Risiko Kesehatan yang Bisa Dialami Jika Hamil di Usia Remaja

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Kehamilan membutuhkan kesiapan secara fisik dan mental. Untuk itu, sebaiknya Anda hamil di waktu yang menurut Anda sudah siap untuk hamil. Kehamilan di usia terlalu muda atau terlalu tua dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan Anda dan bayi kelak.

Namun, kehamilan di usia remaja sepertinya masih banyak terjadi di dunia, baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Banyak remaja di usia 15-19 tahun sudah mengalami kehamilan. Berdasarkan WHO, sekitar 16 juta wanita usia 15-19 tahun melahirkan anak setiap tahun, sekitar 11% dari kelahiran di seluruh dunia. Ini merupakan jumlah yang cukup besar dengan risiko yang besar pula.

Apa saja risiko jika hamil di usia remaja?

Hamil di usia remaja dapat meningkatkan risiko kesehatan pada Anda dan bayi Anda. Hal ini karena sebenarnya tubuh Anda belum siap untuk hamil dan melahirkan. Anda yang masih sangat muda masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan, sehingga jika Anda hamil, ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan Anda.

1. Tekanan darah tinggi

Hamil di usia remaja berisiko tinggi memicu tekanan darah tinggi. Selain itu, Anda juga berisiko menderita preeklampsia, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urine, dan tanda kerusakan organ lainnya. Pengobatan harus dilakukan untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi, tetapi hal ini juga dapat mengganggu pertumbuhan bayi dalam kandungan.

2. Anemia

Hamil di usia remaja juga dapat mengakibatkan anemia saat kehamilan. Anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi yang diasup oleh ibu hamil. Oleh karena itu, untuk mencegah hal ini, ibu hamil dianjurkan untuk rutin mengonsumsi tablet tambah darah setidaknya 90 tablet selama kehamilan.

Anemia saat hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur dan kesulitan saat melahirkan. Anemia yang sangat parah saat kehamilan juga dapat berdampak pada perkembangan bayi dalam kandungan.

3. Bayi lahir prematur dan BBLR

Kejadian bayi lahir prematur meningkat pada kehamilan di usia sangat muda. Bayi prematur ini pada umumnya mempunyai berat badan lahir yang rendah karena sebenarnya ia belum siap untuk dilahirkan (di usia kurang dari 37 minggu kehamilan). Bayi prematur meningkatkan risikonya untuk menderita gangguan pada sistem pernapasan, pencernaan, penglihatan, kognitif, dan masalah lainnya.

4. Penyakit kelamin

Pada remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, penyakiy menular seksual (seperti chlamydia dan HIV) merupakan perhatian utama. Infeksi menular seksual yang diderita oleh ibu hamil dapat mengakibatkan infeksi rahim dan mengganggu pertumbuhan bayi dalam rahim. Penyakit ini dapat dicegah dengan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

5. Depresi postpartum

Depresi postpartum adalah depresi yang terjadi setelah bayi lahir, dapat terjadi kapan saja di tahun pertama setelah kelahiran. Berbeda dengan baby blues, depresi postpartum adalah kondisi yang jauh lebih serius.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics menemukan bahwa wanita yang hamil di usia 15-19 tahun dua kali lebih berisiko mengalami depresi postpartum dibandingkan wanita yang hamil di usia di atas 25 tahun.

Studi lainnya juga melaporkan bahwa menjadi ibu di usia remaja akan memicu stres di level yang sangat tinggi sehingga berpotensi menjadi gangguan mental. Selain depresi, wanita yang sudah hamil dan menjadi ibu di usia remaja lebih rentan memiliki keinginan bunuh diri saat mengalami depresi, dibandingkan remaja lain yang belum menjadi seorang ibu.

6. Ketidakstabilan ekonomi

Menurut penelitian tentang konsekuensi sosioekonomi akibat kehamilan yang tidak diinginkan, yang diterbitkan dalam Iranian Journal of Public Health, kehamilan di usia muda atau bahkan kehamilan yang terjadi saat pasangan belum siap memiliki anak, cenderung menurunkan kesejahteraan ekonomi pasangan.

Kehamilan di masa remaja juga berisiko menghambat kelanjutan pendidikan sang ibu dan ayah, dan memperkecil kemungkinan mereka untuk mendapatkan status pekerjaan yang lebih tinggi. Orangtua muda yang harus segera mencari sumber penghasilan akibat kehamilan yang tak diduga, juga cenderung menerima pekerjaan dengan pendapatan yang lebih rendah. Kondisi ini ditambah lagi dengan pengeluaran yang akan meningkat saat bayi sudah lahir.

Bagaimana cara mencegah kehamilan yang tak diinginkan?

Jika Anda sudah aktif berhubungan seksual, atau apabila Anda dan suami belum ingin punya anak, pastikan Anda melakukan langkah-langkah berikut untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan:

  • Cari tahu metode kontrasepsi yang paling cocok untuk Anda. Dari mulai kondom, pil KB, KB spiral, KB suntik, dan sebagainya, ada banyak pilihan yang bisa Anda pertimbangkan. Pelajari apa kekurangan dan kelebihannya, dan tentukan mana yang kira-kira paling pas untuk Anda. Simak ulasan Hello Sehat mengenai jenis-jenis kontrasepsi.
  • Pastikan Anda menggunakan kontrasepsi dengan benar. Jika menggunakan pil, baca aturan minum beserta jadwalnya. Jika menggunakan susuk atau suntik, cari tahu kapan Anda harus ke dokter lagi untuk meng-update KB Anda. Pastikan juga cara Anda memakai dan menyimpan kondom sudah benar.
  • Hindari berhubungan intim di masa subur dan saat sedang ovulasi. Anda bisa menghitung kapan masa subur Anda berikutnya, dengan Kalkulator Masa Subur ini.

Apa yang bisa dilakukan jika saya hamil di usia remaja?

Berikut ini merupakan hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi pada kehamilan di usia sangat muda.

  • Rutin periksa kehamilan. Pemeriksaan kehamilan secara rutin dapat memantau kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan, sehingga kondisi penyakit tertentu saat hamil dapat dicegah.
  • Lakukan tes penyakit menular seksual. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ibu remaja mempunyai penyakit menular seksual, jika iya, maka dapat diobati sejak dini.
  • Makan makanan dengan gizi seimbang. Selama kehamilan, ibu remaja membutuhkan asam folat, kalsium, zat besi, protein, dan zat gizi penting lainnya untuk memenuhi kebutuhannya dan bayinya. Ibu remaja sangat membutuhkan tambahan kalsium dan fosfor karena pertumbuhan tulangnya masih berlangsung. Konsumsi suplemen prenatal mungkin diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya yang tinggi.
  • Olahraga teratur. Melakukan olahraga secara teratur dapat membantu mengurangi atau bahkan mencegah keluhan yang dirasakan saat hamil, meningkatkan energi, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Dengan aktif bergerak, juga dapat membantu Anda mempersiapkan kelahiran.
  • Jaga kenaikan berat badan yang sesuai. Kenaikan berat badan yang sesuai dapat meningkatkan kesehatan bayi Anda dan hal ini juga dapat membantu Anda untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan. Jumlah kenaikan berat badan yang dibutuhkan tiap ibu hamil berbeda-beda, sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda untuk mengetahuinya.
  • Hindari rokok, alkohol, dan obat-obatan lainnya. Ini dapat membahayakan kesehatan Anda dan bayi. Sebaiknya Anda konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat-obatan.
  • Cari dukungan dari orang terdekat. Dukungan emosional sangat Anda butuhkan pada saat ini. Dukungan ini dapat membantu meningkatkan kesehatan Anda.
  • Ambil kelas khusus ibu hamil jika perlu. Kelas ini dapat membantu Anda mengetahui tentang kehamilan, kelahiran, menyusui, dan menjadi orangtua.

Jika Anda punya pertanyaan atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan hubungi dokter atau bidan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Awas! Ini Bahayanya Jika Ibu Kekurangan Yodium Saat Hamil

Tidak sedikit wanita hamil yang belum mengetahui pentingnya yodium. Padahal, kekurangan yodium saat hamil memiliki dampak yang buruk bagi janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Apa Penyebab Anak dan Tantrum dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tantrum pada anak bisa terjadi kapan pun di manapun, termasuk di tempat umum. Berikut cara untuk mengatasi dan mencegahnya di kemudian hari,

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 2 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ibu hamil makan daging kambing

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar

Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit