Apa Saja yang Diperiksa Selama Medical Check Up?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 12/09/2017
Bagikan sekarang

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pasalnya, meski sehat itu mahal tapi biaya berobat saat sakit bisa lebih menguras dompet. Mencegah risiko penyakit sedini mungkin bisa dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan rutin, yang biasa disebut medical checkup. Jika Anda belum pernah melakukan medical check up sebelumnya, berikut rangkaian tes umum yang biasa dilakukan selama medical checkup.

Apa saja yang diperiksa selama medical check up?

Anda tidak perlu sakit terlebih dulu jika ingin menjalani pemeriksaan fisik ini. Pemeriksaan kesehatan, alias medical check up, adalah serangkaian uji kesehatan rutin yang dilakukan di rumah sakit untuk memeriksa kesehatan tubuh secara keseluruhan dan mengantisipasi risiko penyakit.

Tidak ada runutan baku dalam prosedur medical check-up. Selama medical checkup, rangkaian pemeriksaan biasanya akan dimulai dengan mengukur berat dan tinggi badan sesuai indeks masa tubuh (body mass index/BMI). Penting untuk memeriksakan BMI tiap 2 tahun sekali bagi orang berusia di bawah 50 tahun dan setahun sekali untuk usia di atas 50 tahun.

Setelahnya, sejumlah tes yang berbeda dapat dilakukan selama medical check up — mulai dari cek fungsi jantung dan paru dengan EKG; kesehatan kulit untuk mendeteksi risiko kanker kulit atau penyakit kulit lainnya; THT untuk memeriksa kesehatan Telinga, Hidung dan Tenggorokan; kesehatan mata (risiko glaukoma atau gangguan penglihatan lainnya); kesehatan gigi; kesehatan tulang, hingga respon refleks tubuh dan kekuatan otot.

Pemeriksaan fisik tahunan juga mungkin termasuk cek kolesterol, tekanan darah, dan gula darah. Ini karena Anda mungkin saja memiliki kadar yang tinggi dari salah satu (atau, semua) kondisi di atas tanpa pernah menunjukkan satupun tanda atau gejalanya, atau berisiko mengalami penyakit yang terkait — misalnya diabetes atau hipertensi. Dan tergantung pada usia atau riwayat kesehatan Anda dan keluarga, dokter dapat merekomendasikan tes medis tambahan.

Orang-orang yang berisiko tinggi atau yang mengidap penyakit tertentu ini seringnya dianjurkan lebih rutin menjalani lebih rutin daripada orang-orang yang sehat walafiat. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana dan untuk mengendalikan perkembangan kondisinya. Skrining kesehatan rutin juga memungkinkan dokter dan Anda bekerja sama untuk merencanakan pengobatan untuk menanggulangi kondisi yang Anda miliki sebelum menjadi parah.

Apakah semua orang perlu menjalani medical check up tahunan?

Mayoritas tenaga profesional dan ahli kebijakan kesehatan kesehatan berpendapat bahwa kunjungan rutin untuk pemeriksaan kesehatan tahunan adalah kebiasaan yang tidak perlu. Beberapa dari mereka bahkan berpendapat bahwa kebiasaan ini hanyalah buang-buang waktu dan uang untuk kebanyakan orang.

Pasalnya, rutin medical check up tidak membuat banyak perbedaan dalam perubahan hasil kesehatan. Menurut sebuah studi terbitan BMJ Open 2012, pemeriksaan kesehatan tahunan rutin tidak menjamin Anda bisa menghindari kematian, rawat inap, atau janji konsultasi di kemudian hari. Dengan kata lain, rutin check-up ke dokter setahun sekali belum tentu membuat Anda terbebas dari penyakit, atau memperpanjang usia.

Jika Anda belum pernah medical check up sama sekali sebelumnya, tentu tidak apa untuk mendaftar guna memiliki gambaran dasar dari kesehatan Anda secara keseluruhan. Jika pada kunjungan medical check-up pertama Anda dinyatakan sehat walafiat tanpa kecurigaan tertentu seputar kondisi kesehatan apapun, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk kembali check up dalam 3-5 tahun ke depan kecuali timbul masalah di antara waktu ini.

Sebaliknya, medical checkup tahunan dianjurkan rutin dilakukan setiap tahun atau per dua tahun sekali, jika Anda berusia 50 tahun ke atas dan/atau memiliki kelebihan berat badan, memiliki keturunan diabetes, atau sedang menjalani pengobatan untuk hipertensi atau diabetes.

Pemeriksaan kesehatan yang tak boleh dilewatkan sama sekali

Namun jangan abaikan medical checkup sama sekali karena beberapa skrining kesehatan bisa menyelamatkan nyawa. Setidaknya ada tiga pemeriksaan fisik utama yang tidak boleh Anda lewatkan — terlepas dari apapun kondisi kesehatan Anda:

  • Mammogram untuk kanker payudara: The American Cancer Society merekomendasikan kebanyakan wanita memiliki mammogram tahunan dimulai pada usia 45. Perempuan berusia 55 tahun ke atas disarankan untuk skrining per dua tahun sekali.
  • Kolonoskopi atau tes okultisme (feses atau darah) skrining untuk kanker usus besar: direkomendasikan dimulai pada usia 50 tahun dan terus secara teratur hingga usia 75 tahun
  • Pap Smear untuk skrining HPV dan kanker serviks direkomendasikan setiap 3 tahun sekali untuk kebanyakan wanita usia 21-29 tahun. Untuk wanita usia 30-65 tahun, pap smear dianjurkan rutin dilakukan tiap 5 tahun sekali.
  • Pemeriksaan testis, penis, dan prostat untuk mendeteksi risiko kanker dan gangguan kesehatan lainnya yang terkait dengan organ-organ ini — misal varikokel, gondongan di testis, pembengkakan prostat, hingga hernia.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Faktor yang Membuat Anak Butuh Susu Penambah Berat Badan

Ketika angka di timbangan anak balita tidak sesuai dengan usianya, minum susu penambah berat badan menjadi salah satu cara. Berikut penjelasan lengkapnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah

Kapan Berat Badan Bayi Dikatakan Kurang dari Angka Normalnya?

Salah satu penilaian status gizi baik pada bayi yakni saat berat badannya tergolong normal. Lantas, kapan bayi dikatakan memiliki berat badan kurang?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Wajarkah Berat Badan Naik Saat PMS?

Ada beragam keluhan wanita menjelang menstruasi sebagai gejala premenstrual syndrome (PMS). Naik berat badan saat PMS menjadi salah satunya. Apa alasannya?

Ditulis oleh: Nita Azka Nadhira, S.Gz

Ternyata Stres Bikin Berat Badan Naik, Apa Penyebabnya?

Tidak hanya menunrunkan berat badan, ternyata dampak stres juga dapat menyebabkan berat badan jadi naik, lho. Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

turun berat badan naik setelah diet

3 Penyebab Berat Badan Naik Lagi Setelah Diet

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
karbohidrat untuk diet

7 Sumber Karbohidrat Terbaik untuk Anda yang Sedang Diet

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
periksa gigi saat covid-19

Panduan Periksa Gigi Saat Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020
mengukur tekanan darah anak

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020