home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa Bahaya Boba dalam Minuman Manis?

Apa Bahaya Boba dalam Minuman Manis?

Konsumsi bubble tea dan minuman sejenis yang mengandung boba masih sangat populer. Rasa manis dan sensasi menyegarkan membuat minuman ini cocok dikonsumsi saat cuaca terik. Meski begitu, tahukah Anda bahwa konsumsi boba menyimpan bahaya tersendiri bagi kesehatan?

Apa itu boba?

bahaya bubble tea

Boba adalah bahan berbentuk bulat seperti bubble pada minuman yang terbuat dari tepung tapioka. Seiring meningkatnya popularitas boba, bahan-bahan dan variannya pun semakin berkembang. Bahkan, kini ada boba yang berwarna putih dan hitam.

Bubble milk tea atau yang lebih dikenal sebagai bubble tea merupakan minuman manis yang berasal dari Taiwan. Minuman ini pertama kali dirilis di Taiwan pada tahun 1980 dan dapat dijual pada kedai minuman di milik Liu Han-Chieh.

Oleh karena rasanya yang unik dan nikmat, minuman ini menjadi semakin populer dan mulai dikenal pada 1990 di Asia. Bubble tea kemudian mulai menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat sekitar tahun 2000-an.

Boba yang berwarna hitam di dalam minuman ini terbuat dari tepung tapioka hitam, pati singkong, ubi, dan gula merah. Sementara itu, boba yang berwarna putih terbuat dari pati singkong, akar chamomile, dan karamel.

Konsumsi boba berlebihan bahaya bagi gula darah

Diabetes melitus tipe 2

Bubble milk tea memang nikmat, tetapi kandungan gulanya sangat tinggi. Minuman ini bahkan tidak hanya mengandung gula alami, tapi juga gula tambahan seperti sukrosa, fruktosa, galaktosa, dan melezitosa.

Berdasarkan penelitian pada 2017 yang dilakukan oleh Jae Eun Min, David B. Green dan Loan Kim, bubble milk tea memiliki kandungan gula rata-rata sebanyak 38 gram. Minuman ini juga mengandung kalori sebanyak 299 kkal untuk setiap porsinya.

Padahal, American Heart Association menyatakan bahwa asupan gula tambahan tidak boleh lebih dari 150 kkal per hari untuk perempuan dan 100 kkal per hari untuk laki-laki. Asupan gula berlebih dari minuman boba bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Bila Anda memesan minuman boba berukuran besar (946 ml) ditambah topping seperti jeli dan puding, kandungan gulanya akan semakin tinggi. Satu porsi minuman ini setara dengan 250% kebutuhan gula harian laki-laki dan 384% kebutuhan gula perempuan.

Jumlah ini melebihi saran World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa batas asupan gula harian yaitu sebesar 10% dari total kalori. Sebagai gambaran, jika asupan kalori Anda 2.000 kkal, berarti asupan gula tidak boleh melebihi 200 kkal.

Asupan gula secara berlebihan, terutama gula tambahan, terbukti meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Risiko ini dapat bertambah besar apabila Anda mengalami obesitas, jarang beraktivitas fisik, merokok, dan mengalami gangguan tidur.

Benarkah Minum Bubble Tea Bisa Bikin Jerawatan?

Minum boba meningkatkan risiko penyakit asam urat

Sumber makanan tinggi gula dan kalori sudah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan diabetes. Selain itu, kandungan gula dan kalori yang tinggi pada minuman manis juga dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung dan asam urat.

Berdasarkan penelitian pada 2013, konsumsi minuman manis lebih dari dua kali sehari terbukti meningkatkan risiko penyakit asam urat sebesar 1,78 kali pada laki-laki. Sementara itu, risiko pada perempuan bertambah menjadi 3,05 kali lipat.

Bahaya ini erat kaitannya dengan kandungan fruktosa pada minuman manis seperti bubble tea. Ketika tubuh Anda memecah fruktosa, proses ini akan menghasilkan purin. Purin di dalam tubuh kemudian dipecah kembali menjadi asam urat.

Asam urat lambat laun bertambah banyak dan membentuk kristal di dalam persendian. Kristal asam urat yang menumpuk dapat menyebabkan peradangan, pembengkakan, dan nyeri yang merupakan gejala umum dari penyakit asam urat.

Bagaimana cara mengurangi bahaya boba?

bubble tea

Jika Anda memang doyan minum bubble tea, bukan berarti Anda dilarang sama sekali untuk mengonsumsi minuman ini. Namun, untuk mengurangi efek buruknya, pastikan Anda melakukan hal di bawah ini.

  • Pesanlah bubble tea Anda dengan lebih sedikit gula (less sugar).
  • Bila Anda ingin menggunakan boba sebagai topping, pilihlah jenis minuman yang tidak menggunakan susu, misalnya smoothies buah.
  • Bila Anda ingin memesan bubble tea yang mengandung susu, jangan gunakan topping lain seperti boba, jeli, dan puding.

Menikmati minuman manis seperti bubble tea memang tak ada salahnya. Akan tetapi, konsumsi bubble tea secara berlebihan bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan, apalagi yang mengandung boba.

Oleh sebab itu, jangan lupa mengurangi minuman manis Anda dan imbangi dengan pola makan yang sehat.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Does Sugar Cause Diabetes? Fact vs Fiction. (2018). Retrieved 31 March 2021, from https://www.healthline.com/nutrition/does-sugar-cause-diabetes

Min, J. E., Green, D. B., & Kim, L. (2016). Calories and sugars in boba milk tea: implications for obesity risk in Asian Pacific Islanders. Food science & nutrition, 5(1), 38–45. https://doi.org/10.1002/fsn3.362

Goran, M. I., Riemer, S. L., & Alderete, T. L. (2018). Simplified and age-appropriate recommendations for added sugars in children. Pediatric obesity, 13(4), 269–272. https://doi.org/10.1111/ijpo.12235.

Batt, C., Phipps-Green, A. J., Black, M. A., Cadzow, M., Merriman, M. E., Topless, R., Gow, P., Harrison, A., Highton, J., Jones, P., Stamp, L., Dalbeth, N., & Merriman, T. R. (2014). Sugar-sweetened beverage consumption: a risk factor for prevalent gout with SLC2A9 genotype-specific effects on serum urate and risk of gout. Annals of the rheumatic diseases, 73(12), 2101–2106. https://doi.org/10.1136/annrheumdis-2013-203600

Murphy, R., Thornley, S., de Zoysa, J., Stamp, L., Dalbeth, N. and Merriman, T., 2015. Sugar Sweetened Beverage Consumption among Adults with Gout or Type 2 Diabetes. PLOS ONE, 10(5), p.e0125543.

Foto Penulis
Ditulis oleh dr. Ivena Diperbarui 21/04/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x