tersisa tentang pemberian kortikosteroid dalam menangani infeksi virus SARS-CoV-2. Penelitian ini juga memastikan keamanan semua jenis kortikosteroid bukan hanya deksametason.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,298,608

Confirmed

1,104,990

Recovered

35,014

Death
Distribution Map

Penggunaan kortikosteroid dalam menangani pasien virus corona

gejala covid-19 parah kortikosteroid

WHO menyarankan untuk menghindari penggunaan kortikosteroid di awal masa infeksi COVID-19. 

Alasannya, obat steroid tersebut dapat menghalangi upaya sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus. Namun jika digunakan di masa tengah hingga akhir infeksi COVID-19, deksametason dapat membantu menangkal terjadinya badai sitokin (respons imun berlebihan yang justru menyerang jaringan tubuh).

Obat ini juga tidak disarankan untuk digunakan dalam menangani pasien COVID-19 dengan gejala ringan karena tidak terbukti bermanfaat. Dalam beberapa kasus, penggunaan kortikosteroid malah berpotensi membahayakan.

Pemberian kortikosteroid dapat ditelan dalam tablet atau diberikan melalui intravena maupun infus. Dosis yang diberikan sejauh ini adalah dosis rendah dan tidak ada bukti pemberian dosis tinggi akan lebih efektif.

“Di awal tahun, kadang-kadang rasanya hampir putus asa mengetahui bahwa kami tidak memiliki obat khusus,” kata Anthony Gordon, profesor peneliti dari Imperial College London.

“Namun kurang dari enam bulan kemudian kami telah menemukan bukti yang jelas dan dapat diandalkan dalam uji klinis berkualitas tinggi tentang bagaimana kortikosteroid dapat mengatasi penyakit yang menghancurkan ini,” ujarnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Virus Nipah Berpotensi Menjadi Wabah Besar Berikutnya

Virus Nipah, yang mewabah hampir setiap tahun di beberapa negara di Asia, berpotensi menjadi wabah besar berikutnya seperti pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Penyakit Infeksi, Infeksi Virus 4 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
digital fatigue

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
WHO investigasi COVID-19

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit