7 Jenis Pemeriksaan Medis yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pemeriksaan kesehatan atau yang dikenal dengan istilah check-up adalah sekumpulan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang. Premarital check-up atau pemeriksaan kesehatan pranikah dilakukan oleh sepasang calon suami istri sebelum pernikahan atau saat sedang merencanakan pernikahan. Hal ini bertujuan untuk mengenali kondisi kesehatan, risiko, maupun riwayat masalah kesehatan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan, sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan sedini mungkin dengan efektif sebelum menjalani pernikahan.

Mengapa perlu mengetahui kondisi kesehatan pasangan sebelum menikah?

Kondisi kesehatan seseorang dapat mempengaruhi proses kehamilan dan kualitas kehidupan yang dimiliki oleh keturunan Anda nantinya. Maka, mengetahui kondisi kesehatan pasangan akan membuat perencanaan membangun rumah tangga menjadi lebih matang. Meskipun pemeriksaan kesehatan juga dapat dilakukan sebelum kehamilan, ada baiknya Anda melakukan pemeriksaan kesehatan beberapa bulan sebelum menikah. Dengan begitu, Anda dapat mengambil keputusan lebih baik setelah mengetahui risiko kesehatan yang mungkin dialami oleh Anda dan keluarga, jika Anda tetap melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Pemeriksaan yang diperoleh di pelayanan pemeriksaan pranikah

Pemeriksaan kesehatan pranikah belum begitu banyak dilakukan di Indonesia, namun jika Anda ingin melakukannya, pemeriksaan ini terdapat di beberapa klinik, rumah sakit, maupun laboraturium pemeriksaan kesehatan swasta. Biasanya pemeriksaan berfokus pada penyakit infeksi dan penyakit yang mempengaruhi kesehatan reproduksi, serta penyakit bawaan yang mungkin diturunkan. Berikut ini beberapa jenis pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan yang umum dilakukan:

1. Berbagai pemeriksaan darah

Berupa pemeriksaan laju endap darah atau yang dikenal juga hematologi rutin (complete blood count) untuk mengetahui kesehatan individu secara umum dengan memeriksa komponen darah untuk mendeteksi kondisi anemia, leukemia, reaksi inflamasi dan infeksi, penanda sel darah tepi, tingkat hidrasi dan dehidrasi, polisitemia pada individu. Selain itu, pemeriksaan hematologi rutin juga bertujuan untuk mengetahui adanya risiko melahirkan keturunan dengan thalassemia dan hemofilia, namun juga perlu diperkuat dengan pemeriksaan hemoglobin HPLC, ferritin, dan badan inklusi HbH serta hematologi faal hemostasis.

2. Pemeriksaan golongan darah dan rhesus

Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kecocokan rhesus dan efeknya terhadap ibu dan bayi. Jika calon pasangan memiliki rhesus yang berbeda, kemungkinan ibu akan mengandung  anak dengan rhesus yang berbeda. Hal ini dapat berbahaya bagi kesehatan anak dalam kandungan karena dapat merusak sel darah dan menyebabkan anemia dan organ dalam bayi.

3. Pemeriksaan kadar gula darah

Pemeriksaan ini dilakukan berdasarkan kadar glukosa puasa untuk menentukan kondisi hiperglikemia seseorang. Hal diperlukan untuk mencegah dan penanganan dini dari komplikasi yang disebabkan oleh diabetes saat hamil.

4. Pemeriksaan urin

Dikenal juga dengan pemeriksaan urinalisa, untuk mendeteksi penyakit metabolik atau sistemik serta mendeteksi gangguan ginjal berdasarkan karaktertistik kimia (berat jenis, pH, leukosit esterase, nitrit, albumin, glukosa, keton, urobilinogen, biliubin, darah), sedimen mikroskopis (eritrosit, leukosit, silinder, epitel sel, bakteri, kristal), dan makroskopis (warna dan kejernihan).

5. Deteksi infeksi menular seksual

Dilakukan dengan uji VDRL atau RPR dengan menggunakan sampel darah. Keduanya berfungsi untuk mendeteksi antibodi yang bereaksi terhadap bakteri penyakit sifilis, Treponema pallidum. VDRL dapat menghasilkan hasil postif yang salah terhadap penyakit sifilis jika seseorang juga menderita beberapa penyakit infeksi seperti HIV, malaria, dan pneumonia saat pemeriksaan.

6. Deteksi infeksi hepatitis B

Hal ini dilakukan dengan deteksi penanda awal infeksi Hepatitis B. Bila HBsAg menetap dalam darah selama lebih dari 6 bulan, berarti telah terjadi infeksi kronis. Pemeriksaan HBsAg bertujuan untuk mencegah transmisi hepatitis B kepada pasangan melalui hubungan seksual, dan dampak buruknya kepada janin seperti cacat dan kematian akibat penularan kongenital selama kehamilan.

7. Deteksi penyakit penyebab kelainan selama masa kehamilan

Di antaranya penyakit yang disebabkan oleh kuman Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex (TORCH) berdasarkan aktivitas imunitas humoral IgG sebagai penanda infeksi. Infeksi akut TORCH pada saat hamil atau di atas 4 bulan sebelum hamil akan berisiko pada kehamilan berupa keguguran, bayi lahir prematur, dan dapat juga menyebabkan kelainan janin.  

Tes medis pranikah lain yang juga penting dilakukan

Selain pemeriksaan kesehatan di atas, terdapat pemeriksaan tambahan terhadap beberapa penyakit infeksi seperti klamidia, HIV, serta gangguan hormon tiroid. Hal ini dianjurkan jika Anda ingin segera menjalani kehamilan. Deteksi HIV dapat menjadi pemeriksaan pra nikah tambahan yang diutamakan, baik jika Anda ingin segera menjalani kehamilan maupun menunda kehamilan.

HIV merupakan penyakit yang memiliki perjalanan penyakit yang lama (kronis) dan menyerang imunitas tubuh. HIV sangat mudah ditularkan bagi pasangan suami istri bahkan berdampak pada kehamilan dan kelahiran anak yang sudah terinfeksi HIV. Pemeriksaan HIV dapat dilakukan dengan metode standar untuk mendeteksi antibodi HIV melalui cairan tubuh atau dengan metode rapid untuk mendeteksi antibody HIV dengan pemeriksaan sampel darah.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Manfaat Senam Kegel untuk Stamina Seks Pria dan Cara Melakukannya

    Meski senam kegel sudah lama dikenal efektif untuk mengencangkan vagin.Namun, ternyata senam kegel juga memiliki manfaat untuk stamina seks pria.

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Gejala Penyakit Urologi, Dari Nyeri Buang Air Kecil Hingga Impotensi

    Gejala penyakit urologi kerap berhubungan dengan proses kencing yang tidak normal seperti kesulitan atau malah terlalu sering. Apa gejala lainnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Urologi 7 September 2020 . Waktu baca 10 menit

    Memahami Prosedur Sistoskopi untuk Masalah Kandung Kemih

    Prosedur Sistoskopi dapat dilakukan bila ditemukan gejala-gejala gangguan pada saluran penghubung kandung kemih. Simak penjelasan lengkapnya.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Urologi, Kandung Kemih 4 September 2020 . Waktu baca 10 menit

    Apa Akibatnya Jika Melakukan Seks Terlalu Sering?

    Hubungan seks adalah salah satu faktor terpenting dalam keharmonisan rumah tangga. Namun apakah ada risikonya jika melakukan seks terlalu sering?

    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 2 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    pasangan malu berhubungan intim

    6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    Alergi Sperma

    Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

    Yang Harus Anda Tahu Sebelum Menjalani Pemeriksaan MRI

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit
    Suami Istri Jarang Berhubungan Intim

    Lakukan Hal Ini Saat Pasangan Menolak Berhubungan Seks

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 4 menit