Mendalami Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan yang Ampuh

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Tifus atau demam tifoid, atau yang sering disebut tipes, adalah salah satu penyakit yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia. Sayangnya masih banyak orang yang mengira bahwa tipes dan tifus adalah penyakit yang sama. Ya, penyebutan tifus dan tipes yang memang sangat mirip membuat banyak orang sering kali menganggap keduanya adalah penyakit yang sama. Padahal, penyebab tifus dan tipes alias demam tifoid berbeda.

Apa itu penyakit tifus dan apa penyebabnya?

Tifus adalah infeksi yang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri Rickettsia typhi atau R. prowazekii. Bakteri ini bisa dibawa oleh ektoparasit seperti kutu, tungau dan caplak, kemudian menginfeksi manusia. Ektoparasit sering ditemukan pada hewan seperti tikus, kucing, dan tupai. Beberapa orang juga bisa membawanya dari pakaian, sprei, kulit, atau rambut mereka. 

Bakteri penyebab tifus tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lainnya seperti sakit flu atau pilek. Ada empat jenis tipes, dan setiap jenisnnya disebabkan oleh bakteri serta cara penularan yang berbeda-beda. Beberapa jenis penyakit tifus tergantung sumber bakteri yang menginfeksinya, adalah:

  • Epidemik thypus disebabkan oleh bakteria Rickettsia prowazeki yang ditularkan oleh gigitan kutu rambut pada tubuh manusia. Jenis penyakit ini dapat menyebabkan sakit berat dan bahkan kematian.
  • Endemik thypus atau tifus murine disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi, yang ditularkan oleh kutu loncat pada tikus. Penyakit ini mirip dengan epidemik thypus, tapi memiliki gejala tifus yang lebih ringan dan jarang menyebabkan kematian.
  • Scrub typhus disebabkan oleh Orientia tsutsugamushi, ditularkan melalui gigitan tungau larva yang hidup pada hewan pengerat. Penyakit ini bisa menyerang manusia dalam tingkat yang ringan sampai berat.
  • Spotted fever atau demam yang disertai dengan bintik-bintik merah pada kulit disebarkan oleh gigitan hewan caplak yang terinfeksi bakteri kelompok Rickettsia.

Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia. Namun, negara yang padat penduduk dengan santitasi yang buruk berisiko lebih tinggi terkena wabah penyakit ini.

Bagaimana bakteri bisa menyebabkan penyakit tifus?

Bakteri penyebab tifus endemik yaitu Rickettsia prowazekki ditularkan oleh kutu rambut manusia. Bakteri dapat tumbuh dalam perut dan usus kutu. Anda dapat terinfeksi bakteri penyebab tifus apabila menggaruk atau menyentuh luka setelah digigit oleh kutu. Risiko infeksi epidemik thypus lebih mudah ditularkan di tempat pengungsian yang padat penduduk dan tingkat kebersihan yang buruk.

Tak hanya itu saja, infeksi ini juga lebih retan dialami pada musim hujan dan ketika pakaian yang dipenuhi kotoran kutu tidak dicuci dan digunaan secara bergantian. Hal tersebut merupakan kondisi yang optimal untuk penyebaran penyakit.

Pada kasus endemik yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi, penularan penyakit ini terjadi ketika ketika Anda menghirup udara yang terinfeksi bakteri penyebab tifus. Misalnya saat Anda membersihkan gedung lama yang berdebu dan banyak dihuni oleh tikus yang terinfeksi kutu.

Sementara risiko Anda terkena scrub thypus meningkat pada musim kemarau, ketika kutu dan tungau sedang aktif berkembang biak di semak-semak atau padang rumput.

Cara bakteri menularkan penyakit ini pada tiap orang berbeda-beda tergantung jenisnya. Secara umum, Anda dapat terkena infeksi bakteri penyebab tifus melalui gigitan kutu, tungau, atau caplak. Dalam beberapa kasus, Anda juga dapat terinfeksi bakteri penyebab tifus jika Anda menghirup debu yang sudah terkontaminasi oleh kotoran kutu.

Tipes dan tifus adalah dua penyakit yang berbeda

Memiliki penyebutan yang sangat mirip, banyak orang menganggap bahwa tipes dan tifus adalah penyakit yang sama. Padahal tidak demikian. Penyakit tipes disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang terdapat pada tinja atau kotoran binatang. Bakteri ini menginfeksi saluran pencernaan karena penderitanya mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Dikutip dari laman Detik, Paul Harijanto, SpPD-KPTI, pakar penyakit infeksi dari RS Bethesda Tomohon, Sulawesi Utara mengatakan bahwa tifus adalah penyakit yang tidak umum di Indonesia.

Penyebutan penyakit tifus atau tipes oleh orang awam yang merujuk pada demam typhoid, sebenarnya sekadar untuk memudahkan. Entah sejak kapan kekeliruan ini mulai terjadi dan dimaklumi. Namun yang pasti, kekeliruan ini sudah menjadi semacam kesepakatan di kalangan masyarakat pada umumnya. Jadi, jika seseorang kena tifus, maka yang dimaksud adalah demam typhoid.

Faktanya, kedua penyakit ini jelas berbeda. Perbedaan ini terletak pada jenis bakteri yang memicu infeksi. Terkadang penyakit ini juga disebut penyakit Rickettsia.

Siapa yang berisiko tinggi terkena penyakit tifus?

Penyakit ini dapat memengaruhi orang dari segala usia, tingkat pendapatan, tingkat sosial, dan lingkungan hidupnya. Namun, risiko penyakit ini akan meningkat apabila Anda:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/ADIS, sedang pengobatan kemoterapi, bayi, dan lansia.
  • Mengalami kontak kulit langsung yang lama dengan orang yang terinfeksi. Namun, potensi penularan penyakit ini melalui jabat tangan atau berpelukan yang sebentar termasuk kecil.
  • Berbagi barang yang sama, seperti handuk, sprei, ataupun pakaian dengan orang yang terinfeksi.
  • Melakukan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi bakteri penyebab tifus
  • Bepergian ke daerah endemik penyakit ini

Mungkin ada beberapa faktor risiko penyebab tifus yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda mengkhawatirkan faktor risiko penyebab tifus lainnya, silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Apa saja gejala tifus yang harus diwaspadai?

Gejala tifus biasanya berkembang 1-2 minggu setelah paparan dan bisa berkembang dari mulai yang ringan hinga berat. Gejala tifus paling umum di antaranya:

  • Demam tinggi, biasanya sekitar 40 derajat celcius
  • Sakit kepala
  • Mual atau muntah
  • Diare atau sembelit
  • Batuk kering
  • Sakit perut
  • Nyeri sendi dan otot
  • Sakit punggung
  • Merasa tidak enak badan

Gejala tifus lainnya mungkin juga akan muncul ruam serta bintik-bintik berwarna gelap seperti gejala kudis/scabies di area tubuh yang digigit oleh kutu. Ruam ini juga mungkin menyebar ke seluruh tubuh seperti wajah, telapak tangan, atau kaki.

Jika Anda memiliki tanda atau gejala tifus sepeti yang tercantum di atas atau apabila ada hal lain yang ingin ditanyakan terkait penyakit ini, jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter. Setiap tubuh berfungi berbeda satu sama lain. Selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik bagi kondisi Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis penyakit tifus?

Gejala tifus seringkali mirip dengan gejala penyakit lainnya. Tak jarang, hal ini membuat penyakit ini sulit untuk diagnosis. Namun dokter biasanya akan melakukan tes darah atau biopsi kulit untuk menentukan jenis bakteri penyebab tifus. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan tes darah menggunakan metode serologi yang diambil dua minggu secara terpisah. Tes darah ini berfungsi untuk mendeteksi respon sistem kekebalan tubuh pasien terhadap pasiennya.

Terkadang, dokter juga dapat menduga seseorang memunculkan gejala tifus yang khas apabila dari sesi konsultasi diketahui jika pasien baru saja berpergian ke daerah endemik atau berisiko tinggi. Terutama jika dokter juga menemukan riwayat gigitan dari kutu, tungau, atau caplak di tubuh pasien.

Apa saja obat tifus?

Penyakit ini bisa diatasi dengan antibiotik. Salah satu obat tifus yang sering diresepkan dokter adalah antibiotik tetracycline seperti doxycycline. Pengobatan menggunakan antibiotik ini biasanya sudah dimulai sebelum hasil tes darah atau biopsi diketahui. 

Obat tifus ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Obat ini tidak bekerja untuk infeksi virus (seperti pilek, flu). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, berlebihan, atau tidak diperlukan dapat memengaruhi efektivitas obat.

Minum obat tifus sesuai anjuran dokter, biasanya sekali sehari dengan atau tanpa makanan. Minum banyak air saat menggunakan obat tifus kecuali bila anjuran dokter berbeda.

Dosis obat tifus dan lama pengobatan akan bergantung pada kondisi kesehatan dan respon Anda terhadap pengobatan. Untuk anak-anak, dosis obat tifus dapat juga berdasarkan berat badan.

Antibiotik bekerja dengan baik saat jumlah obat di tubuh Anda tetap dalam kadar yang konstan. Jadi, gunakan obat tifus ini dengan interval yang kurang lebih sama. Kebanyakan orang mulai merasa lebih baik dalam 48 jam (2 hari) setelah memulai perawatan. Namun, penting untuk tetap melanjutkan penggunaan obat ini hingga yang diresepkan habis, bahkan jika Anda merasa gejala tifus menghilang setelah beberapa hari.

Menghentikan obat terlalu cepat dapat membuat bakteri lanjut berkembang, yang akhirnya kembali terinfeksi. Beri tahu dokter jika kondisi Anda tidak membaik atau justru malah semakin memburuk. Ikuti aturan yang diberikan oleh dokter atau apoteker sebelum memulai pengobatan. Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter atau apoteker Anda.

Dokter mungkin meresepkan obat lain untuk meredakan gejala seperti paracetamol untuk menurunkan demam.

Dalam kasus yang parah, orang yang terinfeksi penyakit ini mungkin perlu dirawat di rumah sakit. Dokter akan menentukan perawatan terbaik yang sesuai dengan kondisi Anda. Perlu dipahami bahwa makin cepat penyakit ini terdiagnosis, maka proses pemulihannya pun juga akan semakin cepat.

Obat tifus bukan hanya antibiotik

Antibiotik digunakan sebagai obat tifus guna membunuh bakteri RickettsiaNamun, sebenarnya untuk bisa cepat sembuh dari penyakit ini, tidak hanya antibiotik saja yang jadi andalan. Anda juga harus makan dan minum yang sehat dan aman bagi Anda. 

Makanan yang aman dikonsumsi

  • Makanan yang dimasak sampai benar-benar matang
  • Buah dan sayur yang dicuci dengan air bersih atau Anda kupas sendiri
  • Produk susu yang dipasteurisasi
  • Makanan lunak, lembek, dan berkuah untuk memudahkan Anda mengonsumsinya
  • Makanan bernutrisi dan bergizi tinggi guna mempercepat proses pemulihan

Makanan yang tidak aman dikonsumsi

  • Makanan yang disajikan pada suhu ruangan
  • Makanan dari warung pinggir jalan
  • Telur mentah atau setengah matang
  • Daging atau ikan mentah atau setengah matang
  • Buah dan sayuran yang tidak dicuci atau tidak dikupas
  • Rempah-rempah dari bahan yang segar
  • Salad, karedok, atau lalapan (intinya yaitu sayur mentah yang tidak dimasak)
  • Produk susu yang tidak dipasteurisasi
  • Bushmeat (daging monyet, kelelawar, dan hewan liar lainnya)
  • Makanan berlemak tinggi seperti santan, gorengan, junk food, dan lain sebagainya.

Minuman yang aman dikonsumsi 

  • Minuman kemasan botol yang disegel (yang dikarbonasi lebih aman)
  • Air yang direbus, difilter, atau diolah terlebih dahulu
  • Es yang dibuat di dalam botol atau air yang bebas infeksi
  • Minuman karbonasi kemasan botol dan segel, serta minuman olahraga
  • Kopi atau teh panas
  • Susu yang dipasteurisasi

Minuman yang tidak aman dikonsumsi

  • Air keran atau sumur
  • Es yang dibuat dari air keran atau sumur
  • Air yang dibuat dengan air sumur atau keran
  • Es loli atau popsicle
  • Susu yang tidak dipasteurisasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi?

Sama seperti penyakit lainnya, penyakit ini membutuhkan perawatan yang cepat dan tepat. Ketika seseorang yang terinfeksi dibiarkan berlarut tanpa penanganan medis yang memadai, komplikasi serius bisa muncul ke permukaan. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi termasuk:

  • Hepatitis alias peradangan hati
  • Perdarahan saluran cerna
  • Hipovolemia atau penurunan volume cairan darah

Bagaimana cara mencegah penyakit tifus?

Jika penyakit tipes bisa dicegah dengan pemberian vaksinasi, lain ceritanya dengan penyakit satu ini. Setelah perang dunia kedua berakhir, vaksinasi untuk penyakit ini sudah tidak diproduksi lagi. Meski begitu, Anda jangan khawatir. Ada beberapa cara sederhana yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena infeksi penyakit ini, di antaranya:

  • Pakai obat pembasi serangga. Selalu sediakan obat pembasmi serangga setiap kali Anda ingin berpergian ke tempat-tempat terbuka, seperti berkemah, naik gunung, dan lain sebagainya. Bila perlu, gunakan baju lengan panjang dan celana panjang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko gigitan kutu dan tungau.
  • Cuci tangan. Rajin cuci tangan setiap kali ingin memulai aktivitas atau setelah beraktivtitas. Gunakan sabun antiseptik untuk memastikan kebersihan tangan Anda.
  • Cuci semua pakaian dan sprei tempat tidur. Gunakanlah air panas dan sabun untuk mencuci semua pakaian, handuk, dan sprei, atau jika perlu direbus untuk membunuh tungau yang masih tertinggal.
  • Biarkan tungau mati kelaparan. Untuk benda-benda yang tidak dapat dicuci, Anda dapat memasukkan benda-benda tersebut ke dalam plastik tertutup dan letakkan di tempat yang jarang dijangkau selama beberapa minggu. Tungau akan mati dalam beberapa hari ketika dibiarkan tanpa makanan.
  • Hindari kontak. Penyakit ini dapat menular lewat kontak fisik, makanhindari kontak langsung dengan penderita dalam waktu yang lama. Selain itu, hindari juga kebiasaan saling menggunakan barang-barang pribadi seperti handuk yang dapat menularkan penyakit ini.
  • Bersihkan seluruh ruangan di rumah. Dengan menggunakan mesin penyedot debu (vacuum cleaner), bersihkan semua karpet dan furnitur yang ada di dalam rumah. Jangan lupa, gunakan masker wajah saat membersihkan daerah tersebut. Hal ini dilakukan agar Anda tidak menghirup debu yang terkontaminasi oleh kotoran hewan pengerat.
  • Konsultasi ke dokter. Segera cek kesehatan setelah berkunjung ke daerah endemik di mana penyakit ini sedang mewabah. Meski Anda tidak memunculkan gejala tifus, sebaiknya tetap lakukan pemeriksaan. Pasalnya dalam banyak kasus, gejala tifus baru muncul setelah beberapa minggu terinfeksi.

Mencegah penularan penyakit tifus perlu disiplin yang tinggi. Cara-cara di atas wajib dilakukan pada saat sebelum memulai terapi dengan pengobatan karena apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan maka akan sangat mudah menular dan tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya infeksi ulang pada pasien yang sudah sembuh.

Baca Juga:

Sumber