Sering Dikira Penyakit Gula, Hati-hati Dengan Komplikasi Diabetes Insipidus

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Diabetes mellitus alias kencing manis atau penyakit gula punya banyak jenis. Namun, diabetes insipidus bukan termasuk salah satunya meski gejala penyakit ini sekilas mirip diabetes. Hati-hati, karena salah mengenali penyebab penyakit dan gejalanya bisa membuat Anda mendapatkan pengobatan yang keliru. Salah diagnosis dan pengobatan juga dapat membuat Anda berisiko mengalami komplikasi dari diabetes insipidus.

Diabetes insipidus bukan karena masalah gula darah

penyebab kencing nanah

Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang menyebabkan kadar gula darah tinggi akibat gangguan insulin. Sementara itu, diabetes insipidus adalah penyakit langka yang menyerang sistem ekskresi ginjal.

Diabetes insipidus tidak ada hubungannya dengan diabetes melitus. Penyebab diabetes insipidus adalah gangguan produksi hormon antidiuretik (ADH), atau dikenal juga sebagai vasopresin, yang diproduksi oleh kelenjar hipotalamus otak. Gangguan ini menyebabkan keseimbangan cairan di dalam tubuh pun terganggu.

Penyakit ini bisa dialami oleh siapa saja di segala usia, termasuk anak-anak. Namun, dalam banyak kasus memang lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan.

Jenis-jenis diabetes insipidus

air kencing berbau manis

Berdasarkan penyebabnya, penyakit ini dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya:

1. Diabetes insipidus sentral

Kondisi ini disebabkan karena hipotalamus (hipofisis) mengalami kerusakan sehingga menyebabkan proses produksi, penyimpanan, dan pelepasan hormon vasopresin terganggu. Operasi, tumor, cedera di kepala merupakan beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini.

2. Diabetes insipidus gestasional

Kondisi ini terjadi ketika enzim yang dihasilkan oleh plasenta bayi merusak hormon vasopresin pada tubuh ibu hamil. Kabar baiknya, kondisi ibu hamil akan kembali normal setelah melahirkan.

3. Diabetes insipidus nefrogenik

Kondisi ini terjadi ketika tubulus ginjal mengalami kerusakan. Alhasil, ginjal jadi tidak mampu untuk merespon hormon vasopresin dengan baik. Seseorang yang mengalami kelainan genetik dan riwayat penyakit ginjal kronis berisiko tinggi mengalami penyakit ini.

4. Diabetes insipidus dipsogenik

Kondisi ini disebut juga dengan polidipsia psikogenik atau polidipsia primer. Berbeda dengan tiga jenis diabetes insipidus di atas, kondisi ini tidak berhubungan dengan masalah produksi atau respon dari hormon vasopresin. Sebaliknya, seseorang bisa mengalami kondisi ini karena terlalu banyak mengonsumsi cairan.

Hati-hati terhadap komplikasi diabetes insipidus

sindrom pura-pura sakit

Sama seperti diabetes melitus, diabetes insipidus juga bisa menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat.

Komplikasi utama dari diabetes insipidus adalah dehidrasi. Seperti yang sudah disebutkan di atas, penyakit ini terjadi akibat gangguan pada sistem sekresi, alias ginjal. Gangguan ini menyebabkan seseorang lebih sering bolak-balik buang air kecil, dan mengompol karena sulit menahan keinginan untuk buang air kecil.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menyebut bahwa penyakit ini membuat pengidapnya bisa sampai mengeluarkan urin sebanyak 3-20 liter dalam sehari. Urin yang dihasilkan juga cenderung lebih encer dan berwarna pucat. Sementara orang yang sehat biasanya menghasilkan urin hanya sekitar 1-2 liter per hari.

Frekuensi buang air kecil yang semakin sering dengan jumlah yang juga banyak membuat penderita diabetes insipidus akan terus merasa haus meski sudah minum banyak air.

Jika asupan cairan yang masuk lebih sedikit daripada yang dikeluarkan tubuh, maka pengidapnyaakan sangat rentan mengalami dehidrasi. Dalam kasus parah, dehidrasi dapat menyebabkan kejang, kerusakan otak permanen, dan bahkan kematian.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca