Jika Orang Terdekat Mengalami Depresi, Bisakah Menular Kepada Anda?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24/10/2019
Bagikan sekarang

Menghadapi orang terdekat yang mengalami depresi tidak semudah kedengarannya. Tak jarang, pendamping malah ikut merasa sedih atau mengalami emosi negatif yang kerap merundung penderita depresi. Jika demikian, apakah depresi memang dapat menular ke orang lain?

Depresi mungkin menular, tapi tidak seperti penyakit

‘Penularan’ depresi sama sekali berbeda dengan penyebaran flu ataupun penyakit lainnya yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Anda tidak akan serta-merta tertular depresi hanya karena mendampingi orang terdekat atau menemaninya seharian.

Apa yang Anda alami sebenarnya bukanlah depresi, melainkan emosi negatif, mood, dan kesedihan yang menjadi gejalanya. Fenomena yang sama pun berlaku bagi emosi positif. Contohnya, saat melihat orang lain tertawa, Anda bisa ikut tertawa tanpa sadar.

Tidak hanya emosi, perilaku dan kebiasaan pun dapat menular. Jika teman-teman Anda berhenti merokok, Anda kemungkinan juga akan melakukan hal yang sama. Begitupun bila orang terdekat Anda gemar mengonsumsi junk food, Anda juga akan menyukainya.

teman yang depresi

Depresi bisa menular dengan cara yang sama. Namun, perantaranya bukanlah bakteri ataupun virus, melainkan perilaku negatif. Perilaku negatif tersebut bisa berupa sikap pesimis, menarik diri dari pergaulan, mudah marah, sering mengeluh, dan sebagainya.

Proses ini bahkan tidak memakan waktu lama. Pada tahun 2014, sejumlah peneliti melakukan studi terhadap 100 pasang mahasiswa yang menjadi teman sekamar. Masing-masing mahasiswa dipasangkan dengan teman sekamarnya selama 3-6 bulan.

Setelah enam bulan, mahasiswa yang tinggal bersama teman sekamar yang sering merenung menunjukkan lebih banyak ciri depresi. Para peneliti menyimpulkan, hal ini terjadi karena mereka menganut cara berpikir yang sama dengan teman sekamarnya.

Siapa yang lebih berisiko ‘tertular’ depresi?

Depresi bisa saja ‘menular’. Namun, kekebalan Anda terhadap depresi bergantung pada banyak faktor, seperti genetik, pengalaman masa lampau, serta tingkat stres yang Anda alami.

Risiko depresi lebih tinggi pada orang-orang yang memiliki kondisi berikut:

  • Memiliki riwayat depresi dalam keluarga
  • Memiliki gen yang memicu depresi
  • Sedang mengalami perubahan besar dalam hidup, misalnya perceraian, bangkrut, atau pindah rumah
  • Dibesarkan oleh orangtua yang mengalami depresi
  • Sedang mengalami stres berat hingga memengaruhi kemampuan berpikir
  • Sangat bergantung kepada orang lain, baik keluarga, teman, atau pasangan

stres kehilangan pekerjaan

Depresi tidak hanya menyebar dari orang-orang terdekat seperti orangtua, anak, pasangan, teman dekat, dan teman sekamar. Anda bahkan dapat mengalami emosi negatif yang sama dari interaksi di media sosial.

Ketika terdapat hal buruk yang terpampang di media sosial, orang-orang cenderung menanggapinya dengan membuat pos atau komentar negatif. Sebaliknya, begitu suatu hal positif muncul, orang-orang akan memberikan respons yang baik.

Bahkan, belakangan ini ada saja orang yang terinspirasi melakukan bunuh diri hanya karena ia telah melihat lebih dulu ada orang yang melakukannya di sosial media.

Apa yang bisa dilakukan ketika depresi menular?

Saat Anda mengalami gejala depresi, langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional. Berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater untuk mengatasi gejala tersebut. Bila perlu, ajaklah orang terdekat Anda yang menderita depresi.

Sambil menjalani konseling rutin dengan tenaga profesional, cobalah mengelola stres yang sedang Anda alami. Jangan lupa untuk saling mendukung satu sama lain agar Anda dan orang terdekat yang menderita depresi dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mendampingi kerabat yang depresi, sekalipun jika Anda juga memiliki depresi. Anda selalu bisa meminta dukungan dari orang-orang yang dapat dipercaya. Dengan dukungan di sekeliling Anda, mendampingi penderita depresi bukanlah suatu hal yang mustahil.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tak Pernah Merasa Senang dan Selalu Galau, Mungkin Anda Alami Gangguan Anhedonia

Anhedonia adalah suatu kondisi di mana Anda tidak bisa merasa puas dan bahagia. Baca penjelasan lengkapnya pada artikel Hello Sehat berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

Benarkah Dengan Makan Cokelat Saja Bisa Bikin Mood Membaik?

Setiap orang bisa mengalami mood buruk, kapan saja dan di mana saja. Namun, apakah perubahan suasana hati bisa diperbaiki hanya dengan makanan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Depresi Setelah Serangan Jantung Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Depresi sering kali muncul setelah mengalami serangan jantung. Jika tidak segera diobati, penderitanya berisiko mengalami kematian dini. Kok bisa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

Saat Ibu Merasa Depresi, Si Kecil Juga Ikut Merasakannya, Lho

Depresi pascamelahirkan ternyata bukan hanya dirasakan gejalanya oleh sang ibu. Bayi pun ikut merasa depresi. Bagaimana bisa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Direkomendasikan untuk Anda

optimis dan toxic positivity

Jangan Salah, Ini Bedanya Sikap Optimis dan Toxic Positivity

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 03/05/2020
memaafkan orang yang dibenci

5 Langkah Sederhana untuk Memaafkan Orang yang Dibenci

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 31/01/2020
gangguan jiwa tidur berlebihan

5 Gangguan Kejiwaan Ini Bisa Membuat Penderitanya Tidur Berlebihan

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 19/11/2019
kerusakan otak akibat depresi

Bagaimana Cara Depresi Merusak Otak?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2019