Apakah Boba Tapioka Pada Bubble Drink Bermanfaat Bagi Kesehatan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 9 Mei 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa minum bubble drink secara berlebihan dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit. Namun, bagaimana jika Anda hanya mengonsumsi bubble yang terbuat dari tepung tapioka? Apakah terdapat kandungan di dalam bubble tapioka yang memiliki manfaat bagi kesehatan?

Nutrisi di balik bubble tapioka

Sebelum mengenal lebih jauh mengenai manfaat bubble tapioka, ada baiknya jika Anda mengetahui proses pembuatan serta nutrisi di baliknya.

Bola tapioka pada bubble drink dibuat dengan mencampurkan tepung tapioka, pewarna makanan, dan air hangat. Setelah menjadi adonan dan dibentuk menjadi bola-bola kecil, bubble ini kemudian direbus.

Bola tapioka sebenarnya tidak memiliki rasa. Jadi, kebanyakan penjual bubble drink mencampurnya dengan simple syrup alias air gula agar rasanya lebih manis.

Tepung tapioka seberat 50 gram mengandung energi sebanyak 181 kkal. Setelah menjadi bola tapioka, jumlahnya berkurang menjadi 120 kkal.

Selain kalori, bubble tapioka juga mengandung beberapa nutrisi berikut:

  • 50 gram karbohidrat
  • 0,2 gram protein
  • 0,6 miligram natrium
  • 6,2 miligram kalium
  • 1,8 gram gula
  • 0,6 gram serat

Apakah bubble tapioka memiliki manfaat bagi kesehatan?

dampak buruk minum bubble tea

Manfaat tapioka dalam bentuk bubble sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tepung tapioka biasa. Nutrisi utama yang bisa Anda dapatkan dari mengonsumsi bola-bola tapioka adalah karbohidrat dan gula.

Karbohidrat pada bola tapioka adalah karbohidrat kompleks yang disebut pati. Jenis karbohidrat ini banyak terdapat pada sayuran umbi seperti jagung, kentang, kembang kol, kacang lentil, kentang, serta singkong sebagai bahan baku tepung tapioka.

Berbeda dengan biji-bijian utuh yang memiliki kandungan protein yang cukup, jumlah protein pada boba tapioka terbilang amat sedikit.

Topping minuman bubble yang sangat populer ini juga tidak mengandung lemak sama sekali. Lantas, dari mana lagi asalnya kalori pada boba tapioka?

Kalori tersebut ternyata berasal dari bahan tambahan. Kandungan gula pada bubble tapioka sebenarnya tidaklah tinggi.

Akan tetapi, bola-bola kenyal ini biasanya direndam dalam simple syrup atau air gula sebelum dicampurkan ke bubble drink. Akibatnya, jumlah gula dan kalorinya meningkat drastis.

Kandungan vitamin dan mineral dalam bubble tapioka pada dasarnya juga tidak cukup berpengaruh bagi kesehatan. Anda memang dapat memperoleh zat besi, magnesium, mangan, dan fosfor yang berasal dari tepung tapioka.

Sayangnya, jumlahnya terlalu sedikit, bahkan untuk memenuhi satu persen kecukupan harian.

Haruskah saya berhenti mengonsumsi bubble tapioka?

Satu-satunya manfaat yang dimiliki bubble tapioka adalah menjadi sumber energi bagi tubuh karena adanya kandungan karbohidrat dan gula.

Selain itu, hampir tidak ada lagi manfaat kesehatan yang bisa Anda peroleh dari memakan bola-bola kenyal ini. Lalu, apakah Anda perlu berhenti mengonsumsinya?

Jawabannya bergantung pada diri Anda sendiri. Makanan apa pun akan berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Begitu pula halnya dengan bola-bola tapioka yang hampir selalu menjadi topping dari bubble drink tinggi gula dan kalori.

Jadi, tujuan Anda saat ini sebaiknya bukan untuk menghindari konsumsi bola tapioka, melainkan untuk membatasi diri dari bubble drink yang merugikan kesehatan.

Cobalah mengganti bubble drink dengan makanan penutup yang menyehatkan dan tidak kalah lezat, seperti buah-buahan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mau Cepat Hamil? Stop Kebiasaan Minum Soda Setiap Hari!

Minuman bersoda disukai oleh banyak orang, tetapi ternyata minum soda bisa menurunkan kesuburan baik pria maupun wanita lho! hati-hati. Simak di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kesuburan, Kehamilan 22 April 2018 . Waktu baca 4 menit

Mengatur Pola Diet, Kunci Utama Dalam Mengatasi Obesitas

Bila obesitas atau kegemukan tak ditangani dengan baik, akan menimbulkan penyakit serius. Menjalani diet yang tepat adalah cara mengatasi obesitas.

Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Obesitas, Health Centers 15 April 2018 . Waktu baca 8 menit

Yuk, Kenali 7 Manfaat Polenta (Bubur Jagung) Bagi Kesehatan

Pernah dengar apa itu polenta? Polenta atau bubur jagung ini rupanya kaya nutrisi dan bermanfaat bagi kesehatan, lho. Apa saja manfaat polenta? Cek di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Hidup Sehat, Tips Sehat 3 Desember 2017 . Waktu baca 4 menit

Sumber Karbohidrat yang Baik dan Buruk untuk Menurunkan Berat Badan

Sedang diet? Anda mungkin perlu mengetahui berbagai sumber karbohidrat yang sebaiknya dipilih saat diet, agar lebih sukses menurunkan berat badan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 Agustus 2017 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makan karbohidrat cepat lapar

Makan Banyak Karbohidrat Malah Bikin Anda Cepat Lapar, Lho!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 8 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
minuman dihindari saat diet

Awas, 5 Minuman Ini Bisa Bikin Anda Gagal Turunkan Berat Badan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 8 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit
minum minuman beralkohol

Minum Minuman Beralkohol Bikin Kurus, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Maret 2019 . Waktu baca 4 menit
rekomendasi makanan untuk hepatitis

3 Jenis Makanan yang Wajib Ada Setiap Hari untuk Pengidap Hepatitis C

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 29 April 2018 . Waktu baca 3 menit