Hati-Hati, Ini 5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Akibat Sering Makan GorenganIni adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Semua makanan yang melalui proses penggorengan dan direndam dalam minyak panas tentu sangat nikmat saat dimakan. Terlebih gorengan biasanya memiliki tekstur yang renyah, sehingga akan terasa garing dan nagih ketika digigit. Akan tetapi, perlu Anda ketahui bahwa ada beragam risiko yang mengintai jika sering makan gorengan. Apa saja, ya?

Makan gorengan memang enak, tapi…

Sebelum semakin tergiur dan kehilangan kontrol karena makan gorengan dalam jumlah banyak, pertimbangan dulu beragam efek buruk di baliknya.

1. Kualitas minyak goreng tidak selalu bagus

Tidak semua gorengan yang Anda makan selalu dimasak dengan minyak baru atau yang belum pernah dipakai sebelumnya. Mungkin pernah atau bahkan sering, Anda makan gorengan dari minyak yang sudah dipakai berulang kali.

Minyak tersebut biasanya memiliki ciri khas warna coklat kehitaman yang sangat kentara. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa terlalu sering makan makanan yang digoreng berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya, masing-masing jenis minyak goreng memiliki suhu maksimum yang membuatnya akan menghasilkan asap ketika dipanaskan (smoke point).

Ketika telah mencapai smoke point, kualitas minyak biasanya sudah mulai rusak sehingga tidak lagi bagus untuk dikonsumsi oleh tubuh. Bukan hanya itu. Minyak goreng juga bisa dengan mudah teroksidasi saat dipanaskan pada suhu tinggi.

Akibatnya, residu minyak yang masuk ke dalam tubuh akan membentuk senyawa serta radikal bebas yang berbahaya bagi kesehatan. Semakin sering minyak digunakan, semakin rendah pula tingkat smoke point yang dimilikinya sehingga memudahkan munculnya senyawa yang membahayakan tubuh.

2. Menambah asupan lemak trans

makanan yang digoreng

Ada dua jenis lemak trans. Pertama, lemak trans alami yang hadir dalam jumlah sedikit di dalam makanan, seperti daging dan produk susu. Kedua, lemak trans buatan yang terbentuk ketika lemak jenuh melalui proses hidrogenasi, yang muncul saat makanan digoreng pada suhu tinggi.

Proses ini akan mengubah struktur kimiawi lemak, sehingga nantinya akan lebih sulit untuk dicerna oleh tubuh. Alhasil, akan timbul berbagai efek buruk bagi kesehatan akibat kandugan lemak trans. Mulai dari meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, hingga obesitas.

Namun, penting untuk membedakan jenis lemak trans alami yang memang sudah ada di dalam makanan, dan lemak trans buatan yang terbentuk dari hasil pemanasan minyak pada suhu tinggi. Sejauh ini, lemak trans alami dalam makanan belum terbukti memiliki efek buruk bagi kesehatan yang sama seperti lemak trans buatan dalam gorengan.

3. Mengandung banyak minyak

Salah satu alasan mengapa gorengan yang Anda makan terasa gurih saat dimakan, mungkin karena tepung berbumbu yang digunakan sebagai pelapis. Namun tahukah Anda, kalau tepung tersebut bisa menyumbang lemak dalam jumlah banyak ke dalam gorengan?

Ya, sifat menyerap minyak yang dimiliki oleh tepung menjadikan bagian tepung di gorengan mampu menyimpan banyak minyak setelah melalui proses penggorengan. Selain itu, semakin lama suatu makanan digoreng maka akan semakin banyak pula jumlah minyak yang terserap ke dalamnya.

Ini karena ketika makanan terpapar suhu panas dari minyak, air yang terkandung dalam makanan tersebut akan menguap. Proses penguapan akan membuat pori-pori pada makanan cenderung membesar, sehingga memberikan cukup ruang bagi minyak untuk masuk dan terserap ke dalam makanan.

4. Meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis

nyeri dada

Meski enak dan bikin nagih, tapi hobi makan gorengan menempatkan Anda pada risiko tinggi untuk terserang penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, dan obesitas.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Department of Nutrition di Harvard School of Public Health, mendapatkan hasil bahwa makan makanan yang digoreng setidaknya seminggu sekali, dapat meningkatkan risiko terkena diabetes melitus tipe 2 dan penyakit jantung. Bahkan, risiko ini akan semakin meningkat seiring dengan banyaknya jumlah gorengan yang dikonsumsi.

Memang sering tidak disadari, makan gorengan bisa meningkatkan tekanan darah, berat badan, dan menurunkan kadar kolesterol “baik” atau HDL. Kesemua hal tersebut merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung.

Sebagai contoh, wanita yang makan satu atau lebih porsi ikan goreng per minggu berpeluang mengalami gagal jantung sebesar 48 persen lebih tinggi ketimbang wanita yang hanya makan 1-3 porsi setiap bulan. Hasil tersebut diperoleh dari jurnal Circulation: Heart Failure.

Begitu pula dengan diabetes. Penelitian dari American Journal of Clinical Nutrition, mengungkapkan bahwa orang yang makan 4-6 porsi gorengan per minggu berisiko 39 persen lebih tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2, daripada yang hanya makan 1 porsi per minggu.

Di sisi lain, makanan yang digoreng tentu mengandung kalori yang lebih banyak daripada yang tidak goreng. Secara otomatis, asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh pun akan semakin banyak. Lebih dari itu, lemak trans yang ada di dalam makanan yang digoreng diyakini dapat memengaruhi kerja hormon pengatur nafsu makan dan penyimpang lemak.

Itu sebabnya, Anda sering merasa seolah sangat lapar ketika makan makanan tersebut yang kemudian akan memengaruhi berat badan karena asupan kalori dan lemaknya.

5. Tinggi kandungan acrylamide

masak ayam selain digoreng

Acrylamide adalah suatu zat kimia yang terbentuk di dalam makanan ketika dimasak pada suhu tinggi, salah satunya digoreng. Zat ini dihasilkan dari reaksi kimia antara gula dan asam amino, bernama asparagin.

Kandungan acrylamide yang tinggi biasanya terdapat pada makanan bertepung, seperti kentang goreng, ayam goreng, dan lain sebagainya.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Cancer, menemukan bahwa zat acrylamide berisiko  menimbulkan penyakit kanker ginjal, kanker endometrium, dan kanker ovarium.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca