Mengintip Perbedaan Kebotakan Pada Pria dan Wanita

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Selama bertahun-tahun diyakini bahwa rambut rontok hingga kebotakan adalah masalah pria, sehingga rambut rontok dan kebotakan pada wanita jarang dibahas. Namun, saat ini sekitar 40 persen dari 56 juta orang yang menderita rambut rontok yang cukup parah di Amerika Serikat adalah wanita. Lebih dari 95 persen kasus rambut rontok pada pria dan wanita disebabkan oleh alopesia androgenik, kondisi rambut rontok turun-temurun yang memengaruhi lebih dari tiga juta orang setiap tahunnya.

Kenapa bisa terjadi kebotakan?

Sesuai dengan namanya, alopesia androgenik melibatkan hormon yang disebut androgen. Hormon ini akan melalui proses pemecahan menjadi testosteron, suatu hormon yang berperan penting dalam perkembangan seksual pria. Hormon inilah yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan rambut, baik pada pria maupun wanita.

Testosteron menghasilkan produk sampingan yang dikenal sebagai dihidrotestosteron (DHT), yang diproduksi di kelenjar minyak folikel rambut. Pria dan wanita yang mengalami kebotakan memiliki kepekaan genetik terhadap DHT yang berakibat pada menyusutnya folikel rambut, hingga akhirnya rambut sehat tidak bisa bertahan dan tidak dapat memproduksi rambut yang layak untuk menggantikan rambut yang jatuh.

Hormon sendiri punya siklus hidup khusus. Tingkat testosteron pada pria di atas 30 tahun rata-rata turun 10 persen setiap satu dekade. Tingkat hormon wanita menurun saat menjelang menopause dan akan menurun drastis setelah menopause.

Penyebab lainnya dapat dikaitkan dengan reaksi alergi terhadap bahan kimia, pewarna, pelurus, dan bahan tambahan tertentu yang ditemukan di sampo, conditioner, atau produk kosmetik lainnya.

Apa perbedaan kebotakan pria dan wanita?

Waktu munculnya kebotakan

Pria cenderung mengalami kebotakan lebih awal dari wanita. Seperempat pria Amerika Serikat mengalami gejala-gejala kepala botak sebelum usia 21 tahun dan bar mulai menyadari kondisi ini pada usia 35 tahun.

Sejumlah 85 persen pria mengalami penurunan yang signifikan terkait alopesia androgenetik pada usia 50 tahun. Namun, pada umumnya wanita tidak menyadari adanya tanda-tanda rambut menipis ataupun botak hingga usia 50 atau 60. Penyebab perbedaan ini adalah adanya perbedaan pola kehilangan rambut.

Pola botaknya

Pada pria, alopesia androgenetik mengikuti pola botak pada umumnya, yaitu kehilangan rambut pada bagian kepala depan yang berangsur-angsur akan meluar menuju bagian puncak kepala. Karena inilah, relatif lebih mudah untuk menyadari kondisi ini, baik bagi pria itu sendiri ataupun orang yang melihatnya.

Namun, pada wanita, alopesia androgenetik memiliki pola yang berbeda. Alih-alih kehilangan rambut di daerah tertentu, kerontokan rambut wanita cenderung terjadi di seluruh kulit kepala sehingga lebih sulit untuk disadari.

Tanda awal kebotakan pada wanita biasanya adalah rambut terasa semakin tipis. Terkadang, rambut yang menipis juga bisa dilihat di sisi di sekitar pelipis dan tepat di atas telinga.

Namun, dalam beberapa kasus kemungkinan pria mengalami kebotakan dalam pola wanita atau sebaliknya, wanita mengalami pola kebotakan pria. Dalam kasus yang jarang terjadi, bisa terjadi kedua pola tersebut pada satu orang.

Deteksi dini sangat penting, karena semua pengobatan medis paling efektif jika dimulai pada tahap awal rambut rontok, belum sepenuhnya botak atau gundul. Kabar baiknya adalah bahwa perawatan untuk rambut rontok, baik bagi pria maupun wanita, sering kali sangat berhasil. Pertumbuhan kembali rambut alami merupakan pilihan, seperti juga perawatan untuk rambut rontok seperti sampo atau busa.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca