Bisakah Epilepsi Dideteksi Sejak Janin Dalam Kandungan?

    Bisakah Epilepsi Dideteksi Sejak Janin Dalam Kandungan?

    Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) dengan ciri kejang yang tidak biasa dan kambuhan tanpa ada pemicu. Epilepsi bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Pada beberapa kasus, epilepsi bisa terjadi pada bayi atau janin masih dalam kandungan. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan apakah cara mendeteksi janin sejak dalam kandungan? Simak penjelasan berikut.

    Mendeteksi epilepsi janin sejak dalam kandungan

    Janin dalam kandungan memang kerap menunjukkan pergerakan yang bisa dirasakan oleh seorang ibu. Pergerakan janin yang normal biasanya terjadi dalam sepuluh kali atau lebih setiap dua jam.

    Namun, tidak selamanya pergerakan janin di dalam kandungan bersifat normal. Dalam studi yang dilakukan Jurnal of Korean Medical Science, seorang ibu berusia 35 tahun melaporkan pergerakan janin yang dikandungnya berubah menjadi lebih cepat dan berulang setelah usia kehamilan 28 minggu.

    Pada usia kandungan 30 minggu, pergerakannya menjadi sangat ekstrim, hingga pada usia kandungan 36 minggu, bayi dalam kandungannya tersebut harus dilahirkan melalui operasi caesar. Bahkan, kejang pada bayi tersebut kerap terjadi setelah lahir.

    Studi tersebut menyimpulkan, pergerakan janin yang tidak normal merupakan pertanda janin mengalami kejang. Kejang pada janin terjadi berulang kali di seluruh tubuh dan pada frekuensi yang bervariasi dari dua gerakan per detik menjadi beberapa kali per menit.

    Penyebab kejang pada janin yang paling umum adalah adanya anomali kongenital atau kondisi yang tidak normal pada saat janin berkembang di dalam kandungan. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya penyakit saraf, seperti epilepsi.

    Untuk mendeteksi epilepsi tersebut, dokter biasannya melalui prosedur ultrasonography (USG) pada masa kehamilan. Melalui USG, pergerakan yang tidak normal pada janin dapat terdeteksi. Dengan begitu, orangtua dan dokter bisa bersiap bila kondisi kejang kembali terjadi saat bayi dilahirkan.

    Mencegah epilepsi sejak janin dalam kandungan

    Epilepsi bisa terjadi bila seorang ibu mengalami masalah selama kehamilan yang menyebabkan perkembangan otak janin terganggu. Oleh karena itu, untuk mencegah hal tersebut terjadi, seorang ibu sebaiknya menerapkan pola hidup yang sehat sebelum dan saat kehamilan.

    Berikut langkah yang bisa dilakukan agar bayi tetap sehat selama di dalam kandungan dan setelah dilahirkan:

    • Menghindari rokok, alkohol, dan paparan zat berbahaya lainnya.
    • Memenuhi asupan gizi untuk ibu hamil dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, seperti buah-buahan, sayuran, protein, susu rendah lemak, dan biji-bijian.
    • Rutin kontrol ke dokter kandungan.
    • Tidak minum obat sembarangan.
    • Hindari stres selama kehamilan.
    • Mengonsumsi suplemen yang baik untuk perkembangan otak janin, seperti asam folat dan zat besi.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Mayo Clinic. 2020. Epilepsy – Symptoms And Causes. [online] Available at: <https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/symptoms-causes/syc-20350093> [Accessed 12 March 2020].

    Epilepsy Foundation. 2020. What Is Epilepsy?. [online] Available at: <https://www.epilepsy.com/learn/about-epilepsy-basics/what-epilepsy> [Accessed 12 March 2020].

    Cdc.gov. 2020. Preventing Epilepsy | CDC. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/epilepsy/preventing-epilepsy.htm> [Accessed 12 March 2020].

    Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Commit To Healthy Choices To Help Prevent Birth Defects | CDC. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/prevention.html> [Accessed 12 March 2020].

    US National Library of Medicine National Institutes of Health. 2020. Prenatal Diagnosis of Fetal Seizure : A Case Report. [online] Available at: <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2580021/> [Accessed 12 March 2020].

     

     

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Aug 16, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.