Kenapa Perut Buncit Lebih Berbahaya dari Obesitas Biasa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Obesitas (kegemukan) dan obesitas sentral (perut buncit) merupakan kondisi yang disebabkan penimbunan lemak tubuh, namun terdapat perbedaan konsep dan risiko kesehatan keduanya pun bisa berbeda. Lalu manakah yang lebih berbahaya?

Bagaimana mengukur apakah perut kita mengalami obesitas sentral?

Obesitas merupakan kondisi kelebihan akumulasi lemak pada tubuh individu yang tidak seimbang dengan tinggi badan individu. Konsep pengukuran obesitas mengacu pada nilai indeks masa tubuh (IMT) dari perhitungan berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan kuadrat (m2). Nilai IMT yang menunjukan obesitas untuk di Indonesia adalah apabila IMT lebih besar dari 27,0 kg/m2. Namun pengukuran ini sangat bergantung pada tinggi badan dan tidak dapat membedakan massa otot dengan massa lemak tubuh.

Sedangkan obesitas sentral merupakan kondisi penumpukan lemak di sekitar abdominal (perut) atau dikenal dengan perut buncit. Metode pengukurannya dengan menggunakan lingkar perut (diukur tepat di bawah ruas tulang rusuk terakhir dan di atas pusar) dengan batas normal apabila lingkar perut kurang dari 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan. Obesitas sentral juga dapat dilihat berdasarkan rasio lingkar perut dan lingkar tulang panggul. Jika perut memiliki lingkar yang lebih besar dibandingkan tulang panggul, maka sudah dapat dipastikan individu tersebut mengalami obesitas sentral alias buncit.

Lalu apakah individu yang mengalami obesitas sudah pasti mengalami obesitas sentral? Belum tentu, begitu juga sebaliknya. Seseorang dengan berat badan lebih mungkin memiliki lemak di bagian tubuh lain, tetapi tidak menumpuk di sekitar perut. Sebaliknya seseorang dengan perut buncit kemungkinan hanya memiliki timbunan lemak di sekitar perut

Penyebab perut buncit

Seperti kelebihan berat badan pada umumnya, obesitas dan obesitas sentral disebabkan oleh penimbunan lemak akibat pola konsumsi tinggi karbohidrat, kolesterol, dan lemak serta tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup. Namun pada obesitas sentral alias buncit, ini sering kali dipicu oleh konsumsi alkohol sehingga sering juga disebut dengan beer belly atau perut bir.

Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian oleh Schroder di mana individu yang mengonsumsi alkohol berisiko untuk terkena obesitas sentral sebesar 1,8  kali dibandingkan yang tidak mengonsumsi alkohol. Konsumsi alkohol akan meningkatkan asupan glukosa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.  

Risiko perut buncit dibandingkan obesitas biasa

Efek buruk terpenting dari kondisi kelebihan berat badan pada individu dengan obesitas adalah meningkatkan berbagai risiko penyakit degeneratif akibat ketidakseimbangan tekanan darah, sekresi insulin, dan kadar kolesterol HDL dan LDL. Tentu saja hal ini tidak akan menimbulkan gejala langsung yang serius, tetapi akan bertambah parah seiring dengan berjalannya usia individu.

Sedangkan pada individu yang mengalami obesitas sentral alias perut buncit, dampak dari penimbunan lemak akan lebih cepat dialami. Berikut beberapa hal yang menyebabkan obesitas sentral lebih berbahaya:

1. Risiko kematian yang lebih tinggi

Individu dengan lemak yang menumpuk di sekitar perut memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan obesitas biasa. Hal ini didukung dengan penelitian baru-baru ini yang menunjukkan bahwa  individu dengan obesitas namun tidak memiliki obesitas sentral akan memiliki risiko kematian yang lebih rendah.

2. Obesitas sentral tetap berbahaya meskipun individu memiliki IMT normal

Suatu penelitian oleh Boggsyang menunjukan bahwa perempuan dengan penumpukan lemak di perut meningkatkan risiko kematian dini, meskipun ia  tidak mengalami obesitas.

3. Tidak hanya berisiko terhadap penyakit kardiovaskuler

Penimbunan lemak di sekitar abdomen juga meningkatkan risiko disfungsi ereksi dan kanker. Hal ini disebabkan penimbunan lemak di dekat organ vital tubuh di sekitar perut dapat memicu kerusakan akibat inflamasi pada bagian dalam. Akibatnya individu menjadi lebih berisiko terhadap penyakit kronis.

4. Lebih berisiko menyebabkan penimbunan lemak di dalam pembuluh darah

Penelitian oleh Fan menunjukkan individu lansia dengan obesitas sentral berisiko mengalami arterosklerosis,  sedangkan individu dengan kategori obesitas berdasarkan IMT tidak meningkatkan risiko arterosklerosis.

Obesitas sentral dan obesitas umum merupakan kondisi akibat penimbunan lemak. Namun penimbunan lemak di perut atau obesitas sentral lebih berisiko untuk mengalami gangguan bahkan kematian lebih cepat dibandingkan dengan obesitas pada umumnya.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bolehkah Ibu Menjalani Diet Saat Hamil?

Sebagai perempuan, Anda memiliki rasa kekhawatiran akan penampilan Anda meski saat hamil. Namun, bolehkah ibu menjalani diet saat hamil?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit

4 Kesalahan Makan Oatmeal yang Bikin Berat Badan Malah Naik

Bubur gandum (oatmeal) adalah pilihan makanan yang baik untuk diet. Tapi hati-hati, bisa jadi oatmeal bikin gemuk karena hal-hal berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Berat Badan Turun, Bukan Berarti Lemak Tubuh Berkurang

Meski timbangan menunjukkan berat badan Anda 3 kg lebih ringan, kalau dietnya salah, jangan-jangan jumlah lemak tubuh tidak berkurang sama sekali.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Nutrisi, Hidup Sehat 3 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit

6 Dampak Buruk Akibat Makan Tidak Teratur

Memang benar makan tidak teratur bisa bikin Anda cepat gemuk. Tapi dari sisi kesehatan, ada banyak efek samping buruk lainnya. Apa saja?

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Nutrisi, Hidup Sehat 3 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

beras merah lebih sehat

Ini Alasannya Kenapa Nasi Merah Jauh Lebih Sehat dari Nasi Putih

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
diet tinggi serat

Panduan Diet Tinggi Serat, Cara Sehat untuk Turunkan Berat Badan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 11 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Diabetes melitus tipe 2

Diabetes Tipe 2

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 8 menit
porsi makan ideal

Cara Menghitung Porsi Makan Ideal untuk Anda

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit