Kejang dan Epilepsi Ternyata Berbeda, Apa Bedanya?

Oleh

Mendengar kata kejang dan epilepsi, pasti membuat Anda berpikir bahwa dua hal ini sangat berkaitan. Anda tentu tidak salah, namun jangan samakan kejang dengan epilepsi. Jika Anda melihat seseorang kejang, belum tentu dia menderita epilepsi. Namun epilepsi sendiri biasanya ditandai dengan kejang. Hampir 1% populasi dunia berisiko mengalami epilepsi ,menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas California di San Fransisco.

Apa bedanya kejang dan epilepsi?

Epilepsi atau yang dikenal masyarakat sebagai ayan, adalah kondisi yang ditandai dengan kejang berulang secara spontan. Tidak semua kejang adalah epilepsi, namun biasanya setiap epilepsi selalu ditandai dengan kejang. Pada umumnya, epilepsi ditandai dengan kejang tanpa faktor pencetus atau akibat penyakit otak akut.

Sedangkan kejang terjadi sebagai akibat kelainan letupan listrik pada otak sehingga terjadi gangguan pada gerakan, sensasi, kesadaran, atau perilaku ganjil tanpa disadari penderita. Otak manusia terdiri dari triliunan sel saraf yang saling berhubungan dengan letupan listrik yang diperantarai zat kimia yang disebut neurotransmitter. Letupan listrik ini tidak hanya terjadi di otak, tapi juga di otot sehingga kita menyadari akan suatu gerakan. Jika terjadi gangguan pada neurotransmitter itu, terjadilah kejang.

Kejang bukan hanya gerakan menyentak seluruh tubuh yang biasa dikenal masyarakat. Kejang juga dapat berupa menghilangnya kesadaran atau bengong sesaat, mata mendelik sekejap, atau tanda lain yang tidak disadari penderita bahkan orang di sekitarnya. Jika ada seorang anak yang demam tinggi lalu kejang, hal itu belum bisa didiagnosis sebagai epilepsi. Jadi kejang dan epilepsi tidaklah selalu sama bahkan penyebabnya berbeda.

Yang Anda harus ketahui tentang epilepsi

Diagnosis epilepsi biasanya berdasarkan pada pemeriksaan menyeluruh melalui wawancara, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Umumnya, wawancara dilakukan terhadap orang di sekitar pasien seperti keluarga, teman, atau yang lainnya, karena penderita epilepsi sering tidak dapat mengingat kejang yang mereka alami.

Jika dokter memerlukan pemeriksaan penunjang, pasien akan diperiksakan rekam otak atau electroencephalogram (EEG), pemeriksaan radiologi berupa Computed Tomography atau yang dikenal CT-Scan, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Selain itu, dokter mungkin akan memeriksakan laboratorium untuk menentukan jenis dan obat yang nantinya akan diberikan pada pasien.

Penderita epilepsi yang rutin kontrol ke dokter dan meminum obat, umumnya akan dapat beraktivitas dengan baik tanpa terganggu dengan kejang. Ada beberapa hal yang dapat memicu kejang pada penderita epilepsi, seperti kurang tidur, stres, diet, siklus hormonal, konsumsi alkohol dan narkoba, serta faktor obat. Faktor obat misalnya pasien mencoba untuk meminum obat lain selain obat yang diresepkan dokter.

Jika epilepsi terjadi pada anak, anak menjadi susah berkonsentrasi hingga mungkin saja mengalami kecelakaan berupa jatuh berulang, karena kehilangan kesadaran sesaat. Tidak mengherankan jika kejang dan epilepsi sangat erat kaitannya.

Bagaimana menolong orang yang kejang?

Pertama, jangan panik. Pindahkan barang-barang berbahaya yang ada di dekat pasien, misal gelas kaca, pisau, atau barang berbahaya lainnya. Saat seseorang kejang, jangan mencoba memindahkan posisinya kecuali dengan posisi tersebut pasien dalam bahaya. Berikutnya, longgarkan kerah kemeja atau ikat pinggang agar memudahkan pernapasan. Jangan memasukkan apapun ke mulut pasien, karena hal itu justru dapat melukai pasien. Amati berapa lama orang tersebut kejang dan segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Sekarang Anda tahu, perbedaan kejang dan epilepsi. Meskipun tidak salah mengkaitkan kejang dan epilepsi, namun Anda harus tahu perbedaan keduanya jika dipisahkan dari kondisi medis yang berbeda.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca