Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Penggunaan masker menjadi kewajiban setelah WHO mengumumkan pandemi  COVID-19 sebagai darurat global.

Penggunaan masker menjadi satu dari tiga hal yang paling penting dalam pencegahan penularan COVID-19 yang wajib dilakukan ketika beraktivitas di luar rumah. Dua hal lainnya adalah menjaga jarak paling tidak satu meter dan rajin mencuci tangan.

Fungsi utama masker adalah menghalangi cairan (droplet) atau partikel udara keluar dari pemakaianya saat ia bicara, batuk, atau bersin. Masker juga membantu menghalangi droplet orang lain menempel di wajah dan mencari jalan masuk ke dalam tubuh. 

Kini banyak jenis masker yang tersedia dengan fungsi dan kegunaannya masing-masing. Sebelum menentukan pilihan, kenali beberapa jenis dan fungsi masker berikut ini agar tidak salah pilih.

Berikut ini adalah beberapa jenis masker berikut fungsi dan manfaatnya.

Masker kain yang disarankan untuk pencegahan penularan COVID-19

Karena alasan ketersediaan masker bedah yang terbatas, baik WHO maupun pemerintah menyarankan masyarakat biasa untuk setidaknya mengenakan masker kain.

WHO mengharuskan pemakaian masker kain yang terbuat dari tiga lapisan. Lapisan pertama disarankan menggunakan bahan yang bisa menyerap droplet. Lapisan kedua bisa berupa sisipan tisu atau disamakan dengan bahan di layer pertama. Lapisan ketiga, atau lapisan terluar berbahan hidropobik yakni jenis bahan yang mampu mencegah masuknya droplet.

Masker kain 3 lapis ini efektif menahan sekitar 70 persen partikel droplet.

Di Indonesia, banyak masker kain satu lapis berbahan scuba. Masker ini tidak disarankan untuk dipakai karena hanya mampu menahan 0-5 persen partikel yang masuk, alias tidak efektif sama sekali. 

Perlu diingat, masker kain harus segera diganti saat kotor, basah, atau telah dipakai lebih dari 4 jam.

Masker bedah

Masker bedah atau bisa disebut sebagai masker medis yang biasanya berwarna hijau atau biru. Masker jenis ini mampu menahan droplet sekitar 80-90 persen.  Masker ini hanya bisa digunakan satu kali pakai dalam waktu 4 jam pemakaian.

Masker ini terutama wajib digunakan oleh pasien sakit dan petugas kesehatan yang tidak menangani pasien COVID-19 secara langsung. Petugas yang menangani pasien COVID-19 secara langsung wajib mengenakan masker N-95 dan APD level 3.

Masker respirator N95

Respirator atau disebut juga masker respirator N95, dirancang untuk melindungi pemakainya dari partikel kecil di udara yang mungkin mengandung virus.

Sebutan N95 berarti masker mampu menyaring 95% partikel sekecil 0,3 mikron dari udara.

Virus dari keluarga coronavirus memiliki ukuran yang cukup besar (setidaknya menurut standar virus), dengan ukuran rata-rata sedikit di atas 0,1 mikron. Jadi secara teoretis, beberapa partikel virus masih bisa menembus masker respirator N95. Selain itu, masker respirator N95 tidak dirancang untuk anak-anak atau orang dengan rambut di wajah.

Pastikan Anda menggunakan masker ini dengan benar. Seperti yang disebutkan New York State Department of Health, masker harus menutupi hidung dan mulut untuk menjaga Anda menghirup jamur dan debu, serta partikel lainnya. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

511,836

Terkonfirmasi

429,807

Sembuh

16,225

Meninggal Dunia

Bagaimana cara Anda memakai masker wajah dengan benar?

Syarat mengenakan masker dengan benar adalah menutupi wajah dari pangkal hidung hingga di bawah dagu. Kencangkan bagian pangkal hidung dan area pinggiran masker agar droplet tidak keluar dari bagian tersebut.

Jangan sampai hidung Anda tertekan karena masker terlalu ketat, kenakan dengan nyaman agar tidak tergoda untuk menyentuh bagian luar masker. Menyentuh bagian luar masker yang sedang dipakai berisiko memindahkan virus atau kotoran ke tangan Anda dan mengurangi efektivitasnya.

Apakah masker efektif untuk pencegahan penyakit?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Infection menyebut bahwa masker yang digunakan dengan baik dapat secara efektif mencegah penyebaran virus. 

Penelitian lain yang dipublikasikan Annals of Internal Medicine melaporkan hal serupa. Studi tersebut meneliti 400 orang dengan flu. Hasilnya, anggota keluarga yang sering mencuci tangan dan menggunakan masker menurunkan risiko terkena flu hingga 70 persen. 

Jika digunakan dengan benar, masker operasi dan masker kain dapat membantu memblokir tetesan partikel besar, percikan, semprotan yang mungkin mengandung bakteri atau virus. Ketiganya juga membantu mengurangi paparan air liur dan pernapasan Anda terhadap orang lain.

Meski begitu, ketiga jenis masker tersebut tidak mampu menyaring partikel yang sangat kecil di udara (airborne) yang dapat ditularkan melalui batuk, bersin, atau prosedur medis tertentu. Maka menjaga jarak, menghindari kerumunan terutama di ruang tertutup, dan rajin mencuci tangan tetaplah diperlukan demi mencegah penularan COVID-19. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

You are already subscribed to notifications.
Sumber

Does Wearing a Mask Prevent the Flu?. (2020). Retrieved 31 January 2020, from https://www.healthline.com/health/cold-flu/mask#3

(2020). Retrieved 31 January 2020, from http://www.bccdc.ca/resource-gallery/Documents/Guidelines%20and%20Forms/Guidelines%20and%20Manuals/Health-Environment/WFSG_EvidenceReview_UsingMasks_FINAL_v5trs.pdf

How to Use an N95 Mask. (2020). Retrieved 31 January 2020, from https://www.health.ny.gov/publications/2805/index.htm

How to Use an N95 Mask. (2020). Retrieved 31 January 2020, from https://www.health.ny.gov/publications/2805/index.htm

Understanding the difference - Surgical Mask and N95. Retrieved 31 Januari 2020, from https://www.cdc.gov/niosh/npptl/pdfs/UnderstandDifferenceInfographic-508.pdf

Use of Respirators and Surgical Masks for Protection Against Healthcare Hazards. Retrieved 31 Januari 2020, from https://www.cdc.gov/niosh/topics/healthcarehsps/respiratory.html

Yang juga perlu Anda baca

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Para ilmuwan melakukan studi pada obat anti komplemen untuk pasien COVID-19. Kemampuannya menghambat peradangan dipercaya dapat meringankan gejala.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Atasi Rasa Cemas Saat Kembali ke Kantor di Tengah Pandemi

Rasa cemas yang muncul ketika harus kembali ke kantor di tengah pandemi COVID-19 adalah hal yang wajar. Bagaimana cara mengatasi kecemasan ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 22 November 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit